
Aku, Malik dan Pram saling berpegangan tangan, kami siap menyerahkan semua yang kami miliki.
“Malik menyerang sisi kanan, Pram menyerang sisi kiri dan aku menyerang sisi tengah, kami memutuskan untuk mulai melakukan perlawanan, Mudha Praya kaget karena aku mengubah rencana, dia mungkin tahu bahwa aku selama ini sedang mengulur waktu, tapi dia tidak bena-benar tahu rencanaku.
Kami terus menebas mereka secara brutal, bahkan Pram menyabet cambuknya, 5 makhluk langsung tercerai berai tubuhnya.
Malik melakukan hal yang sama, sekali sabet pedang 3 makhluk hilang dalam penglihatan, aku memakai semua yang dibawa, Golok, Kujang dan Karembo.
Saat semua fokus menyerang, dari kejauhan aku melihat Mudha Praya mendekatiku, dia langsung menyerangku dengan senjatanya, aku menghindar dan melakukan semua perlawanan yang aku bisa, dia membidik perutku dengan goloknya, aku menghindar, gantian aku menyerang lehernya, tidak kena.
Kami terus bergumul tanpa henti, sekilas aku melihat Malik dikeroyok oleh puluhan orang, aku menyentak tanah, berhasil, semua makhluk yang mengeroyok Malik jatuh tertelan tanah, kusentak lagi kaki sampai Malik terlihat, aku tersenyum karena dia masih baik-baik saja.
Tapi ... saat Malik fokus pada musuh di depannya, dari belakang samar aku melihat seseorang yang berjubah seperti para Tetua, melesat kearah Malik, dia menghunuskan Keris dengan kecepatan tinggi.
“Malik!!!” Aku berteriak, aku mencoba mengejar kecepatan lelaki yang menghunuskan keris itu.
“Malik!!!” Aku terus berteriak, saat aku sedang mengejarnya, aku merasar tubuhku di tarik dari belakang, lalu seseorang itu menusukku tepat di perut.
“Malik!!!” Aku mencoba melepaskan tusukan ini, Mudha Praya berhasil mengenaiku, aku mencoba melepaskan tubuhnya yang masih memelukku dengan tangan yang menusuk perutku, aku menyentakkan kakiku ke tanah, Mudha Praya tertelan.
Aku tidak melihat Malik, “Malik!!!” Aku terus berteriak dengan darah mengucur dari perutku.
“Malik!!!” Aku terjatuh, sakit sekali rasanya perut ini, Tuhan apakah ini akhir perjuangan kami?
Dari jauh aku mendengar suara tapak kuda, semakin lama tapak kuda itu semakin terasa banyak dan dekat, aku menoleh kearah suara itu, ternyata itu adalah suara pasukan Raja Bapati, aku masih berlari mengejar Malik, aku harus segera memberitahunya atau membuatnya terhindar dari tusukan dalam kecepatan yang tinggi itu.
Mudha Praya terlihat berlari dengan kecepatan tinggi, dia mengejar laju pasukan Raja Bapati, entah apa yang dia sudah siapkan, tapi ada raut khawatir dalam wajahnya.
Aku terus berlari dengan sedikit tertatih karena perutku sudah tertusuk cukup dalam, Mudha Praya menusuknya sebanyak 3 kali dan langsung mencabutnya sehingga darahku terus keluar.
“Malik!!! Malik!!!” Aku terus mencoba untuk memanggil Malik, dia tidak mendengar karena memang hiruk pikuk ini begitu luar biasa memekakkan telinga.
Aku dan orang yang hendak menusukknya itu berpacu dengan waktu, sembari berlari aku menghentakkan kakiku agar tanah tetap melindungi Malik dari serangan lain, karena orang yang hendak menusuknya itu melayang bersama Karuhunnya hingga aku tidak bisa menggapainya dengan tanah.
Dalam hitungan detik aku melihat orang yang hendak menusuk Malik dengan keris sudah melesat begitu dekat, aku terus berteriak, sedetik kemudian orang itu tepat berada di belakang Malik dan ....
