
Kami sudah menyebrang sungai, kau mengikuti Petapa, dia belum juga memperkenalkan namana padaku, setelah menyebrang sungai memakai perahu kecil yang kami dayung bertiga, kami pergi ke sebuah desa yang tidak jauh dari sungai.
Lalu setelah sampai desa tersebut, kami berdiri di depan rumah yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil, cukup asri. Jujur aku merasa bahwa rumah ini begitu damai.
“Rumah ini milik seorang mantan pejabat daerah yang sudah mengundurkan diri dari pekerjaan sebelum masa jabatannya habis, dia menjabat beberapa periode dalam usia yang cukup muda, dia memulai karir politik dari umur 20 tahun, lalu di periode terakhir dia mengundurkan diri waktu itu usianya 35 tahun dan baru menikah diumur 28 tahun, beberapa orang yakin bahwa mantan Pejabat ini tidak kuat dengan tuntutan pekerjaan yang buruk yang harus di lakukan.” Petapa menjelaskan.
“Aku mendengarkan.” Aku berkata, kami masih di depan rumah itu.
“Mereka memiliki hanya 1 anak perempuan, anak yang begitu cantik dan cerdas, umurnya baru 6 tahun.”
“Ada yang tidak beres dengan anakanya?” Aku menebak.
“Anaknya … orang-orang bilang ketempelan, selama 1 tahun terakhir anaknya berlaku aneh, suaranya berubah menjadi berat dan menggema setiap kali berbicara, hanya bisa makan daging ayam yang busuk, hanya bisa tidur kala siang hari, setiap kali dia tidak tidur, dia banyak tertawa dengan suara beratnya, dia terkadang memprediksi hal-hal buruk yang akan terjadi, seperti kecelakaan pada seseorang di desa ini, musibah pada desa lain dan kadang kematian seseorang, orang tidak menganggapnya anugerah, mereka menjuluki anak ini, si Iblis pencabut nyawa.”
“Bodohnya masyarakat jaman milenial ini.” Aku geram karena anak kecil umur 6 tahun sudah di hina dan dicap buruk hanya karena berbeda, seperti membawaku pada kenangan ketika Panglima turun padaku pertama kali, aku bahkan dicap orang gila dan ketakutan setiap saat, karena Ayi Kayas mendatangiku setiap saat aku bercermin, waktu itu tidak ada yang mengerti, hanya … lelaki itu yang mengertiku.
“Orang tuanya sudah mencoba berbagai cara, mulai dari Rukyah, Exorcis, memanggil Bhikkhu untuk membacakan Karaniya Metta Sutta, memanggil Pedanda untuk membacakan mantra Mrtyunjaya Anugerah Dewi Durgha, memanggil Dukun dari berbagai wilayah, memanggil semua orang dari berbagai negara yang mereka fikir mampu membuat anaknya sembuh, lintas agama pun mereka tempuh, agar putrinya bisa normal kembali, tapi tidak ada yang berhasil, aku sudah memulai menyelidiki sejak satu tahun yang lalu, ketika anak ini mulai berubah aneh, tapi selama setahun aku tidak menemukan apapun yang bisa membuat dia ‘sembuh’, makanya aku fikir dengan kedatanganmu, mungkin saja menjadi jalan kesembuhan untukknya.”
“Jadi kau tidak benar-benar mengisolasi dirimu di hutan itu? Kau jalan-jalan ke desa untuk menolong orang-orang?” Aku menatapnya dan menahan tertawa.
“Kau mau mengadukannya kepada Tetua?”
“Kau fikir aku pegawai mereka, yang menjilat para Tetua untuk dapat suapan uang?” Kali ini Petapa itu yang tertawa, karena istilah yang kugunakan lucu menurutnya.
“Aku memohon pertolonganmu, agar menyelamatkan anak itu sebagai syaratku.”
“Apa asumsimu?” Aku bertanya.
