
Kami kembali ke kamar hotel, saat ini bagi kami sudah tidak haram berduaan di dalam kamar, aku dan Malik akan di sini selama 2 hari, sementara pasukan Raja Bapati sudah muai ekspansi diam-diam menuju tempat yang akan menjadi arena perang kami, Raja Bapati bergerak hanya pada waktu tertentu dan memecah pasukan menjadi beberapa bagian, karena dia ingin tidak di ketahui keberadaannya, Mudha Praya masih belum sadar keberadaan Raja Bapati.
Jumlah pasukan kami sebanyak 2.030 makhluk dengan berbagai wujud terdiri dari manusia dan jin, termasuk kami pasukan inti, beberapa pasukanku sudah konvoi juga, aku tahu begitu Mudha Praya mendengar pernikahan kami, dia pasti langsung membuat pergerakan, maka malam ini aku mengirim Bagus Heulang untuk mengacak-acak markas perlindungan mereka dan menulis dengan tinta merah, tempat dan waktu perang kami, besok pagi harusnya Bagus Heulang akan pulang dengan membawa surat balasan.
“Malik.” Aku menyapanya, dia sedang mengelap pedang pusaka.
“Ser!” Malik kaget karena aku mengenakan gaun transparan.
“Tenang, semua makhluk sudah aku usir dan membuat garis batas agar mereka tidak bisa melihat apa yang kita lakukan di sini.” Aku mengerlingkan mataku.
“Kamu kenapa jadi centil begini ya?” Malik bergidik.
“Ini baju dari Seina, katanya kamu pasti suka, kamu nggak suka?” Aku bertanya.
“Aku suka, tapi kenapa di sini jadi panas ya?” Malik gerah, lalu melempar pedang pusakanya yang menghilang ketika dia lempar.
“Aku mandi dulu ya.” Malik melewatiku.
Saat aku hendak merebahkan tubuh, tiba-tiba dia menarik tubuhku dari belakang.
“Seperti yang selalu aku bilang, jangan jauh-jauh dariku.” Dia menarik tubuhku dan membawaku ke kamar mandi.
Pintu kamar mandi dikunci dari dalam, dia membuka kaosnya, tampilan perutnya yang berotot sungguh membuatku mabuk.
Kran Shower yang ada di atas dibuka olehnya, aku merasa airnya begtu hangat menerpa kami, air itu membasahiku seketika, baju transparanku membuat apa semua yang tadinya terlihat terawang menjadi jelas.
Malik menarik pinggangku, saat ini kami berhadapan, dia lalu melepas gaun transparanku, lalu seluruh kain yang menutup tubuhku dia tanggalkan, dia memperhatikan semuanya dulu, dengan tubuh tanpa sehelai benangpun aku membiarkannya menikmati apa yang dia tahan selama belasan tahun ini.
Setelahnya aku membantu dia melepaskan penutup area pribadinya, satu-satunya yang dia gunakan saat ini.
Kami saling berpelukan tanpa sehelai benang pun yang menutupi, malam menjadi saksi betapa kami bersyukur Tuhan telah mempersatukan kami dalam ikatan pernikahan yang indah, kami tidak pernah memiliki niat bertanya, kenapa kami harus memiliki jalan yang begitu sulit hanya untuk bersama, kami justru besyukur, DIA memilih kami menjadi petarung sejati DIJALAN-NYA.
Air hangat membasahi tubuh kami yang semakin kepanasan karena gejolak hasrat yang saling kami lemparkan, Malik mengecup bibirku dengan sangat lembut, dia tidak memejamkan matanya sedetik pun, selain hanya untuk berkedip, dia memperhatikan setiap ekspresiku, seolah ingin menyimpan moment ini selamanya, seolah ini terakhir kalinya dia menatap setiap inci tubuhku.
Setelahnya kami tidak dapat menahan lagi deburan gejolak yang tak hentinya memaksa kami mengeluarkan sisi paling manusiawi yang Tuhan berikan pada setiap pasangan, sisi dahaga akan tubuh lawan jenis, sisi paling indah jika dilakukan dua sejoli yang sudah menikah, sesuatu yang nikmat tapi tidak melanggar perintah Tuhan dan menjadikan kita makhluk yang mulia karena melakukannya sesuai hak dan kewajiban, sisi yang orang bilang, adalah nafsu duniawi.
