Karuhun

Karuhun
Bagian 27 : Kejujuran


__ADS_3

Langit semakin senja, aku fikir aku adalah Si Gadis tak berdaya, Si Gadis tanpa asal-usul jelas, sehingga aku menjadi wanita yang tidak berhak di cintai, seperti Si Senja yang tidak diharapkan oleh siang dan malam, tapi ternyata aku salah, ternyata ada seseorang yang begitu mencintai si Senja tak berharga ini. Malik, cintaku, aku mohon bangunlah, aku akan menuruti apapun yang kau katakan, aku akan lakukan apapun untuk menebus kesalahanku.


...


"Jadi bagaimana Dok keadaan Malik?"


Aku bertanya dengan gemetar, saat ini kami sedang ada di kamar Malik, kamar ini memang luas sekali, dominan warna putih.


Di dalam kamar ini ada meja kerja Malik yang terletak agak jauh dari tempat tidurnya, letaknya jauh kedalam kamar.


Antara Meja kerja Malik dan Kasurnya ada pembatas yang cukup besar, pembatas itu terbuat dari kayu ukir yang diletakan banyak buku disana. Banyak sekali buku, karena selain di Kayu ukir pembatas kamar dan meja kerja, dibelakang meja kerja ada juga Rak buku besar yang tersimpan berbagai buku.


Didepan meja kerjanya ada sofa yang berbentuk L satu set dengan meja yang sangat mewah, saat ini kami berbincang di sofa itu, sepertinya Malik terbiasa berbincang disini dengan kedua orang kepercayaannya, yang satu sepupu yang satu lagi kakaknya.


"Kondisi Malik sudah stabil, tapi kemungkinan akan ada efek berat pada organ hatinya, kemaren ada tusukan yang tepat menusuk bagian itu, kita tunggu dia sadar baru kita akan tahu langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya.” Dokter Adi menjelaskan.


“Jadi maksud Dokter, setelah operasi ini, Malik belum bisa dikatakan baik-baik saja?” Aku memang cengeng, hanya bisa menangis.


“Kalau memang organ hatinya semakin parah, kita akan terbang keluar negeri untuk operasi selanjutnya, itu kemungkinan yang paling buruk." Dokter Adi menjelaskan keadaan Malik, kasihan Malik sakit parah seperti ini tidak bisa ditangani secara resmi oleh Rumah Sakit karena mereka takut kasus ini akan dibawa ke ranah hukum, mengingat kondisi Malik yang buruk sekali. Tusukan, sayatan dan lebam disekujur tubuhnya, pasti pihak Rumah Sakit akan curiga dan memaksa kami melaporkan ke Polisi. kan, nggak lucu saat diinterogasi kami ceritakan bahwa ada tetua dan para karuhunnya yang menghajar Malik, memang karuhun bisa dipenjara.


"Aku yakin Malik pasti kuat." Pak Hanif berbicara.


"Apa Malik akan baik-baik saja Dok?" aku tidak seyakin kakaknya.


"Dia akan baik-baik saja, Insyaallah."


"Kapan Malik akan sadar Dok?" Aku bertanya.


"Begitu efek biusnya habis, kemungkinan besok sore, saya memang menambahkan dosis agar Malik beristirahat lebih lama, kasihan dia, pasti kelelahan setelah pertarungan hebat itu." Dokter Adi berempati.


"Sebenarnya pertarungan apa yang dihadapi Malik, Pak Hanif?"


"Kita balik ke dapur aja yuk? biar Malik istirahat, aku akan melanjutkan kembali janji yang belum tunai." Pak Hanif mengajakku.


"Ok, saya juga pamit ya, ada shift malem ini, begadang lagi dah." Dokter Adi pamit.


"Kenapa Dok, takut? kan ada yang temenin." Aku tersenyum pada makhluk tampan karuhunnya.


"Iya sih, tapi dia suka tiba-tiba hilang."


"Hilang kan karena Malik yang panggil, kalau Malik aja belum sadar pasti dia betah disampingmu." Pak Hanif menimpali.


