
Aku tidak pernah memilih untuk menjadi seperti ini, seperti saat ini, dengan segala kisah Karuhun yang membuat hidupku menjadi begitu rumit, Malik, Pak Hanif, Aam, Aqan Asta, Panglima dan Raden, mereka membuat hidupku menjadi lebih rumit dan saat ini adalah titik terberat dalam hidupku, aku hampir saja diperkosa, kehormatan yang kujaga bahkan tidak kuberikan pada Malik, orang yang benar-benar aku cintai, aku menyesal menjadi istimewa aku ingin hidup normal saja, aku tidak bisa mempercayai siapapun saat ini, mereka semua berniat jahat padaku.
“Malik!!!” Aku terbangun karena mimpi buruk, buruk sekali.
“Ayi.” Aam disampingku, lagi-lagi aku masuk Rumah Sakit.
“Am, Malik mana?” Aku bertanya karena tadi mimpiku buruk sekali, aku melihat Malik terkepung Api dengan tubuh penuh tertancap kaca, aku sangat ingin menemuinya.
“Malik perjalanan bisnis ke Paris Ser, mungkin sebulan dia baru pulang.” Pak Hanif dan Adinda ternyata ada disini juga.
“Sebulan? Kenapa begitu lama? Kapan dia pergi ke Paris? Dia kemarin datang membantuku kan?”
“Tidak, dia tidak datang membantumu.” Pak Hanif menjawab pertanyaanku.
“Adinda, bukankah dia datang bersama kalian?” Aku menatap Adinda yang sedang duduk disamping Pak Hanif.
“Tidak, hanya kami berenam yang datang kesana, Malik tidak punya kemampuan menembus dunia yang dimunculkan oleh Ni Tegrek.” Adinda menegaskan perkataan Pak Hanif kekasihnya.
“Aku melihatnya datang waktu itu, memang dia berbeda, tubuhnya penuh tertancap kaca, tapi aku yakin itu Malik.”
“Ayi, saat itu kau sedang dibawah pengaruh dunia Ni Tegrek, kau mungkin berhalusinasi.” Adinda menegaskan kembali.
“Aku ingin menelponnya sekarang, Am mana Handphone Ayi?” Aam tampak bingung.
“Ser, bisakah kita fokus untuk menyembuhkanmu dulu, nanti kalau memang Malik ada waktu, dia akan menelponmu, jangan ganggu dia saat ini, dia bilang dia akan sibuk sekali.”
“Aku ingin bertemu Malik, aku mohon aku butuh berbicara dengannya.”
“Adinda.” Pak Hanif memanggil Adinda, lagi-lagi Adinda menidurkanku, semua gelap kembali, Malik dimana kau, aku ingin bertemu, aku takut, takut sekali kehilanganmu, maafkan aku Malik.
....
Sebulan aku menunggumu Malik, aku menelpon telepon genggammu, tidak aktif, apakah karena kau diluar negeri, satu minggu setelah dirawat aku mulai mengurus kantor lagi, karena kau tak ada, kantor harus tetap jalan, banyak orang yang harus di gaji, 3 minggu ini aku bekerja seperti robot, datang dan pergi hanya untuk bekerja, hatiku hampa Malik, aku merindukanmu, semua perlindunganmu terasa nyata, andai saja aku percaya padamu bahwa Aqan Asta adalah orang jahat, andai saja waktu bisa kembali Malik, aku akan seperti dulu, bersikeras berada disisimu walau apapun kerasnya kau padaku, Malik aku mohon kembalilah, ini sudah satu bulan aku merindukanmu.
“Ser, report maintanance jaringan seluruh daerah udah saya Email ya.” Pak Malik masuk keruanganku, aku hanya sedang bengong menatap layar laptop yang entah apa isinya, aku hanya sedang memikirkan Malik.
“Oh-ok Pak, Sorry ya.” Aku memang tidak mendengar dia masuk tadi, jadi sempat tidak menanggapi omongannya.
“Its ok Ser.” Dia hendak meninggalkan ruanganku.