Kami melepaskan seluruh kehormatan, menanggalkan seluruh naungan tubuh dan membiarkan tangan-tangan kami saling menjamah, pola sentuhan yang membuat kami berdua mengeluarkan suara yang begitu mendebarkan, suara yang banyak orang tandai sebagai lenguhan kenikmatan.
Kami melakukannya berhadapan, lalu aku memunggunginya, setelahnya Malik memanggkuku, kami melakukan semuanya dengan pelukan erat hingga menjadikan moment ini tidak akan terlupaka seumur hidup kami, betapa kami dulu saling mencoba menutupi apa yang kami rasakan, mengenyampingkan hasrat remaja, lalu saling dewasa dan tenggelam dalam kebohongan cinta masing-masing, lalu di sinilah kami berakhir, saling merapatkan diri dengan sah.
...
“Terima kasih.” Malik berkata, kami sudah di tempat tidur, tentu tanpa menggunakan pakaian setelah membersihkan tubuh kami dan memutuskan tidur dengan apa adanya, kepolosan yang nikmat.
“Untuk apa?”
“Untuk moment yang sangat indah barusan.”
“Ternyata kau romantis ya, maksudku, kita tidak pernah benar-benar melewati moment seperti berkencan, kau dulu kebanyakan pacaran dengan kakak kelas, kau pernah mencium mereka?” Aku tiba-tiba ingat dulu ketika dia selalu saja berpacaran, dan bodohnya aku selalu ikut setiap kali dia kencan.
“Mencium mereka? memanggil nama mereka saja aku enggan.”
“Bohong! Kau dulu playboy, satu-satunya yang tidak kau pacari hanya aku!” Kenapa setelah moment mesra tadi aku jadi perempuan bodoh gini?
__ADS_1
“Ingat-ingat coba, dulu ada nggak, satu kali aja aku berkencan tanpa ada kamu ikut.” Malik bertanya.
“Iya sih aku selalu ikuta.”
“Coba buat list, siapa aja pacarku, lalu kamu tarik garis lurus, siapa saja ayah mereka, setelahnya kamu akan tau, benefit apa yang kamu dapat dari hasil hubunganku dengan mereka.”
“Rata-rata pacar kamu itu anaknya kepala sekolah atau relasi dekan, bahkan ada yang ketua yayasan.”
“Dari semua sekolah mahal itu, berapa banyak yang kasih kamu beasiswa?” Malik bertanya.
“Semua sekolah aku dapat beasiswa.”
“Menurutmu Papiku mau bantu beasiswa kamu? Ya kamu tahulah dulu dia gimana ke kamu, dari cewek-cewek remaja ini lah, aku dapat semua benefit agar kamu aman dan nyaman untuk sekolah di tempat mahal.” Malik tersenyum.
“Kamu licik!” Aku tidak suka, ternyata dia memanfaatkan wanita lain untuk menolongku.
“Dari dulu aku memang selalu begitu, kau lupa bahkan aku menekuni ilmu hitam dan putih untuk membuatmu nyaman dan aman dari gangguan, kalau aku hanya memiiki ilmu putih aku tidak akan bisa melindungimu dari mereka yang jahat, aku harus jauh lebih jahat dari musuhmu agar tau pergerakaan mereka, satu hal yang kamu harus tahu, aku adalah pesakitan untuk wanita lain, jangankan melecehkan mereka, mencium mereka saja aku tidak sanggup, bahkan pernah ada rumor kalau aku homo.” Malik tertawa.
“Iya aku ingat itu pas SMA dan kuliah, aku juga tidak tau rumor macam apa itu.” Aku ikut tertawa.
“Itu semua karena, aku tidak memiliki hasrat selain kepadamu, aku tersiksa karena tidak mampu memberitahumu, seberapa besar aku mencintaimu Ser.” Malik merengkuhku dengan seluruh tubuhnya, kami berpelukan mengenang masa lalu yang tidak kalah pahitnya dengan hari ini.
Brak! Jendela kamar hotel kami ditabrak sesuatu, aku dan Malik reflek pakai handuk baju dan mendekati jendela.
