
Raden dan Panglima sudah kembali dari menyelamatkan Malik, kenapa Malik masih saja berikeras untuk mencariku, padahal sudah kuberi banyak isyarat untuk berhenti. Keras kepalas sekali lelaki itu.
Tanpa sadar air mataku meleleh, kami sedang bersiap untuk pernaklukan kembali, kali ini Karuhun Mang Nariman.
Wujudnya Macan, seperti Panglima dan Raden, aku sudah mencari kemungkinan apa yang membuat Karuhun tersebut memilihnya, Mang Nariman bisa dibilang Kepala Desa di Tanah ini, dia orang yagn bijak, keturunan langsung Ayi Nusia, Ayi Tirung yang sangat hebat, tidak gentar saat di penggal karena membela agama dan adat.
Tapi warga di sini menentang pernikahan adat, mereka kubuku, karena Ayi Nusia adalah indikator mereka mempercayai seorang, dan tusuk kondenya ada padaku, makanya mereka percaya siapa aku, ditambah aku mampu naik sampai ke puncak karena usahaku sendiri, tanpa bantuan siapapun.
“Aku akan membantumu sepenuh hati Ayi, seperti yang aku katakan, jangan pakai Karembo Beureum milik Pram karena macanku tidak suka warna merah, dia merasa tertantang untuk menghajar orang yang menggunakan warna merah, jangan bernyayi atau berjoget seperti yang kau lakukan untuk Karuhun Behra, karena Karuhunku tidak suka nyanyian dan tarian dan jangan pernah berani memerintahnya sebelum kau menaklukannya, karena dia tidak suka diperintah selain olehku.” Mang Nariman memberiku banyak sekali nasehat, dia mencoba menakutiku? Kenapa wejangannya banyak sekali.
“Apa kau mencoba menjadi waliku Mang? Kenapa kau begitu khawatir.”
“Karuhun Behra memang lebih buas, tapi kau mampu menaklukannya dengan kecerdasanmu, tapi Karuhunku tidak hanya kuat, dia juga pintar dan cerdas, kau tidak akan mudah menemukan celah untuk bisa menaklukannya, jadi aku mohon ingat semua yang aku katakan padamu.” Mang Nariman berkata dengan memelas.
“Iya.” Aku tersenyum, karena aku merasa dia seperti ayahku, padahal kami baru kenal beberapa hari, tapi mungkin karena Karuhun kami sama, sifat kami mirip, ditambah Mang Nariman tidak punya anak, dia pasti kesepian setelah ditinggal istrinya yang menjadi korban Ayi Kayasm dia tidak pernah punya istri lagi, betapa hebatnnya dia menjaga cinta, apakah Malik akan seperti dia, menjaga cintanya padaku dan tidak pernah menikah, aku berharap kalau aku akhirnya gagal, dia bisa bahagia, walau tidak bersamaku.
“Pram jangan beri aku Karembo Beureum apapun yang terjadi, itu terlarang baginya, aku tidak diberi tahu namanya oleh Mang Nariman, karena dia akan marah kalau aku sampai memanggil namanya sebelum penaklukan, katanya jika Karuhun Mang Nariman memberitahu namanya, maka penaklukan berhasil.”
“Aku akan memantau di pinggir lapangan Quin.” Kami melakukan penaklukan lagi-lagi di lapangan.
Banyak penonton, tapi tanah di lapangan hari ini lebih basah, karena semalam hujan, aku harus hati-hati karena tekstur tanah seperti ini selain licin juga sangat menjebak, bisa saja kakiku terjerembab dan akhirnya tidak bisa bergerak, bagaimana jika kejadian itu terjadi, tapi di detik itu aku sedang dalam bahaya karena diserang oleh Karuhunnya Mang Nariman, maka habislah aku.
“Sudah siap Ayi?” Mang Nariman bertanya.
“Sebentar Mang, sebentar. Aku mencoba menarik nafas, jujur aku agak gugup, mungkin karena aku lelah, mengingat kemarin aku turun untuk memastikan keadaan Malik, lalu harus kembali naik dan mencari semua tentang Karuhun Mang Nariman.
“Sudah siap?” Mang Nariman bertanya sekali lagi.
“Sudah, aku sudah siap.” Aku melebarkan kakiku, sedikit menekuknya dan menaruh kedua tanganku di pingging dengan pergelangan di kepal menghadap keatas.
