Karuhun

Karuhun
(Bagian 85 : Akhir Sebuah Kisah)


__ADS_3

Saat aku hamil, tubuhku cenderung akan lemah, Panglima bilang ini karena aku mengandung bayi Kharisma Jagat Agung, yang sifatnya dominan. Maka anak itu mengambil semua yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak hingga melemahkan tubuhku, jika yang hamil hanya wanita biasa, maka ibunya akan sering dirawat di rumah sakit, kalau aku tidak. Tapi jujur, aku menjadi lemah, tidak  bisa bertarung sama sekali.


Untung Malik lelaki baik, yang mau menjaga Pram jika aku sedang lemah seperti mual dan muntah, tapi dengan frekuensi yang luar biasa. Kami tidak menggunakan pembantu, kami hanya bersama dengan Mbaknya Malik yang seorang cenayang itu, untuk membantu pekerjaan rumah. Kami tidak mau ambil resiko memperkerjakan orang biasa, karena umumnya mereka akan tidak betah dan akan membicarakan Pram kecil di belakang, karena Pram kecil sering berkomunikasi dengan ‘mereka’ yang tak terlihat seperti pasukanku dan tentu saja Karuhunku, untuk orang biasa, hal itu menakutkan bisa juga sebagai bahan gosip, mereka akan bilang anakku gila.


Kehamilan keduaku ini mungkin seorang bayi perempuan, Panglima bilang bahwa dia akan memiliki kekuatan sebesar aku tapi memiliki sifat dingin seperti Malik. Aku tidak berharap apapun dari anak-anakku, mereka yang memilih nantinya mau jadi pejuang seperti kami atau malah memilih jalan lain, tugas kami hanya mendampingi dengan biaya dan tenaga, sisanya mereka yang putuskan.


“Besok acara 5 tahun Pram, kamu kalau nggak ikut juga nggak apa-apa, mama, papa, pasti ngerti kok.” Kami sedang makan malam, Pram sudah tidur.


“Aku usahakan datang, walau agak lemas, tapi aku usahakan, aku nggak mau nggak dateng, ini acara peringatan Pram.” Kami memang selalu mengadakan acara peringatan untuk hari kelahiran Pram dan hari kematiannya, kami berkumpul dan berdoa.


“Yaudah, besok kita kumpul bareng, sekarang kamu istirahat, bobo yang nyenyak, sayang.”


Malik memapahku ke tempat tidur, lalu kami tidur, besok hari yang indah untuk berkumpul, harinya Pram.


“Capek Ser?” Malik bertanya, sebelum tidur kami memang selalu pillow talk, membicarakan seharian ini, apa saja yang sudah kita lewati.


“Seperti biasa, lemas banget seharian, mual terus, agak pusing juga.” Aku memang selalu mengeluh, bukannya aku tidak bersyukur karena bisa hamil, tapi memang kehamilan ini jauh lebih berat dari kehamilan pertamaku yang sebenarnya sudah berat bagi wanita biasa.


Malik memelukku, kami dalam posisi tidur miring, saling berhadapan.


“Kamu udah cek kurikulum AKJ, untuk tahun ajaran baru?” aku bertanya. AKJ adalah Akademi Kharisma Jagat yang sebenarnya sudah berjalan selama Malik di penjara.


“Udah, ada beberapa revisi, aku juga udah email Aam biar dia bisa bantu cek, dia sibuk sejak diangkat jadi Direksi perusahaan minyak itu.


“Oh ya, Aam baru naik jabatan lagi ya, kuliah baru lulus udah langsung jadi Direksi perusahaan Internasional, luar biasa adikku itu.”


“Nggak heran, kakaknya aja begini.” Malik memelukku dan mencium keningku.


“Makasih ya, kamu udah tetep percaya sama aku.” Aku mencium pipi Malik.


“Makasih karena kamu udah mau terima aku lagi, maaf karena aku dulu menjegal langkahmu untuk jadi Ayi Mahogra.” Ada nada penyesalan dalam perkataan Malik.


“Kalau boleh mengulang waktu, aku tidak keberatan dengan keputusanmu, aku tahu semua yang kau lakukan selalu yang terbaik untukku. Karena keputusan-keputusanmu itu, aku bisa menikmati rasanya hidup normal, rasanya hidup seperti manusia pada umumnya, hingga karakterku terbentuk dan semua itu karena kamu, karena membimbingku dan tidak pernah sedikit pun lelah atas semua sikapku," aku mengatakannya. Itu adalah perasaan yang kusampaikan dengan jujur, seperti apa yang aku rasakan.


