Karuhun

Karuhun
Bagian 61 : Pertemuan Kembali


__ADS_3

POV MALIK


Begitu kami sampai di hutan aku langsung mencari tempat tinggal Seira, karena kata Pram lokasi tinggalnya tidak sulit dicari, yang penting masuk kedalam hutan, kami tiba disana siang hari, aku dan Hanif berjalan sampai sore, kami sudah masuk cukup dalam, sampai aku melihat sseorang sedang berlari, aku mengejarnya, lalu dia berhenti, aku tidak yakin siapa dia, manusia atau ‘mereka’, tapi begitu aku melihat Panglima dan Raden aku yakin itu Seira, aku berlari mendekat, tapi dia berlari semakin menjauh, aku berlari memutar untuk mengejarnya, aku berlari secepat yang aku bisa, begitu aku tepat di depannya, Seira jatuh menubruk tubuhku, aku melihat bajunya terkoyak di banyak tempat, wajahnya hitam karena lumpur dan di perutnya tertancap golok, ya Tuhan apa yang dia lakukan disini, apa yang dia cari sehingga dia seperti ini, lalu kudengar dia memanggil namaku, entahlah karena dia lihat aku atau dia memang berharap aku menolongnya, aku menjawabnya dan dia pingsan dalam pelukanku.


Kami sampai di kediamannya, memang lokasi kami bertemu tidak jauh dari lokasi dia tinggal di hutan ini, hanya sebuah gubuk yang dibangun dengan sederhana, alat masak dari kayu bakar dan bahkan tempat untuk tidur hanya tumpukan kayu yang disusun dan ditutup pakai triplek dan kain, apa yang dia cari sebenarnya, apa yang dia inginkan sampai hidup seburuk ini.


Aku melepaskan golok yang menancap pada perutnya, sepertinya cukup dalam tapi tidak melukai organ dalam, aku menangis saat mendengar dia merintih, kulihat Hanif berdiri diluar bersama Panglima dan Raden. Aku mencoba mengobati luka Seira sesuai kemampuanku, karena akupun sebelumnya banyak menerima luka karena pertarungan, aku melihat setiap jengkal tubuh wanitaku, begitu banyak memar dan bekas luka, aku menangis dan mengobati luka-lukanya.


“Lukanya udah ditutup?” Hanif bertanya saat aku keluar dari gubuk itu, aku hanya mengangguk, kulihat Panglima dan Raden melihatku dengan pandangan tidak suka.


“Kalau kalian melindunginya, dia takkan sejauh ini dan terluka begitu banyak, semua salah kalian!” Aku memandang mereka dengan tajam.


“Berani kau berkata begitu, sementara dia melakukan ini semua untukmu!” Panglima membalas.


Aku menunduk, “ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Itu semua haknya Seira, kami hanya Karuhun yang mengikutinya dan mematuhi perintahnya, kami takkan mengkhianati Majikan kami seperti si Pram.” Panglima kembali berkata kasar.


“Malik .... ” sayup-sayup kudengar Seira memanggilku, aku langsung berlari kedalam.


“Sudah bangun Ser, minum dulu.” Aku memberinya minum dengan gelas plastik yang sudah usang, air itu aku tuang dari kendi yang ada di sekitar gubuk ini.


“Terima Kasih.” Seira tersenyum, rasa sakit menunggunya selama 2 tahun hilang sudah, hanya dengan senyumnya.


“Ser, aku butuh penjelasan, kenapa kau disini, kenapa kau tidak dirumah yang mewah dan kenapa kau tidak Menikah!” Aku kelepasan dan memarahinya.


“Pram! Ternyata dia bukan orang yang bisa dipercaya, pegkhianat! Kalau aku bilang sedang berlibur kau percaya?” Seira tertawa.


“Ser.” Aku membujuknya.


“Ketika itu Pram memberitahuku tentang kisah sepasang suami istri yang menikah dengan status melanggar pernikahan adat kami, yaitu menikah dengan yang selain Kharisma Jagat, lalu kehidupan mereka berakhir tragis, anak-anak dan istrinya yang tidak tahu menahu soal dunia Ghaib akhirnya menjadi korban. Aku merasa ada yang aneh, karena setelah pernikahan yang menurut mereka melenceng itu baru munculah pernikahan adat sesama Kharisma Jagat, maksudnya apakah itu tidak terlalu kebetulan? Kenapa kejadian tragis itu seperti diciptakan?”