Lalu Mang Nariman mengeluarkan golok, membua dari sarungnya, seketika keluarlah seorang macan ghaib, warnanya biasa seperti macam pada umumnya, tubuhnya besar dan tinggi, setinggi Panglima, wajahnya sedikit lebih tua dibanding Panglima dan Raden.
“Mang, umur berapa dia?” Aku bertanya.
“Umur 30 …. “
“30 tahun?” Aku tertawa, masih muda ternyata.
“30 ribu tahun Ayi.” Mang Nariman kali ini yang tersenyum.
“Apa?” Ketika itu aku melihat dia mulai menyerangku, pantas saja wajahnya terlihat tua, ternyata karena memang dia sudah sangat, sangat tua!
Dia menggunakan cakarnya untuk menhajarku, aku berhasil menghindar, kanan, kiri, kanan kiri, aku terus menghindar, lalu dia mulai menggunakan tubuhnya untuk menibanku, tua-tua suka bercanda dia, masa mau menibanku, apakah dia bermaksud bercanda, masa segahar itu mau meniban, aku tertawa saat berhasil lepas dari tibanannya.
“Apakah semua macan ghaib bau pandan?” Aku bertanya padanya, dia menatapku dengan tajam.
“Kau tau, ayolah jangan meniban, itu terlalu lucu dan menggemaskan.” Aku menggerakan tanganku ke pipi seolah mencubit pipinya.
“Ayi, kau melakukan kesalahan. Lari!!!” Mang Nariman berteriak dari pinggir semua orang pun berteriak, ada apa ini? Kenapa semua orang ketakutan seperti itu.
Aku melihat Karuhun Mang Nariman dan seketika ikut berlari, aku melihat dia murka, sangat murka hingga larinya melesat, dia tidak berlari dengan empat kaki, tapi dia berlari dengan 2 kaki, dia berdiri, sekarang tubuhnya terlihat lebih panjang, aku tidak melihat Panglima dan Pangeran bisa melakukan itu, lalu setelah itu, dia berhasil menangkapku.
“Jangan pernah menggodanya dan mengatakan dia menggemaskan Ayi!” Mang Nariman berteriak.
Saat aku megarahkan pandanganku pada sekeliling, aku melihat semua orang sudah tidak ada, ada beberapa orang yang luka, sepertinya aku melakukan kesalahan besar, karena ketika maung ghaib ini berlari dia menciptakan angin seperti topan, lalu topan itu memporak-porandakan lapangan, tubuhku masih dicengkramnya.
Aku mengeluarkan Kujang di kedua tanganku, menancapkannya pada lengan Maung, dan dia kesakitan sehingga dia melepasku dari tubuhnya.
“Kau harus hati-hati, karena apa yang kau lakukan tadi sudah menyulutku Maung!” Aku marah karena melihat penduduk yang luka, itu salahku, seharusnya aku tidak memancingnya, aku akan serius kali ini.
Dia berlari lagi, sehingga topan muncul kembali, untuk semua penduduk sudah pergi, aku ikut berlari, di tengah kami bertemu, dia mencoba mencengkram leherku, aku menangakap tangannya atau kaki? Entahlah karena posisinya saat ini dia berdiri dengan 2 kaki, lalu menarik tangan atau kaki itu kebelakang, menancapnya dengan kujang sekitar 3 kali, dia mengerang.
“Sakit hah?!” Aku bertanya, “salah sendiri kau banyak gaya sekali, beraninya kau membuat mereka semua terkapar seperti itu! Menyebalkan!” Aku marah.
__ADS_1
Dia masih kesakitan, “Perhatikan langkahmu, kalau angin topanmu membaut korban lagi, kuhajar kau!”
Maung itu melihatku dengan tatapan menyeringai, entahlah kenapa dia menatapku begitu yang pasti kalau dia berani membuat penduduk terluka lagi, aku akan menghajarnya.
“Dia kembali berlari, dia memukulku dengan cakarnya, lalu menendangku, semua bisa kuhindari, tiba-tiba buntutnya menampar wajahku, panas! Aku memegang pipiku, sial! Sepertinya luka bakar, sakit sekali, saat aku sedang memeriksa pipiku, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik tubuhku, dan merampas kujang, kujang di tangan kananku terlepas.
