Karuhun

Karuhun
Bagian 50 : Si Aing Lengir


__ADS_3


Tubuhnya sangat besar, tingginya sekitar 5 meter. Aku pernah menghadapi yang lebih besar, milik Abah Ijang, dukun di kampung ayahku dulu. Tapi yang ini, ini sangat terlihat sepadan denganku, aku saja bergidik dengan kedua tangannya yang seperti gunting. Ya, capit kalajengking, entahlah ada atau tidak racun ditangan itu.


“Behra, tangannya ada racun nggak?” Aku bertanya pada pemiliknya.


“Cobain aja dulu, ntar baru tau.” Bocah centil! Malah bercanda.


Belum juga siap, tiba-tiba Si Aing langsung menghunuskan tangan capitnya kearah tubuhku, aku mundur dengan cepat, kalau yang ini sepertinya Karembo Hejo dan Kujang kurang mempan.


“Pram, Karembo Beureum!” Aku berteriak pada Pram, dia di pinggir lapangan, ah kami seperti sedang tanding bola, banyak orang yang menonton di pinggir dan Pram adalah pelatihku. Dia melempar Karembo Beureumnya.


Aku menangkap Karembo itu dan menarik kedua sisinya dengan kedua tanganku, setelah terasa kuat, aku berlari mengarahkan Karembo pada lehernya, belum sempat sampai sana, dia menarik Karemboku dengan tangan capit dan menariknya, tubuhku ikut ketarik, dia akan membenturkan kepalanya pada tubuhku, tapi kakiku lebih dulu mendarat di kepalanya dan dengan satu hentakan aku berhasil lepas.


Nggak bener ini Karuhun, bagaimana mungkin Behra menjadi pilihan makhluk buas ini, padahal dia adalah wanita yang lucu, khas ABG.


“Behra, apa kemahiranmu?”


“Tidak, aku tidak mahir apapun.” Dia tertawa terbahak-bahak. Anak nakal, dia tahu aku sedang terjepit dengan pertarungan ini, sungguh aku tidak bisa melihat kelemahannya, dia memiliki kulit yang sangat keras, kepala yang dilindungi duri dan tangan capit yang mengerikan, belum lagi kakinya, yang di penuhi cakar, sekilas mirip ....


“Bagus Heulang! Menumpang di tubuhku, sekarang.” Aku memerintah Bagus Heulang, dia datang dan masuk ketubuhku, mataku berubah menjadi merah menyala, tanganku mengeluarkan api. Aku menggenggam tangan dengan kobaran api, berlari kearahnya, meninju perutnya, kena! Aku meninjunya lagi dan lagi dengan kobaran api di tanganku, dia mundur perlahan lalu membuat sikap kuda-kuda, menangkap bahuku, dan melempar tubuhku. Aku jatuh jungkir balik, perutnya terlihat baik-baik saja, tidak ada perubahan dari pukulan dengan kobaran api yang kulakukan tadi.


“Sudah berapa lama Pram?” Aku bertanya.


“15 menit Ayi.” Aku mengusap pipiku yang baret-baret, ada tetesan darah di sana, penduduk terlihat menikmati tontonan ini.


“Pram seharusnya kita menarik uang dari tontonan ini, lihat berapa banyak uang yang bisa kita dapat dari tontonan seperti ini?”


“Kau fikir kau sedang main sirkus Quin! Kalau masalahnya uang, itu hal yang mudah untukku.” Pram sombong, aku juga bercanda. Karena jujur aku sedang berfikir, makhluk ini terlalu kuat.


“Ayi Ajian Asih Kalungguhan.” Mang Nariman berteriak.

__ADS_1


“Mang! Baru 15 menit, itu cara tidak terhormat, aku ingin menaklukannya di bawah kakiku.”


Asih Kalungguhan adalah penjinakan Karuhun dengan cara menaklukan melalui pertarungan, sedang Ajian Asih Kalungguhan adalah, mantra yang diucapkan oleh mulut Ayi Mahogra, mantra itu akan menjadi perintah bagi seluruh Karuhun, tapi ini tidaklah terhormat, memaksa makhluk menurutimu karena kekuasaan, aku ingin menaklukannya dengan cara mengalahkannya, hingga dia menerima bahwa aku lebih kuat darinya, sehingga dia akan tunduk dengan sempurna.


“Baiklah, ini sebenarnya agak boros, tapi aku akan coba, Pram pinjam cambukmu.” Pram melemparkan cambuknya, cambuk juga senjata Behra, mari kita lihat apakah dia mau menurutiku.


Aku memegang cambuk di tangan kananku, kujang di tangan kiriku dan karembo Beureum di leherku. Mari kita lihat apakah dia masih bisa lepas.


Aku berlari secepat kilat, melompat hingga sampai pada dadanya, menancapkan kujang di sana, menyabet kepalanya dengan cambuk, melepas kujang yang masih tertancap dan mengambil Karembo, melilitnya di leher Si Aing, setelah lilitannya kencang aku menarik ujung karembo dan berlari kearah depan, sehingga Si Aing tertunduk karena lilitan leher itu, aku makin menarik Karembo, sementara cambuk masih kupegang di tangan kanan. Dia terlihat kewalahan, aku tertawa, sementara tangan kiriku masih terus manariknya hingga dia sudah jatuh terduduk.


Pada titik ini aku merasa sudah menang, terus menariknya, tapi kulihat Si Aing melakukan gerakan menggunting dengan tangan capitnya pada Karembo milik Pram, dan ....


