
“Malik, menurut kamu Bayu Asta Baik nggak?” Saat ini kami sedang berada di kelas, kelas baru saja berakhir.
“Kenapa tiba-tiba tanya dia?” Malik menoleh ke tempat di mana Bayu Asta duduk, dia memang teman sekelas kami.
“Hmmm, dia beberapa kali mengajakku pergi kuliah bareng dan menawarkan pulang bareng, tapi aku selalu tolak, kan kata mama aku harus pulang pergi bareng kamu.” aku agak ragu mengatakannya.
“Kamu suka sama dia?”
“Ya, nggak seekstrim itu juga kali Malik, dia baik. Beberapa kali dia menawarkan antar jemput, terus pernah kasih aku bekal makan siang, katanya itu masakan dia sendiri, pas aku buka ternyata nasi goreng ceplok telor nggak pake sayuran, kesukaanku, trus enak lagi.” aku tersenyum sendiri, maklum ini buatku hal yang tidak biasa, saat laki-laki baik, tampan dan kaya mau mendekatiku, karena dulu hidupku selalu dipenuhi dengan Malik, aku terkadang lupa kalau ada laki-laki lain selain Malik.
“Aku nggak pernah tau dia nawarin antar jemput dan kasih bekal segala, kamu nggak pernah cerita.”
“Ya, sorry, aku fikir itu nggak terlalu penting.” Aku berbohong, aku hanya tidak ingin Malik menganggap Bayu Asta seseorang yang menyukaiku, aku takut dia mendukung dan meyakinkanku bahwa Bayu Asta baik, sehingga hubunganku dengannya merenggang, tapi entah kenapa sekarang aku merasa sedikit tertarik pada kebaikan Bayu Asta.
“lalu kenapa sekarang kamu bilang? apakah hal itu penting sekarang? kamu suka dia?” Malik menegaskan pertanyaannya kembali.
“Belum ke arah sana juga Malik, tapi mungkin tertarik.” Aku tersenyum lagi.
“Bayu Asta itu playboy, kamu cek aja siapa perempuan-perempuan di kelas ini yang diperlakukan baik olehnya, sama sepreti dia memperlakukan kamu, kalau kamu sudah tau pasti kaget.”
“Loh, enggak kok dia baik beneran. Emang dia kamu, siapa aja kamu dekati!” aku marah karena Malik menyepelekan orang yang suka padaku, walau itu masih kemungkinan saja. Aku juga heran dengan reaksinya yang terlihat berlebihan.
Setelah mendengar kata-kataku, Malik membereskan semua peralatan kuliahnya, memasukan semua kedalam tas dengan kasar dan berdiri, lalu pergi. Aku berusaha mengejarnya dan memanggil-manggi dia, tapi sebelum aku sempat mengejarnya, Bayu Asta menahan dengan berdiri di depanku, kami sekarang ada di pintu keluar kelas, sementara Malik sudah keluar kelas dengan cepat, sepertinya dia marah padaku.
“Kenapa Malik Sei?” Bayu Asta bertanya.
“Biasalah, kita sering berantem kok.” Aku berusaha bersikap tenang.
“Masa sih? Soalnya kalian keliatan deket banget, kayaknya Malik sayang banget sama lo.”
“Ya bener, cuma sebagai sahabat aja kok, nggak lebih, kita teman kecil.” Aku berusaha menjelaskan hubungan kami, bukan untuk membuat Bayu Asta mendekat, tapi itu memang kenyatannya.
“Jadi kalian cuma sahabatan? Kok gue ngerasanya beda ya?” Bayu Asta kembali bertanya. Aku tidak menjawab karena memang sulit mengartikan persahabatan kami.
__ADS_1
“Yaudah gini aja, karena lo lagi berantem sama Malik, yuk kita makan siang. Jarang-jarang nih momen lo nggak sama Malik.” Bayu Asta mengajakku makan siang di kantin kampus.
“Ok, ayo.” Nggak ada salahnya bergaul dengan laki-laki selain Malik.
