
“Jelas dia kena Ritual Gugah Alam!” Aku geram karena sudah pasti ini kerjaan orang itu.
“Ritual Gugah Alam?! Mana mungkin! Seseorang yang menyerang Malik dengan ritual itu harus tahu tanah perkuburan ari-ari Malik dan memiliki kekuatan yang tinggi.” Pak Hanif kaget dan bingung.
“Sebentar aku telepon Papinya.” Aku pun menelpon Papi Malik.
[Siang Om, ini Seira, Om Seira …. ]
[Kenapa Seira? Apa belum ketemu tempatnya?] Tempat apa yang dimaksud Papinya Malik?
[I-iya Om belum ketemu, jadi di mana ya Om?]
[Kan udah Om bilang, dulu Malik lahir di luar kota, alamatnya sesuai yang Om kasih, kamu tinggal telusuri aja jalan utama, nanti juga ketemu kok, lagian kamu mau kasih kejutan ke Malik jauh banget sampai ke tempat lahirnya segala.]
[Iya Om, biar surprisenya bermakna, oh iya, tadi aku jam berapa yang ketempat Om? Soalnya aku bingung tadi perjalanan ke sini berapa jam ya Om?] Aku memancingnya karena curiga.
[Tadi kamu ke rumah Om sekitar jam 1 siang, trus langsung buru-buru pergi abis dapat lokasi tempat lahir Malik.]
[Oh, berarti ke sini sekitar 2 jam ya Om, supaya jam surprisenya ga meleset Om, oh ya salam buat Tante sama Maliyah ya Om, maaf aku ganggu.]
[It’s Ok Seira, take care ya.]
Lalu aku pun menutup telepon.
“Tepat dugaanku, Malik kena Ritual Gugah Alam, kurang ajar!”
“Tadi Papi bilang apa?” Pak Hanif bertanya.
“Sepertinya Jin suruhan Mudha Praya mendatangi Papimu menyerupaiku, menanyakan tempat lahir Malik dengan alasan mau kasih surprise di sana, dari tempat lahirnya bukankah mudah untuk menebak di mana ari-arinya di kubur? Setelah itu tanah perkuburan ari-ari itu dicuri dan Mudha Praya tentu bisa melakukan Ritual Gugah Alam karena kemampuannya yang tinggi.”
“Berarti kita harus ke rumah neneknya Malik Ser, karena di rumah sakit dekat rumah neneknya Malik lah dia dilahirkan, kita harus melakukan ritual Gugah Alam balikan dan mengunci rapat diri Malik setelahnya.”
“Itu langkah terbaik yang harus kita lakukan, sekalian adu ilmu sama Si Kakek Durhaka.”
Lalu kami berdua langsung menuju rumah Neneknya Malik, ya, neneknya Malik bukan neneknya Pak Pram, walau mereka adik kakak, tapi mereka beda ibu, yang dimaksud neneknya Malik adalah, ibu dari ibunya Malik, dan setahuku hubungan Pak Hanif dengan keluarga Ibunya Malik kurang baik, karena dulu Pak Hanif sempat membuat onar ketika ibunya meninggal, kalau tidak salah dia sempat membuat hancur rumah neneknya Malik dan juga rumah Papinya. Itu masa lalu, semoga mereka sekarang bisa melihat betapa Pak Pram sangat menyayangi adiknya.
Dan semoga kami berhasil melakukan Ritual Gugah Alam Balikan.
Kami berkendara selama 2 jam untuk sampai ke rumah Neneknya Malik, rumah mewah khas gaya ibunya Malik ternyata datang dari sini, Ibunya Malik memang sangat kaya raya, itu juga salah satu alasan Papinya Malik dulu meninggalkan Ibunya Pak Hanif, karena kekayaan, itu luka lama dan mereka semua sudah saling memaafkan.
Tapi sepertinya tidak dengan Neneknya Malik.
“Nggak bisa Ser, gue nggak boleh masuk, Neneknya Malik emang benci gue banget. Salah gue dulu selalu cari masalah sama mereka.” Pak Hanif menyesali dulu waktu Ibunya baru meninggal, dia memang membuat onar ke keluarga Ibunya Malik, mulai dari santet, mengirim hal-hal buruk sampai teror, sampai Pak Hanif ketemu dengan Malik dan Malik menyetuh hati kakaknya itu, Malik memang dingin dan arogan, tapi jauh di lubuk hatinya dia adalah orang yang hangat dan sangat perhatian. Malik mendekati kakaknya perlahan, Malik selalu berusaha ada untuk kakaknya dan ketika dia ada masalah Pak Hanif lah yang akan dia datangi seolah tidak ada orang lain yang dia percaya, hingga membuat Pak Hanif tidak lagi ingin menyakiti keluarga baru Papinya karena merasa Malik dan Maliyah adalah adik-adiknya yang harus dia lindungi, walau awalnya aku sama sekali nggak tau kalau Pak Hanif adalah Kakaknya Malik, aku hanya tau dia adalah Manager IT di perusahaan Malik, lalu disinilah kami semua berakhir.