“Pram!!!” Tidak bisa menahan emosi aku berlari jauh lebih kencang dan menghampiri Pram.
“Tidak, tidak, tidak, Pram!!!” Aku berteriak, Malik yang melihat Pram telah tertusuk, dibelakangnya kaget.
Malik sadar bahwa target sebelumnya adalah dia, tapi Pram melindunginya dengan mengorbankan tubuhnya sendiri! Malik kalap dan saat melihat orang yang menusuk Pram masih berada di situ, seketika karena marah, Malik menebaskan pedangnya ke leher orang itu, lalu putuslah lehernya dalam satu sabetan, lalu Malik menebas semua yang datang mendekat.
“Malik!!!” Pram ada di pangkuanku, sementara itu Malik tidak dapat kucegah membunuh manusia! Ini sudah sangat bahaya bagi kita semua.
“Bagus Heulang!” Aku berteriak, Bagus Heulang lalu datang dan menggendong tubuh Pram, aku berlari mengejarnya, kami harus segera mengobatinya.
“Nyai, Nyai cepat!” Aku memanggil Nyai Jasmine, Nyai lalu menghampiriku dan Bagus Heulang menurunkan Pram, Nyai melihat luka Pram.
“Keris naga, keris pencabut nyawa Kharisma Jagat Ayi!” Nyai menangis.
“Tidak, kita ada teh Amreta, kita harus segera meminumkannya, cepat ambikan Nyai!” Aku memerintah dengan membentak Nyai, aku menangis sejadinya.
Nyai diam dan menangis semakin kencang.
“Nyai! Cepet ambil!!!” Aku berteriak semakin kencang, lalu jatuh terduduk di samping Pram.
“Queen .... “ Pram memegang tanganku dengan tangannya yang berlumuran darah.
“Diam Pram, diam, kau harus diobati.” Aku menangis sejadinya.
Pram menarik tanganku agar aku mendekat, “Jangan kalah, lindungi seluruh Kharisma Jagat di dunia ini, lindungi hak mereka, seperti kau melindungi cintamu, seperti aku melindungi cintaku, hiduplah di dalam jalan Tuhan.” Pram memegan tanganku dan menatapku dengan dalam.
“Pram, Pram, jangan pergi aku mohon, kita akan mengobatimu dulu, Nyai ambil teh Raja Bapati, Nyai!!!” Aku berteriak.
“Keris Naga Ayi! Tidak ada obat untuk tajam dan berbahayanya Keris naga milik Tetua, kita tidak bsia berbuat apa-apa.” Nyai berteriak, dia juga jatuh karena lemas melihat Pram tertusuk.
Aku mencari Malik, aku melihatnya terus menerobos barisan Mudha Praya seperti orang gila, gerakannya sudah tidak terkendali, dia tidak hanya menyerang Karuhun atau Jin, dia juga menyerang manusia yang ada di situ.
“Aam!!” Aku memanggil Aam, dia jauh dari sana, aku ingin Aam menghalau Malik dulu agar tidak seperti orang gila membantai semuanya, dia tidak boleh membunuh orang lagi. Seementara Raja Bapati terlihat mulai menghabisi para Karuhun Tetua dan menawan Tetua dengan tali ghaib hingga menjadi lemas dan terkulai.
“Pram, bertahan, aku akan membawamu untuk mengobati luka, bertahan. Bagus Heulang gendong Pram!” Aku memerintah.
Pram menarik lagi tanganku, “Ini waktuku Ayi, Keris ini bukan tandingan medis, aku takkan selamat.” Pram kesakitan, wajahnya sudah sangat pucat.
“Pram, aku mohon jangan tinggalkan aku.” Aku menangis sejadinya.
__ADS_1
“Queen, semua orang memiliki takdir, takdirku mencintaimu, melindungimu dan membuatmu bahagia, telah tunai tugasku, maka sekarang aku bisa beristirahat.” Pram semakin lemah.
