Karuhun

Karuhun
Bagian 39 : Dunia Ghaib


__ADS_3

“Jadi kemana Ayi?” Pangima bertanya, saat ini kami telah berkumpul di dunia ghaib buatan para bocah keturunan pembelot itu. Aku, Panglima, Raden dan Jagog dihadapkan pada 3 jalan setelah melewati lorong gelap rumah sakit.


“Kalian kan tau, kalau di dunia seperti ini intuisiku tidak bekerja. Secara kebiasaan, setan suka arah kiri, manusia suka kanan, tapi ini kan jebakan, apakah sebaliknya atau memang sebenarnya?” Aku bingung, rasanya ingin kuhancurkan langsung labirin ghaib ini, tapi itu akan membuat mereka memiliki waktu untuk kabur.


“Jadi gimana?” Panglima kembali bertanya.


“Jagog dan aku akan memilih jalan di tengah, lalu Panglima dan Raden masing-masing akan kearah kanan dan kiri, apabila diantara kalian mendapatkan jalan yang benar, tunggu sampai aku memanggil kalian berdua, jadi kita tidak perlu mengulang jalan kalau diantara kita ada yang menemukan jalan, karena begitu aku memanggil kalian, kalian bisa langung melesat ke lokasiku dengan cepat.”


“Baik Ayi.” Kami berempat bersiap dengan arah jalan kami masing-masing.


Aku dan Jagog berjalan kearah yang sudah aku tentukan, jalannya gelap dan pengap.


“Jagog, apa kita perlu bersiap dengan senjata?”


“Tidak perlu Ayi, kita hanya sedang menghadapi orang yang haus akan dunia, mereka terlalu sepele untuk senjata utama kita.” Jagog menjawab.


Bau sekali disini, ada lendir aneh yang menetes dari atas, kami sudah jalan lumayan lama, sekitar 15 menit. Aku menengok keatas dan ….


Ada makhluk aneh yang berbentuk kelelawar dengan ukuran 50 kali lipatnya dari ukuran asli, wajahnya seperti manusia dengan telinga yang lancip, kaki mereka menekuk, mereka seperti sedang tertidur. Tipuan setan apalagi ini? Aku menghitung jumlah mereka. Satu, dua, tiga, sepuluh, lima belas. Banyak sekali ternyata.


“Jagog, bersiap, aku akan melawan mereka dengan karembo.”


“Ayi, tidak perlu, berdiri di belakang saya. Bukankah ada alasan kenapa saya menjadi karuhun seorang Kharisma Jagat Agung?” Jagog bersiap, dia melebarkan tangannya, seketika dari punggungnya keluar sayap seperti sayap merpati tentunya dengan ukuran besar, dari kedua tangannya kelaur kuku yang sangat tajam seperti burung elang dan dari kepalanya keluar tanduk yang cukup tinggi dan tajam. Sepertinya seluruh tubuhnya adalah senjata.


“Mendekat pada sayapku Ayi,” Dia berkata dan aku menuruti. Lalu ketika aku mendekat pada sayapnya, sayap itu menutup dan melindungi seluruh badanku hingga ke kepala. Sepertinya membawa Jagog adalah tindakan yang tepat.


Dia melesat membawaku terbang, dari celah sayap aku bisa melihat dia mulai mencakar, menyundul para kelelawar yang bangun, tinggi antara jagog dan kelelawar sama, aku tidak menyangka bahwa para kelelawar jadi-jadian itu memiliki tinggi persis seperti manusia dewasa.


Aku yang di gendong di dalam sayap Jagog hanya memperhatikan mereka, jagog menghabisi satu persatu dengan semua senjata di tubuhnya, dia menebas kepalanya, menusuk lehernya dan mematahkan sayap mereka, Jagog memang karuhun yang terbukti pantas mendampingi Kharisma Jagat Agung.


“Sudah selesai Ayi.” Jagog melepaskan perlindungan sayapnya padaku, sehingga aku sudah bisa bergerak bebas.

__ADS_1


“Kerja bagus Jagog.”


“Tugasku menuruti Pram, karena kau adalah calon Ayi Mahogra aku melindungimu.”


“Iya-iya aku ingat itu.”


Lalu kami melanjutkan perjalanan, aku menebak bahwa jalan kamilah jalan yang tepat karena aku melihat ada semacam sinar disana.


“Ayo Jagog.” Aku memerintah Jagog supaya dia mengikutiku berlari kearah cahaya tersebut.


Kami menemukan saru sel yang cukup besar di sini, loh kok aneh, aku melihat sel itu di segel cukup kuat.


“Siapa yang ada di sana Jagog?” Aku memerintahkannya kembali.


Ketika Jaggoga mendekati sel itu, tiba-tiba dari belakang ada yang berlari kencang dan menusuk punggungku, kena! Sakit sekali rasanya, aku menoleh kebelakang.


“Hamdan!! Apa yang kau lakukan?”


Hamdan yang telah kutelusuri masa lalunya, yang adalah seorang keturunan dari pengikut setia Ayi Nuria menusukku di punggung. Ada apa ini?


Aku terjatuh, Jagog menopang tubuhku, sementara Kujang Ayi Nuria masih menempel di punggungku.


“Dia adalah pembelot itu Ayi.” Naga yang adalah Karuhun Hamdan menunjukan dirinya di dari dalam sel.


“Bagus Heulanyg! Kau kenapa bisa?” Aku bertanya.