“Bukan penumbalan aku sudah cek garis keturunannya, bukan pesugihan, aku sudah memastikan itu dan melihat tubuh ayah dan ibunya bersih, tapi ada sesuatu yang menggangguku di tubuh ayahnya, sungguh kemampuanku tidak sampai untuk mendeteksi, apa yang ada ditubuh ayahnya.”
“Baik, ayo kita temui mereka.”
Petapa wanita itu berjalan duluan dan mengetuk rumahnya, tidak lama ada seorang perempuan yang membuka pintu, seorang perempuan yang mungkin berumur 30an tahun, masih muda tapi kantung matanya begitu hitam, wajah kelelahannya tidak dapat disembunyikan.
“Siapa kalian?” perempuan itu bertanya.
“Ayi perkenalkan dirimu.” Petapa itu menyuruhku memperkenalkan diri.
__ADS_1
“Namaku Seira, kami datang untuk membantu putrimu. Aku sudah mengetahui segalanya.”
“Baik, silahkan, aku akan mempersilahkan siapapun yang datang untuk membantu putriku, walau dia penipu sekalipun aku tidak perduli, yang penting bisa menyembuhkan anakku.” Perempuan itu sepertinya sudah pada tahap tidak perduli, yang penting melakukan apapun untuk anaknya.
“Apa kami terlihat seperti penipu. Bapak ini pemilik bisnis yang kalau semua uangnya di cash kan, bisa membeli setengah ibukota, kami tidak sedang mengincar uangmu.” Aku menunjuk Pram. Dia hanya tersenyum.
“Maaf, masuklah.” Wanita itu akhirnya mempersilahkan kami dengan cara yang layak. Kami semua masuk.
“Siapa ini?” Seorang lelaki keluar.
“Dia Ayahnya.” Petapa membisikku, tidak sopan sekali si Petapa ini, berbisik-bisik di rumah orang.
“Saya Seira Adam Hanida, saya seorang Ayi dari tanah Pasundan, ijinkan saya melihat anak Bapak.”
“Masuklah, anakku sedang tidur, karena siang sampai sore hari dia akan tidur, lalu malam hari dia akan bangun.”
Kami semua masuk dalam rumah, letak kamar anaknnya sangat kebelakang, bahkan kami melewati dapur untuk bisa mencapainya.
“Apakah Bapak sengaja membangun kamar di belakang begini untuk Putrimu yang berumur 6 tahun?” Aku bertanya.
Lalu dia membuka pintu kamar itu, ada banyak gembok sekitar 5 gembok, dan masing-masing gembok ada huruf arab, huruf lainnya mungkin dari agama lain yang tertera di gembok, kasihan sekali keluarga ini.
Setelah pintunya di buka, Bapak dan Ibunya kaget, mereka tidak mengerti kenapa anaknya yang siang biasanya tidur, sekarang terbangun dalam posisi duduk bersila diatas kasurnya, tangan dan kakinya dirantai, anak ini menggunakan gaun tidur berwarna hitam, sangat kurus dan bau.
“Selamat datang Ayi Mahogra, aku tidak menyangka kau akan mampir.” Keluar suara yang berat dari anak ini, ayah ibunya mundur karena merasa takut dengan prilaku anaknya.
“Ambil 4 bangku, lalu duduk di pojok sana.” Aku memerintah mereka, aku ingin ayah dan ibunya melihat anaknya saat aku coba sembuhkan.
Mereka datang bersama pelayannya mereka membawa 4 bangku. Setelah menaruh bangku itu di tempat yang aku tunjukan, aku melingkari mereka dengan kapur berwarna Hijau, lalu meminta pertolongan Tuhan untuk memagari mereka.
Setelah itu mereka duduk dengan tenang, hanya saja mereka sempat melihat kearah Petapa dengan bingung.
“Assalamualaikum wahai jin yang bersemayam.” Aku menyapa anak itu. Dia tertawa terkekeh.
“Aku bukan Muslim, Kristen, Hindu ataupun Budha, aku adalah aku, agama adalah diriku.”