“Apa teorimu soal itu?” Aku merasa wanitaku semakin cerdas diantara tampilannya yang semakin urakan, tubuhnya semakin penuh luka, tapi ada wajah dan otak yang sangat indah, sangat jenius dan aku bahagia bersamanya disini.


“Setelah aku meninggalkanmu,” Seira sedikit terbatuk saat mengatakan itu, “aku pergi ke banyak daerah, tidak sedikit biaya yang Pram keluarkan untuk membantuku mengobservasi kecurigaanku pada pernikahan adat ini, setelah aku dan Pram menggali lebih dalam, ada ratusan pernikahan antara Kharisma Jagat dan orang biasa puluhan tahun ini dan hampir semuanya kandas ditengah jalan, yang lebih parah, pernikahan mereka semua tidak memiliki anak, bisa karena mandul atau anaknya meninggal. Karena itu aku semakin yakin ada sesuatu yang disengaja agar membuat mereka menjadi percaya bahwa ada kutukan jika melawan pernikahan adat.”


“Kenapa harus Pram? Kenapa tidak aku? Kenapa kau malah pergi meninggalkanku?” Pertanyaan yang begitu ingin kutanyakan 2 tahun ini akhirnya terlontar.

__ADS_1


“Aku memang seorang Ayi Mahogranya Kharisma Jagat, tapi mereka jauh lebih banyak, jauh lebih tangguh, lalu aku yang sendirian ini tidak akan bisa bergerak jika terlalu banyak yang mengawasi, makanya aku dan Pram sepakat untuk menciptakan hubungan palsu, agar gerak-gerik kami tidak di curigai oleh mereka. Dengan menyebarkan gosip palsu tentang pernikahan kami, maka untuk sementara waktu mereka akan tenang.”


Aku mengerti sekarang, sangat masuk akal, tapi, “Seberapa penting observasi ini hingga membuatmu meninggalkanku dan bertarung disini sendirian?”


“Sepenting dan sebesar cintaku padamu.” Seira menunduk, dia menitikkan air mata.


“Aku tidak mengerti.” Aku memegang erat tangannya.


“Jika kita memaksakan pernikahan kita, sudah dapat dipastikan rumah tangga kita akan kandas, karena semua permainan licik ini, aku tidak ingin kau ataupun anak-anak kita kelak menjadi korban, aku tidak akan bisa membayangkan jika aku kehilangan kau dan anak-anak kita, aku tidak akan bisa bertahan.”


Aku pun menitikkan air mata mendengar penjelasan Seira.


“Jadi kau berusaha menciptakan dunia baru untukku dan anak-anak kita kelak? Kenapa kau yakin bahwa aku tetap akan mununggumu dan tidak berpaling pada wanita lain?”


“Karena aku berharap kau jodohku, maka aku berdoa pada Tuhan agar menjodohkan kita.” Dia tersenyum sembari meletakkan tangannya didadaku, aku menggenggam tangannya.


“Kau bukan Tuhan.” Aku meniru kata-katanya.


“Aku memang bukan Tuhan, tapi kenapa aku selalu condong kepadamu, hatiku bahkan tidak goyah sedikitpun, entah kenapa akupun yakin hatimu terlalu kuat untuk berpaling, walau aku tidak benar-benar berfikir selama dua tahun ini kau malah sibuk mencariku, kufikir .... ”


“Mungkin.” Dia tersenyum lagi, indah sekali pemandangan ini, aku bersumpah tidak akan pernah meninggalkannya lagi.


“Ijinkan aku berada disisimu Ser.” Aku memohon.


“Malik, bersabarlah aku akan kembali, tapi .... ”


“Aku tidak bisa Ser, aku mohon, ijinkan aku berada disisimu.”


“Ok, tapi dengan satu syarat.”


“Ya, apapun itu.” Aku meyakinkannya bahwa apapun akan aku tempuh asal bisa selalu bersamanya.