“Aku bahagia. Kita menikah, punya anak, bahkan kamu mewujudkan impian kamu dengan membangun Akademi untuk para Kharisma Jagat, tapi jujur aku sampai sekarang, merasa sakit saat mengingat Pram mengorbankan tubuhnya untuk menyelamatkanku dan dia lakukan itu karena dia tahu, bahwa kau akan kehilangan kendali dan membuat perang ini menjadi lautan darah para Tetua. Pram memiliki penglihatan masa depan yang bagus, kita bisa bilang itu intuisi. Karena itu dia mengambil keputusan yang sangat berat, baik untuknya maupun untuk kita. Karena pengorbanannya ini, perang kita menangkan dan semua kebahagian ini karena pengorbanannya.” Malik begitu menghormati Pram.


Aku mengusap air mataku mendengar perkataan Malik.


“Aku pun masih merasa sakit rasanya jika ingat bagaimana keris itu menusuk tubuh Pram, sahabat kita tercinta, tapi jika dia melihat semua ini, pasti dia akan merasa bahagia, bahwa pengorbanannya tidak sia-sisa, kita harus menjaga semua yang Pram tinggalkan Malik, termasuk mama dan papa.” Yang aku maksud adalah orang tua Pram. Kami memanggilnya begitu setelah kepergian Pram.


“Aku setuju, Mama dan Papa kita.” Kami lalu terpejam dalam pelukan masing-masing, tidak lupa selalu memanjatkan doa agar Pram diterima di sisi-NYA, ditempatkan di tempat terindah.


...


“Sayang sudah siap?” Malik memanggilku. Aku masih di kamar dan keluar dengan muka pucat, “masih morning sick, sayang?” Malik bertanya lagi.


“Iya, duh nggak enak banget nih, Yah," Ayi menjawab.


Pram kecil sudah rapih, tadi dia mandi, berpakaian dan dimasakkan sarapan oleh ayahnya, kami tidak memakai Baby Sitter, hanya mbak yang pulang saja, itupun orang kepercayaan kami, mbaknya Malik yang kerja di markas dulu. Kami tidak ingin anak kami menjadi bahan cerita Baby Sitter, makanya sebisa mungkin kami merawat anak kami berdua saja, kadang  mamaku, mami mertuaku, Seina, atau Maliyah datang untuk menginap dan bisa jadi tangan-tangan tambahan untuk membantuku menjaga Pram.


“Kamu nggak usah ikut kalau gitu, aku sama Pram aja yang dateng.”


“Ya nggak bisa gitu dong, ini kan lima tahunnya Pram, masa aku nggak dateng.” Aku memaksa.


Pramudya Aksara, lelaki tampan dan baik hati itu telah pergi, tapi kebaikannya bahkan masih terasa, kebahagiaan kami pun karena semua kebaikannya. Setidaknya dia menghadap Tuhan karena jalan lurus yang dia pilih.


“Yaudah, tapi nanti di sana banyak istirahat ya, sayang.” Malik khawatir.


“Ok, Bos.” Aku dan Pram kecil kompak mengatakannya.


Setiap tahun kami memang berkumpul di rumah Pram, semua keluargaku dan keluarga Malik, ditambah keluarga baru kami, ayah dan ibunya Pram, Pram anak tunggal dan Malik berhasil mengambil hati mereka, sehingga Malik sudah dianggap anaknya, mungkin bisa sedikit menenangkan hati mereka yang kehilangan anak tunggal di usia emasnya.


Kami akhirnya jalan menuju rumah Pram, satu jam perjalanan sampai, ternyata semua sudah berkumpul, kami paling telat. Ya pastilah, aku kan muntah-muntah dulu dan membereskan mood yang luluh lantah karena muntah.

__ADS_1


“Mbak!” Seina memapahku ketika aku masuk ke rumah milik keluarga Pram, rumah mewah dan besar.


“Penganten baru, kok nggak bulan madu?” Aku duduk di sofa dan menggoda adikku yang sebulan lalu menikah dengan Pak Hanif, kakaknya Malik.Lucu juga, aku kakak menikahi adik dan adikku menikahi kakaknya, ah takdir Tuhan memang sulit ditebak.


“Nggaklah, kesini dulu baru dua hari lagi jalan-jalan.”


“Pak Hanif, adikku jangan dibawa ketempat yang enggak-enggak ya.”


“Biarin aja sih Ser, orang suaminya yang bawa, biar cepet hamil.” Mamahku duduk di sampingku.


“Mama Lila, mana Ma?” Aku menanyakan Mamanya Pram.


“Itu di dapur, katanya lagi angetin uli ketan kamu, kemaren dia denger dari Malik kamu ngidam uli tapi nggak ketemu, makanya sekarang dia bikinin, ulinya mamah yang bawa dong.”


“Ya ampun, ada-ada aja, ngerepotin deh si ayah pake bilang aku ngidam.” Malik pengaduan memang akhir-akhir ini, dia selalu minta tolong keluarga kalau aku ngidam, dasar lelaki lemah.