Kami berdua berjalan kearah kantin, walau hatiku masih agak khawatir dengan kemarahan Malik, aku takut dia menjauhiku, dia jarang sekali marah padaku sekasar aku bicara, bahkan cederung selalu memaklumi sikapku, kadang aku terang-terangan bilang bahwa aku tidak suka pacar-pacarnya, lalu beberapa hari kemudian dia akan memutuskan mereka. Bisa dibilang ini pertama kalinya Malik marah.
“Sei nasi goreng apa yang lain?” Bayu Asta menawariku setelah kami sampa di kantin.
“Jangan yang berat ya, mau batagor aja deh, sama jus jeruk, tadi pagi udah sarapan lumayan berat soalnya.” aku menjawab.
“Ok, duduk disana ya.” Bayu Asta menunjuk satu tempat duduk di kantin ini, kalau di pikir-pikir bangku itu memang tidak pernah diisi oleh orang lain selain Bayu Asta, entahlah mungkin itu memang bangku yang orang tidak bisa duduki, kudengar Bayu Asta sangat kaya, orang tuanya salah satu orang terkaya di ibukota ini.
Aku berjalan ke arah yang Bayu Asta tunjuk, lalu duduk dibangku ini. Dari bangku ini aku melihat para mahasiswi menatapku dengan sinis. Kenapa ya?
Bayu Asta duduk datang dengan batagor dan jus jeruk, aku menerimanya, tidak lama ada seorang pelayan kantin mendekati kami dan membawa makanan pesanan Bayu Asta. Oh, Bayu Asta makam soto. Sebentar, kenapa dibawain pelayan? Biasanya kita tuh mahasiswa yang nyamperin penjual makanan.
“Kok tumben mbaknya yang anter makanan?”
“Oh ini,” Bayu Asta menunjuk makanannya. “ya kan gue bayar mereka bulanan, jadi ya kalau mau makan udah ada jadwalnya senin ampe sabtu, jadi nggak perlu ribet lagi pesen.”
“Ya masa lo pesen makan sendiri, kan gue yang ajak makan.” Ya, ampun, Bayu Asta sangat terlihat jantan sekali, kalau aku makan sama Malik pasti aku yang persiapkan semuanya untuk dia, aku yang pesan makanan kami, walaupun memang dompet Malik terkadang selalu di aku, katanya takut kalau dia mau makan apa, ribet kalau mesti pesen sendiri, jadi kadang dompet dia selalu di aku, pernah malah sampe nginep di tasku tuh dompet, herannya Malik nggak nyariin, baru besoknya dia sadar. Ah, lagi sama Bayu Asta aja masih kepikiran si Arogan itu.
“Enak nggak batagornya?” Bayu Asta bertanya.
“Lumayan …. “
Tiba-tiba aku lihat Malik datang, dan mendorong kursi di sampingku, dia duduk dengan tatapan tajam menatap Bayu Asta, karena memang Bayu Asta duduk di sebrangku.
“Malik mau makan kayak biasa?” aku menawarinya makan, aku tidak mau kami jadi bahan gunjingan, sudah cukup dengan para gadis itu melihatku makan dengan Bayu Asta, kalau sekarang mereka melihat Malik dan Bayu Asta bertengkar, apa kata mereka.
Aku menunggu jawaban Malik, dia hanya mengangguk sementara tatapannya tetap pada Bayu Asta. Mereka saling menatap dengan tajam.
Aku buru-buru pesan makanan, nasi goreng telur ceplok dengan sayuran. Saat aku menunggu pesanan Malik jadi, aku melihat Malik dan Bayu Asta seperti sedang berbicara, aku melihat Malik berbicara dengan serius, sementara Bayu Asta hanya menatap Malik, menaikan bahu dan menggeleng, lalu tersenyum sini, apa sih sebenarnya yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Saat nasi goreng Malik sudah jadi aku membayar, seperti biasa dengan uang yang ada di dompet Malik. Lalu aku segera berlari, karena kulihat Malik sudah menunjuk-nunjuk Bayu Asta.
“Malik yuk, kita makan di meja lain.” Aku menarik tangan Malik, sementara Malik masih seperti marah, mukanya merah. Sementara Bayu seperti bingung.
