
"Aku tadi sudah menanyai beberapa penduduk, sepertinya asumsi awalku salah, mereka bukan Jin melainkan manusia yang diambil jiwanya lalu ditukar denga jin jahat, kata beberapa penduduk, mereka bisa memegang mayat hidup itu, jadi ada korban yang lolos tidak terkena sirep, karena mampu menangkis serangan mayat hidup itu, mayat hidup itu menyerang dengan menahan bahu korban, agar korban mau melihat matanya, laly seketika setelah melihat mata mayat hidup itu, korban akan menjadi linglung karena jiwanya diikat, korban yang berhasil selamat ini melihat beberapa temannya yang tidak selamat, dan seketika setelah dipaksa memandang mata mayat hidup itu, dia menjadi linglung. Dari sana aku yakin, bahwa mayat hidup itu manusia yang ditumpangi." Aku menjelasjan panjang lebar.
"Mudha Praya sepertinya memiliki masa kecil yamg kurang bahagia, makanya sekarang dia suka sekali membuat orang menjadi boneka." Pram mengejek Mudha Praya.
"Apapun alasannya, Mudha Praya harus segela dihabisi kekuasannya, dia orang jahat yang harus segera di basmi."
Semua orang terlihat bersemangat untuk melakukan perlawanan ini, Pram memyumbang dana sangat banyak, untuk konsumsi, untuk perlengkapan perlawanan, Pram sangat baik, dia tidak segan untuk mengorbankan hartanya untuk perjuangan ini, aku tahu bahwa dari semua yang dia lakukan, sebernanya tujuannya pasti hanya ingin aku bahagia, aku sangat bersyukur memilikinya disisiku kalau saja dia dipihak Mudha Praya, maka kekalahan pasti sudah menghadangku bahkan sebelum peperangan itu terjadi.
Bicara soal peperangan, bisa jadi perlawanan di desa Ayahku kali ini adalah sesi latihan, siapa tahu besok saat kembali lagi ke Kerajaan Hutan Selatan, kami sudah bisa membalik pertahan menjadi 4 jam.
“Kenapa kau melibatkan secara langsung penduduk untuk bertarung dan menajga desanya Queen?” Pram bertanya lagi.
“Aku hanya bersiap.”
“Aku tidak suka kata-katamu Queen.” Pram terlihat jengkel.
Jujur aku takut, kalau aku gugur dalam peperangan itu dan tidak mampu menjaga lagi desa ini maupun statusku sebagai Ayi Mahogra Kharisma Jagat, makanya setiap penduduk yang kubantu sebisa mungkin akan ku ajarkan untuk menjaga diri mereka sendiri, aku akan menurunkan banyak ilmu, jadi tidak akan ada kejadian seperti ayahku, ketika dia meninggal maka desa ini menjadi ketakuatn dan porak-poranda.
“Kita harus selalu memikirkan hal terburuk Pram, kalau memang aku tidak selamat, mereka tidak akan kesusahan, mereka masih bisa melindungi diri mereka dari serangan Mudha Praya, aku akan mengajarkan mereka pagar ghaib paling tinggi, sehingga Mudha Praya tidak mampu menembusnya, pagar yang akan diwariskan turun temurun, paling tidak itu yang bisa kulakukan di desa ayahku ini Pram.”
“Kalau boleh memilih, aku akan menggantikan posisimu Queen, tidak akan aku biarkan kau sedih dan tidak bahagia.”
“Pram! Awas kau kalau berani melakukan itu, aku tidak akan memaafkanmu!” Aku bersungguh-sungguh, Pram hanya diam saja.
Hari mulai petang, persiapan kami sudah selesai, aku tidak sabar bertemu para mayat hidup boneka ini.
Angin bertiup sangat kencang, beberapa lonceng hiasan rumah warga bebunyi karena angin yang kencang ini.
Semua orang sudah bersembunyi di balik pintu rumahnya masing-masing, sedang bambu yang panjang sepanjang 3 meter ini, sudah ada di dalam rumah mereka persiapkan sekiranya mayat hidup ini menyerang meraka.
“Pram, aku mencium bau busuk yang sangat pekat, coba kau rasakan, Panglima!” Aku memanggil Panglima, Raden bersama Malik di Dunia Bayangan.
Panglima keluar dan mencari sumber bau, lalu dia mengaum sekencangnya saat mayat hidup itu terlihat.
Saat aku melihat mayat hidup itu, astaga! Mudha Praya brengsek! Ternyata benar mayat hidup!
