Karuhun

Karuhun
Bagian 71: Tragedi


__ADS_3

Aku dan Malik tertawa, kekayaan kami tidak ada apa-apanya dia banding dengan emas di sini, sungguh kerajaan yang sangat kaya raya.


Kami menjadi orang miskin di sini, tidak bisa jajan di pasar malam, dan sekarang kami hanya bisa jalan-jalan, di pasar ada begitu banyak hal yang dilihat.


“Ser.” Malik merangkul bahuku, kami ada di jembatan, menikmati indahnya malam dan hutan yang menjadi pasar dadakan ini.


“Ya?” Aku menengok kearahnya.


“Jika nanti, ternyata aku tidak selamat, maukah kau tetap hidup dengan baik.”


“Diam, jangan berbicara kemungkinan seperti itu.” Aku menjawabnya dengan dingin.


Aku tidak akan membiarkannya gugur, aku tidak akan sanggup hidup dengan baik tanpa lelaki ini, aku mohon Tuhan, ridhoi perang ini untuk menjadi kemenangan kami.


“Ayi! Ayi!” Seseorang berlari menghampiriku dan Malik.


“Kenapa?” Ternyata salah satu dayang kerajaan.


“Raja memerintahkan Ayi untuk puang sekarang.” Dayang itu terdengar sangat tergesa-gesa, jujur aku khawatir, perasaanku tidak enak.


Aku dan Malik langsung menaiki kereta kencana dan kembai ke kediaman kami, saat kami sampai, sudah ada banyak orang, bahkan Raja Bapati ikut datang. Perasaanku semakin tidak enak.


“Ada apa Raja?” Aku bertanya.


“Queen.” Pram ternyata ada di sini juga, aku tidak menyadari karena saking banyaknya orang.


“Kita harus segera ke rumah Ayahmu, ada masalah di sana.” Pram terihat gusar.


“Ada apa?” Aku bertanya.


“Bagimana kalau kau melihatnya sendiri?” Pram mengatakannya.


Aku dan Malik lalu bergegas berkemas, kami akan pergi ke rumah Ayahku, aku tidak tahu apa yang terjadi, yang pasti aku harus ke sana.


Kami menaiki pesawat cesna milik Pram, Malik dan Pram duduk di depan, aku duduk di belakang, pesawat ini memang hanya mampu menampung 4 orang.


Begitu kami terbang, aku melihat ada yang aneh, langit berubah menjadi hitam, kilat saling saut-sautan, hujan tiba-tiba turun.


“Pram, hati-hati.” Aku berbicara melalui headset telex, Pram mengangguk, Malik pun terlihat tidak nyaman.


Jeder! Jeder! Jeder!


Aku merasa bahwa langit marah kepada kami, kilat terus menyambar pesawat ini, Pram mencoba mengemudikan dengan sebaik mungkin, aku melihat Malik dan Pram berkoordinasi dengan baik.


Saat sedang fokus pada kendali pesawat, aku merasa ada yang memegang bahuku, dan ....


Brakkk!!! Aku terpental keluar pesawat, ada yang menarik tubuhku. Pram pernah bilang bahwa wiayah laut dan langit tidak memilki tertori yang jela, hingga akan bahaya sekali untukku jika bepergian melewati 2 kawasan itu, musuhku sepertinya sedang memanfaatkan moment ini.


Sebelum benar-benar jatuh, aku memanggil Bagus Heulang, dia terbang melesat menangkapku, aku langsung duduk di punggungnya.


“Mereka bahkan nyolong start untuk menyerangku, dasar Mudha Praya pengecut!” Aku memerintah Bagus Heulang untuk terus terbang mengikuti pesawat, dari kejauhan aku melihat pesawat Malik dan Pram sudah di penuhi oleh makhluk menjijikan, mereka seperti mayat hidup, mereka berusaha menjatuhkan pesawat itu, sementara di belakangku ada pasukan lain yang memiliki rupa yang sama tengah mengejarku juga, kemungkinan mereka bermaksud mencelakakanku juga.