“Bagus Heulang!” Pantas dia bisa menerobos pagar penjagaan yang kubuat di sekitar hotel ini.
“Dia sekarat Ser, siapkan teh Amreta.” Malik membopong Bagus Heulang dan aku menyiapkan teh amreta agar kondisinya pulih.
Begitu dia meminum tehnya kami membaringkan dia di bawah, karena tubuhnya besar dan kamar hotel ini tidak cukup menampung tubuhnya.
Setelah membaringkannya di sana, Bagus Heulang menarik tanganku, dia ingin berbicara.
“Dia meninggalkan pesan pada sayapku.” Bagus Heulang menunjuk sayapnya, aku pun membuka sayap itu, Bagus Heulang kesakitan karena sayap itu dipotong oleh golok keramat Mudha Praya, pantas Bagus Heulang terbang dengan tidak stabil hingga menabrak jendela hotel kami, ternyata sayapnya di potong.
Di sayap itu tertulis ‘SAMPAI JUMPA’, Mudha Praya menerima undangan perang kami, mungkin saat ini dia sedang menghimpun pasukan.
“Istirahat di sini dan aku tidak mengijinkanmu berperang!” Aku berbicara pada Bagus Heulang.
“Lebih baik aku mati bersamamu, daripada aku bersembunyi disini.” Bagus Heulang marah.
“Kau sekarat! Tidak seharusnya aku mengirimmu, bodohnya aku.”
“Perangpun pasti meminta korban Ayi, tolong kuat lah.” Bagus Heulang memaksa.
“Baiklah, aku akan mengijinkanmu ikut, asal kau memulihkan diri dulu di sini.” Bagus Heulang setuju.
...
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, kami semua akhirnya sampai di Pantai paling selatan negeri ini, aku melihat Malik, Hanif, Aam, Pram, dan banyak lagi ratusan Kharisma Jagat yang memang oposisi dan memiliki visi misi yang sama denganku, yaitu menentang takdir palsu jodoh adat, ditambah dengan Raja-Raja Hutan dan Lautan yang setuju bergabung denganku, mereka semua membawa pasukan Karuhun maupun anak buahnya, bertekad untuk perang habis-habisan.
Aku tahu bahwa disetiap perjuangan bala tentaraku, terselip kepentingan mereka sendiri-sendiri, ada yang karena dendam dengan Tetua karena dulu diusir, ada juga yang berharap dapat menjalin hubungan baik denganku, walau dari awal sudah kutegaskan tidak ada perjanjian mengikat antara kami, jadi aku tidak perlu membayar apapun setelah perang ini, karena menang atau kalah itu akan menjadi milik kami bersama.
“Ayi, maaf sebelumnya karena Aam juga tidak dengar kata-kata Ayi, Aam kekeh ikut perang, Aam nggak bisa kalau nggak ikut Ayi, apalagi kalau Ayi kenapa-kenapa, Aam bisa gila, karena buat Aam, Ayi seperti kakak kandung yang akan Aam jaga seumur hidup, apapun resikonya.” Aku tersenyum karena adikku yang baik ini adalah orang yang selalu ada di sisiku dan akupun lega karena pertengkaran aku dengan Mang Engkus berakhir sudah dengan ditandainya dia berdiri di barisanku, bukan di barisan para Tetua. Saat ini berarti jumlah pasukanku sebanyak 2031 makhluk karena masuknya Aam, satu orang yang berharga untukku.
__ADS_1
Kami semua memakai pakaian adat sunda, sebagai penghormatan atas identitas kami, semua laki-laki dan perempuan yang bergabung dalam barisanku menggunakan baju pangsi dan celana komprang, termasuk diriku, pakaian ini biasa digunakan saat latihan silat berwarna serba hitam. Tentu saja aku juga memakai jubah dari Raja Bapati, jubah berwarna hijau tua itu akan sangat tajam bagi tubuh musuhku.