“Kalau aku yang datang Neneknya pasti bingung karena aku sebelumnya sudah datang, satu-satunya cara yang harus kita lakukan adalah memberitahu yang sebenarnya.”
“Kau gila, dia bisa shock atau mungkin kena serangan jantung, aku tidak mau dia kenapa-kenapa gara-gara kita, fikirkan cara lain Ser, lagian kenapa sih ari-ari Malik di kubur di belakang rumah neneknya, mana temboknya tinggi banget ga bisa dipanjat.”
Kami tetap di dalam mobil depan rumah Neneknya Malik, kami terus memikirkan bagaimana caranya supaya bisa tembus rumah neneknya Malik, jujur kami buntu, lagian kenapa dendaman sih, padahal ini cucu tirinya, sungguh tidak bijak.
“Oh ya, aku tahu, ini sedikit gila, tapi mungkin berhasil, kita nyotek caranya Mudha Praya.” Aku tersenyum simpul pada Pak Hanif, dia mengerti dan memanggil Karuhunnya, seorang macan yang mirip dengan Panglima, mantan Karuhunnya Malik.
…
__ADS_1
POV AUTHOR
“Mih, maaf aku datang tiba-tiba, tadi Hanif datang ke sini ya? Dia bilang mau berkunjung aja kan? Dia mau minta maaaf sebenanya Mih, nggak bisa apa biarin masuk aja? Kasihan dia Mih, ampe nungguin di luar, dia itu mau nikah sebenarnya, jadi takut kalau ada sesuatu yang buruk terjadi makanya dia dateng ke sini mau minta maaf ama Mimih.” Papinya Malik berbicara denga Ibu mertuanya.
“Ya, Mimih mah takut kalau dia bakal bikin onar lagi di sini, makanya Mimih usir, ya kalau cuma mau minta maaf mah, sok atuh suruh masuk.” Neneknya Malik akhirnya luluh setelah Papinya Malik datang.
“Yaudah, aku suruh dia masuk dulu.” Lalu Papinya Malik kepintu depan menemui Pak Hanif.
“Udah boleh masuk tuh, tapi lu ngomongnya yang lamaan, biar gue bisa ambil tanahnya buru-buru, pokoknya lu lebay-lebayin ya.” Papinya Malik berkata.
“Ya, tapi lu juga buru-buru temuin, masa gue suruh manis-manis, gue mana bisa, pake bilang mau minta maaf lagi.”
Kalian pasti bingung kenapa Hanif bisa sekurang ajar itu sama ayahnya sendiri, yup, itu adalah Macannya yang menyerupai ayahnya Hanif, karena kalau menyerupai ibunya Malik, pasti Neneknya akan langsung sadar kalau itu bukan anaknya dalam waktu singkat, karena instring seorang ibu, makanya diputuskanlah oleh Seira dan Hanif untuk menyerupai ayahnya Malik.
Setelah itu Hanif langsung mencari tanah perkuburan ari-ari Malik dan Hanif berpura-pura meminta maaf, tapi mungkin Hanif bersyukur karena dengan ini dia bisa meminta maaf secara tulus, karena dulu yang salah adalah ayahnya bukan keluarga ibunya Malik atau Malik sendiri, ayahnya Malik bahkan menggoda ibunya Malik duluan karena silau dengan harta.
Setelah 1 jam, akhirnya mereka berhasil mengambil tanah perkuburan itu, tanpa berlama-lama lagi, akhirnya mereka berdua pamit dan buru-buru keluar, menemui Seira lagi.
…
POV SEIRA
“Dapet?” Aku bertanya, tepat setelah merreka keluar dari gerbang Papinya Malik langsung berubah menjadi Macan dan Pak Hanif menunjukan sesuatu yang dia bungkus dengan plastik kresek hitam.
“Dapet, gila gue ngobrol ama neneknya Malik berasa pegel mulut gue, karena Neneknya ngajak ngobrol terus, mungkin karena sudah nggak ada siapa-siapa lagi yang tinggal sama dia selain asisten rumah tangga yang banyak itu.” Pak Hanif mengeluh tapi ada rasa kasihan di sana.
“Emang berapa pembantunya?” Aku iseng aja tanya.
“17 orang Ser.”
“Kan beda-beda urusan, suster 3 karena di bagi 3 shift, tukang kebun, pembantu 3, tukang masak, ya pokoknya gitu deh, ampe apal gue saking si Nenek cerinya panjang banget.” Pak Hanif tertawa.