“Pak,” Aku memanggilnya, tapi terhenti, aku pasti tidak akan pernah mendapatkan jawaban dari Pak Hanif, aku orang terdekat Malik, harusnya kalau aku tidak tahu apapun soal Malik, maka tidak akan ada orang yang mengetahuinya.
“Kenapa Ser?”
“Nggak apa-apa pak.” Aku tersenyum.
“Ser, Kamu terlihat kurus sekali, Malik bilang makan yang bener.”
“Apa pak? Malik? Apa dia sudah bisa dihubungi?!” Aku langsung berdiri dari tempat dudukku, kaget, kenapa Pak Hanif bisa berkomunikasi dengan Malik?
__ADS_1
“Sudah, beberapa hari yang lalu, hanya sebentar saja, dia bilang sebentar lagi dia akan pulang.”
“Dia menghubungi Pak Hanif? Lalu kenapa dia tidak menghubungiku Pak? Apakah dia masih marah sehingga dia tidak menghubungiku sekalipun? Report pekerjaanpun dia tidak balas di email, padahal semarah apapun dia, kalau soal pekerjaan dia tidak pernah sekalipun abai.”
“Tunggu saja ya Ser, Malik akan pulang.”
“Kapan Pak?” Aku berharap Malik akan pulang secepatnya, aku akan lakukan apapun untuk menebus semua kesalahanku padanya.
“Dalam minggu ini Ser, tunggu saja ya, kamu sudah mampu menahan selama satu bulan ini, hanya beberapa hari lagi, tanyakan apapun padanya ya, tanyakan apapun yang membuatmu penasaran dan sedih, satu hal yang kau perlu pegang Ser, Malik adalah orang terbaik yang pernah kau miliki, begitu dia pulang jangan pernah lepaskan dia lagi, jika dia melamarmu maka kau harus menerimanya, jika kau bertanya dan dia hanya menjawab tanpa membuatmu puas dengan jawabannya, maka anggaplah kapasitasmu hanya sampai situ, karena tujuan Malik selalu untuk menjagamu, siang dan malam hanya untuk melindungimu.” Pak Hanif pergi setelah mengucapkan nasihat yang panjang.
Aku menangis mendengar perkataan Pak Hanif, aku semakin merindukannya, tapi sepertinya aku harus bersabar, aku akan lakukan yang terbaik untuk menunggumu Malik, aku akan menjaga perusahaan ini untukmu, apapun yang bisa membuatmu bangga.
“Ser, bisa aku bicara.” Kali ini, Hani masuk keruanganku.
“Kau lupa lagi mengucapkan kata Ibu didepan namaku.” Aku menjawab dengan malas.
“Kurasa tidak perlu lagi, aku akan resign hari ini.” Aku agak terkejut, aku pikir dia akan berakhir dengan pemecatan, terserahlah, aku sedang malas memikirkan apapun selain Malik.
“Yasudah email surat resign, nanti Mita akan jelaskan apa saja yang akan kau dapatkan mengingat waktu kerjamu masih belum terlalu lama, jadi kemungkinan uang putus kontrakmupun tidak akan terlalu besar.”
“Aku sudah email surat resign ke Malik, tapi Malik tidak jawab, aku tidak mengahrapkan uang receh juga dari perusahaan ini, jadi aku tidak perlu diperlakukan formal seperti pegawai lainnya.”
“Terserah.” Aku masih tidak meladeninya.
“Ser, kalau aku boleh memilih, aku rasanya ingin menjadi sepertimu, aku menginginkan Malik bukan karena perjodohan ini, Malik lelaki yang sangat istimewa, dia jenius, baik dan tulus. Memang sedikit arogan, tapi hatinya begitu hangat padamu. Waktu itu, ketika dia terpaksa membawaku ke tempat makan favoritnya karena meeting yang tidak bisa dia hindari, dia bilang bahwa tempat ini tempat terdekat dari rumah dan clientnya begitu penting untuk dijamu, dia bilang bahwa dia tidak akan membawa siapapun ketempat ini kecuali Seira, benar saja muncul gosip yang tidak benar tentang pertemuan kami di tempat itu, dia mati-matian menahan gosip itu, tapi aku menggunakan uang untuk membuat gosip itu semakin panas dan kena, kau terpancing marah karena gosip itu.”