Aku terus mengejar mereka, dari arah kanan dan kiriku aku melihat mereka berusaha mengejarku, aku mengeluarkan Kujang dan mengkerudungkan Karembo Hejo pada kepalaku, aku berdiri di punggung Bagus Heulang dan menghajar sebelah kiriku dulu dengan kujang, lalu menendang sebelah kananku, mereka kalah, aku terus memerintah Bagus Heuang mengejar pesawat, aku melihat dari kejauhan ada gunung yang sangat tinggi, sepertinya pesawat akan menabrak gunung itu.


Begitu mendekati pesawat aku melihat Malik sedang menhajar mereka dari dalam, Pram tetap pada kemudinya dan sesekali menyabet cambuknya keluar, aneh, pintu pesawat sudah tidak ada.


Saat sudah cukup dekat, aku loncat ke tubuh salah satu makhluk menjijikan itu, lalu menusuk lehernya dalam sekali tebas, memegang kembali salah satu makhluk yang masih hidup dan melakukan penebasan lagi, satu, dua, sepuluh, dua puluh, habis sudah, semua mati dan jatuh.


Saat akan kembali pada posisi duduk, pesawat menabarak gunung dan jatuh, badan pesawat tersangkut pohon, aku, Malik dan Pram berusaha keluar dari pesawat, kami takut kalau pesawat meledak.


Saat kaki sudah menjejak tanah, kami berjalan mencari tahu dimana ini, baju hanya tersisa di badan, dan makanan kami tidak bawa persediaan, siapa juga yang bersiap untuk jatuh dan hilang di gunung?


“Kita dimana?” Aku bertanya.


Pram mengeluarkan kompas dari sakunya, kompasnya pecah mungkin akibat perkelahian di pesawat tadi.


“Aku tidak tahu, setahuku tidak ada gunung di sekitar sini.” Pram berkata.


“Kau yakin Pram?”


“Aku fikir juga begitu.” Malik menguatkan alibi Pram.


“Yaudah ayo.”Aku berjalan ke depan.


Gunung ini seperti gunung pada umumnya, tapi sepertinya gunung yang tidak terjamah, atau gunung perawan, tidak terlihat jejak jalan setapak bagi orang yang hendak mendaki di sini.


“Kita akan berburu binatang untuk makan, dan juga buah-buahan.” Aku berkata, dua lelaki itu menangguk.


Kami terus berjalan, rencananya aku mau menemukan jalan turun, tapi entah kenapa firasatku mengatakan bahwa gunung ini tidak beres.


Kami berjalan terus memilih jalan hanya sesuai insting, hujan terus mengguyur, tadinya gerimis menjadi deras, Pram dan Malik reflek membuka jaket mereka dan mencoba mengcover tubuhku, aku memandang mereka dan menolak. Mereka akhirnya mengalah dan memakai kembali jaketnya.


Ada reruntuhan bangunan di depan kami, aneh, runtuhan bangunan ini ada di gunung yang tidak pernah di lalui manusia, karena terlihat dari tidak adanya jalan setapak untuk naik maupun turun, lalu kenapa ada bangunan ini?


“Aku fikir tidak ada salahnya memiliki tempat untuk berteduh, kita akan bermalam di sana sementara.” Pram dan Malik mengikutiku.


Bangunan ini seperti sebuah rumah megah, tapi jelas sudah lama ditinggali, terlihat dari bangunan rusak parahm genteng yang bolong, pintu yang rusak, jendela yang hilang, oh ya, apakah rumah ini terbakar? Karena warna gelap yang tertempel di dinding dan setiap bagian, seperti habis terbakar.


Kami masuk bangunan rusak ini, lumayan ada tempat teduh walau air hujan masih saja masuk ke dalam, tapi paling tidak masih ada bagian yang bisa menjadi atap.

__ADS_1


“Sepertinya rumah ini terbakar.” Aku berkata.


“Iya benar.” Malik menjawab.


“Tidak, aku tidak melihat kayu yang usang atau lapuk karena terbakar.”