“Ok, sekarang aku, Pram sama Malik akan pulang ke Kerajaan Hutan selatan, aku sudah meminta Pram untuk menyiapkan semuanya, sementara itu aku sudah mengatur agar Malik ditidurkan dulu dengan obat bius, Dokter Adi mengurusnya Pak, di sini Bapak tolong bantu urus perusahaan Malik ya, maaf aku selalu menyusahkan.”
“Ser, terima kasih ya, sudah tetap memegang teguh hatimu untuk Malik, jujur melihatnya seperti orang gila kemarin mencarimu, lalu sempat menyerah dan akhirnay Pram datang, membuatku hampir saja mengajaknya bunuh diri bersama, dia benar-benar hancur tanpamu Ser.”
“Aku yang terima kasih karena kau menjaga Malik ketika aku tidak bersamanya Pak.”
Setelah itu kami berkendara kembali ke markas Malik, menjemput Malik yang tertidur, naik pesawat cesna lagi untuk segera sampai di Kerajaan Hutan Selatan.
Kenapa aku memilih kembali dulu ke Kerajaan Hutan Selatan, itu karena aku ingin menjaga agar semua bsia fokus pada penyembuhan Malik, aku tidak ingin mengerjakannya di tempat lain, karena di Kerajaan Hutan Selatan lah kami aman, zona yang Mudha Praya tidak berani datangi, karena untuk menyusupkan orang saja kemarin Mudha Praya kesulitan, kalau bukan karena Dayangnya Raja yang memendam rasa, tentu Mudha Praya tidak akan pernah bisa memasukkan orang ke dalam kerajaan.
Kami sampai kerajaan, Raja menjemput kami di gerbang, kami menaiki kereta kencana.
“Maafkan aku Raja karena selalu menyusahkanmu.” Aku menyesal. Pram, aku dan Malik selelau membuat Raja khawatir.
“Tidak masalah, justru seharusnya aku mendampingi kalian dilaur sana, aku adalah yang paling tua diantara kalian, seharusnya aku yang melindungi kalian.”
Kereta kencana sampai di pondok tempat tinggal kami, hari sudah malam, ritual harus segera diadakan, karena kami tidak mau lama-lama Malik menjadi orang yang jahat.
Malik kami dudukkan di bangku dengan keadaan terikat, dia masih tertidur, kata Dokter Adi dia akan tertidur selama 8 jam, jadi kami masih punya waktu sekitar 4 jam untuk bisa mengembalikan kebaikan pada jiwanya.
Aku mengenakan jubah pemberian Raja, mengikat Karembo Hejo pada pinggangku, dan tidak lupa mengeluarkan Kujang.
__ADS_1
Ada meja untuk menaruh tanah perkuburan ari-ari Malik, di meja itu sudah kami batasi dengan air dari kerajaan ini.
“Kau yakin Ser, Ritual Gugah Alam balikan ini berat, apakah aku perlu ikut?” Pram bertanya.
“Tidak, kau tahu bahwa kita tidak akan berhasil kalau kau ikut, aku harus melakukannya sendiri, ini pertarunganku.”
Ritual Gugah Alam Balikan, adalah ritual berat, karena aku akan langsung berhadapan dengan orang yang melakukan Ritual Gugah Alam Lepas Sukma, itu adalah Ritual yang membuat Malik menjadi jahat, jujur aku tidak tahu kemampuan Mudha Praya sehebat apa, aku tahu ilmunya sangat tinggi, tapi ini satu-satunya cara agar aku bisa membawa balik sifat asli Malik.
Setelah semua siap, aku melakukan gerakan memutar kaki kananku, hingga tanah di bawahku membentuk lingkaran, lalu berdiri tegak, seketika aku lepas raga, sedang tubuhku masih dalam keadaan berdiri tegak.
Setelah lepas raga, tanah perkuburan ari-ari Malik langsung bertiup mengarahkanku berjalan kearah yang tepat, aku berada di alam arwah, aku harus mengikuti tanah perkuburan ini agar bisa menemukan pelaku yang melakukan ritual pada Malik.
Tidak berapa lama aku melihat laki-laki yang sedang menjaga sebuah sinar, dari jauh aku mengenali, benar dugaan kami, dia pelakunya.
“Selamat datang Seira Adam Hanida, oh ya, aku tidak akan menggunakan protokol status karena kita berdua lepas raga, tidak berada di alam manusia, sehingga status kita sama.” Mudha Praya menyapaku, sedang di balik punggunngnya ada sesuatu yang bersinar, itu adalah sukma Malik yang dikeluarkan.