“Pram ... aku memegang tangannya dengan erat, maafkan aku, maafkan aku.”
Aku meminta Bagus Heulang menjaga Pram, lalu aku berlari kearah Malik.
“Malik!” Aku menangkapnya dan langsung membawa dia menjauhi arena perang, mata Malik merah karena marah, tubuhnya penuh luka, wajar dia tadi bertarung tanpa pandang mulu musuh manusia dan Karuhun semua dihajarnya, ini bahaya untuk kami.
“Lepaskan aku, aku akan bunuh mereka semua, aku akan bunuh mereka semua!!!” Malik berteriak.
“Ucapkan selamat tinggal pada Pram dulu.” Malik jatuh dan menangis, dia memegang kakiku.
“Harusnya aku yang mati, harusnya bukan dia!” Malik menangis seperti anak kecil, aku tahu ada beban berat dalam hatinya.
“Ucapkan salam perpisahan pada Pram dulu, baru kita bertarung lagi, perang ini belum usai, ucapkan salam perpisahan dulu.”
Malik mendekati Pram, Nyai menarikku dan memaksaku meminum teh karena luka tusukanku semakin deras darahnya, karena rasa sedih yang besar aku lupa kalau aku juga tertusuk.
Aku meminum tehnya dan sebentar memulihkan tenagaku, Malik duduk di samping Pram.
“Pram maafkan aku.” Malik meminta maaf pada Pram.
“Aku tidak melakukannya untukmu, jaga Ayi dengan nyawamu, seperti aku menjaga kebahagiaan Ayi dengan nyawaku.” Pram menatap Malik dengan sungguh-sungguh, tapi Malik tidak membalas tatapannya, dia merasa sangat bersalah.
“Tatap aku Malik!” Pram menekan kata-katanya walau ia sangat lemah, “bukan kau penyebabnya, ini takdir!” Pram memaksa Malik melihat kearahnya. “Dam ... dampingi Ayi .... “ Pram menahan sakitnya, wajahnya sudah sangat pucat, dia terlihat lemah, Pramku, maafkan aku.
Lalu langit menjadi begitu mendung, hembusan nafas terkhir Pram diiringi oleh gerimis hujan, aku menangis sejadinya di samping Pram, maafkan aku Pram, kau lelaki mulia yang menjaga cinta dan Tuhan lebih mencintaimu.
“Malik dengar aku, dengar aku!” setelah Pram mengucapkan salam perpisahan, Malik langsung mengambil pedang keramatnya lagi dan hendak berlarI.
“Aku akan membunuh mereka semua!”
“Kalau kau tidak fokus aku akan melemparmu ke dunia bayangan, aku nggak main-main Malik!” Malik diam.
“Kau sudah membunuh satu orang, kita harus bertanggung jawan untuk itu, fokus Malik! Lihat Raja Bapati membutuhkan kita, dia sudah menyerang dari belakang, musuh sudah kaget, bahkan Mudha Praya terlihat ikut terjun ke arena pertarungan, kita pemimpin perang ini, jangan pernah sekali pun kau hilang kendali!” Aku membentaknya agar dia sadar.
“Ser Pram gugur sementara aku masih hidup, aku tidak bisa hidup seperti ini, aku tidak bisa!” Malik masih bersikeras.
“Lalu aku bagaimana? Aku istrimu! Kau harus bertanggung jawab padaku!” Malik melihatku dengan tatapan sedih.
“Fokus dan menang, maka pengorbanan Pram tidak akan sia-sia!” Aku berkata dengan sungguh-sungguh.
Aku membuka dunia bayangan yang telah menyembunyikan seluruh pasukan elit, pasukan yang aku sembunyikan sejak awal, pasukan yang Mudha Praya tidak pernah tahu ada karena memang kau menyembunyikan mereka semua, dari awal mereka memang aku sembunyikan hingga Raja Bapati sampai di punggung musuh, sehingga saat sudah seperti ini, mereka dengan ilmu tinggi masih bisa berperang dengan kekuatan penuh bersama Raja Bapati.