Aku berlari mengejar mayat hidup itu, dia berlari ke pemukiman penduduk yang lumayan padat, saat sudah mendekat, aku merasa baunya semakin menyengat, ternyata mereka mengepungku, ada sekitar 15 mayat hidup.
“Pram, beneran mayat hidupm bau banget.” Aku berkata.
“Kedua asumsimu salah Queen.” Pram mengejek, rese banget.
Saat mayat hidup itu menyerang kami, aku membungkuk dan bersandar pada punggung Pram, menendang semua mayat hidup yang mengelilingi kami, dan aku sabet wajah, leher dan perut mereka, tentu saja keluar semua jeroannya, menjijikan! Kenapa harus beneran mayat hidup sih!
“Sepertinya dia mencuri mayat lalu menggunakan mayat ini sebagai bala tentara Pram, setelah ini kita harus cek berapa mayat yang hilang, karena bisa jadi bala tentaranya bertambah banyak karena mayat ini.”
“Queen!” Pram menarik tanganku yang akan di serang oleh mereka, saat sadar aku langsung menendang mayat di belakangku, kami cukup kompak jika bertarung bersama, mungkin karena kemampuan kami yang berimbang.
Aku menyerang mereka menendang mereka dan selalu mencoba menghujam mereka dengan Kujang, aku jijik saat mereka berusaha memelukku dan mengeroyokku, aku menghujam ubun-ubun mereka, leher mereka tapi saat mereka terjatuh, tidak lama bangkit lagi, namanya mayat hidup tentu mereka tidak bisa mati dua kali, sudah mati kok.
Aku dan Pram mulai kelelahan, “Pram, mereka 15 orang, tapi kenapa terasa ratusan Pram, gila Pram ini mah seperti memukul angin.” Aku kelelahan.
Dari kejauhan aku melihat warga kampung mulai berlarian hendak menolong kami, aku langsung panik, bahaya buat mereka, ini mayat hidup beneran, korban bisa semakin banyak,
“Pram! Tahan mereka, cepat, aku yang menghadapi mayat ini bersama semua Karuhunku.” Pram berlari hendak mencegah warga kampung, sembari memecut semua mayat dengan senjatanya, aku terus menghujam mereka dengan Kujang dan memanggil Bagus Heulang, Panglima dan Nyai untuk ikut bergerilya membantai mayat-mayat ini.
Pram terlambat, ada beberapa orang yang akhirnya berhadapan dengan mayat ini dengan bambunya, awalnya berhasil, mayat hidup ini tertahan dengan bambu dan dipukul mundur, tapi karena jumlahnya yang banyak, akhirnya beberapa penduduk tertangkap dan melihat mata dari mayat ini, jiwa mereka pun akhirnya terikat dan tidak bisa bergerak, lalu tumbang karena jiwa itu sudah diikat di dalam tubuhnya sendiri.
Aku ikut mengejar kearah penduduk yang hendak menolong kami, salah satu orang sedang di pegang oleh mayat hidup dan hendak di ikat jiwanya oleh tatapan mayat hidup ini, aku melepas pegangan mayat hidup itu dan menggantikan posisinya, mayat hidup itu hendak mengikat jiwaku juga dengan matanya, mataku berubah menjadi abu-abu keseluruhannya tiba-tiba, aku merasakan sensasi sedikit terangkat, seperti jingjit karena jiwaku dipaksa diikat, tapi tiba-tiba mayat hidup itu jatuh, sedang jin yang menumpang di tubuh mayat itu lepas dari raga matinya dan terlihat kelelahan, melihat kearahku dengan tatapan ketakutan.
“Kau manusia macam apa? Kenapa jiwamu saja berat sekali, aku seperti akan mati ketika memaksa mengikatnya, kau terangkat sedikit itu juga karena kau menipuku kan? Kau ingin tau apa efek dari seranganku kan?” jin setan ini mencoba untuk menuduhku mempermainkannya dan dia benar, aku memang mempermainkannya.
“Aku Ayi Mahogra Kharisma Jagat yang dilahirkan 350 tahun sekali, kau mau mencoba mengangkat jiwaku?”
Aku tertawa terpingkal-pingkal, cuma segitu kemampuannya, ternyata mudah sekali.
“Panglima, kendinya bawa ke sini.” Aku memerintahkan Panglima untuk membawa kendi yang sudah aku minta siapkan, kendi yang cukup besar, aku minta mereka menyiapkannya memang untuk menaruh para Jin setelah mereka keluar tubuh manusia, yang tadinya aku fikir Mudha Praya memang menggunakan tubuh manusia, begitu melihat mayat ini aku jadi yakin bahwa Mudha Praya mencuri mayat entah di kuburan, entah di rumah sakit, pintar sekali dia, kalau mayat itu tidak bisa mati, bukan kebal, ya karena itu tubuh mati, makanya begitu mereka dilumpuhkan, tidak lama bangun lagi, benar-benar kejeniusan yang buruk sekali.