Dia tertawa, tawanya berat sekali, seperti kakek-kakek. Suaranya mirip Panglima berat dan serak sangat berwibawa, tapi dia terlihat girang saat mengambil kujangku.
Lalu dia duduk dan menengadah keatas, bermain dengan kujangku, apa-apaan itu, dia seperti dapat mainan baru, tapi syukurlah aku bisa sedikit istirahat.
“Perhatikan baik-baik Ayi, lihat kelemahannya.”
“Mang bukankah Kucing jika dia berani telentang pada seseorang, berarti dia percaya orang itu, karena dengan telentang, berarti dia berani menunjukan daerah lemahnya dia, yaitu daerah perut Mang?” Aku bertanya, sementara macan ini masih sibuk main dengan kujangku.
“Tapi dia bukan kucing Ayi, anjingpun jauh buasnya dari dia, ingat seperti yang aku katakan, dia tidak punya kelemahan, jadi fokuslah.”
Mana mungkin tidak punya kelemahan, bohong, pasti ada sesuatu yang bisa menjadi celah dan membuatku bisa menaklukannya.
Dia tidak segemas kucing padahal dalam keluarga kebinatangan, kucinglah yang paling dekat, dia lebih buas dari anjing dan ....
Srigala, ya srigala. Sebentar aku harus berfikir dulu.
BUMM!!! Dia lagi-lagi berlari, angin topan berputar-putar dengan sangat kencang, kali ini tanah ikut naik keatas. Sial! Dia tidak memberiku kesempatan untuk berfikir, sangat tangguh.
Ok kita bertarung sekalian aku berfikir, aku memukul perutnya dalam keadaan membungkuk, menahan pundaknya dan mendorongnya cukup jauh, dikesempatan ini, aku harus berfikir karakteristik srigala.
Mereka adalah jenis hewan yang memimpin, serigala adalah hewan buas yang sangat sulit untuk dijinakkan, jika macan masih bisa dijinakkan, maka srigala adalah bukan tipikal seperti itu, berarti dia adalah macan ghaib dengan sikap dan prilaku srigala.
Wow! Ini sesuatu yang aku bisa baca, tapi sama sekali tidak membantuku untuk mengalahkannya.
Dia berlari cepat lagi, kali ini dia membuka mulutnya yang bertaring, dia mendekatiku dalam kecepatan tinggi, lalu mencoba menggigit bahuku, kena. Sakit!!!
Taringnya menancap di bahuku, darah menetes, aku mengeluarkan Karembo Hejo, melingkarkannya di leher macan srigala ini, dan menariknya agar bahuku di lepas. Berhasil, bahuku terlepas.
Lagi-lagi aku menendangnya dengan kencang, dia kesakitan, aku menyabet karembo heko, mengambil kujangku yang tertancap dibadannya, dan menusuk kepalanya, dia kesakitan lalu menghilang.
Mari lanjutkan menyelidiki karakteristik srigala, srigala adalah makhluk yang cerdas, mereka memiliki stamina luar biasa, liaht sudah tertancap kujang, tersabet Karembo Hejo tapi masih saja bisa mengeluarkan kekuatan sebesar itu.
Dia keluar lagi di belakangku, aku sudah menduganya, aku langsung memegang dadanya dan mendorong kembali.
Sebenarnya ada sesuatu hal yang aku fikir masuk akal, tapi ini seperti sebuah pertukaran, aku tidak suka, tapi ini menjadi satu-satunya jalan yang harus aku lalui, berat tapi aku akan ambil resiko.
“Bagus Heulang.” Aku memerintahkan dia untuk keluar, lalu dia keluar, maaf Bagus Heulang, aku harus melakukan ini.
Aku mendekatinya, lalu membisikkan sesuatu, dia mengangguk dan menyatakan setuju. Sementara si Maung berlari mendekatiku lagi.
Aku berlari menjauhinya, mendekati Mang Nariman, Bagus Heulang mengikutiku dan berdiri di belakang Mang Nariman, aku berteriak, teriakan yang cukup terdengar oleh si Maung.
“Sekarang!” Aku memerintah Bagus Heulang mengatakan pernyataan penaklukan pada Mang Nariman.
“Aku takluk dihadapanmu, aku Karuhunmu, aku berserah atas perintahmu.” Bagus Heulang resmi menjadi Karuhun Mang Nariman.
