Karuhun

Karuhun
Bagian 82 : Perang II


__ADS_3

Aku melihat Mudha Praya berdiri di barisan paling depan bersama dengan seluruh Tetua dengan ilmu yang tinggi.


Aku, Malik, Pram, Pak Hanif, Aam dan Mang Engkus juga berdiri di barisan depan, saat gong perang di bunyikan aku berteriak ....


“Serang!!!” Semua orang maju kedalam arena pertempuran, seperti yang kuduga, barisan Mudha Praya mundur, saat ini yang maju adalah seluruh Karuhun mereka, sedang para Kharisma Jagat kubu sebelah mengendalikan Karuhun mereka dari jarak jauh.


Aku dan barisan pertama, menahan untuk tidak menyerang, kami menghalau semua yang datang dan menjaga barisan agar tetap utuh dan sempurna, saat ada yang mendekat, aku menangkap mereka dan mengincar lehernya, setelah mendapat lehernya, kubenamkan mereka di tanah, hingga kepalanya membentur tanah dengan keras, lalu menusuk Kujangku tepat di lehernya, leher itu putus seketika.


Kupegang Golok di tangan kanan dan Kujang di tangan kiri, setelahnya ada dua makhluk yang datang, mereka memegang tubuhku dan seekor badak jadi-jadian berbaju besi, berlari dari jauh hendak menubrukku dengan semua kekuatannya, tangan kananku yang dipegang kutarik dengan kencang setelah pegangan mengendur. langsung ku sabetkan golok ke pinggangnya, lalu tangan kiriku masih sangat erat dipegangi, kutancap kujangku dengan cara memutar tanganku hingga berada di bagian bawah tangan musuh, setelahnya kutancap kujang itu di tanganya, dia melepas tanganku, tanpa memberi jeda aku panjat tubuh makhluk itu dan menusuk nya dengan golok Raja Bojabon dari ubun-ubunnya, sementara badak yang masih berlari mengincarku sudah sangat dekat, kutahan laju lari badak itu dengan memegang culanya, karena kekuatannya cukup besa, tubuhku ikut mundur, aku menahan sekuat tenaga agar bisa menahan laju Badak ini, kecepatannya mulai melemah, kutendang sisi kirinya dengan kaki kananku, sebelum tendangan itu aku lakukan, aku menjatuhkan diri dan menahan tubuhku dengan tangan kiriku, sehingga efek tendangan in begitu kuat karena aku menendang sambil melompat,  begitu terkena tendangan, badak itu mental dan terkapar.


Sementara aku melihal Malik menebas setiap musuh yang datang, satu makhluk datang, tanpa ampun dia tebas lehernya, lalu turun ke kakinya, tangannya. Tubuh penuh beling bercahaya dari kejauhan, Malik masih menguasai keadaan, dia tidak memberi ampun pada semua yang datang, seperti strategi kami, bahwa setelah makhluk itu kami habisi, kami harus mundur, tidak diperbolehkan untuk menyerang hingga masuk ke wilayah dimana musuh berada, kami menjaga barisan sebisa mungkin, saat ini hingga barisan ketigalah yang diserang.


Suara cambuk Pram yang menggelegar menjadi suara musik dengan alunan yang memekkan telinga, semua berteriak terbawa eforia, semua makhluk dengan berbagai macam wujud saling menyerang dan bertahan, setiap kali cambuk Pram mengenai musuh, tubuh Makhluk itu langsung terbagi menjadi 2, lepas persis seperti puzle, tubuh itu terlihat ringkih sekali saat tersentuh cambuk Pram. Pram begitu lihai menunjukan gerakan pencak silatnya yang dipadukan dengan cambuk neraka miliknya, neraka bagi mereka, Pram tetap berada di barisannya, betapapun dia ingin menyerang, tapi dia tetap patuh pada strategi kami, mereka menggunakan cara mengulur waktu, maka kita tidak boleh lengah.


Sementara Raja Bojabon yang memang aku tempatkan di baris depan bersamaku, dia mengendari buaya jadi-jadian, membawa kampak sebagai senjatanya, dia yang tadinya enggan perang bersamaku terlihat begitu bersemangat, dia membiarkan buayanya menggigit pangkal leher para musuh, lalu dari atas, dia menebas ubun-ubun musuh dengan kapaknya, sekali tebas, tubuh musuh langsung berserakan karena efek begitu kuatnya kampak itu, setelahnya dia terus bertahan setiap musuh yang datang, ditebas dengan kapaknya tanpa turun dari buaya ganas itu.