Karena sudah tau bahwa mayat ini hanya bisa dikalahkan dengan kegunaan mereka, yaitu mencoba menatap balik mereka dan membuat mereka mencoba mengikatku, mereka akan terlepas dari raga mayat ini, aku pun langsung menyuruh Pram membantuku mengikat 15 mayat hidup ini dengan Karembo kami.
Hal yang tidak terfikir olehku awalnya karena kufikir dengan melumpuhkan mereka yang awalnya kukira manusia lalu mengeluarkan jin di dalamnya, lalu masalah selesai, tapi ternyat diluar dugaan, Mudha Praya mengirim benar-benar mayat hidup yang di susupi jin, pantas saja mereka kebal, kalau tahu begini kan, aku tinggal ikat dengan Karembo, lalu mereka tidak bisa kemana-mana.
Setelah mengikat mereka semua dengan Karembo milikku dan Pram, aku mendatangi mereka satu persatu dan memaksa mereka melihat mataku, secara otomatis mereka akan melakkan pengikatan jiwa bagi yang mereka lihat, persis seperti yagn Mudha Praya perintahkan, makanya mereka seperti orang bodoh melihat mataku dan lepas raga, jinnya terlihat seperti sekarat karena mencoba mengikat jiwaku, yang kata mereka berat sekali.
Dalam hitungan 1 jam, 15 mayat hidup menjadi mayat kembali, mati dan tidak berdaya, mengenaskan sekali mereka, bahkan ada yang sudah terlihat tengkoraknya disebagian wajah.
Setelah semua jin sudah kami kurung di kendi, kami bakar kendinya dan semua jin mati, kenapa aku melakukannya, karena mereka mau saja menjadi budak manusia yang serakah, kami tidak mau menaklukan jin sejenis ini, lalu mayat-mayat hidup itu kami kubur saja dengan layak, karena kami kesulitan mencari identitasnya, dan tidak punya waktu untuk mencaritahu.
…
Semua orang sudah disembuhkan kembali, warga yang kemarin baru kena sirep karena mencoba membantuku juga sudah di sembuhkan Malik di dunia ketiga, kampung ini sudah kembali aman, kami sejenak istirahat, jujur berkelahi dengan mayat ternyata membuatku kelelahan, tapi untungny dari masalah ini adalah, aku bisa bertemu Seina dan Mas Ridho, sedang Malik bertemu dengan kakaknya, kami memang sudah cukup lama tidak bertemua dengan keluarga kami, mungkin sekitar hampir 2 tahun, tapi aku sudah mewanti-wanti untuk tidak membicarakan peperangan ini dengan mereka.
“Mas, Seina.” Mereka memelukku, mereka memang ku suruh sembunyi di rumah Ayah, aku juga menyuruh orang rumah ayah untuk menjaga mereka agar tidak keluar dan melihat apa yang aku lakukan, mereka sepertinya curiga bahwa aku sudah terlalu akrab dengan dunia ghaib, tapi mereka tidak berani tanya.
“Mbak! Darimana aja kami! Mas sama Seina udah nungguin dari kemarin juga.” Mas Ridho protes.
“Ya ikut bantu usir mayat idup Mas.” Aku jawab sekenanya.
“Jangan main-main ya, Mas nggak suka kamu terlalu dekat dengan dunia begitu, kayak ayah. Nggak bagus itu.” Mas Ridho sedikit marah.
“Iya Bos, tenang Bos.” Aku terpaksa berbohong karena aku memang tidak bisa berkata yang sejujurnya, Mas Ridho tahu sama dengan mama tau, maka mama akan stress dan aku semakin berat menjalani perang ini, kebohongan bahwa aku kerja bersama Pram saja sudah cukup, bahkan Mas Ridho dan Seina tidak tahu tentang Malik dan aku yang sudah kembali bersama.
“Aku serius loh Seira!” Mas Ridho jarang sekali memanggil namaku sendiri karena memang biasanya dia membahasaiku dengan sebutan Mbak agar Seina kecil dulu terbiasa memanggilku Mbak.
