
POV MALIK
Aku salah telah percaya pada mereka, padahal aku dulu orang yang sangat curigaan, tapi entah kenapa sejak aku mencari wanita itu, akal sehatku menjadi tumpul.
Bagaimana mungkin aku mempercayakan tubuhku pada orang yang bahkan aku tidak kenal dan sekarang malah orang itu menggunakan tubuhku untuk hal yang jahat, menikahkan anaknya dengan tubuh kosongku.
Aku melihat tubuhku disandingkan dengan Hanum, mereka mengkerudungkan kepala tubuhku dan Hanum dengan kerudung putih khas ketika orang akan Ijab Qabul. Aku melihat dari kajauhan, Abah Hanum mulai berjabat dengan tanganku, mereka sepertinya akan memulai prosesi pernikahan, apakah memang setragis ini hidupku, harus dinikahkan bahkan oleh perempuan yang tidak aku kenal, setelah menunggu belasan tahun terhadap seorang wanita?
Tuhan, apakah dosaku tidak dapat terampuni hingga kau memberi cobaan seberat ini, aku terus berusaha keluar dari tanda lingkaran di tanah ini, tapi terlalu kuat, aku tidak bisa menggunakan kekuatanku, karena Seira akan hilang lagi, aku tidak sanggup jika harus semakin jauh dengannya.
Apa yang harus kulakukan? Sementara aku masih berusaha keluar dari penjara ghaib ini, aku mendengar suara keluar dari speaker yang mereka pasang.
“Saudara Malik Rainan Bin Albari Rainan Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Hanum Binti Asjadinawi dengan maskawinnya berupa emas sebesar 10 gram, dibaya tunai.” Suara itu menggema seperti suara neraka, aku benar-benar ingin membunuh mereka rasanya, orang-orang biadab menggunakan tubuhku untuk hal yang sangat menjijikan, saat ini aku melihat tubuhku mulai berbicara untuk mengucapkan kata Ijab Qabul.
“Saya terima, nikah dan kawinnya,” Suara dari tubuhku, suara itu bukan suaraku, suaranya lebih berat dan menakutkan, dititik ini aku tidak bisa membiarkan mereka bermain-main lagi aku harus keluar ….
BUMMM!!!
Ada sesuatu yang jatuh dari atas, 2 makhluk besar, tubuh mereka menimpa meja Ijab Qabul, samar kulihat, mereka seperti ….
“Panglima! Raden!” Aku menarik nafas, melakukan kuda-kuda dan menggunakan ilmuku untuk keluar dari lingkaran penjara ghaib ini, tubuhku berubah menjadi begitu banyak beling lagi sebagai perisaiku, seketika lingkaran ini hancur, aku sudah bebas.
Aku berlari ketempat di mana Panglima dan Pangeran berdiri, meja ijab sepenuhnya sudah hancur, Abah dan Hanum berdiri, bersiap melawan kami, tubuhku tergolek karena makhluk di dalamnya keluar, dia berdiri dibalakang Abah dan Hanum.
Raden mengambil tubuhku, lalu membawanya ke pinggir, dia mengisyaratkanku untuk masuk kembali ke dalam tubuh itu. Aku berlari kearahnya.
Sementara Panglima menghadapi Hanum terlebih dahulu, Abah mencoba mengejarku dan Raden, Makhluk hitam itu berada di belakang Abah.
Aku langsung masuk kembali ke tubuhku, begitu aku masuk tubuh itu sama seperti wujudku sebelumnya, penuh kaca.
Setelah kembali ke tubuhku, aku langsung berlari ke Abah, dan memulai pertempuran, aku menendang tubuhnya dengan kedua kakiku, Abah jatuh. Makhluk hitam itu dihajar oleh Raden.
Sebelum Abah bangun, aku menginjak perutnya, keluar darah dari mulutnya. Aku tidak memberinya kesempatan untuk bangun, aku menendang kepalanya, biar dia tahu siapa aku, seberapa kejam diriku, beraninya dia menggunakan tubuhku untuk menikahkan anaknya.
Aku terus menghajar tubuh Abah dengan kalap, Raden berhasil menghabisi sosok hitam yang masuk ke tubuhku sebelumnya. Lalu Raden menyundulku, dia menghentikan aku menghajar Abah.