Seketika Maung berhenti, dia menahan langkahnya bahkan sampai membuat angin menjadi begitu kencang, aku tertawa, sepertinya kena.
Dia terdiam dan terduduk, dia kehilangan kendali atas dirinya, dia mendekati Mang Nariman, menciumnya dan menjauhi Mang Nariman.
Aku mendekatinya, menepuk bahunya dan berkata.
“Mau kemana lagi kau? Siapa yang lebih hebat dariku? Lihat dia sudah bukan milikmu lagi.” Khas seperti sedang membujuk ABG yang lagi patah hati.
“Kiawas Hajar.” Dia berkata dengan suara berat.
Aku mengeluarkan Karembo Hejo dan mengalungkan Karembo itu padanya, dia terdiam dan hanya mengikuti perintah.
__ADS_1
“Kiawas Hajar, saat ini kau adalah Karuhunku dan tetap akan menjadi Karuhun Mang Nariman.” Dia masih diam saja, dan akhirnya mengangguk.
Aku tertawa dan mendekati Pram, di sana ada Mang Nariman juga.
“Mang, Bagus Heulang takkan kuambil, dia tetap menjadi milik kita berdua. Sama seperti halnya Kiawas Hajar.” Aku tersenyum, Mang Nariman pun puas, karena dia mendapatkan mainan baru.
“Bagaimana kau tahu, bahwa hanya dengan memberikan Bagus Heulang kepada Mang Nariman maka dia akan menyerah dan dengan mudah ditaklukan.” Pram bertanya.
“Karakteristik Maung milik Mang Nariman adalah srigala, bukan kucing, apalagi anjing, karakteristik srigala adalah pemimpin yang cerdas dan suka berburu, lihat semua caraku tidak ada yang berhasil, aku tidak bisa lebih kuat darinya, tapi aku bisa lebih cerdas darinya.”
“Ok aku tau itu, tapi kok kepikiran ya, memberikan Bagus Heulang dan melukai harga diri si Maung, apakah kamu yakin itu berhasil, bahkan kamu menukar Karuhun milikmu dengan miliknya, luar biasa gila!” Pram terlihat takjub.
“Dari semua karakteristik yang begitu kuat, ada satu karakter yang bisa sebuah kelebihan atau malah kelemahan.” Aku menahan kata-kataku, aku melihat Pram begitu penasaran.
“Apa?” Dia berhenti saking penasarannya, karena kami memang sedang berjalan untuk kembali ke pondok, hari sudah mulai petang.
“Srigala itu makhluk yang monogami atau bisa kita katakan, setia pada satu pasangan, dia akan bertahan hanya pada satu pasangan sampai mati, sampai sini udah dapet relasinya belum?” Aku melempar pertanyaan.
“Hmm, ok, itu kan untuk pasangan, tapi Mang Nariman bukanlah pasangan Maung, dia adalah pemiliknya jadi, jujur aku tidak kepikiran sampai sejauh itu.”
“Aku juga tadi agak ragu, tapi aku memang harus melakukan banyak kemungkinan dan itu ternyata berhasil, ingat bahwa Mang Nariman tidak punya Karuhun lain selain Kiawas Hajar. Itu bisa jadi karena Karuhunnya menolak bersanding dengan Karuhun lain karena sifat monogami tadi, jadi kalau aku memberikan Karuhunku pada Mang Nariman, maka Kiawas Hajar akan oleng, semacam nggak punya pegangan gitu, jadinya dia akan menyerah karena merasa sendirian, berpaling tidak mampu karena sifatnya yang monogami tadi, bertahan sulit karena dia tidak mau disandingkan dengan Karuhun lain. Makanya akhirnya dia menyerah dan memberitahu namanya, dengan begitu aku bisa menaklukannya, mengembalikan dia pada Mang Nariman sebagai pemilik asal dan tetap memberikan Bagus Heulang sebagai hadiah, setelah ini karena dia memiliki dua pemilik dia harus menuruti perintah pemiliknya, maka terhapuslah karakteristiknya yang monogami tadi.”
“Wow, hanya dalam hitungan menit kau mampu membuat hipotesis seperti itu? intusimu memang jauh kedepan Quin.”
“Itu karena aku mengasahnya terus, semenjak kita memulai penaklukan di sini, aku merasa intuisiku semakin tajam Pram, terima kasih ya.” Aku memandangnya, aku merasa bersyukur dia di sini bersamaku.