"Oh ya lupa saya, bos kedua Karuhunku masih belum sadar." Dokter Adi menepuk jidatnya dan menoleh menggoda Karuhun tampan itu.


"Bos kedua?" aku bingung.


"Karuhun Dokter Adi sudah ditaklukan Malik, Karuhunnya Dokter Adi itu Dokternya para karuhun."


"Wah bisa begitu ya?" Aku heran.


"Di dunia seperti ini, apa aja bisa kok Ser." Dokter Adi menyapaku dengan santai, padahal kami baru kenal, kata Pak Hanif, Dokter Adi tahu banyak hal tentangku, tidak heran dia kan sekutu Malik.


Setelah Dokter Adi pamit dan kami kembali ke dapur, Pak Hanif kembali menunaikan janjinya.


"Tadi sampai mana ya Ser?" Pak Hanif bertanya.


"Sampai aku di segel Pak."


"Ok setelah disegel kau kembali menjadi pribadi yang sangat menyenangkan. Kembali menjadi anak riang, pintar dan tidak bicara sendiri lagi. Ibumu memohon pada Malik untuk menjagamu, selalu berada di sisimu apapun yang terjadi dan jangan sampai segelnya terbuka, Malik setuju, karena Malik pun tahu betapa menakutkannya dirimu dan betapa berbahayanya saat itu."


"Pantas mama begitu percaya Malik." Aku bergumam.


"Ok sampai disitu masalah ternyata belum selesai, kamu disegel dan segel hanya berlaku untuk seluruh panca indera. Wangimu, wangi khas Ayi Mahogra, Wangi pandan tidak pernah hilang, semakin kamu dewasa wangimu semakin semerbak, katanya itu daya tarik seorang Ayi Mahogra."


"Ya, setelah segelku di buka aku juga mencium wangiku."


"Manusia biasa tidak akan pernah bisa mencium wangimu, tapi kharisma jagat dan karuhun bisa mencium wangimu, itu kenapa masih banyak yang selalu mengincarmu, menumpang seenaknya pada tubuhmu yang di segel, untuk menghalau bahaya tersebut harus ada yang menutupi wangimu dengan perisai, perisai itu harus kuat, sangat kuat, sehingga perhatian kharisma jagat, karuhun dan yang terparah makhluk-makhluk jahat lainnya, tidak kepadamu tapi kepada perisai itu.”


“Jangan bilang Maliklah perisaiku?” Aku bertanya.


“Betul, karena karuhun sangat menyukai pribadi yang kuat, untuk itu Malik mulai berlatih menjadi perisaimu atau tamengmu, istilah sederhananya ngilmu. Umurnya waktu itu baru belasan tahun dan dia mulai mempelajari ilmu putih dan ilmu hitam, dia tidak pemilih soal itu, apapun yang mampu membuatnya menjadi sangat kuat dan mampu menaklukan karuhun atau makhluk lainnya yang tertarik pada wangimu akan dia lakukan."

__ADS_1


Dulu sekali ketika kami masih di SMP, Malik memang sering ijin sakitlah, urusan keluargalah, ada saja alasannya, mungkin saat itu dia memperdalam ilmunya dan aku hanya sibuk memperhatikan ketampanan Malik plus mainan yang sering dia berikan, padahal Malik mempersiapkan dirinya untuk melindungiku, betapa leluconnya aku.


“Apakah ini kita sedang membicarakan Malik yang sama?” aku bertanya, benar kata Hani, aku tidak benar-benar mengenal Malik.


“Ya, aku pun sulit percaya ketika akhirnya Malik mampu menghimpun banyak prajurit yang seharusnya menjadi prajuritmu, tapi akhirnya mereka semua menumpang di badan Malik, kamu tahu ketika itu baru 10 prajurit. Untuk seorang Ayi Tirung, dia akan mampu menampung sebanyak 100 Prajurit ditubuhnya, sementara kalau Ayi Mahogra yang juga sekaligus kharisma jagat seperti kamu itu, 10 kali lipat dari Ayi Tirung.” Pak Hanif menjelaskan.