Aku melihat sekeliling, benar sekali, tidak ada bekas kayu lapuk karena api disini, aku berjalan makin ke dalam bangunan ini. Ada 2 kamar, sama kondisinya buruk seperti bangunan lain, aku membuka pintu kamar ini, saat membuka pintunya, aku melihat seorang anak berlari melewatiku, aku tertubruk dan jatuh, Malik membangunkanku.


“Kenap Ser?”


“Ada anak kecil lewat Malik, kau tidak lihat?” Aku bertanya.


“Tidak, kau jatuh begitu saja.” Malik menjawab.


“Dia berari ke kamar satunya.” Aku berlari ke kamar anak itu berlari, membuka kamar itu dan melihat seorang anak kecil, berambut panjang memunggungi kami.


“Hei, kau siapa?” Aku bertanya, anak itu diam.


“Aku tidak melihat, Pram kau lihat?” Malik bertanya.


“Tidak, hanya Ayi yang lihat, hati-hati Ayi.” Pram mengingatkan.


Aku mendekati anak itu, dia masih di tempatnya, anak kecil itu masih tidak menoleh.


“Siapa kau?” Aku masih mencoba bertanya.


Anak itu berbalik pelan-pelan, begitu wajahnya terihat, dia menyunggingkan senyum, seringai tepatnya.


“Tolong aku Kak …. “ Anak itu meminta pertolongan, aku mendekatinya, dia mengulurkan tangan padaku, aku menyambut tangan itu, ketika tangan kami saling bersentuhan, aku merasa ditarik begitu kencang ke dalam sebuah pusaran, pusaran yang membuatku ingat kejadian di waktu dulu, ketika umurku masih 11 tahun, ingatan yang perlahan memudar.


Setelah pusaran itu itu hilang, aku merasa sudah ada di sebuauh rumah, rumah yang sama dengan bangunan rusak tadi, tapi bedanya bangunan ini begitu megah dan mewah.


“Tini, yuk bobo sudah malam.” Seorang perempuan mendatangi anak kecil ini rupa anak kecil ini menjadi jauh lebih segar, pakaiannya pun jauh lebih bagus dari yang tadi saat aku ketemu dengannya di bangunan rusak sebelum masuk ke dimensi berbeda ini.


Dulu sekali waktu kecil aku pernah mengalami ini, ditarik ke dimensi lain dan ikut melihat apa saja yang mereka alami tanpa mereka sadar kehadiranku.


“Dia adalah pembantu di rumah ini.” Anak kecil yang bernama Tini, yang membawaku itu berkata, walau sosoknya sudah berubah menjadi lebih seperti manusia, dia tetap berkomunikasi denganku.


“Kenapa kita ke sini?” Aku bertanya.


“Kau akan lihat dan dengar.” Tini mengatakan dengan sangat misterius.


“Tini belum tidur?” Pembantu yang disebut Tini mengatakan itu.


“Belum, aku ingin segelas susu boleh?” Tini meminta susu, pembantu itu mengangguk dengan sumringah.


Saat pembantu itu ke dapur Tini member kode kepadaku untuk mengikutinya, aku pun menuruti saja, kuikuti pembantu itu yang membuat susu untuk Tini.


Setelah susu itu diberikan, Tini terlihat menikmati susunya.


“Jangan minum, itu ada sesuatu, tapi aku tidak tahu apa.” Aku memperingatkannya.


Dia hanya nengok dan tersenyum sembari tetap meminum susunya, setelah habis dia memberikan kembali gelas susu itu dan bersiap tidur, sementara pembantu itu pergi dengan gelas susu kosong sembari tersenyum licik,


Setelah memastikan pembantu itu pergi aku langsung bertanya pada Tini.


“Kau seharusnya tidak minum itu.”


“Percuma, aku sudah mati gara-gara minuman itu, Oh ya aku lupa bahwa aku tertarik ke dimensi ini, tentu kejadiannya sudah lampau, walau Tini bisa berkomunikasi denganku, tapi sebenarnya ini kejadian yang sudah sangat lampau.


“Pergilah keluar, dengarkan apa yang pembantu itu katakan.” Tini menyuruhku keluar, aku pun menurutinya.