Pak Hanif lelaki yang paling santun yang pernah aku kenal, yang perlahan melupakan jin cantik Adinda itu, ternyata begitu sadis saat di arena peperangan ini, dia tidak memakai senjata, aku juga baru tahu kalau ternyata Pak Hanif menyimpan senjata di dalam dirinya, apa ini keturunan dari keluarganya Malik, seperti Malik yang ketika dia ngilmu tubuhnya menjadi perisai, tubuh penuh beling, sementara Pak Hanif dari seluruh tubuhnya keluar duri, siapapun yang menyerangnya dan menyentuh duri itu, seketika tubuh itu  tidak bisa bergerak dan jatuh tersungkur, tubuh itu menjadi cacat dan lemas, setelah tubuh itu lemas, maka Malik akan memotong tubuh itu menjadi dua bagian, entah di bagian leher atau perutnya.


“Ser, barisan pertama habis, tinggal kita.” Pram berteriak.


“Tarik!” Aku berteriak, seketika barisan ke dua maju menjaga supaya barisan terdepan utuh, barisan ketiga menarik semua korban dari pihak kami, menggotong, menggeser ataupun menggendong, setelah sampai di barisan paling belakang, mereka langsung di beri Teh Amreta, satu-satunya penawar atas luka kami, ini yang tidak dimiliki Mudha Praya.


Barisan ketiga memang di khususkan untuk menarik seluruh korban, terdiri dari Jin yang mahir menyembuhkan dan juga dari kalangan dukun yang terbiasa dengan herbal, Dokter Adi tidak aku sertakan karena dia tidak bisa berperang, dia ngotot ikut tapi aku minta Malik memberinya pengertian, tapi Karuhunnya Dokter Adi yang sangat mahir dalam pengobatan, aku ikut sertakan.


Barisan ke empat adalah barisan barikade yang memakai tameng sebagai senjata, mereka menancapkan tameng besarnya ke tanah dan memastikan tidak ada musuh yang bisa melewati barisan mereka untuk mengobrak-abrik formasi, barisan ke empat ini ada untuk para korban yang di tarik dulu sebelum sadar setelah meminum teh kehidupan milik Raja Bapati, serta menjadi pembatas untuk para Kawanan yang memiliki ilmu sangat tinggi di tiga baris paling belakang, mereka tidak kubiarkan melihat peperangan, baris mereka aku lindungi dengan dunia bayangan, sehingga mereka tidak melihat apapun, aku ingin begitu giliran meraka yang maju berperang dan menyerang bersama Raja Bapati nanti, mereka masih dalam keadaan semangat, tidak pupus asanya karena melihat kami sudah dihajar habis-abisan.


Aku masih menebas leher mereka satu persatu, Jubahku yang berat dan besar ini menyatu dengan tubuhku sehingga menjadi perisai ketika ada yang hendak menyerangku, bahkan ketika jubah ini hanya menyentuh tanah, tanah itu berubah menjadi sangat panas,sehingga siapapun yang mendekat, perlahan akan terbakar, sungguh hadiah yang luar biasa dari Raja Bapati.


Mudha Praya tidak maju selangkahpun, dia hanya berdiri di barisan tengah di kelilingi anak buahnya, aku melihat dia berada diantara mayat hidup, sepertinya dia mencuri banyak sekali mayat untuk dijadikan pengikat jiwa.


“Manusia! Jangan sentuh mayat hidup, sebisa mungkin jangan lihat matanya.” Aku melihat Mudha Praya mulai melepas mayat hidup, mayat hidup ini tentu tidak bisa dihalau kecuali oleh diriku yang tidak mampu mereka ikat jiwanya, tapi kalau Kharisma Jagat Kawananku, bisa saja dibuat kena gendam dan akhirnya menjadi linglung atau bahkan melepas barisan karena gendam tersebut.


“Ayi, barisan bolong, kena gendam, kena gendam!” Ada yang berteriak, aku berlari kearah suara sambil tetap menebas leher musuhku di perjalanan.


“Aku berada di sekeliling mayat hidup itu, lalu aku menarik kepala mereka yang tidak utuh sau persatu, setelahnay melepas semua jin pencuri raga mayat itu, setelah lepas dari raga busuk itu, aku langsung menebas lagi lehernya dengan golok, lepas raga busuk, aku sabet dengan jubahku, aku kehabisan tenaga karena mereka tidak habis-habis, sepertinya seluruh kuburan di kota ini sudah dibongar oleh Mudha Praya, mayat berserakan di belakangku, tak terasa aku ternyata telah meninggalkan barisan.