“Aku mengerti sekarang kenapa Aam sangat takut pada Malik, dia bilang Malik menakutkan, mungkin karena ilmu yang dia dalami tidak bisa dideteksi sebagai ilmu hitam atau putih.” Aku tertawa.


“Ya, untuk seorang kharisma jagat saja dia menakutkan, karena memang Malik saat itu bersungguh-sungguh akan menjadi tamengmu, tapi perkara menaklukan ‘mereka’ bukan hal yang mudah, Malik waktu itu bahkan harus dirawat berbulan-bulan karena berat, prajurit ghaib itu memberontak dan tidak jinak, mereka bahkan berperang di tubuh Malik, mengambil alih tubuh Malik. Makanya, Malik perlahan-lahan membangun rumah ini, untuk menjinakan Prajurit yang seharusnya menumpang ditubuhmu, Malik sangat hati-hati menjagamu, karena kalau sampai lepas satu saja dan makhluk itu berhasil menumpang di tubuh tersegelmu, maaf ... kau bisa mati, karena tubuhmu tidak kuat."


“Ya Malik memang begitu protektif padaku dan bodohnya aku selalu memberontak pada orang yang benar-benar melindungiku."


“Saat ini kurang lebih sudah 20 tahun Malik Ngilmu, dia ke berbagai daerah dan bertarung dengan makhluk terkuat di setiap daerah, jika Malik menang maka makhluk itu harus ikut dengannya. Tujuan Malik hanya satu, yaitu menjadi semakin kuat, karena perisai yang dia ciptakan harus sangat kuat untuk memikat karuhun dan menaklukannya sebelum mereka sadar bahwa ada Ayi Mahogra dan satu lagi, dia ingin menyamakan kedudukannya denganmu, dia bilang dia harus sekuat Ayi Mahogra untuk bisa bersanding denganmu."


“Pantas Malik begitu melarangku untuk berhubungan dengan dunia lain, dia begitu takut aku terluka," aku bergumam, "lalu pak apa benar bahwa perusahan yang dia bangun bukan impian yang sebenarnya?"


"Kamu tahu darimana?"


"Ada seseorang yang memberitahuku, bahwa Malik sebenarnya sangat menyukai Astronomi, dan impiannya tidak menjadi pengusaha seperti ayahnya." Aku teringat kata-kata Hani lagi.


"Sayangnya, iya. Malik membangun perusahaan itu untukmu dan keluargamu, untuk mewujudkan mimpimu. Kamu ingin keadaan finansial keluargamu membaik, maka Malik mewujudkannya."


Aku menangis lagi, aku buru-buru menyekanya, banyak sekali yang Malik berikan padaku, aku malu.


“Ser, ingat kejadian terakhir kamu dan Malik akhirnya sampai harus berkelahi, Malik memukulmu dibagian perut dan dihalangi Panglima, waktu itu akhirnya Panglima dan Adinda yang terkena pukulan.”


“Ya, aku ingat, aku marah sekali sampai tidak mau kembali ke kantor karena merasa Malik begitu jahat.”


"Sebelumnya Malik mengajakmu ke Paris untuk perjalanan bisnis kan?"


"Ya, betul pak."


Aku mengingat kejadian itu dengan baik, karena setelahnya si brengsek Aqan Asta menghasutku dengan halus.


padahal sebelumnya Malik sudah bilang padaku untuk pergi ikut dengannya aku malah menolak dan diakhir pembicaraan kami waktu itu dia bilang bahwa, apapun yang aku berikan padanya tidak akan sepadan dengan apa yang Malik berikan padaku, sekarang aku mengerti apa maksudnya.


"Saat itu salah satu makhluk paling ganas di rumah ini lepas, rupanya jin itu memahami semua penjagaan rumah ini dan yang terburuk adalah, dia tahu tentangmu, tentang Ayi Mahogra, Malik mati-matian mencari Jin Ganas itu, akhirnya Malik melihat Jin Ganas itu menempel di tubuh Aqan Asta.