Dari luar aku melihat pembantu itu sedang berlari keluar areal rumah, pergi ke tengah hutan yanga da di gunung ini dan bertemu seeorang.


“Aku sudah mencampur racun pada susunya, makanannya dan semua camilannya.” Pembantu itu berkata pada lelaki asing.


“Kapan dia akan mati?” Lelaki itu bertanya.


“Dalam waktu 3 sampai 6 bulan, lalu rumor itu akan aku sebarkan.” Pembantu itu menjawab.


“Buat secepat dan sebersih mungkin, bagaimana dengan orang tuanya?” Lelaki itu kembali bertanya.


“Mereka hanya pulang ke gunung ini seminggu sekali, kau tau lah, anak ini memang disembunyikan, kasihan, kaya raya tapi tidak mampu hidup dengan benar. Harus terpenjara di istana yang sepi ini.” Pembantu itu mengumpat, ingin rasanya ku hajar pembantu ini.


“Lihat kan bagaimana jahatnya mereka pada anak kecil?” Tini tiba-tiba sudah di sini, tubuhnya sudah lusuh kembali, dia kembali menuntun tanganku.


Lalu pusaran itu kembali, Tini membawaku ke dimensi lain lagi, di tempat yang sama waktu yang berbeda.


“Sakit sekali dadaku Kak, setiap hari aku muntah, makan tidak enak, minum tidak enak dan tidak bsia tidur.” Tini mengeluh tubuhnya kembali seperti manusia biasa lagi, dia terbaring di tempat tidurnya.


“Kau seharusnya tidak minum susu itu sayang.” Aku memeluknya dengan sangat kuat, aku menangis melihat penderitaannya.


“Tini, ini makan, bibi suapin ya, Tini harus makan, kamu mau ketemua ayah sama ibu kan? Ayah sama ibu nggak suka anak yang sakit-sakitan.”


“Pembantu sialan!” Aku mencoba menyerang pembantu ini, tapi gagal karena saat ini akulah hantunya, aku tidak bisa menyentuhnya.


Aku melihat Tini memaksakan diri untuk makan, terlihat sekali dia sangat rindu dengan orang tuanya, kemana orang tuanya, kenapa meninggalkan anak kecil dengan orang yang jahat seperti ini.


Makanan itu habis, tapi Tini kemudian semakin lemas dan tertidur di kasurnya, pembantu itu pergi. Aku kembali mendekatinya dan menangis di pinggir kasurnya.

__ADS_1


“Besok aku tidak bisa bangun lagi sama sekali Kak, kakiku lumpuh tiba-tiba, tanganku lemas dan jantungku selalu berdebar, aku diwaktu ini tidak tahu kenapa dengan diriku, aku menyayangi bibi, karena dia yang selalu ada di sampingku.” Tini sesegukan, lalu kami kembali ke tarik kedimensi lain,  di kamar yang sama tapi waktu yang berbeda.


“Tini semakin lemah Tuan dan Nyonya, jangan terlalu sering kemari, saya takut kalau nanti ada yang curiga, bukankah keselamatan Tini jauh lebih utama disbanding rasa rindu kalian?” Pembantu brengsek ini terlihat menghasut, sungguh membuatku frustasi.


“Sayang maafkan ibu, kami melakukan ini agar kau tetap hidup, sakitmu akan sembuh, lambat laun Nak, kita akan kembali bersama, sekarang ayah dan ibu pulang dulu, kamu sama bibi ya sayang,” ibunya Tini, hendak beranjak pergi, tapi Tini yang lemah menarik tangan ibunya, dia mengiba dengan wajahnya untuk selalu ditemani, dia tidak bisa bicara lagi, dia hanya bisa memelas dengan matanya. Tapi ibunya terlihat bodoh karena tetap pergi begitu saja, apakah anak ini tidak berharga untuk mereka?! Aku benar-benar ingin membunuh mereka semua.


Setelah kamar sepi, hanya tinggal Tini yang ada di sini, dia lalu menatapku, tubuh lemahnya tidak menghalangi dia untuk berbicara.