“Malik!” Aku membentak, lalu Malik menoleh kearahku. Sedetik kemudian Bayu Asta batuk-batuk, tidak lama dia seperti orang tercekik, mukanya memerah karena kehabisan nafas, apakah dia tersedak? Aku berlari kearah Bayu Asta, mencoba menolongnya, tapi dia semakin kesulitan bernafas, aku melihat kearah Malik memohon bantuan, tanpa sengaja aku melihat gerakan tangan Malik yang ada di Meja, tangannya seperti sedang mencengkram sesuatu, aku merasa bahwa Bayu Asta seperti ini karena Malik.
“Malik!” Aku berlari kembali ke tempat duduk Malik, memegang tangan kirinya yang ada di Meja, tangan itu seperti sedang mencengkram. Aku memegang tangan itu sembari melihat kearah Malik, aku membujuknya untuk melepaskan Bayu Asta, Malik masih melihat Bayu Asta dengan tatapan tajam.
Kulihat Bayu Asta mengerang karena mukanya sudah memerah, dia sekarat karena seperti tercekik dia memegang lehernya sendiri seperti berusaha melepas sesuatu padahal tidak ada apa-apa di lehernya.
Aku memegang wajah Malik dan menariknya untuk melihatku, aku berteriak memanggil-manggil Malik, akhirnya Malik menatapku dan tangan kirinya yang seperti sedang mencengkram sesuatu di meja akhirnya melemas, detik itu juga Bayu Asta seperti terbebas dari sesak nafas, kemudian pingsan.
Aku bermaksud menolong Bayu Asta, tapi tanganku di tahan oleh Malik dan dia menarikku untuk pergi dari kantin, saat melewati para mahasiswa yang memandangku dengan tatapan sini, aku merasa melihat Erika, mantan kekasih Malik juga ada disana, aku melihat Erika menatapku dengan tatapan benci.
“Malik, itu kamu kan!” Kami sudah di mobil Malik, padahal mata kuliah belum berakhir, tapi Malik malah ingin pergi dari kampus. Malik tidak menjawab.
Entahlah aku merasa terkadang Malik menakutkan, aku pernah memergokinya sedang bicara sendiri, lalu melakukan gerakan seperti sedang berkelahi, padahal dia sendirian. Yang paling sering ya, kalau kami sedang jalan, dia suruh aku balik dan pilih jalan memutar, sementara dia tetap dijalan itu, walau kami akhirnya ketemu di ujung tapi itu aneh, dulu aku fikir dia akan menemui seorang gadis sehingga mau jalan sendiri, nggak mau aku temani. Tapi, karena penasaran aku akhirnya mengikuti dia, tidak menurutinya jalan memutar, lalu aku lihat dia seperti berbicara dengan seseorang tapi tidak ada siapapun disana, ketika dia sadar ada aku, lalu dia berlari kearahku dan menarik tanganku sambil berkata, lari!
Makanya aku yakin, dia bisa melihat apa yang kita tidak bisa lihat dengan mata normal, ditambah kejadiam tadi, aku yakin tangan kirinya sedang mencekik Bayu Asta secara Ghaib, makanya kau buru-buru membujuknya.
“Kalau besok aku masih lihat kamu sama dia lagi, aku akan membuatnya muntah darah dan tidak bangun lagi.” Malik berkata dengan sangat tenang tapi penuh penekanan.
“Kasih aku satu alasan, kenapa kamu sangat tidak suka aku dekat dengan Bayu Asta?”
Kami sudah sampai rumahku, ternyata dia mengantaku pulang.
“Kamu telepon Ratna, Diana dan Susan. Tanya apakah mereka tentang Bayu Asta.” Lalu malik membuka kunci pintu mobilnya dan menyuruhku keluar.
Aku keluar dengan perasaan marah, kesal dan khawatir. Takut kalau Malik masih ingin menghajar Bayu Asta. Kenapa Malik berlebihan menanggapi Bayu Asta? tidak mungkin karena cemburu, Malik paling anti cemburu sama pacar-pacarnya, apalagi sama aku yang cuma seorang sahabat.
__________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Terkadang cinta itu tidak perlu dijelaskan, karena cinta itu dirasakan (Malik)