“Berhenti Pram, dia bisa mati!” Raden memperingatkanku.
Aku baru sadar ternyata, memang lelaki sudah tidak sadar lagi, wajahnya babak belur karena tendanganku, aku menatap Raden dan menghampiri Panglima yang sudah berhasil membuat Hanum bertekuk lutut, wanita hebat tapi entah kenapa memiliki pemikiran busuk.
“Kenapa kau melakukannya? Seperti perempuan murahan saja!” Aku mendekati Hanum yang sedang terduduk dan berdarah-darah. Panglima sepertinya berbaik hati tidak menghajarnya habis-habisan.
__ADS_1
“Aku hanya ingin menikah dengan lelaki baik, tidak ada satupun pemuda mau menikahiku, wanita yang tidak bisa pergi kemanapun, aku tidak bisa hidup di tanah lain, hanya di sini, di Desa Dusun Mati, jika aku pergi ke tempat lain, maka aku akan sakit dan perlahan mati, kami semua, yang tinggal di sini sudah dikutuk, kami tidak bisa pergi kemanapun, kami mau tidak mau harus bertahan di sini.”
“Itu bukan alasan untukmu menjebak seseorang, wanita bodoh dan warga bodoh. Pemahaman dari mana bahwa kalian akan sakit jika keluar tanah ini, bukan tubuh yang Tuhan ciptakan yang memiliki kelemahan, tapi kepercayaan kalian yang belok yang membuat Jin jahat menguasai tubuh yang tidak percaya Tuhan, maka jadilah tubuhmu itu sakit!”
“Kalian tidak mengerti karena kalian bukan dari Desa ini!” Hanum masih keras kepala, sementara penduduk lain mendekati kami, mereka mendengarkan apa yang Malik katakan.
“Kalian semua orang bodoh, kalian bertahan di sini, sementara anak cucu kalian harus susah payah menjalani hidupnya hanya karena kepercayaan yang tidak benar, tinggalkan desa ini, kalian yang dibiarkan selamat atas musibah air bah itu sebagai contoh, bahwa Tuhan Maha Pengasih, kalian seharusnya bersyukur membangun desa ini, atau pergi menghargai kasih sayang Tuhan, bukannya tetap tinggal, karena kepercayaan yang salah.”
Warga terlihat percaya dengan Malik, mereka merasa apa yang dikatakan Malik benar, bahwa mereka sudah menyia-nyiakan kasih sayang Tuhan dengan menuhankan tanah di Desa Dusun Mati ini. Mereka beranjak ke rumah masing-masing dan mengemasi semua barang berharga, sepertinya mereka akan mulai meninggalkan Desa ini.
Hanum mendekati Abahnya, menarik lelaki itu yang memang sudah setengah sadar, mereka sepertinya akan ikut meninggalkan tempat ini.
Aku kembali pada wujud asliku, mengambil semua barangku yang masih ada di rumah Hanu, dan menemui lagi dua Karuhun Seira.
“Bagaimana kalian tahu aku ada di sini?”
“Sejak kapan kami perduli padamu?” Panglima berkata.
“Seira mengutus kalian untuk menolongku kan?” Aku yakin itu.
“Ya, dia menolongmu atas nama persahabatan dan budi yang sudah kau tanam atas dirinya selama ini, itu saja, dia dan Pram sudah menjalani kehidupan yang baik.” Panglima mencoba melemahkanku, dari dulu dia memang tidak menyukaiku. Dia tuh Karuhun, tapi entah kenapa kelakuannya seperti Ayahnya Seira.
“Kau yang harus hati-hati, berada di sisinya, tidak bisa hanya orang biasa, lihat seperti ini saja kau bisa tertipu.” Raden mengejekku.
“Terserah!” Aku melihat mereka menghilang, aku pun akan perfi dari sini, kulihat satu persatu, warga desa meninggalkan desa ini, mereka hanya membawa barang-barang berharga, termasuk Hanum dan Ayahnya, diiringi oleh makhluk-makhluk jahat yang mendiami Desa Dusun Mati ini, mereka akan kehilangan orang-orang yang mereka kendalikan selama ini, aku melihat kepada ‘mereka’ dan mendekatinya.
“Kalian sungguh makhluk-makhluk yang membuat manusia sering terpedaya, anggaplah terjebaknya aku, membuat mereka semua terbebas dari kalian, kalau kalian masih mengikuti mereka, akan ku tebas kalian satu-satu dengan pedangku, mengerti!”