“Iya Mas, Astagfirullah.” Aku juga mulai marah, dia memarahiku seperti anak kecil, aku malu dilihat semua warga, tapi aku tidak bisa membalasnya, bagaimanapun dia menjaga diriku jauh lebih baik dari Ayahku sendiri. Dia menjaga kami semua, Ibu, aku dan Seina sangat bersyukur memiliki Mas Ridho.
“Soal Malik gimana?” Ini nih yang aku agak ga suka, dia membahas Malik.
“Mas bisa kita bicara secara pribadi aja? Banyak orang nih.” Aku memperingatkannya, dia sepertinya tidak sadar.
“Oh ya ok. Yuk ke kamar aja.”
__ADS_1
“Seina ikut!” Adikku langsung berlari mengejar kami.
Kami sudah di kamar Ayah, aku sedikit ingat wangi ayah, kamar ini masih memiliki wangi yang sama dengan yang aku cium puluhan tahun lalu, saat ayah masih bersama kami.
“Jadi?” Mas Ridho menagih janji cerita padaku, karena ini sudah di tempat yang jauh lebih pribadi.
“Kemarin Mas sama Seina nyampe bareng Pak Hanif?” Aku mencoba mengalihkannya dengan halus.
“Iya, bareng beneran bareng. Kamu tahu kan kalau Seina magang di Perusahaan Malik?” Mas Ridho bertanya.
“Tau dong, Malik cerita.”
“Iya, trus tiap dua minggu sekali mereka pulang bareng gitu ke rumah, kamu tanya sendiri lah ke adikmu.” Sepertinya Pak Hnif membuat pergerakan yang nyata dengan adikku, adikku ini jauh lebih tangguh dariku, dia sulit ditaklukan, makanya belum pernah pacaran.
“Ih apa sih Mas, kok aku, Mbak dulu aja gimana hubungan Mbak sama Kak Malik? soalnya Mas Anif ga pernah cerita.”
“Bentar deh, Mas Anif? Uuhhh kyut banget.” Aku meledek adikku dai terlihat malu.
“Udah janga nngalihin pembicaraan, kamu sama Malik gimana?” Mas Ridho bertanya, sepertinya jurus ngelesku nggak bertahan lama.
“Kami … kami kembali Mas.”
“Apa!” Mereka berdua berteriak.
“Jangan kasih tau mama dulu ya, yang lain juga, siapapun nggak boleh ada yang tahu, karena ini bahaya Mas, Mas tahu kan siapa pria yang harus aku nikahi, kalau ini sampai ketahuan mereka, aku bisa siding oleh Tetua.” Aku meminta Mas Ridho mengerti, Mas Ridho memang pernah mendengat tentang Tetua, dan betapa berkuasanya mereka, tapi hanya sejuah itu saja yang harus dia tahu saat ini.
“Mbak, kamu bahagia?” Kakakku bertanya, dia kembali memanggilku dengan lembut.
“Aku bahagia Mas, sangan bahagia.” Aku mengatakannya dengan lantang.
“Lalu bagaimana dengan Pram? Kamu bahagia diatas penderitaannya Mbak.” Mas Ridho sedikit berat mengatakannya, aku melihat suara yang goyang saat dia mengatakan itu.
“Aku tahu, tapi Pram justru yang menyatukan kami Mas.” Aku menjelaskan kembali.
“Dia orang baik, aku tidak bilang bahwa Malik oang jahat, tapi Pram berbeda, dia tulus, orang tuanya bahkan secara intens dateng ke rumah Mama, untuk mendekati Mama dan membuat hubunganmu dan Pram direstui, karena orangtua Pram tahu bahwa Mama tidak setuju hubunganmu dengan Pram.”
“Pram baik karena orangtuanya pun baik Mas, tapi hatiku tidak bisa berbohong bahwa aku tidak bisa berpaling dari Malik Mas, Pram tahu itu makanya dia yang membawa Malik kembali padaku.”
“Jangan sampai Pram terluka dalam Mbak, kau harus meninggalkannya cepat atau lambat, pasti sakit untuknya melihatmu bersama lelaki lain.”
Aku mengangguk, karena itu permintaan berat dari kakakku yang biasanya tidak ikut campur dengan kehidupan pribadiku, tapi apa yang dikatakannya benar, Pram pasti sakit melihatku dengan Malik, apa aku egois dengan menjadikannya kawanan untuk berperang, haruskah aku membuat alasan agar dia pergi dan tidak ikut perang ini? Entahlah aku membutuhkannya, apa aku egois?
____________________________________
Catatan Penulis :
Apakah kalian fikir Seira egois dan harus mengusir Pram dari perang dan dari hidupnya? Ada yang mau jadi sandaran Pram?