Seluruh Pasukan Elit keluar dan langsung berteriak menyerang pasukan Raja Bapati, yang Manusia langsung diikat, Karuhunnya langsung dibantai, mereka rata-rata Kharisma Jagat dan Karuhunnya tapi kekuatannya sangat tinggi, berada di level keluarga Ayi Mahogra, tapi mereka orang buangan yang memang memiliki idealisme tinggi, maka berperang untuk kepentingan mereka adalah makanan sehari-hari.
Aku melihat Mudha Praya menatapku dengna sangat bringas, dia sangat marah karena aku ternyata menyimpan banyak cadangan strategi, dia pasti tidak menyangka bahwa kami bukan bocah sepele hanya memiliki kekuatas warisan.
Aku ikut berperang kembali, Malik mulai menguasai kekuatannya sendiri, tapi dia terus merapat padaku, setelah kekecewaan tadi, Malik sadar dia punya istrinya yang harus dijaga.
Kami terus bertarung hingga beberapa jam lagi, sampai di waktu dimana Karuhun Mudha Praya yang terlihat berupa Badak, diserang oleh Raja Bapati, aku langsung menghampiri Raja Bapati dan menghalangi Mudha Praya menolong Karuhunnya, Malik ikut bersamaku dan menyerang Mudha Praya.
Raja Bapati berusaha menghabisi Karuhunnya, aku terus menghalau Mudha Praya agar tidak bisa membantu Karuhunnya.
Malik mencoba melukai Mudha Praya, aku melempar Karembo Hejo Mudha Praya kena, tangannya terlilit oleh Karembo Hejo, saat itu aku langsung mengambil cambuk Pram dan menyabetnya ke arah Mudha Praya, dia terjatuh karena wajahnya kena cambuk, pasti pedas rasanya, Malik langsung memegang Mudha Praya dan buru-buru mengikatnya, saat itu juga aku melihat Raja Bapati berhasil menebas leher Karuhun Mudha Praya, kepala badak itu lepas dari tubuhnya, hal itu membuat Mudha Praya menjadi linglung, dia kaget karena Karuhunnya tewas.
“Perempuan Sial!!! Mati kau, mati kau!!!” Mudha Praya yang terikat dengan tali ghaib berusaha menangkapku, padahal tangannya terikat.
“Kau yang brengsek, lihat kekalahanmu, lihat itu!!!” Aku menyuruhnya melihat sekeliling, semua sekutunya kalah, para Tetua berhasil di lumpuhkan, seluruh Karuhun mereka tewas! Mereka akan cacat setelah ini atau malah gila karena terbiasa dengan kekuatan tapi sekarang menjadi manusia biasa.
Dari kejauhan aku melihat Aam sedag terduduk, aku mendekatinya.
“Am?”
“Ayi, Ayah sekarat.”
“Mang Engkus!” Aku terduduk di sampingnya, Malik juga.
“Suatu kehormatan bisa berperang denganmu Ayi Mahogra, terima kasih sudah menjaga anakku selama ini, tolong bantu dan lindungi dia terus Ayi.” Mang Engkus berkata.
“Aku akan terus melindungi adikku Aam Mang.” Aku menangis.
“Terima kasih Ayi.” Mang Engkus lalu menghembuskan nafas terakhirnya, Aam menangis tapi dia menjaga kehormatan Ayahnya.
“Aku akan membawa Ayah ke rumah Ayi.”
__ADS_1
“Bawalah, aku akan kesan begitu perang usai.” Aam lalu pergi menggendong ayahnya.
Nyai maju ke depan dan memelukku.
“Kita menang Ayi, kita menang.” Nyai berteriak.
Kita menang! aku menaikkan golokku dan berteriak ... “Kita menang!!!” semua Kawananku berteriak dan bersorak-sorai.
Aku terduduk karena kelelahan, 6 jam kami berperang, kemenangan di tangan kami, terima kasih Tuhan.
Malik memelukku, Raja Bapati dan Nyai berpelukan. Semua orang terlihat senang, langit menjadi cerah kembali.