‘Mereka’ ketakutan dan lari tunggang langgang. Setelah ini semua penduduk Desa bisa hidup jauh lebih tenang, di tempat lain, setidaknya Hanum bisa mencari pria yang benar-benar mencintainya, bukan pria yang terjebak.
Sekarang, aku akan ke tempat berikutnya, Telaga Biru Sumedang. Aku akan tetap mencarimu, sejauh apapun itu. Satu hal yang ku tahu atas kejadian hari ini, kau masih mengawasiku, kau masih khawatir padaku, kau masih … mencintaiku.
I
I
I
1 Hari sebelum tragedy Ijab Qabul
“Aku harus ke bawah Pram, aku butuh telepon seseorang.” Aku harus menelpon Hanif ada yang tidak beres, aku menangkap sinyal ilmu Malik di suatu tempat, seharusnya dia tidak boleh lagi menggunakan ilmunya.
__ADS_1
“Menelpon siapa Quin?” Pram bertanya.
“Pak Hanif.”
“Kenapa kau harus menelponnya?” Pram bertanya dengan hati-hati, aku tahu ini akan menyakitinya, tapi aku benar-benar harus menelpon Hanif.
“Terjadi sesuatu pada Malik, Pram. Kemarin aku menangkap sinyal ilmunya di suatu tempat, intuisiku mengatakan dia sedang dalam bahaya dan bahaya itu dekat. Aku mohon, aku harus turun gunung dan menelpon Pak Hanif, aku harus turun Pram.” Aku mendekatinya dan menajamkan pandanganku, ini perintah bukan permintaan. Pram harus tahu posisinya.
Kami turun gunung untuk menelpon, kami turun cuma 2 jam, lebih cepet dari biasanya, tapi aku merasa ini lama sekali.
Begitu sampai, aku langsung loncat turun. Pram terlihat diam saja, tidak mengikutiku, aku mencari tempat di mana sinyal aku dapatkan, lalu aku menelpon Pak Hanif.
“Pak …. “ Aku terdiam, nomorku masih sama, mungkin dia masih menyimpan nomorku.
“Untuk apa lagi kau menghubungiku? Bukan aku yang mencarimu.”
“Dimana Malik?”
“Bukankah kau pergi darinya? Kenapa kau sekarang …. “
“Dimana Malik sekarang!!!” Aku menggunakan statusku sebagai Ayi Mahogra sementara Pak Hanif adalah Kharisma Jagat, dia tidak diperbolehkan untuk berlaku tidak sopan padaku.
“Dia ada di Desa Dusun Mati, mencarimu.” Pak Hanif langsung berubah sikap, karena dia tahu, fatal membuat Ayi Mahogra marah.
Desa Dusun Mati, mereka kubu musuhku, mereka tidak memihak padaku, aku tidak akan pernah kesana, tapi lelaki itu malah mengejarku ke sana, bodoh!!!
“Panglima! Raden!” Aku memanggil mereka dan mereka muncul.
“Awasi Malik, dia ada di Desa Dusun Mati.”
“Apa? Itu Desa kubu musuhmu. Kita tidak bisa sembarangan masuk, mereka akan mendeteksi kehadiranmu jika kami ke sana, mereka bisa saja mendalami jejak kami dan mengikuti jejak itu saat kami kembali padamu, bahaya Seira!” Panglima keberatan.
“Kalau sesuatu terjadi padanya karena aku, kalian fikir aku masih mampu untuk hidup!!!” Aku berbicara dengan berteriak, ada angin yang berhembus kencang karena aku marah.
Panglima dan Raden menghilang, mereka akan mengawasi Malik terlebih dahulu, saat dibutuhkan mereka harus menolongnya, untuk urusan musuhku, aku akan menghandle mereka jika mereka menemukanku. Aku juga tidak boleh lama-lama di sini, setelah aku menaklukan Karuhun milik Mang Nariman, aku akan segera pergi, aku dan Pram sudah terlalu lama di sini.
__________________________________
Catatan Penulis :
Lihat kedua orang bodoh ini, saling mencintai, saling mengkhawatirkan, tapi tidak mampu bersama, ada yang punya pengalaman yang sama?
__ADS_1