"Aku tadi sudah menanyai beberapa penduduk, sepertinya asumsi awalku salah, mereka bukan Jin melainkan manusia yang diambil jiwanya lalu ditukar denga jin jahat, kata beberapa penduduk, mereka bisa memegang mayat hidup itu, jadi ada korban yang lolos tidak terkena sirep, karena mampu menangkis serangan mayat hidup itu, mayat hidup itu menyerang dengan menahan bahu korban, agar korban mau melihat matanya, laly seketika setelah melihat mata mayat hidup itu, korban akan menjadi linglung karena jiwanya diikat, korban yang berhasil selamat ini melihat beberapa temannya yang tidak selamat, dan seketika setelah dipaksa memandang mata mayat hidup itu, dia menjadi linglung. Dari sana aku yakin, bahwa mayat hidup itu manusia yang ditumpangi." Aku menjelasjan panjang lebar.
"Mudha Praya sepertinya memiliki masa kecil yamg kurang bahagia, makanya sekarang dia suka sekali membuat orang menjadi boneka." Pram mengejek Mudha Praya.
"Apapun alasannya, Mudha Praya harus segela dihabisi kekuasannya, dia orang jahat yang harus segera di basmi."
Semua orang terlihat bersemangat untuk melakukan perlawanan ini, Pram memyumbang dana sangat banyak, untuk konsumsi, untuk perlengkapan perlawanan, Pram sangat baik, dia tidak segan untuk mengorbankan hartanya untuk perjuangan ini, aku tahu bahwa dari semua yang dia lakukan, sebernanya tujuannya pasti hanya ingin aku bahagia, aku sangat bersyukur memilikinya disisiku kalau saja dia dipihak Mudha Praya, maka kekalahan pasti sudah menghadangku bahkan sebelum peperangan itu terjadi.
Bicara soal peperangan, bisa jadi perlawanan di desa Ayahku kali ini adalah sesi latihan, siapa tahu besok saat kembali lagi ke Kerajaan Hutan Selatan, kami sudah bisa membalik pertahan menjadi 4 jam.
“Kenapa kau melibatkan secara langsung penduduk untuk bertarung dan menajga desanya Queen?” Pram bertanya lagi.
“Aku hanya bersiap.”
“Aku tidak suka kata-katamu Queen.” Pram terlihat jengkel.
Jujur aku takut, kalau aku gugur dalam peperangan itu dan tidak mampu menjaga lagi desa ini maupun statusku sebagai Ayi Mahogra Kharisma Jagat, makanya setiap penduduk yang kubantu sebisa mungkin akan ku ajarkan untuk menjaga diri mereka sendiri, aku akan menurunkan banyak ilmu, jadi tidak akan ada kejadian seperti ayahku, ketika dia meninggal maka desa ini menjadi ketakuatn dan porak-poranda.
“Kita harus selalu memikirkan hal terburuk Pram, kalau memang aku tidak selamat, mereka tidak akan kesusahan, mereka masih bisa melindungi diri mereka dari serangan Mudha Praya, aku akan mengajarkan mereka pagar ghaib paling tinggi, sehingga Mudha Praya tidak mampu menembusnya, pagar yang akan diwariskan turun temurun, paling tidak itu yang bisa kulakukan di desa ayahku ini Pram.”
“Kalau boleh memilih, aku akan menggantikan posisimu Queen, tidak akan aku biarkan kau sedih dan tidak bahagia.”
“Pram! Awas kau kalau berani melakukan itu, aku tidak akan memaafkanmu!” Aku bersungguh-sungguh, Pram hanya diam saja.
Hari mulai petang, persiapan kami sudah selesai, aku tidak sabar bertemu para mayat hidup boneka ini.
Angin bertiup sangat kencang, beberapa lonceng hiasan rumah warga bebunyi karena angin yang kencang ini.
Semua orang sudah bersembunyi di balik pintu rumahnya masing-masing, sedang bambu yang panjang sepanjang 3 meter ini, sudah ada di dalam rumah mereka persiapkan sekiranya mayat hidup ini menyerang meraka.
“Pram, aku mencium bau busuk yang sangat pekat, coba kau rasakan, Panglima!” Aku memanggil Panglima, Raden bersama Malik di Dunia Bayangan.
Panglima keluar dan mencari sumber bau, lalu dia mengaum sekencangnya saat mayat hidup itu terlihat.
Saat aku melihat mayat hidup itu, astaga! Mudha Praya brengsek! Ternyata benar mayat hidup!