“Aku menyerah Ser, Aku mengaku kalah, beberapa waktu lalu sebelum dia pergi dan kamu berhenti datang ke kantor, dia begitu gelisah, aku sering curi dengar dia menyuruh seseorang membuntutimu setiap saat, aku melihat dia jarang sekali makan, dia sibuk tapi urusan kantor terbengkalai, ketika akhirnya kau masuk kantor lagi, di meeting itu, untuk pertama kalinya aku melihat Malik tersenyum. Walau akhirnya kalian bertengkar kembali, kau lagi-lagi membuatnya marah dengan memberontak dan tidak datang ke kantor.”
Aku mengingat saat itu dimana kepercayaanku pada Malik hilang sepenuhnya.
“Aku melihat raut sedih dan kecewa di mukanya setiap hari, raut yang kulihat padamu saat ini. “ Aku menunduk karena memang aku begitu merindukan Malik.
“Saat itu aku bahkan memohon pada Tuhan untuk mengubahku menjadi sepertimu, aku ingin menjadi dirimu, dicintai Malik dengan sangat dalam, tapi seperti katamu, dia hanya memandangmu tanpa bisa memandang wanita lain, lelaki jenius yang arogan itu sudah bertekuk lutut padamu.” Hani kali ini tertunduk, ada nada kekecewaan sekaligus ketulusan, aku tidak dapat memungkiri kali ini Hani bersikap bijak.
“Waktu itu, aku tak tahan lagi melihat Malik terluka karena wanita sepertimu, aku bilang bahwa aku akan melakukan apapun demi membuatnya bahagia dan kau tau, Malik berkata seperti ini, Seira adalah wanita istimewa untukku, dia adalah segalanya, aku tidak butuh bahagia, bahkan jika itu menyakitkan tidak masalah asal Seira disisiku, aku akan istimewa jika Seira disisiku.” Hani berkata tanpa sekalipun kusela, perkataannya membuatku merasa malu karena telah hilang kepercayaan terhadap Malik.
“Ingin rasanya kubayar pembunuh bayaran untuk membunuhmu, tapi aku tahu, aku kalah dari seorang gadis miskin, entah apa yang Malik lihat darimu, tapi Malik mencintaimu dengan dalam Seira.”
“Bicara apa kau, menasehatiku? Malik mencintai siapa? Aku?” Aku tertawa dan menangis bersamaan, “Kau dan aku hanya kalah soal waktu, aku bermanfaat lebih banyak untuk Malik dibandingkan kau, kau tidak mengenal Malik sama sekali, kau hanya mengenal kulitnya, bukan isinya.” Aku menghapus air mataku, sok sekali wanita ini, seolah paling mengenal Malik.
“Teruslah bertahan dengan kebodohanmu Ser, kau bilang Malik hanya memanfaatkanmu, maksudmu perusahaan ini yang begitu kau banggakan? Perusahaan yang kau pikir kau bangun untuk membantu Malik? Kau salah perusahaan ini untuk membantumu dan keluargamu, mewujudkan impianmu soal finansial! Kau pasti tidak tahu kan apa cita-cita Malik sebenarnya?”
“Apa maksudmu? Cita-citanya adalah menyaingi Ayahnya!”
“Cita-citanya adalah tidak menjadi seperti ayahnya, dia ingin menjadi Ilmuwan dan bergabung dengan NASA, mempelajari banyak hal tentang Astronomi, kau tidak tahu kan! Semua yang kau ketahui tentang Malik hanya yang Malik ingin kau ketahui, kau di kelabui supaya apa! Supaya kau bahagia, mirisnya kau ternyata lebih bodoh dari yang kukira.” Hani berdiri dan keluar ruangan, meninggalkanku terisak dan menangis sesegukan, apakah itu benar, Malik menipuku selama ini, apakah semua yang Hani katakan benar.