Sial! Kena ketipu lagi! Suara siapa tadi yang berteriak kena gendam! Sepertinya tadi tipuan, aku melihat kebelakang, ternyata aku dikepung.


Kawananku tidak terlihat, saking banyaknya mereka bahkan aku merasa sesak, mereka tertawa karena merasa aku telah kalah, seolah mereka lupa, siapa aku.


Aku memejamkan mata, berdoa agar aku bisa menjadi Ayi Mahogra seutuhnya, lalu aku melebarkan kakiku, menyentuh tanah dengan tanganku dan tangan kiriku lurus keatas, setelahnya tanah bergetar, makhluk yang hendak menerkamku mulai hilang keseimbangan, setelah bergetar tanah itu mulai bergelombang, lalu perlahan menarik semua yang ada di sekelilingku.

__ADS_1


Mataku mengarah keatas, aku merasa bahwa mataku begitu silau dan berubah, aku melihat semua dengan begitu lebih terang dan jelas, ini adalah kekuatan yang tidak pernah aku keluarkan sebelumnya, yaitu Ilmu Mahidana Parabawa, dimana tanah menjadi kawanan, dan atas ijin Tuhan tanah ikut serta membantu peperangan, tanah ikut menjadi senjata bagi Ayi Mahogra, tapi jujur ilmu ini begitu berat untuk digunakan, sekarang sudah terlihat jarak kawananku, karena tanah membuka jalan bagiku dan menelan musuhku kedalamnya. ternyata kawananku tercerai berai juga, sepertinya mencariku, aku berlari untuk kembali ke kawananku, sementara musuh masih berusaha meraih tubuhku untuk mereka habisi, tapi tanah sekitarku menjadi tameng yang kuat sehingga mereka malah tertelan ke dalam tanah, tinggal sedikit lagi aku sampai.


“Ayi!” Bagus Heulang berlari mengejarku, dia lalu menarik tubuhku ke udara, Tepat waktu!


Dia menurunkan tubuhku, sementara barisan yang tersisa hanya barisan tameng, kami terpecah belah padahal hanya kutinggalkan tidak sampai 10 menit.


“Bagus Heulang bagaimana bisa kau lolos dari dunia bayangan?” Aku memang mengurungnya di sana, aku tidak mau dia bertarung dengan sayap sebelah. “Itu sayapmu sudah berfungsi lagi?” Aku bingung.


“Kau jahat! Kau meninggalkanku.” Bagus Heulang marah.


“Sudah tidak ada waktu Ayi, cepat kembalikan formasi!” Pak Hanif berteriak.


Oh ya, aku lalu menyentuh tanah lagi dengan tangan kananku, aku membujuk tanah mengembalikan semua kawananku, dalam hitungan 15 menit semua sudah di barisan, saat ini ada 2 barisan di depan barisan tameng.


“Sudah berapa lama Malik, apakah sudah terlihat pasukan Raja Bapati?” Aku bertanya.


“Baru 2 jam ser, baru setengah jalan.” Malik terlihat kelelahan.


“Pasukan kita sudah banyak yang gugur Ser, tapi semua dari kalangan Jin, musuh juga sama, aku memastikan bahwa manusia tidak di sentuh, toh Kharisma Jagat juga bukan apa-apa tanpa Karuhun mereka.” Malik kesal, karena separuhnya kawanan telah gugur.


“Keluarkan pasukan panah, keluarkan yang telah meminum Teh Amreta dan telah pulih, tutup barisan yang bolong!!!” Aku memerintah saat semua masih salng menyerang dan bertahan.


Pasukan panah keluar, mereka selalu dibilang jin hutan, kemampuan mereka adalah memanah dengan sangat akurat, siapapun pasti kena kalau di panah dan panah itu sudah di taburi racun yang sangat berbahaya bagi jin dan manusia, manusia yang kena panah tidak akan mati tapi mereka akan pingsan sampai berjam-jam, panah ini memang ditujukan untuk para Kharisma Jagat musuh, agar Karuhun mereka kehilangan arah saat tau tuannya pingsan dan mendahulukan menyelamatkan tuannya dibanding melanjutkan perang.


Aku melanjutkan menebas semua Makhluk dan mengarahkan tanah dengan kakiku, tanah mengikuti irama kakiku yang ketika aku loncat maka tanah menelan satu persatu musuhku, golok menebas leher mereka, Kujang menancap pada jantungnya dan Golok menjadi saksi betapa Jin jahat itu sudah mulai berkurang.


Kami kehabisan tenaga, pasukanku sudah bongkar pasang berkali-kali.


“Ayi, tidak ada yang bisa maju lagi, Teh Amreta habis!”