"Iya betul, kau melihatnya?"


"Bukan aku, Aam yang melihatnya, dia pernah bilang padaku bahwa itu seperti bukan karuhunnya Aqan Asta, aku belum bisa melihat jin ganas itu diwaktu dulu."


"Ya, Malik dan anak buahnya akhirnya menangkap Aqan Asta untuk melepaskan Jin itu dari tubuh Aqan Asta, karena kalau tidak dilepas maka Aqan Asta bisa mati, karena di garismu dia lah keturunan terlemah diantara seluruh kharisma jagat, sayangnya jin ganas itu lepas kembali karena Aqan Asta melepas jin itu dalam perjalanan saat dia ditangkap."


"Jadi itu alasannya dulu Malik menangkap Aqan Asta? aku bahkan menampar Malik dijembatan kala itu karena Aqan Asta bilang anak buah Malik menyiksanya." bulir air mata kembali jatuh dimataku, rasanya aku ingin membenturkan kepala bodohku di tembok.


"Ya itu hari yang berat untuk Malik, pertama karena dia terpaksa harus memukulmu dibagian perut dan akhirnya yang kena malah Panglima dan Adinda."


"Aku fikir wajar sekali Kalau Malik begitu marah karena aku menamparnya dan bilang akan menikah dengan Aqan Asta, aku membuatnya kecewa setelah banyak hal yang dia berikan. Wajar jika dia marah dan memukulku."


"Tidak, Malik memukulmu diperut saat itu karena jin ganas ternyata di tumpangkan ke tubuhmu oleh Aqan Asta! Tanpa kau ketahui, posisinya adalah jin itu memelukmu dari belakang, Malik meninjumu bermaksud membunuh jin itu dengan satu pukulan tapi malah Panglima dan Adinda yang terkena, pukulan Malik memang sakit tapi efeknya mematikan untuk mereka yang tak terlihat, dia sudah memperhitungkan, kau mungkin pingsan karena pukulannya tapi itu lebih baik karena kalau Jin Ganas itu tidak segera keluar, kau tidak akan selamat, tubuhmu masih terlalu lemah karena disegel."


Dan, aku salah lagi. Aku membenci Malik saat itu, padahal dia berusaha menyelamatkanku, benar kata Abah di mimpiku dulu, tidak ada yang bisa aku percaya kecuali intuisiku dan intuisiku selalu bicara bahwa Malik tulus, tapi nafsuku saat itu karena hasutan Aqan Asta akhirnya membuat Malik kesulitan.


"Aku sudah menunaikan janjiku, sudah kuceritakan semua, aku tahu pasti ini berat untukmu bukan?."


"Ya, dan kamu benar, aku merasa malu ketemu Malik."


"Sudah kubilang dan kuperingatkan tapi seperti biasa, Ayi keras kepala, bisakah kita istirahat sekarang? Disini ada banyak kamar aku sudah suruh mbak untuk menyiapkan kamarmu."


"Tunggu dulu, ada satu lagi yang belum kau ceritakan."


"Ser, apalagi?" Pak Hanif sepertinya merasa sudah cukup, dia mengeluh dengan semua pertanyaanku.


"Kau belum cerita soal kenapa Jiwa Malik terpisah dari tubuhnya dan ditawan oleh Tetua."


" Yang itu harus diceritakan juga?"


"Pak Hanif .... " aku merajuk.


"Ini sudah malam sekali, kita istirahat ya, besok pagi aku akan menceritakannya kembali padamu."

__ADS_1


Aku mengangguk, ini memang sudah tengah malam, ada suara-suara aneh di rumah ini dan tentu saja mereka-mereka yang tidak terlihat, dulu aku selalu ketakutan tapi sekarang, ah itu mah biasa.


...


"Pagi Ser." Pak Hanif menyapaku yang sedang membersihkan tubuh Malik. Aku begitu merindukan lelaki tampanku, aku mengusap wajah, wajah Tampannya. Malik belum bangun, perkiraan Dokter Adi, dia bangun sore nanti.