Aku benar-benar ingin bertemu Malikku, aku akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia, menurutinya semua keinginannya dan tidak membantah lagi, Malik aku merindukanmu.
...
__ADS_1
“Malik sudah pulang, aku jemput kau sekarang.”
Pak Hanif menelponku tadi, ini weekend kami semua libur kerja, hanya itu yang Pak Hanif katakan, aku bahagia sekali, aku akan bersiap, mungkin kami akan menjemputnya di Bandara, aku sudah tidak sabar bertemu lelaki itu, lelaki tampanku.
“Pak.” Aku duduk di belakang mobilnya Pak Hanif karena ada Adinda disampingnya.
“Ser, kita akan bertemu Malik.”
“Iya pak, makasih ya udah jemput.” Aku sumringah, aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan akan bertemu lelakiku.
Selama perjalanan kami semua hanya diam, tumben Adinda biasanya ngoceh ga jelas dan ga penting.
Pak Hanif tiba-tiba berbelok ke kanan, ini bukan jalan ke arah Bandara, ini jalan kearah perumahan mewah di selatan ibukota ini, kemana ini? Apa Malik akan memberikan kejutan untukku? Mengingat begitu banyak pesan yang kukirimkan padanya, tentang betapa aku merindukannya, apakah dia akan melamarku, aku semakin sumringah, aku tidak akan bertanya pada Pak Hanif, aku akan pura-pura tidak mengerti.
Kami berhenti disalah satu rumah yang begitu mewah, tapi pagarnya tinggi sekali, kami semua turun dari mobil dan masuk kerumah mewah ini, rumahnya tidak banyak jendela, dan terkesan sangat pengap dan gelap, aku takut begitu masuk, ada banyak sekali penjaga Ghaib, mereka menunduk ketika aku menatap.
“Tenangkan Panglima dan Raden Ser, itu semua peliharaan Malik.”
“I-Iya Pak, tempat apa ini Pak?” Aku mengusap kepala Panglima dan Raden, mereka bersiap untuk menyerang, lalu mereka hilang karena aku menenangkan mereka.
Kami masuk kedalam, melewati ruang tamu, yang masih terkesan sangat gelap, melewati ruang makan, dapur dan masuk lebih dalam kebelakang rumah, lalu tibalah kami di depan ruangan, sepertinya kamar utama.
“Ini kediaman Malik.” Kediaman Malik? Bukannya Malik tinggal di Apartemen, kediaman macam apa yang dimaksud, aku mulai takut.
“Kediaman?”
“Malik tidak pernah tinggal di apartemen Ser, ini tempatnya, tempat paling aman saat menghadapi mereka dan mengurung mereka yang belum jinak.”
“Apa? Maksudnya?”
“Kita masuk dulu ya, kau percaya padaku kan Ser?”
Pak Hanif dan Adinda mengulurkan tangannya untuk membawaku masuk keruangan yang pintunya begitu besar dibuat dari plat besi yang sangat tebal berwarna abu-abu, pintunya tertutup dan tersegel, kulihat panglima muncul.
“Panglima dan Raden tidak bisa masuk, hanya aku, kamu dan Adinda. Percayakah kau pada kami Ser?”
Aku terdiam, aku memandang Panglima dan Raden, mereka menggeleng.
“Maaf Panglima, maaf Raden, aku sudah berjanji, kalau ini mengenai Malik, aku akan selalu percaya.” Aku menggenggam tangan Adinda dan Pak Hanif, pintu terbuka, aku masuk kedalam diikuti Adinda dan Pak Hanif, saat Panglima dan Raden akan masuk mereka terpelanting dan pintu tertutup kembali, mereka tidak bisa masuk.
Ruangan ini begitu besar dan terang, didalam aku melihat....
“MALIK!!!”
_________________________
Catatan Penulis :
Hatiku milik yang aku cintai, jikapun yang aku cintai milik orang lain maka hatiku tetap di tempatnya, tidak mampu pergi kemanapun.
__ADS_1