“Aku adalah anak hasil perkawinan antara Kharisma Jagat dengan manusia biasa, aku adalah produk kutukan, mereka mengatakan kalau pernikahan adat ditentang, maka mereka akan sial karena tidak mampu melawan para musuh Kharisma Jagat, karena kecacatan dalam hubungan pernikahan, pernikahan bukan pernikahan adat menurut mereka adalah suatu kecacatan, menikahi yang bukan Kharisma Jagat adalah menikahi perempuan cacat, karena itu setelah dilahirkan aku diungsikan kesini, ditengah gunung ini, ayahku membangun rumah besar ini dan membuat gunung ini tidak pernah terlihat lagi oleh siapapun, ayah ibuku takut bahwa aku akan dibunuh dan menjadi incaran para makhluk buas pemburu anak Kharisma Jagat yang lemah, seperti yang mereka selalu katakan, anak-anak kutukan, anak-anak cacat dari istri-istri cacat yang hanya seorang manusia biasa.”


Tini lalu duduk di pinggir kasurnya, tentu sudah kembali dengan tubuh yang lusuh.


“Aku tiada setelah 3 hari kemudian, tanpa ayah tanpa ibu, ibuku yang bukan seorang Kharisma Jagat menjadi gila karena begitu menyesal telah kehilanganku dan mulai percaya bahwa mereka telah melanggar kutukan jodoh adat, lalu pembantu yang memberiku racun itu menyebarkan fitnah, bahwa kematianku adalah sebuah kesalahan dikarenakan oleh pelanggaran yang dilakukan ayahku, yaitu dengan menikahi bukan jodoh adatnya, katanya aku meninggal dengan aneh, tanpa sakit, tanpa sebab, dia percaya itu semua karena kutukan, padahal itu semua perbuatan mereka, musuhmu.” Tini tersenyum, kami sudah kembali ke dimensi yang sebenarnya, rumah ini sudah menjadi bangunan lama, sudah ada Malik dan Pram.


“Malik, Pram.” Aku menyapa mereka, seperti aku baru saja kembali dari dunia yang berbeda.


“Kau terdiam dan mematung hampir selama satu jam ini, kami membiarkan karena melihat ada energi yang kuat di sekitarmu, kami yakin kau sedang masuk ke dimensi lain dan berkomunikasi dengan sesuatu yang baik, karena aku melihat aura putih dari energi yang mengelilingimu Ser.” Malik menjelaskan kejadiannya.


“Kalian tidak bisa melihat Tini ya?” Aku bertanya.


“Tidak.” Baik Pram maupun Malik menjawab dengan bersmaan.


“Kenapa ya?” Aku bertanya, sementara Tini sudah pergi tidak ada lagi di sini.


“Hanya ada satu kemungkinan, frekuensinya terlalu tinggi untuk kami Ser, siapa Tini?” Pram bertanya.


“Anak Kharisma Jagat dari penduduk di bawah gunung ini.” Aku menjawab.


“Berarti kemungkinan dia dari garismu, selevel denganmu, makanya hanya kau yang bisa lihat, seseorang dari level yang sama.” Masuk akal sih penjelasan Pram.


“Mungkin dia sengaja menarik kita ke gunung ini, seperti yang kalian tahu, bahwa gunung ini seharusnya tertutupi selimut ghaib, tapi kita bisa melihatnya bahkan jatuh di sini, padahal musuh sudah kalah semua, mungkin karena Tini yang mengundang kita, hingga dia menuntun langkah kakiku ke bangunan ini.”


“Lalu langkah apa yang harus kita lakukan Queen?” Pram bertanya.


“Kita akan bermalam di sini, kita akan bakar api unggun untuk menghangatkan tubuh, ayo keluar, hujan sudah reda.”


Lalu kami bertiga pun keluar,Pram mencari kayu bakar, Malik menyiapkan bangunan ini agar bisa kami tiduri, aku memanggil semua Karuhun kami, agar mereka menjaga kami, aku takut ada anak buah musuh yang hendak menyerang, walau sebenarnya gunung ini tidak bisa di datangi oleh sembarang orang, gunung ini hanya bisa terlihat oleh orang yang Tini kehendaki.