Aku berlari mengejar mayat hidup itu, dia berlari ke pemukiman penduduk yang lumayan padat, saat sudah mendekat, aku merasa baunya semakin menyengat, ternyata mereka mengepungku, ada sekitar 15 mayat hidup.
“Pram, beneran mayat hidupm bau banget.” Aku berkata.
“Kedua asumsimu salah Queen.” Pram mengejek, rese banget.
Saat mayat hidup itu menyerang kami, aku membungkuk dan bersandar pada punggung Pram, menendang semua mayat hidup yang mengelilingi kami, dan aku sabet wajah, leher dan perut mereka, tentu saja keluar semua jeroannya, menjijikan! Kenapa harus beneran mayat hidup sih!
__ADS_1
“Sepertinya dia mencuri mayat lalu menggunakan mayat ini sebagai bala tentara Pram, setelah ini kita harus cek berapa mayat yang hilang, karena bisa jadi bala tentaranya bertambah banyak karena mayat ini.”
“Queen!” Pram menarik tanganku yang akan di serang oleh mereka, saat sadar aku langsung menendang mayat di belakangku, kami cukup kompak jika bertarung bersama, mungkin karena kemampuan kami yang berimbang.
Aku menyerang mereka menendang mereka dan selalu mencoba menghujam mereka dengan Kujang, aku jijik saat mereka berusaha memelukku dan mengeroyokku, aku menghujam ubun-ubun mereka, leher mereka tapi saat mereka terjatuh, tidak lama bangkit lagi, namanya mayat hidup tentu mereka tidak bisa mati dua kali, sudah mati kok.
Aku dan Pram mulai kelelahan, “Pram, mereka 15 orang, tapi kenapa terasa ratusan Pram, gila Pram ini mah seperti memukul angin.” Aku kelelahan.
Dari kejauhan aku melihat warga kampung mulai berlarian hendak menolong kami, aku langsung panik, bahaya buat mereka, ini mayat hidup beneran, korban bisa semakin banyak,
“Pram! Tahan mereka, cepat, aku yang menghadapi mayat ini bersama semua Karuhunku.” Pram berlari hendak mencegah warga kampung, sembari memecut semua mayat dengan senjatanya, aku terus menghujam mereka dengan Kujang dan memanggil Bagus Heulang, Panglima dan Nyai untuk ikut bergerilya membantai mayat-mayat ini.
Pram terlambat, ada beberapa orang yang akhirnya berhadapan dengan mayat ini dengan bambunya, awalnya berhasil, mayat hidup ini tertahan dengan bambu dan dipukul mundur, tapi karena jumlahnya yang banyak, akhirnya beberapa penduduk tertangkap dan melihat mata dari mayat ini, jiwa mereka pun akhirnya terikat dan tidak bisa bergerak, lalu tumbang karena jiwa itu sudah diikat di dalam tubuhnya sendiri.
Aku ikut mengejar kearah penduduk yang hendak menolong kami, salah satu orang sedang di pegang oleh mayat hidup dan hendak di ikat jiwanya oleh tatapan mayat hidup ini, aku melepas pegangan mayat hidup itu dan menggantikan posisinya, mayat hidup itu hendak mengikat jiwaku juga dengan matanya, mataku berubah menjadi abu-abu keseluruhannya tiba-tiba, aku merasakan sensasi sedikit terangkat, seperti jingjit karena jiwaku dipaksa diikat, tapi tiba-tiba mayat hidup itu jatuh, sedang jin yang menumpang di tubuh mayat itu lepas dari raga matinya dan terlihat kelelahan, melihat kearahku dengan tatapan ketakutan.
“Kau manusia macam apa? Kenapa jiwamu saja berat sekali, aku seperti akan mati ketika memaksa mengikatnya, kau terangkat sedikit itu juga karena kau menipuku kan? Kau ingin tau apa efek dari seranganku kan?” jin setan ini mencoba untuk menuduhku mempermainkannya dan dia benar, aku memang mempermainkannya.
“Aku Ayi Mahogra Kharisma Jagat yang dilahirkan 350 tahun sekali, kau mau mencoba mengangkat jiwaku?”
Aku tertawa terpingkal-pingkal, cuma segitu kemampuannya, ternyata mudah sekali.
“Panglima, kendinya bawa ke sini.” Aku memerintahkan Panglima untuk membawa kendi yang sudah aku minta siapkan, kendi yang cukup besar, aku minta mereka menyiapkannya memang untuk menaruh para Jin setelah mereka keluar tubuh manusia, yang tadinya aku fikir Mudha Praya memang menggunakan tubuh manusia, begitu melihat mayat ini aku jadi yakin bahwa Mudha Praya mencuri mayat entah di kuburan, entah di rumah sakit, pintar sekali dia, kalau mayat itu tidak bisa mati, bukan kebal, ya karena itu tubuh mati, makanya begitu mereka dilumpuhkan, tidak lama bangun lagi, benar-benar kejeniusan yang buruk sekali.