"Sarapan dulu Ser." Pak Hanif dan Asisten Rumah Tangga malik ternyata membawa makanan untuk sarapan kami, mereka menatanya di sofa mewah Malik.


"Mbak, aku minta kopi Hitam ya, gulanya jangan banyak-banyak, bikinin 1 teko aja, buat Pak Hanif juga." Asisten Rumah tangga itu mengangguk dan keluar kamar Malik, aku mendekati Pak Hanif yang sudah memulai sarapan, dia tampak baik-baik saja, mungkin karena dia sudah memprediksi bahwa dia takkan bisa selamanya bersama Adinda. Well, akupun lapar sekali, kami belum makan dari kemarin.


"Nasi goreng tanpa sayuran telurnya diceplok, pas kesukaanku." Aku duduk disamping pak Hanif.


"Mbaknya tau kesukaan kamu berarti, soalnya katanya kalau buat Malik pakai sayuran."


"Oh ya, mbaknya berarti cenayang." Kami tertawa karena di detik yang sama mbak dirumah Malik itu masuk membawakan teko kopi dengan 2 gelasnya.


"Mbak kok tau saya suka nasi goreng model begini?"


"Pak Malik kalau minta dibikinin nasi goreng selalu ngomong gini, kalau Seira ga suka pakai sayuran, nggak suka sayur dia." lalu mbaknya keluar, setelah menjelaskan.


"Malik tuh, aneh ya. Dia sudah tau nggak akan pernah bisa bersatu sama kamu, tapi tetep kekeh mencintai kamu dengan sepenuh hati."


"Jodoh itu hanya Allah yang tentukan Pak, aku hanya akan selalu berdoa supaya Malik bisa bersamaku." Pak Hanif tersenyum menanggapi jawabanku, tapi senyumnya terasa aneh.


Kami menikmati nasi goreng buatan mbak nya Malik dan tenggelam dalam sendok dan piring sarapan kami, selesai makan mbaknya Malik kembali masuk untuk membersihkan peralatan makan kami dan membawakan camilan. Pisang goreng, cocok sekali dengan kopi yang sudah dibawakan tadi.


“Pak, Aku mau menagih janji yang semalam kau bilang akan kau tunaikan pagi ini.” Aku tersenyum sembari menyeruput kopi hitamku.


“Masih ingat?” Pak Hanif bertanya.


“Terima kasih pak, sudah menjadi Kakak yang baik untuk Malik.” Aku berkata dengan tulus.


“Harusnya kata itu diucapkan oleh Pangeran tidur itu.” Pak Hanif menunjuk Malik yang masih tertidur.


“Aku wakilkan saja, dia bukan tipikal seperti itu, bahkan setelah 20 tahun aku masih belum tau perasaan yang sebenarnya padaku, karena dia tidak pernah mengucapkannya.”


“Baiklah aku akan mulai dari saat kamu di sekap oleh Aqan Asta di Dunia yang diciptakan oleh Ni Tegrek, Malik diberitahu oleh seseorang bahwa kau sedang dalam bahaya, penglihatan orang tersebut bajumu sedang di lucuti, Malik langsung menebak bahwa kau sedang disekap di dunia yang diciptakan oleh Ni Tegrek, makanya dia langsung menghubungi Aam dan memerintahkan Cula Bagong menemukan dunia itu, seperti yang kau tahu bahwa Cula Bagong dulu adalah anak piaraan Ni Tegrek.”


“Ya aku tau itu.”


“Hanya dalam hitungan detik Cula Bagong menemukan lokasimu, Malik membawa kami semua dan Pedang Pusakanya, Malik pergi dengan tubuh lainnya yang didapat saat dia ngilmu, yaitu tubuh yang seluruhnya tertancap kaca, kaca yang merupakan perisainya. Aku merasa Malik berlebihan karena untuk seorang Aqan Asta yang lemah kenapa Malik melakukan persiapan yang berat, Perasaanku sudah tidak enak, Malik pasti tidak hanya akan memberi Aqan Asta pelajaran, aku melihat Malik begitu menakutkan saat itu, untuk pertama kalinya.”