Ctassss, brettt ... Karembo Pram robek dan akhirnya putus, apa! Dia bisa merobek karembo milik Kharisma Jagat Agung! makhluk gila!


Kulihat Behra tertawa ngakak di sana. Dia girang karena Karuhunnya mampu membuatku terkejut lagi dan lagi.


“Pram, aku sudah tidak punya apa-apa lagi, bahkan Kujangku masih menempel di tubuhnya. apa yang harus kulakukan Pram?” Aku bingung.


“Pram, berhenti di situ!” Aku mengingatkan bahwa aku tidak boleh di bantu, kalau tidak penaklukan ini akan menjadi sia-sia, karena inti dari penaklukan adalah satu lawan satu, kalau aku dibantu, dia akan menolak menjadi sekutu.


Pram mundur dengan kesal. Aku bersila, tanda meminta waktu, Si Aing pun bersila, sudah setengah jam dan aku belum menemukan kelemahannya.


Aku mencoba mengingat apa saja yang Behra lakukan setiap hari, apa yang dia sukai dan apa yang tidak dia sukai, karena Karuhun turun tidak mungkin tanpa alasan.


Aku tertawa terbahak-bahak, serius ini? haruskah aku melakukannya? Tapi aku tidak begitu mahir, walau dulu di SMP pernah berlatih, tapi itu sudah lama sekali.


Aku berdiri, Si Aing, ikut berdiri, lalu aku melebarkan kakiku, sedikit membungkuk, merentangkan tangan kiriku, lalu menekuk lengan yang kanan dengan jari jemari yang rapat menghadap keatas, kaki kiri kuangkat dan kutekuk.


“Pram, bilang Mang Nariman, aku mau dia menyalakan lagu Daun Pulus Keser Bojong, kita lihat apakah aku mampu menarikannya lebih baik dari pemilik Karuhun ini.”


Ya, gerakan ku adalah gerakan Jaipong, aku memulai gerakan awal, lalu mencoba mengingat beberapa gerakan baku dari tari Jaipong, kulihat Si Aing, terdiam melihatku, aku melakukan gerakan Capang, lalu disusul dengan gerakan Nyawang biasanya orang sebut dengan gerakan seolah melihat sesuatu yang jauh, semakin aku menari dengan lantang, dia semakin tenang.

__ADS_1


Dua puluh menit aku menari di depan Karuhun buas ini, lalu menutup tarian dengan melakukan gerakan tepak bahu, perlahan menuju kearah Si Aing, dan mengalungkan Karembo Hejo milikku, sebagai tanda diterimanya penaklukan oleh Karuhun yang sedang kujinakkan.


Saat Karembo sudah menutupi kepalanya, ukurannya yang semula besar menjadi kecil, seukuran dengan tubuhku, lalu dia pamit dan menghilang.


“Yaaa, ketauan.” Behra berteriak dari pinggir lapangan, “kok tau, kalau aku suka menari?” Behra mendekatiku yang sedang kelelahan karena berkelahi sekaligus menari di depan Karuhun buas milikknya.


“Kemarin waktu aku bilang Ayi Kayas bernyanyi dan menari, kulihat matamu menyorotkan kekaguman, tadi saat memikirkan apa saja yang kau suka dan tidak suka, aku ingat ekspresi itu, jadi aku mencoba menari, dan benar saja, Karuhunmu sangat menyukai kau menari, mungkin energi positif saat kau menari begitu tinggi, hingga akhirnya Si Aing Lengir bersedia menjadi Karuhunmu. Ternyata aku benar, kelemahan dari seorang Karuhun adalah Kharisma Jagatnya, jadi setelah aku tahu apa yang membuat Karuhun memilihmu adalah tarian, makanya aku menang hanya dengan sebuah tarian, ironis sekali, bahkan aku memubazirkan seluruh senjata, hanya untuk Karuhun yang tergila-gila dengan tarian, untung aku pernah belajar Jaipong.”


“Ayi, aku kagum, kau bahkan melihat perubahan ekspresiku, kurasa tidak ada yang sesensitif itu melihat raut seseorang.”


“Namanya Ayi Mahogra.” Pram mendekati kami lalu memegang bahuku yang terlihat kelelahan, dia memapahku untuk kembali ke pondok penginapan kami. Aku memang lelah.


“Mau kugendong?” Pram bertanya.


“Kau mau kuhajar?” Aku mengepalkan tangan dan dia hanya tersenyum.


“Mang Nariman, lusa aku akan berhadapan dengan Karuhun milikmu ya.” Aku berteriak, karena Mang Nariman posisinya jauh.


“Apa tidak terlalu cepat? Bagaimana kalau minggu depan?” Mang Nariman bertanya.


“Aku malah inginnya besok, tapi takut aku belum pulih, aku tidak punya banyak waktu Mang.”


Lalu Mang Nariman mengangguk tanda setuju.


_____________________________


Catatan Penulis :


Jadi dari keluarga ibuku, semua saudaranya di beri satu-satu kemampuan, contohnya adik bungsu ibuku, dia diberi kemampuan menari yang luar biasa, kalau sudah mendengar lagu tarian Jaipong dia akan menari seperti orang kesurupan, padahal dia tidak pernah latihan menari, tapi seluruh tubuhnya bergerak dengan otomatis saat mendengar lagu, seperti seorang penari profesional, usut punya usut ternyata setiap dia akan menari, tubuhnya ditumpangi oleh jin yang memang pandai menari.


Membayangkannya saja membuatku bergidik, karena wajahnya seketika berubah menjadi begitu percaya diri dan cantik, aslinya sangat pemalu dan tidak bisa menari sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2