Karena sudah tau bahwa mayat ini hanya bisa dikalahkan dengan kegunaan mereka, yaitu mencoba menatap balik mereka dan membuat mereka mencoba mengikatku, mereka akan terlepas dari raga mayat ini, aku pun langsung menyuruh Pram membantuku mengikat 15 mayat hidup ini dengan Karembo kami.
Hal yang tidak terfikir olehku awalnya karena kufikir dengan melumpuhkan mereka yang awalnya kukira manusia lalu mengeluarkan jin di dalamnya, lalu masalah selesai, tapi ternyat diluar dugaan, Mudha Praya mengirim benar-benar mayat hidup yang di susupi jin, pantas saja mereka kebal, kalau tahu begini kan, aku tinggal ikat dengan Karembo, lalu mereka tidak bisa kemana-mana.
Setelah mengikat mereka semua dengan Karembo milikku dan Pram, aku mendatangi mereka satu persatu dan memaksa mereka melihat mataku, secara otomatis mereka akan melakkan pengikatan jiwa bagi yang mereka lihat, persis seperti yagn Mudha Praya perintahkan, makanya mereka seperti orang bodoh melihat mataku dan lepas raga, jinnya terlihat seperti sekarat karena mencoba mengikat jiwaku, yang kata mereka berat sekali.
Dalam hitungan 1 jam, 15 mayat hidup menjadi mayat kembali, mati dan tidak berdaya, mengenaskan sekali mereka, bahkan ada yang sudah terlihat tengkoraknya disebagian wajah.
Setelah semua jin sudah kami kurung di kendi, kami bakar kendinya dan semua jin mati, kenapa aku melakukannya, karena mereka mau saja menjadi budak manusia yang serakah, kami tidak mau menaklukan jin sejenis ini, lalu mayat-mayat hidup itu kami kubur saja dengan layak, karena kami kesulitan mencari identitasnya, dan tidak punya waktu untuk mencaritahu.
…
Semua orang sudah disembuhkan kembali, warga yang kemarin baru kena sirep karena mencoba membantuku juga sudah di sembuhkan Malik di dunia ketiga, kampung ini sudah kembali aman, kami sejenak istirahat, jujur berkelahi dengan mayat ternyata membuatku kelelahan, tapi untungny dari masalah ini adalah, aku bisa bertemu Seina dan Mas Ridho, sedang Malik bertemu dengan kakaknya, kami memang sudah cukup lama tidak bertemua dengan keluarga kami, mungkin sekitar hampir 2 tahun, tapi aku sudah mewanti-wanti untuk tidak membicarakan peperangan ini dengan mereka.
“Mas, Seina.” Mereka memelukku, mereka memang ku suruh sembunyi di rumah Ayah, aku juga menyuruh orang rumah ayah untuk menjaga mereka agar tidak keluar dan melihat apa yang aku lakukan, mereka sepertinya curiga bahwa aku sudah terlalu akrab dengan dunia ghaib, tapi mereka tidak berani tanya.
“Mbak! Darimana aja kami! Mas sama Seina udah nungguin dari kemarin juga.” Mas Ridho protes.
“Ya ikut bantu usir mayat idup Mas.” Aku jawab sekenanya.
“Jangan main-main ya, Mas nggak suka kamu terlalu dekat dengan dunia begitu, kayak ayah. Nggak bagus itu.” Mas Ridho sedikit marah.
“Iya Bos, tenang Bos.” Aku terpaksa berbohong karena aku memang tidak bisa berkata yang sejujurnya, Mas Ridho tahu sama dengan mama tau, maka mama akan stress dan aku semakin berat menjalani perang ini, kebohongan bahwa aku kerja bersama Pram saja sudah cukup, bahkan Mas Ridho dan Seina tidak tahu tentang Malik dan aku yang sudah kembali bersama.
“Aku serius loh Seira!” Mas Ridho jarang sekali memanggil namaku sendiri karena memang biasanya dia membahasaiku dengan sebutan Mbak agar Seina kecil dulu terbiasa memanggilku Mbak.