“Kita belum menikah, aku yang akan memimpin, aku yang ambil keputusan, kau tidak diperbolehkan untuk membantah atau melarangku. Seperti yang kau katakan, kau akan disisiku, hanya sebatas itu, kau tidak diperbolehkan melanggar batasanmu, kau tidak diperbolehkan mengambil keputusan dibelakangku.”


“Ok, jadi itu satu syaratnya? Kenapa terdengar banyak ya ditelingaku?” aku menggodanya.


Aku tahu kenapa dia memberi syarat, dia takut aku menjadi seperti kemarin, karena khawatir aku mengambil keputusan-keputusan bodoh, aku harus mempercayainya, karena dia adalah Ayi Mahogra yang memiliki Intuisi hebat, dan sepenuhnya sudah memilik kekuatas yang sempurna tidak tersegel lagi, maka kemampuannya jelas diatasku.

__ADS_1


Aku berjanji akan mendengarnya dan mengikuti semua yang dia inginkan, karena aku tidak ingin kehilangan dia lagi.


“Malik, ini akan berat untuk kita, maksudku, berjanjilah kau akan baik-baik saja, karena itu cukup bagiku.”


“Aku berjanji akan baik-baik saja dan kau pun harus berjanji apapun keadaannya kau akan tetap disisiku.”


“Aku berjanji.” Dia tersenyum padaku.


Lalu kami saling menggenggam.



Seminggu sudah kami tetap di gubuk, Seira mencoba memulihkan tenaganya, kemarin Raja Bojabon datang, dia hampir merubuhkan gubuk, aku benar-benar kaget ketika Seira pura-pura tidak terluka, padahal kondisinya belum sepenuhnya pulih.


Dia menghalau raja Bojabon, dia bilang bahwa Raja Bojabon hanya ingin anaknya, dan anak itu ada di dunia bayangan yang Seira ciptakan, maka setelah anaknya dilepas Raja Bojabon pergi, tapi sebelum pergi Raja Bojabon mengatakan bahwa dia siap berperang di sisi Seira.


Kami tersenyum karena Raja dengan 300 rakyatnya sudah di kubu kami, maka genap 1000 pasukan Seira.


“Malik.” Seira menyapaku yang sedang menyalakan api untuk masak, ini masih pagi.


“Ya Ser.” Seperti biasa, aku tidak memanggilnya Quin, aku memanggilnya dengna panggilan sayang, Serku.


“Makanlah yang banyak, kita akan mulai bertarung lagi hari ini, paling selatan hutan ini belum kujamah sama sekali, maka kemungkinan di sana jauh lebih banyak yang bisa kita taklukan.


“Baiklah Ser, sesuai perintahmu.”


Aku dan Seira tersenyum sembari menyiapkan sarapan dan seluruh senjata kami, kemungkinan kami akan pindah gubuk, karena expansi membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.


_________________________________________


Catatan Penulis :


Mulai part ini kemungkinan mereka tidak akan terpisahkan, jadi mohon maaf untuk penggemar Pram, Author jangan dimarahin ya, tetap setia baca Karuhun walau endingnya mungkin akan tidak sesuai dengan yang kalian inginkan.


Bahas soal ending, aku hanya memberitahu kalian bahwa setiap tulisan memiliki jiwanya masing-masing, hingga rasanya bukan hanya aku yang memutuskan tapi kisah itu sendiri, seperti Karuhun yang sedari part satu aku sudah tahu endingnya karena memang seperti itu kisah ini mempengaruhi tulisanku, bahkan ketika aku mengetik terkadang aku tidak memikirkannya, hanya mengetik saja, rasanya seperti tanganku jalan sendiri, makanya aku tidka pernah melawan hatiku, makanya cerita terasa nyata padahalo fiksi karena aku mengandalkan aspek hatiku dan intuisiku tentunya baru di barengi dengan riset sederhana tentang tema yang aku bawa.


Jadi aku berkesimpulan bahwa setiap kisah yang aku tulis mereka membawa jiwanya masing-masing, dan mereka sendirilah yang menentukan akhirnya, kalau aku melawan maka ceritanya akan terasa janggal dan tidak pas di mataku, sehinggi cerita itu tidak berkualitas lagi, begitulah yang aku rasakan.

__ADS_1


__ADS_2