“Ya wajarlah, namanya juga istri lagi hamil.”


“Pa.” Aku menyapa Ayahnya Pram, dia lalu memelukku, sementara aku masih duduk, dia tahu bahwa aku sedang lemah jadi dia yang samperin aku untuk bersapa.


“Apa kabar Ser?” Papa bertanya.


“Baik Pa, cuma ya gitu, masih mual muntah terus.”


“Sabar ya, namanya juga hamil.”


“Insyaallah, Pa.”


Lalu Mami, Papi dan Maliyah datang ke sofaku, mereka datang dari tadi, tapi sudah langsung ke belakang, di belakang ada taman yang cukup luas untuk barbeque.


“Ser, cucu Papi mana?” Papi Mertuaku menanyakan Pram.


“Nih.” Aku menunjuk perutku untuk menggodanya.


“Pram, Ser.” Kami semua tertawa, “ke belakang kayaknya, nyusul ayahnya, siapin uli gitu, Pi.”


“Ini kenapa semua orang tau aku ngidam uli ketan sih? jangan-jangan kalian punya chat grup keluarga ya?” Aku cemberut karena malu.


“Iya .... ” Semua serempak menjawab.


“Ada apa sih?” Aam sekarang yang mendekatiku, dia ternyata di taman belakang juga tadi.


“Hei, Don Juan, punya waktu kesini tapi nggak punya waktu kunjungin kakaknya?” Aku protes pada Aam.


Aku merengut karena Aam akhir-akhir ini sibuk sekali, wajar sih, dia kerja di salah satu perusahaan minyak terbesar di negeri ini, tidak tanggung-tangung, posisinya sebagai Direktur Muda. Intuisiku tepat, dia adalah si jenius, walau saat ini setiap melihat wajahnya ada rasa bersalah, karena Mang Engkus menjadi deretan orang yang gugur dalam perang itu.


Ayahnya Aam, menitipkan Aam padaku di nafas terakhirnya, dia bilang suatu kerhormatan bisa berjuang denganku, dia meminta maaf padaku karena dulu memaksa anaknya mengikuti keinginannya, aku mencium tangan Mang Engkus, karena menurutku setelah papaku meninggal, dialah yang menjadi Waliku.


Aku bahagia sekali, dulu, dulu sekali aku hanyalah gadis penakut dari keluarga tidak utuh yang disegel untuk menghindari ‘mereka’, tapi sekarang aku adalah anak perempuan yang memiliki banyak keluarga, mereka orang-orang yang menyayangiku dan mereka yang tak terlihat. Aku bahagia Pram, terima kasih karena sudah memberikan kebahagiaan ini.


Semuanya terasa lengkap, Seina dan Pak Hanif sudah menikah, Mas Ridho dan Mbak Ayu yang setiap tahun dikaruniai buah hati, Maliyah yang meneruskan S2-nya di Inggris, Aam yang sukses dengan kejeniusannya, aku dan Malik yang akhirnya mampu membangun keluarga yang tenang dan bahagia, aku tidak ingin apa-apalagi ya Tuhan, semua yang Kau berikan begitu indah, hanya doa yang tak pernah putus kulantunkan untuk Pram, atas pengorbanannya kami semua masih bisa tertawa disini.


“Nih uli ketannya.” Malik menghampiri membawa uli ketan, aku menghapus air mataku karena lagi-lagi teringat peperangan itu.


“Kamu rese deh, bilang ke semua orang aku ngidam.”


“Ya abis, mereka selalu tanya kamu lagi apa, masih muntah nggak, setiap hari aku ditugaskan kirim foto kamu sama si kecil Pram untuk dikirim ke grup keluarga, jadinya ya mereka updatelah tentang kamu.”


“Kok aku nggak di add?”


“Mereka nggak bolehin, katanya, mereka nggak mau kamu nolak difoto atau nolak cerita, jadinya aku deh yang mereka jadiin reporter dadakan.”


“Reporter apa?”

__ADS_1


“Reporter kisah hidupnya Ayi Mahogra, Seira Adam Hanida.”  Malik tertawa dan menyuapkan uli ketannya padaku.


Alhamdulillah, Terima Kasih Pram ....


...


“Hari ini kita semua berkumpul untuk membuka tahun ajaran baru, aku tahu bahwa sebagian dari kalian masih sangat kecil dan mungkin ketakutan, tapi di sinilah tempat teraman kalian, di sinilah kalian tidak akan takut lagi, tidak akan merasa gila lagi dan bisa menguasai keberkahan yang Tuhan berikan. Maka dari itu saat ini aku Ayi Mahogra Kharisma Jagat, membuka Akademi tahun ini, tahun ajaran baru bagi sekolah ini, dengan perasaan sukacita dan semangat yang tinggi, untuk kalian para calon Kharisma Jagat Tanah Pasundan, tegakkan wajah kalian, hadapi dunia dengan penuh kebanggaan dan rasa syukur, karena kalian adalah orang-orang terpilih untuk membantu orang-orang yang kesulitan karena apa yang mereka tidak bisa lihat, dengar dan rasakan, sementara kita mampu, untuk itu, jangan pernah malu dan selalu bersyukur atas anugerah ini, karena kalian adalah para calon Kharisma Jagat.”