“Nyai mundurkan para korban ke baris paling terakhir.”


“Keluarkan pasukan yang masih ada di dunia bayangan Ayi!” Nyai memohon.


“Tidak, belum waktunya!” Aku menolak. “Raja Bapati masih belum terlihat, kita harus bertahan selama 1 jam lagi, kita sudah bertahan selama 3 jam bertempur tanpa henti.” Aku memang sudah sangat kelelahan, beberapa bagian jubahku robek karena terkena senjata Tetua yang sudah mulai turun menyerang kami.


“Ayi kau dan pasukan inti tidak bertukar tempat sama sekali, kalian terus berperang, kalian harus mundur ke belakang, aku akan ikut berperang.” Nyai maju.


“Kau melangkah selangkah lagi, kulempar kau ke dunia bayangan dan kukunci kau disana!” Aku marah nyai tidak mengindahkan perintahku untuk tetap di barisan pengobatan.


“Ayi, aku tidak bisa melihatmu berjuang sendirian.” Nyai menangis.

__ADS_1


“Kau hanya perlu mendukungku.” Aku berlari kembali ke arena pertahanan, barisan pertama yang tersisa, tidak ada lagi makhluk di belakang kami, jumlah mereka masih banyak sangat banyak, sementara pasukan kami hanya tinggal kurang dari setengahnya.


Aku, Malik dan Pram saling berpegangan tangan, kami siap menyerahkan semua yang kami miliki.


“Malik menyerang sisi kanan, Pram menyerang sisi kiri dan aku menyerang sisi tengah, kami memutuskan untuk mulai melakukan perlawanan, Mudha Praya kaget karena aku mengubah rencana, dia mungkin tahu bahwa aku selama ini sedang mengulur waktu, tapi dia tidak bena-benar tahu rencanaku.


Kami terus menebas mereka secara brutal, bahkan Pram menyabet cambuknya, 5 makhluk langsung tercerai berai tubuhnya.


Malik melakukan hal yang sama, sekali sabet pedang 3 makhluk hilang dalam penglihatan, aku memakai semua yang dibawa, Golok, Kujang dan Karembo.


Saat semua fokus menyerang, dari kejauhan aku melihat Mudha Praya mendekatiku, dia langsung menyerangku dengan senjatanya, aku menghindar dan melakukan semua perlawanan yang aku bisa, dia membidik perutku dengan goloknya, aku menghindar, gantian aku menyerang lehernya, tidak kena.


Kami terus bergumul tanpa henti, sekilas aku melihat Malik dikeroyok oleh puluhan orang, aku menyentak tanah, berhasil, semua makhluk yang mengeroyok Malik jatuh tertelan tanah, kusentak lagi kaki sampai Malik terlihat, aku tersenyum karena dia masih baik-baik saja.


Tapi ... saat Malik fokus pada musuh di depannya, dari belakang samar aku melihat seseorang yang berjubah seperti para Tetua, melesat kearah Malik, dia menghunuskan Keris dengan kecepatan tinggi.


“Malik!!!” Aku berteriak, aku mencoba mengejar kecepatan lelaki yang menghunuskan keris itu.


“Malik!!!” Aku terus berteriak, saat aku sedang mengejarnya, aku merasar tubuhku di tarik dari belakang, lalu seseorang itu menusukku tepat di perut.


“Malik!!!” Aku mencoba melepaskan tusukan ini, Mudha Praya berhasil mengenaiku, aku mencoba melepaskan tubuhnya yang masih memelukku dengan tangan yang menusuk perutku, aku menyentakkan kakiku ke tanah, Mudha Praya tertelan.


Aku tidak melihat Malik, “Malik!!!” Aku terus berteriak dengan darah mengucur dari perutku.


“Malik!!!” Aku terjatuh, sakit sekali rasanya perut ini, Tuhan apakah ini akhir perjuangan kami?


____________________________________


Catatan Penulis :


Tenang, tenang, ini belum TAMAT, belum ada tanda TAMAT kan di akhir cerita, masih ada 3 part lagi ya, hehehe aku tambahin aku merasa kurang kalau ditamatkan 83 part, kemungkinan akan ditamatkan dalam 85 part ya. Tapi tidak akan ada tambahan lagi setelah 85 part.


LJB akan tetap tayang di tgl 1 Oktober ya.


Apa yang terjadi dengan Seira dan Malik? Apakah mereka akan tetap hidup? Atau mereka akan mati?


Jangan lupa COMENT, LIKE dan VOTE nya ya. Dukung aku selalu.


Terima Kasih.


 

__ADS_1


 


__ADS_2