Pram ... kau lihat ini? kita menang Pram ... Aku melihat keatas dan tersenyum.
...
Setelah peperangan ini, semua Tetua kami kembalikan ke keluarganya masing-masing, mereka semua rata-rata terlihat linglung, dunia sekarang gelap bagi mereka karena tidak bisa melihat Karuhunnya atau makhluk selain manusia, kekuatan mereka pun lenyap, dan Mudha Praya menjadi gila karena dia tidak memiliki kekuatan lagi.
Markas perlindungan kami renovasi ulang, aku lah sekarang pemilik tanah dan bangunan itu, aku akan membuatnya menjadi sekolah, sekolah spiritual untuk para Kharisma Jagat, supaya tidak ada seorang pun yang menjadi sepertiku dulu ketika kecil, ketakutan dan tidak bahagia, di sekolah ini aku akan mengajarkan pada Kharisma Jagat tentang ketulusan, kehormatan dan kemuliaan hati, selain itu mereka akan menghargai kekuatannya sebagai berkah dari Tuhan dan mereka harus menjaga keberkahan itu dengan cara membantu manusia lain keluar dari masalah ghaib yang berat.
Aku dan Malik memutuskan tinggal di Apartemen milik keluarga Malik, kami minta satu lantai yang terdiri dari 10 unit, karena kami tidak mau orang terganggu jika kami sedang meeting ghaib dan membawa semua makhluk ke lantai ini, maklum mereka kadang iseng.
Pram sudah dimakamkan di perkuburan keluarganya, kami sering berkunjung kerumah Pram, Ayah dan Ibu Pram menerima Malik sebagai anak angkatnya, Malik sering datang mengunjungi mereka, itu adalah caranya meringankan rasa bersalah di hatinya, dia sekarang punya 4 orangtua dan aku punya 4 mertua.
“Sayang, belum tidur?” Malik pulang, dia dari rumah keluarga Pram.
“Belum sayang, sedang menulis buku.”
“Buku apa?”
“Ini.” Aku menunjukan judulnya.
“Karuhun?” Malik bertanya.
“Ya.”
“Kau akan menceritakan tentang Panglima dan Raden?”
“Tidak, aku akan menceritakan tentang kisah cinta kita.”
“Hah? Kamu mau jadi penulis drama?”
“Mungkin.”
Kami tertawa bersama, lalu tidak lama ada suara telepon, pasti dari lobby bawah, ada tamu siapa ya? Tamu harus melapor dulu di lobby tidak bisa langsung masuk ke unit Apartemen yang dia tuju.
[Ya, ada apa?] Aku bertanya dari telepon rumah.
[Bu Seira, ada tamu, katanya mau bicara dengan Pak Malik.]
[Baik, berikan teleponnya.]
[Selamat malam bisa bicara dengan Pak Malik?] Orang itu bertanya.
[Boleh saya tahu ini siapa?]
[Saya dari Kepolisian, kami membawa surat penangkapan untuk Pak Malik atas tuduhan pembunuhan.]
[Baiklah, suami saya akan turun dan bapak bisa membawanya.]
Malik ada di depan pintu kamar kami.
“Sudah waktunya kita hadapi ini sayang, ayo kita turun dan mempertanggung jawabkan kematian itu bersama.” Malik mengangguk dan kami pun turun menemui polisi, Malik tidak diborgol karena dia kooperatif, sementara diluar gerbang semua Jin berkumpul mengikuti mobil polisi.
“Pak kok berasa dingin banget ya mobilnya, kok saya jadi merinding nih?” Seorang polisi berkata.
Bagaimana tidak dingin, mereka tidak tahu betapa ramainya di sekeliling mobil mereka.
“Kita akan melaluinya bersama Malik.” Aku menggenggam tangannya, Malik tersenyum dan menggenggam kembali tanganku dengan erat.
________________________________
Catatan Penulis :
2 Part lagi ya, kasih Coment, like dan vote kami ya.
__ADS_1
Terima Kasih.