“Aku harus banyak berterima kasih pada orang yang memberitahu Malik aku sedang dalam bahaya, karena tanpa penglihatannya aku pasti sudah kehilangan kehormatanku.” Aku menghembuskan nafas dengan kasar.


“Kau bisa mengatakannya nanti begitu keluar dari kamar ini.”


“Maksudnya?”


“Mbaknya Malik yang memiliki penglihatan itu, dia memang dikaruniai Karuhun yang bisa melihat masa depan. Tapi sayang, karuhunnya seperti karuhun Anita, lebih banyak mengambil energi dan membuat dia menjadi lemah fisik dan mental, Malik membantu mbaknya untuk membuat karuhun tersebut mengandalikan nafsunya dan sekarang, mbaknya Maliklah yang mengendalikan karuhunnya bukan sebaliknya.”


“Astagfirullah, ternyata benar, mbaknya Malik itu Cenanyang?!” Aku dan Pak Hanif tertawa, aku hanya bercanda tadi waktu mengatakan mbaknya Malik Cenayang karena tahu nasi goreng kesukaanku.


Pak Hanif melanjutkan ceritanya.


“Begitu Cula Bagong menemukan lokasi dunia Ni Tegrek, kami semua berangkat untuk menjemputmu, setelah Cula Bagong membuka pintu dunia ghaib itu, Malik masuk duluan, naas hal yang pertama kali Malik lihat adalah tubuhmu yang terbalut baju robek disana-sini, Malik murka langsung menghempaskan Aqan Asta, kau melihatnya bukan, bagaimana mukanya begitu murka.”


“Iya aku melihatnya marah, dia bahkan tidak mau melihatku karena marah, tapi ada satu hal yang paling aku heran, kenapa Aqan Asta bisa membawaku ke Dunia Ni Tegrek, bukankah kau sudah menghabisi Ni Tegrek dan anak-anaknya waktu itu, ketika aku pertama kalinya bertemu Ni Tegrek di rumah sakit.”


“Aku berbohong, aku hanya menghabisi anak-anaknya, Ni Tegrek berhasil kabur, Malik memintaku mengarang cerita, takut kau bersikeras membuka segelmu untuk menghabisi Ni Tegrek.”


“Jadi si Nini itu belum mati!” Aku tersulut lagi, mengingat bagaimana dia menghajarku di rumah sakit dulu.


“Tenang, tenang. Sekarang dia sudah mati, sudah dihabisi oleh kami, jadi saat itu Aqan Asta tahu bahwa dia terlalu lemah untuk menghadapi Malik, kalau-kalau suatu saat Malik menyerang dia, maka dia pasti kalah. Makanya, dia membuat perjanjian dengan Ni Tegrek dan jin ganas untuk menguasaimu, kalau Aqan Asta berhasil memperkosamu dan mendapatkan anak darimu, maka dia bisa memaksamu untuk menikah dengannya, lalu Ni Tegrek dan jin ganas itu bisa menumpang padamu, tentu kau yang sudah dibuka segelnya, tujuannya Aqan Asta saat itu hanya uang.”


Aku geram mendengar cerita ini, sekaligus merasa *****, saat pak Hanif akan melanjutkan ceritanya tiba-tiba, lampu yang terhubung dengan monitor di ruang perawatan Malik berkedip dan mengeluarkan suara, aku dan Pak Hanif mendekatinya, kami tidak mengerti lampu indikator apa itu, Aku langsung menghubungi Dokter Adi.


“Halo Dok, bisa kesini, Malik sepertinya membutuhkanmu.” Aku memegang tangan Malik berusaha menguatkannya.


--------------------------


Catatan Penulis :

__ADS_1


Bahkan ketika kau hanya melihat yang buruk dari diriku, aku masih tidak mampu bilang bahwa aku membencimu (sang pencinta)


__ADS_2