Tepuk tangan para siswa Akademi Kharisma Jagat bergemuruh, kami menerima semua orang dengan kemampuan istimewa dari segala umur, mereka akan kami didik dengan semua ketulusan, kemuliaan dan kehormatan.


Aku, Malik, Aam, Mang Nariman, Raja Bapati dan istrinya Nyai Jasmine, Behra dan suaminya bohra pasangan Kharisma Jagat yang saling mencintai, tentu saja mereka menikah bukan karena pernikahan adat tapi karena saling cinta dan ditakdirkan Tuhan untuk bersama, serta seluruh Karuhun berkumpul di lapangan, hari ini adalah pembukaan tahun ajaran baru, walau Akademi Kharisma Jagat ini hanya terdiri dari ratusan orang, tapi kami mencoba untuk menjaga sistemnya tetap profesional, karena kami ingin mendidik anak-anak ini secara profesional, hingga nantinya mereka bisa terjun ke masyarakat dengan baik, dengan pendidikan formal dan tentu saja pendidikan ghaib yang benar, kesantuanan, kesetiaan dan iman adalah hal yang harus mereka pegang teguh.


Untuk itu kami membangun gedung ini serta sistemnya, semua biaya ditanggung oleh kakak angkatku, Raja Bapati, dikerjakan oleh Karuhun dan dibina oleh aku dan Malik. Ini adalah tahun di mana Malik akhirnya bergabung setelah lima tahun dia dipenjara.


“Ser istirahat dulu yuk.” Malik memapahku ke tempat duduk, saat ini Mang Nariman sedang memberi wejangan untuk para calon Siswa.


“Kalau nggak kuat istirahat di kamar, ya?” Malik bertanya.


Aku masih dalam keadaan hamil anak kedua dan lemah.


“Aku bersemangat walau lemah begini, maaf merepotkanmu sayang," aku berkata.


“Aku tidak pernah merasa repot saat harus mengurusmu.” Malik mengelus kepalaku, persis seperti dulu saat kami masih sekolah, kuliah dan bekerja bersama.


Lalu kami menutup pembukaan Akademi tahun ajaran baru ini dengan doa yang khidmat, dari sini aku melihat anak-anak ini bisa menjadi harapan kami bagi tatanan dunia yang seimbang, dunia yang dipenuhi dengan kebaikan dan ketulusan.


Terima Kasih Tuhan telah memberi keistimewaan yang begitu indah dan berkah untuk semua orang.


Visual Seira Adam Hanida (Sabai Morscheck)



 


Visual Malik Rainan (Jun Matsumoto)



 


Visual Pramudya Aksara (Arifin Putra)



 


 


TAMAT


SAMPAI JUMPA DI SEASON KE 2


_______________________________


Catatan Penulis :


Terima kasih untuk semua orang yang mau membaca, coment, like dan vote, kalian yang membaca dari awal, baik versi FB sampa versi NT/MT sungguh orang-orang yang membuatku belajar, dari komentar kalian aku tahu, bahwa apa yang aku lakukan sudah benar atau salah. Dari komentar kalian aku begitu mendapat semangat yang tinggi, dari kalian aku tahu bahwa apa yang aku lakukan tidak sia-sia.


Aku tidak memiliki apapun selain kalian yang menghargai karyaku, bakat tanpa kesungguhan akan tetap menjadi sampah, kecuali punya peminat dan kalian adalah orang-orang baik yang turut menjadi tangga bagi Karuhun untuk perlahan naik, yang awal viewernya hanya 10-20 orang, menjadi sampai 1000 viewer, sungguh kalianlah yang luar biasa.


Maafkan kalau aku masih salah banyak, masih suka Typo, masih suka kesulut emosi, tapi sungguh pengalaman bersama kalian dalam menyusun karya ini nggak akan pernah aku lupain, nanti aku kasih tau anak cucuku kalau aku punya kalian, para penggemar setia tulisanku.


Terima Kasih atas dukungan, kritik membangun serta doa-doa yang kalian panjatkan untukku, semoga kalian semua sehat selalu dan kita semua diberi kesehatan serta rejeki hingga bisa bertemu lagi tahun depan di KARUHUN SEASON 2.

__ADS_1


Sekali lagi aku ucapkan banyak-banyak TERIMA KASIH


SALAM SAYANG DARI AKU, AUTHOR KARUHUN.


__ADS_2