“Halo Kakeknya Tini, cucumu sudah kembali kepada Tuhan dengan baik dan tenang, aku ingin sukma Malik, kembalikan.”
“Tidak semudah itu anak kecil, ambil sendiri.” Dia lalu menyerangku, melemparku dengan begitu banyak belati.
Aku menghindar sebisaku, begitu banyak belati yang melesat kearahku, ternyata memakai jubah ini keputusan tepat, jubah ini melindungiku secara utuh dan baik.
Mudha Praya memiliki kemampuan yag hebat ternyata, selain mengendalikan piluhan belati, sekarang dia mengeluarkan puluhan anak panah dalam satu waktu, alu terus menghindar sementara dia terus berlari sambil menyerangku, dia ternyata memang ingin membuat Malik menjadi jahat, agar Malik memihaknya mungkin, sayang aku keburu sadar, dia tau kelemahanku adalah Malik.
Diantara kepungan belati dan anak panah, aku terus menghalau seluruh senjata itu dengan Kujang.
Sebentar ada yang salah, dimana ini, kenapa dia terus berlari padahal dia bisa saja menyerangku, seharusnya dia tidak perlu berlari, dia sepertinya sengaja menggiringku ke suatu tempat.
Aku menghentikan lariku, lalu mengeluarkan senjata pinjaman, cambuk Pram.
Pram meminjamkannya padaku, dia bilang untuk jaga-jaga.
Aku langsung memecut seluruh senjatanya, senjata itu jatuh seketika, ketika dia akan menyerangku lagi, aku memecut kearah tangannya, kena! tangannya terlilit tali cambukku, langkahnya tertahan, aku menahannya agar tidak melanjutkan lari, lalu dengan hitungan detik aku berlari kearahnya, bersamaan dengan menarik cambuk kearahku, karena itu kami langsung berdekatan, aku menusuk dadanya dengan Kujang, dia tidak dapat menghindar karena tangan kananya memegang Sukma baik Malik, tangan kirinya terlilit tali cambuk, dia kesakitan karena Kujangku memang senjata berbahaya bagi siapapun yang ingin aku serang.
Karena tahu posisinya tidak baik, dia lalu melepaskan Sukma Baik Malik, lalu melepaskan lilitan cambukku dengan tenaga dalamnya, aku dengam cekatan menangkan Sukma itu dan langsung memeluknya, Mudha Praya kesal, dia lalu berusaha mengejarku, aku berlari.
Posisi kami sekarang terbalik, dia mengejarku, aku berlari sambil memecut cambukku kearahnya beberapa kali kena, beberapa kali meleset, aku terus berlari, lalu dari kejauhan aku melihat jejak tanah Perku uran ari-ari Malik yang merupakan pintu pulang bagi jiwaku, aku terus berlari untuk mencapainya.
Mudha Praya tidak menyerah, dia kembali melemparkan belati lebih banyak, aku menghindar, tapu betis kiriku kena, aku terjatuh lalu tersungkur, Mudha Praya menginjak betisku, aku kesakitan, Sukma Malik masih di dadaku, aku tertelungkup dan tidak mampu berdiri lagi.
"Bukankah sudah kubilang, tidak akan mudah anak kecil!" Mudha Praya lalu mencoba untuk menusukku dengan goloknya, dia bersiap untuk menusuk punggungku, tapi sebelum dia berhasil, aku berbalik lalu menusuk tusuk konde yang tajam ke dadanya.
Dia berteriak lalu langsung berlari saat menyadari bahwa aku menusuk dia dengan tusuk konde sakral.
Tusuk konde pemberian cucunya, Tusuk konde dari seorang anak yang memiliki jiwa murni, tapi memiliki kemampuan setara denganku, senjata pemberiannya membuat Mudha Praya ketakutan karena senjata itu begitu tajam dan tersimpan sakit hati yang dalam baginya, sehingga kerusakan yang diciptakan bagi jiwa Mudha Praya begitu dalam, makanya dia langsung berlari agar cepat kembali ke tubuhnya, kalau tidak jiwanya semakin lama akan melemah dan tidak bisa kembali ke tubuhnya tepat waktu, berbeda dengan Kujang, dia hanya melukai Dada Mudha Praya sesaat, setelah itu Mudha Praya pulih dalam hitungan detik, senjata Tini memang tau kepada siapa harus digunakan.
Tini, kau menyelamatkanku bahkan saat kau tak di dekatku.
Aku langsung berlari dengam terseok karema betisku yang terluka, sakit sekali, tapi aku harus cepat kembali, tanah perkuburannya akan segera habis.
Lalu aku masuk ke pintu kembali, dibimbing tanah perkuburan ari-ari Malik.
_________________________
__ADS_1
Catatan Penulis :
Jangan lupa VOTE, LIKE DAN COMENT ya.