“Setelah Ini, kalian berdua, tidak diperbolehkan untuk keluar dari lingkaran yang aku buat, kalian harus menurutiku, kalau kalian keluar dari lingkaran itu, maka kalian dan anak kalian akan celaka, kalau sampai kalian melihat anak kalian aku tusuk atau aku pukul, tahan! Itu adalah metode yang kugunakan, Pram awasi orang tuanya, kalau mereka terlihat akan keluar lingkaran, ikat mereka dengan Karembomu.” Pram mengangguk.
__ADS_1
“Baiklah, apa yang kau lakukan di tubuh anak itu?” Aku bertanya dan duduk di samping kasurnya, dia yang tadinya bersila berusaha menggapaiku, tentu saja dia kepanasam karena Karembo Hejo kukalungkan di leher.
“Kau sungguh sangat kejam, aku bahkan tidak bisa salim kalau seperti ini kejadiannya.” Anak itu melihat tangannya yang gosong.
“Mau bercerita atau langsung bertarung?” Aku bertanya.
“Lepaskan dulu rantaiku, aku baru akan bercerita.”
Aku mengeluarkan Kujang dan melepas rantainya satu demi satu sembari berkata, “Aku melepasmu bukan karena permintaanmu, aku melepasmu supaya posisi bertarung kita adil, kalau kau terantai itu tidak akan seru.”
Setelah aku melepas seluruh rantainya, lalu dia langsung lompat dan berusaha melukai ayah ibunya, tapi mental karena pagar yang kubuat.
“Tergesa-gesa sekali kau! Kau tidak akan bisa menyentuh mereka.” Aku menarik tubuh kecil itu, terasa sangat berat, aku menaruhnya di tengah ruangan, menggeser tempat tidurnya tentu saja dengan bantuan para Karuhunku, lalu tempat tidur itu posisinya berdiri di tembok, hingga ruangan luas ini semakin luas.
“Kemari kau.” Aku bersiap dengan kuda-kuda.
“Kau mau keroyokan?” Dia protes.
“Ya, begitulah aku, selalu rombongan, kau takut?” Aku menyerang ‘harga diri setan ini.
“Aku? Aku takut? Kau fikir berbicara dengan siapa?” Suaranya semakin berat dan menggema.
Anak umur 6 tahun ini menyerangku, dia mencoba meraih kepalaku, tapi lagi-lagi mental karena Karembo, aku membiarkannya sampai dia kelelahan.
Diapun terduduk karena lelah selalu mental, aku menggunakan kesempatan ini untuk menghajarnya, aku mengangkat tubuh kecil yang berat ini, lalu melemparnya jatuh ke lantai, setelah mendarat ke lantai anak itu menghilang, ibunya menangis histeris melihat anaknya kulempar dan hilang, aku melemparnya ke dunia ke-3 yang kubuat.
“Pram, tunggu aku di sini, siapa tau dia berhasil lolos, aku membawanya ke duniat bayangan, dunia persembunyian, jangan keluar lingkaran itu, walau orang yang mereka kenal sekalipun membujuk, menegrti!” Pram dan Petapa Mengangguk.
Ayi Mahogra mampu menciptakan dunia bayangan, dunia yang sama saat setan menculik jiwa-jiwa yang malang lalu jiwa itu disembunyikan, tapi di dunia yang kuciptakan, berbeda, aku menciptakan dunia ke-3 untuk menyembuhkan, ini kali pertama aku menciptakan untuk seorang anak kecil, aku akan melanjutkan pertarungan di dunia itu, untuk menghindari aku melukai anak ini dengan parah, selain itu, dunia ini akulah pemimpinnya, sehingga aku pasti menang.
Lihat saja, bagaiman aku menghajar setan yang berani menyakiti anak kecil!
_____________________
Catatan Penulis :
Aku tidak hiatus ya, aku hanya sedang berlibur (baca: tidur-tiduran) jadi sedikit lambat dalam upload Part, terima kasih sudah membaca, selalu dukung Author dengan vote, like dan coment ya.
__ADS_1