“Iya Mas, Astagfirullah.” Aku juga mulai marah, dia memarahiku seperti anak kecil, aku malu dilihat semua warga, tapi aku tidak bisa membalasnya, bagaimanapun dia menjaga diriku jauh lebih baik dari Ayahku sendiri. Dia menjaga kami semua, Ibu, aku dan Seina sangat bersyukur memiliki Mas Ridho.
“Soal Malik gimana?” Ini nih yang aku agak ga suka, dia membahas Malik.
“Mas bisa kita bicara secara pribadi aja? Banyak orang nih.” Aku memperingatkannya, dia sepertinya tidak sadar.
“Oh ya ok. Yuk ke kamar aja.”
“Seina ikut!” Adikku langsung berlari mengejar kami.
Kami sudah di kamar Ayah, aku sedikit ingat wangi ayah, kamar ini masih memiliki wangi yang sama dengan yang aku cium puluhan tahun lalu, saat ayah masih bersama kami.
“Jadi?” Mas Ridho menagih janji cerita padaku, karena ini sudah di tempat yang jauh lebih pribadi.
“Kemarin Mas sama Seina nyampe bareng Pak Hanif?” Aku mencoba mengalihkannya dengan halus.
“Iya, bareng beneran bareng. Kamu tahu kan kalau Seina magang di Perusahaan Malik?” Mas Ridho bertanya.
“Tau dong, Malik cerita.”
“Iya, trus tiap dua minggu sekali mereka pulang bareng gitu ke rumah, kamu tanya sendiri lah ke adikmu.” Sepertinya Pak Hnif membuat pergerakan yang nyata dengan adikku, adikku ini jauh lebih tangguh dariku, dia sulit ditaklukan, makanya belum pernah pacaran.
“Ih apa sih Mas, kok aku, Mbak dulu aja gimana hubungan Mbak sama Kak Malik? soalnya Mas Anif ga pernah cerita.”
“Bentar deh, Mas Anif? Uuhhh kyut banget.” Aku meledek adikku dai terlihat malu.
“Udah janga nngalihin pembicaraan, kamu sama Malik gimana?” Mas Ridho bertanya, sepertinya jurus ngelesku nggak bertahan lama.
“Kami … kami kembali Mas.”
“Apa!” Mereka berdua berteriak.
“Jangan kasih tau mama dulu ya, yang lain juga, siapapun nggak boleh ada yang tahu, karena ini bahaya Mas, Mas tahu kan siapa pria yang harus aku nikahi, kalau ini sampai ketahuan mereka, aku bisa siding oleh Tetua.” Aku meminta Mas Ridho mengerti, Mas Ridho memang pernah mendengat tentang Tetua, dan betapa berkuasanya mereka, tapi hanya sejuah itu saja yang harus dia tahu saat ini.
“Mbak, kamu bahagia?” Kakakku bertanya, dia kembali memanggilku dengan lembut.
“Aku bahagia Mas, sangan bahagia.” Aku mengatakannya dengan lantang.
“Lalu bagaimana dengan Pram? Kamu bahagia diatas penderitaannya Mbak.” Mas Ridho sedikit berat mengatakannya, aku melihat suara yang goyang saat dia mengatakan itu.
“Aku tahu, tapi Pram justru yang menyatukan kami Mas.” Aku menjelaskan kembali.
“Dia orang baik, aku tidak bilang bahwa Malik oang jahat, tapi Pram berbeda, dia tulus, orang tuanya bahkan secara intens dateng ke rumah Mama, untuk mendekati Mama dan membuat hubunganmu dan Pram direstui, karena orangtua Pram tahu bahwa Mama tidak setuju hubunganmu dengan Pram.”
“Pram baik karena orangtuanya pun baik Mas, tapi hatiku tidak bisa berbohong bahwa aku tidak bisa berpaling dari Malik Mas, Pram tahu itu makanya dia yang membawa Malik kembali padaku.”
“Jangan sampai Pram terluka dalam Mbak, kau harus meninggalkannya cepat atau lambat, pasti sakit untuknya melihatmu bersama lelaki lain.”
Aku mengangguk, karena itu permintaan berat dari kakakku yang biasanya tidak ikut campur dengan kehidupan pribadiku, tapi apa yang dikatakannya benar, Pram pasti sakit melihatku dengan Malik, apa aku egois dengan menjadikannya kawanan untuk berperang, haruskah aku membuat alasan agar dia pergi dan tidak ikut perang ini? Entahlah aku membutuhkannya, apa aku egois?
____________________________________
__ADS_1
Catatan Penulis :
Apakah kalian fikir Seira egois dan harus mengusir Pram dari perang dan dari hidupnya? Ada yang mau jadi sandaran Pram?