Aku memegang kujangku di kanan kiri, dan mengalungkan Karembo Hejo, masih ada Golok yang kusematkan di pinggang milik Raja Bojabon yang berhasil kutaklukkan, Malik menggunakan tubuh penuh belingnya dan membawa Pedang Keramat sebagai senjata, Hanif menggunakan pedang, Aam membawa tombaknya yang pernah dia pinjamkan ketika aku menghabisi kuntilanak yang menyerap janin Kakak Iparku dulu, Pram membawa cambuk yang jika disabet bunyinya bagaikan petir, kami sudah siap dengan kemungkinan terburuk, menang atau kalah, aku memandang semua pasukan di barisanku, aku menitikkan air mata, bukan karena takut, tapi karena terharu, ada begitu banyak orang yang percaya padaku hingga mereka menyerahkan takdirnya dengan berdiri di barisan ini.
Kami memang kalah jumlah, sementara para Tetua, memiliki pasukan tujuh kali lipat di atas kami, bahkan ketika pasukan mereka berbaris ada gemuruh yang memekakkan telinga dengan berdiri di barisan depan Mudha Praya, anehnya seluruh pasukanku tidak ada yang mundur satupun, orang-orang dan ‘makhluk-makhluk’ yang menjadi pasukanku adalah tipikal yang terbiasa berperang, entah karena wilayah mereka tinggal atau memang mereka orang-orang yang agak brutal dalam memandang hidup.
Ya, karena Kharisma Jagat yang berada di pihakku, rata-rata adalah orang buangan dari para Tetua, mereka melawan takdir mereka dan adat secara terang-terangan.
Aku memegang tangan Malik yang berdiri di samping kananku.
“Malik, ini akan jadi bulan madu yang paling indah jika kita menang, hadiah pernikahanku belum kau berikan bukan?” Aku berkata.
“Apa yang kau inginkan sayang?” Malik tersenyum.
“Kau akan berikan apapun?” Aku bertanya.
“Apapun.”
“Jika kau melihatku dalam bahaya, jangan pernah kau dekati aku, jika pilihannya adalah kau atau aku yang hidup, maka hiduplah, hiduplah dengan baik, seperti sebelumnya.” Aku memandangnya dengan lekat.
“Apa kau pikir aku bisa hidup tanpamu?”
“Berusahalah, kau kan sudah berjanji.” Aku memaksanya.
“Yang bisa aku janjikan hanyalah, memastikan kau baik-baik saja.” Dia menjawabku dengan dingin.
“Hei pengantin baru, kalian mau pacaran atau berperang.” Pram protes, dia berdiri di sebelah kiriku.
“Pram jangan terlalu dekat, dia bukan muhrimmu.” Malik membalas Pram.
“Ok bung, jadi, kapan kita mulai berpesta.” Pram berteriak, diiringi teriakan seluruh pasukan kami dari belakang.
Gong perang dibunyikan, itu adalah tanda di mana kami semua siap berperang.
Peperangan ini agak berbeda dari perang yang lain, yaitu kami sebisa mungkin tidak membunuh manusia.
Lalu bagaimana perang bisa terjadi jika tidak ada pembunuhan pada manusia? ya, ini salah satu janju kami bahwa, kami hanya akan membunuh Karuhun mereka dan menjadikan pasukan Kharisma Jagat milik Mudha Praya menjadi cacat, cacat karena menjadi manusia biasa, cacat karena tidak memiliki kemampuan istimewa lagi dan tidak bisa menggunakan ilmu itu untuk memiliki kekuasaan yang tinggi.
Jin mereka adalah incaran kami, mereka yang akan kita habisi, karena kalau sampai ada korban dari pihak manusia maka urusannya adalah Hukum Pidana di Negeri ini.
Semua pasukan bersorak sorai, tidak ada yang gentar walau suara mereka jauh lebih bergema.
Aku memasang kuda-kuda, memegang Kujangku dengan kedua tangan, menyematkan golok milik Raja Bojabon yang dulu berhasil aku dapatkan dengan membiarkannya menusuk perutku. Malik bersiap dengan pedangnya, Pram memegang cambuknya.
Aku bersiap untuk berteriak, "SERANG!!!" aku berteriak dengan sangat lantang dan kami semua bertemu di arena pertempuran.
_________________________
Catatan Penulis :
Perangnya lanjut besok ya, udah malam.
Aku rencananya akan tutup Karuhun di part 83 tapi sepertinya terlalu mepet, tapi kita coba ya.
__ADS_1
LJB akan tetap tayang di tgl 1 Oktober ya Gengs, abis dri sinj pantengin NAMIO (Namira dan Gio)
Selamat Malam.