Setelah semua sudah siap, api unggun sudah di nyalakan, kami semua berkumpul, makan apa saja yang ada, Pram menangkap seekor burung untuk kami bakar, dan Malik mengambil buah serta sayuran yang bisa menjadi lalapan.


Sungguh udara malam yang sejuk dan dingin, kasihan Tini, sendirian di sini dulu, sementara aku adalah orang yang sangat beruntung karena bersama orang-orang yang menyayangiku dengan tulus.


“Ser, apa rencanamu besok?” Malik bertanya.


“Kita akan turun, bertemu warga, baru setelahnya kita akan pergi ke rumah ayah.” Aku menjawab sembari memakan burung yang Pram bawa.


“Queen, kau tidak menyembunyikan sesuatu kan?” Pram bertanya.


“Apa maksudmu?”


“Kau terlihat tenang dan seperti menunggu sesuatu.” Pram bertanya.


“Jangan berfikir macam-macam, tetap pada apa yang sudah kita rencanakan.” Aku menegaskan, tumben Malik diam saja, dia biasanya bersebrangan dengan Pram, tapi kenapa dia diam saja, apa dia juga merasakan hal yang sama seperit yang Pram rasakan?


“Malik, ayolah, kau juga merasakan apa yang kurasakan kan?” Pram mencari sekutu.


“Aku fikir Sera jauh lebih tahu apa yang harus dia lakukan, aku akan menuruti semua keinginan Sera, apapun itu.” Malik menutupi hatinya, dia juga merasakan apa yang Pram rasakan.


“Udah bawel lu, gue mau bobo dulu ya, jangan lupa matiin apinya, nanti kebakaran hutan, trus gentian jaga, Queen Sera mau bobo dulu.” Aku meledek mereka, dengan membahasai panggilan Pram dan Malik secara bersamaan, Queen Sera.



POV MALIK


Sial aku ketiduran, seharusnya aku terjaga, tapi entah kenapa pagi tadi jam 3 rasanya kantukku tidak tertahankan, aku bahkan tidak sadar sudah tertidur, aku langsung masuk ke dalam, mau menemui Sera, Pram terlihat tidur juga di sampingku.


“Ser! Ser!” Seira tidak menjawabku, di mana dia, aku memberanikan diri membuka pintu kamar, tapi ketika aku buka aku tidak menemukan Seira di sana.


“Ser! Ser!” Aku terus memanggilnya, Pram terbangun dan langsung berdiri di belakangku.


“Dia ilang?” Pram bertanya.


“Iya, gue udah cari ke semua tempat, dia nggak ada, Karuhunnya pun nggak ada, gue tidak bisa mencium bau satupun Karuhunnya.” Aku lemas karena takut dia kenapa-kenapa.


“Kan gue bilang juga apa, dia pasti pergi sendiri, ini pasti ada hubungannya sama Tini, masalahnya kalau dia yang ilang, dan dia nggak ingin kita tahu dia kemana, kita pasti nggak akan bisa temuin dia.” Pram pesimis.


“Salah lu, gue bisa nemuin dia buktinya, kita cari petunjuk, dia pasti ninggalin sesuatu, dia nggak mungkin ninggalin kita tanpa petunjuk.” Pram setuju dan langsung bergegas mencari petunjuk.


Setelah satu jam akhirnya aku dan Pram menemukan sesuatu, Seira menuliskan kata TURUN dengan darahnya pada lantai di bawah kasur, dia suruh kami turun sendiri, aku akan melakukannya, terserah Pram mau apa, tapi aku akan melakukan apa yang Seira mau.


“Aku ikuti yang menurutmu benar Malik.” Pram akhirnya ikut.


Tunggu kami Ser, aku tahu pasti ada alasannya, selalu begitu.


_____________________________________


Catatan Penulis :


Jangan lupa VOTE, LIKE dan COMENT ya, kasih tau dong part ini nyeremin nggak? Aku ngetiknya aja agak sedikit takut, aku merasa ada yang beda aja pas nyeritain part ini.

__ADS_1


Salam sayang dari Muka Kanvas/RPs


__ADS_2