“Aku telah salah memilih keturunan untuk mengabdi Ayi, aku tidak bisa membantahnya atau berkhianat dari tuankuku karena seperti yang Ayi ketahui bahwa setiap Karuhun yang memilih keturunannya sendiri akan terikat sampai keturunan itu mati, maka setiap perintah dari Hamdan harus aku tepati, termasuk mencelakai Ayi.” Bagus Heulang tertunduk karena menyesal.


“Memang benar kata orang, kalau kita bisa menelusuri masa lalu seorang tapi dalamnya hati siapa yang tau? Aku heran kenapa intuisiku tidak bekerja padamu, aku salah karena kau mempercayaimu, karena penglihatanku hanya sekedar tentang masa lalumu bukan hatimu yang busuk.” Aku mengeluarkan karembo hejo, bukan untuk menghabisi si pembelot ini, tapi untuk membebaskan Bagus Heulang.


Kulemparkan karembo hejo pada tubuh Bagus Heulang, tepat karembo hejo mendarat di kepalanya. Hamdan berlari mencoba menghalangiku menyebutkan kalimat penaklukan, tapi Jagog menahannya, aku memang membiarkan Kujang Ayi Nuria menempel di tubuhku, saat ini yang hamdan miliki hanya Api di tangannya karena Bagus Heulang masih miliknya.

__ADS_1


“Kau bagus heulang menunduklah.” Bagus Heulang duduk bersimpuh, aku melanjutkan kalimatku. “ Mulai saat ini kau adalah Karuhunku, kau dilepaskan dari seluruh kewajiban mengabdi pada Tuan sebelumnya secara paksa.” Aku mengucapkan kata penaklukan, kalau sebelumnya aku hanya mengucapkan kata sekutu pada Karuhun milik Aam, makanya karuhunnya masih milik dari tuan sebelumnya, tapi kali ini aku menyebutkan kata kepemilikan, sehingga tuan sebelumnya tidak berhak lagi atas karuhun yang telah aku ambil, karena dalam jajaran Kharisma Jagat, akulah pemimpin mereka, perintahku adalah titah yang tidak boleh di tentang. Tapi setelah aku menikah dengan Pram maka Raja dari seluruh Kharisma Jagat adalah Pram, makanya tanpa kau Pram selalu dianggap pincang.


“Kata-katamu adalah perintahku.” Bagus Heulang berkata dan seketika Karembo hejoku menjadi miliknya, seuruh pasukanku ditandai dengan karembo hejo, setiap karembo hejo yang kuberikan pada seorang karuhun akan terduplikasi menjadi karembo karuhun tersebut dan karemboku akna kembali pada tubuhku secara ghaib.


Kulihat Jagog membekuk Hamdan di kakinya.


“Kenapa kau melakukannya Hamdan?” Aku bertanya, sementara segel sel sudah kuhancurkan dan Bagus Heulang sudah keluar.


“Aku membenci Ayi Nuria dan keturunannya, kau fikir hidup ketakutan bertahun-tahun karena dianggap pengkhinat dan harus menanggung api di tanganku di jaman maju ini mudah! kau tidak tahu betapa setiap keturunan dari pengikut setia Ayi Nuria hidup sangat sulit! Kami disembunyikan, kami ketakutan setiap saat, memang benar bahwa nama mereka sudah diberihkan tapi orang-orang itu teta menganggap kamilah yang jahat, aku hanya ingin kau merasakan bagaimana kami ditipu, bagaimana kami diasingkan dan bagaimana menderitanya kami!”


“Kau fikir aku tidak merasakan yang kau rasakan? Kau hanya seorang bocah ingusan sialan yang pendendam, kau hidup layak, kau masih hidup itu yang terpenting, sementara Ayi Nuria dan semua pengikut setianya sampai tetes darah penghabisan harus berkorban! Dengan keberanian mereka tidak gentar, sementara kau? Kau hanyalah bocah pengecut yang sama saja dengan para pembelot itu! Sayang sekali garis keturunanmu bagus, tapi kelakuanmu bejat, maka dengan ini, kuhapuskan garis karuhun darimu, hingga seluruh karuhun tidak akan mampu melihat anak keturunanmu, kau akan menjadi manusia biasa mulai saat ini, nikmatilah, bukankah itu yang kau mau?”


Aku melepas kujang Ayi Nuria dari punggungku, rasanya sakit, tapi Bagus Heulang menyembuhkan luka Ghaibku, karena ini memang dunia ketiga yang di ciptakan Bagus Heulang, sehingga dialah yang menjadi sumber malapetaka maupun penyembuh.


“Sekarang kita pulang?” Jagog Bertanya.


“Sebentar, aku belum memanggil Panglima dan Pangeran.” Aku tertawa karena lupa memanggil mereka, setelah aku memanggil keduanya, mereka terlihat kelelahan.


“Kenapa kalian?” Aku bertanya.


“Labirin tadi panjang sekali, aku tidak bisa menemukan ujungnya, aku kelelahan.” Panglima berkata dan Raden mengangguk.


“Maaf, maaf, aku lupa tadi kami bertempur tanpa jeda.”


“Ayi!!!” Raden dan Panglima berteriak, aku tertawa dan kami semua pulang ke dunia nyata.


_________________________


Catatan Penulis :


Jangan bertanya kenapa aku pergi, tapi berfikirlah untuk apa aku melakukannya, jika hatimu mengenal hatiku, maka kau tahu, itu semua hanya untukmu, tentangmu dan kita.

__ADS_1


__ADS_2