Walau ada seorang srigala lagi yang kukenal, srigala yang sangat setia, srigala yang melakukan apapun untukku tanpa pamrih, srigala yang tidak pernah menyerah jika itu tentang melindungiku, srigala itu bernama, Malik Rainan.
...
Kami akan meninggalkan Tanah Pejuang, aku bersiap memasukan semua barang-barang ke dalam ranselku. Agak sedih meninggalkan tempat ini, setelah 3 minggu aku disini, total sekitar 1,5 bulan aku di tempat ini, bertemu banyak orang baik, mendapatkan 3 karuhun sekaligus, dan satu hal yang sangat aku syukuri, bahwa aku memilih jalan yang benar setelah bertemu dengan orang-orang ini, aku telah melangkah pada jalan yang tepat.
“Ayi, ayu kita berfoto, aku ingin memajangnya di majalah dinding desa kami, aku ingin semua anak cucu tahu bahwa ada seorang wanita hebar yang pernah menginap di tanah ini.” Mang Nariman orang yang sangat tulus, aku harap dia bisa selalu bahagia.
“Aku harap bisa kesini lagi secepatnya setelah semua sudah sesuai ya Mang, ini aku kembalikan tusuk konde Ayi Nusia.” Aku memberi tusuk konde itu.
“Tidak Ayi, ini memang milikmu, nenek moyangku memberikannya langsung padamu, berarti dia percaya kau mampu mengendalikannya dengan baik.”
“Mengendalikannya? Aku hanya menggunakan untuk membuka gerbang puncak hutan ini.”
“Tusuk konde ini memang kunci, tapi juga merupakan senjata nenek moyangku, jangan tanya padaku bagaimana menggunakannya, aku pun tidak tahu, yang jelas tusuk konde ini akan menolongmu, suatu saat nanti.” Mang Nariman tersenyum dan kami semua akhirnya berfoto.
Aku bahagia bisa bertemu dengan mereka, Behra si ABG yang memegang Karuhun buas, darinya aku belajar, bukan fisik dan umur yang membuatmu hebat, tapi pola fikir dan kegigihan, karena dia begitu mencintai menari, dan hebat dalam bidangnya, maka Karuhun memilihnya.
Aku belajar kepemimpinan, kesetiaan dan ketulusan dari Mang Nariman yang bersedia hidup sendiri untuk tetap menjaga cinta istrinya yang menjadi korban Ayi Kayas.
Aku belajar tentang betapa pentingnya memegang agama yang benar, bahwa setan dan iblis adalah musuh yang nyata, dari Ayi Kayas, darinya aku belajar, cinta tidak boleh buta, jika cinta itu membuatmu jauh dari Tuhan, maka tinggalkanlah, jangan sekali-sekali berani untuk bersekutu dengannya.
Tanah Pejuang ini menjadikanku semakin cerdas dan dewasa, setelah total 1,5 bulan aku berada di sini, harusnya tidak bisa selama ini, musuhku bisa mengendusku kalau aku lama pada suatu tempat, makanya aku harus segera pergi dari sini.
Aku akan melanjutkan kembali perjalananku dengan Pram, ke tanah dimana misiku harus tertunaikan, misi untuk melawan musuh-musuhku yang begitu hebat, saat ini aku hanya orang lemah untuk mereka, tapi nanti, aku akan menjadi musuh yang sepadan, aku akan buktikan itu.
Sementara, aku mengorbankan cintaku, hatiku dan jiwaku untuk pertempuran ni, semoga Malik akan baik-baik saja di sana, semoga dia tidak akan menderita seperti saat bersamaku, semoga dia menghentikan pencarianku karena sudah kuberi begitu banyak tanda untuk berhenti, mungkin ini semua menyakitinya, tapi percayalah, rasa sakit ini untuk hal yang jauh lebih besar dan mulia lagi.
Aku Ayi Mahogra dari tanah Pasundan, aku berdiri di dua alam, dan aku tidak takut untuk menghadapi takdirku, takdir yang datangnya dari Tuhan.
_______________________________
Catatan Penulis :
Habis ini kita serem-sereman lagi yuk, sejenak kita ke area baru yang akan Seira dan Pram datangi, jangan lupa selalu dukung aku ya, LIKE, COMENT DAN VOTE, supaya KARUHUN naik kelas.
Terima Kasih.
__ADS_1