Karuhun

Karuhun
Bagian 69 : Keserakahan


__ADS_3

“Ayi, apa kabar?”


Aku melihat kedatangan seseorang dari arah laut.


Lalu dua orang, tiga orang, 10 orang, 20 orang, dalam hitungan menit sudah penuh sesak di pantai ini, ada begitu banyak manusia yang mengelilingiku, sial aku tidak merasakan satu pun Karuhunku, aku hanya punya Karembo dan Kujang, tapi sepertinya mereka orang-orang pilihan yang diperintahkan untuk menangkapku.


“Malik! Pram! Panglima, Raden!!!” Tidak ada jawaban, sementara semua orang sudah mulai menyerangku.


Pantai bergejolak sepertinya ombak sedang tinggi, aku tidak mungkin melawan mereka sendirian, aku harus segera menghindar, kalau mereka berhasil menangkapku, habislah semua.


Hanya ini satu-satunya jalan, aku harus segera lepas dari mereka.


Aku berlari mendekati laut dan hendak menceburkan diriku, aku berlari terus mendekati laur, saat ombak besar hendak menerjangku, aku bersiap agar air membawaku, ini mungkin seperti bunuh diri, tapi lebih baik dibanding ditangkap mereka, sekali lagi aku melihat kearah belakang, mereka mengejarku tanpa henti, sepertinya jumlah mereka hingga 200 orang, aku tidak mungkin menang melawan mereka sendirian.


Aku bersiap untuk dimakan oleh laut, aku menutup mata dan ...  Sret ... aku merasa tubuhku ditarik ke belakang, lalu terjatuh.


“Nyai!” Ternyata Nyai yang menarik tubuhku dengan Karembo Hejo pemberianku sebagai tanda dia sekutuku.


“Berdiri Ayi, tidak ada waktu menjelaskan, berdiri!” Nyai menyuruhku berdiri, sementara aku melihat Raja Bapati sedang bertarung dengan mereka, kalau begini baru adil, 3 lawan 200an manusia pilihan.


“Pakai ini Ayi, itung-itung latihan.” Nyai memakaikan jubah pemberian Raja Bapati pada pundakku, saat aku kenakan, seluruh warna emasnya berkilauan, musuh yang melihat merasa silau. Oh ternyata ini manfaatnya.


Aku mengeluarkan kujang dan memegangnya dengan kedua tanganku, bersiap melumpuhkan mereka satu-persatu, karena kirimannya manusia, tentu kami tidak boleh membunuhnya, kami hanya akan membuat mereka cacat.


Raja Bapati menggunakan senjatanya, senjata itu adalah Patik, bentuknya seperti kapak terbuat dari besi baja yang sangat kuat, bedanya punya Raja Bapati dilapisi emas, seperti biasa, memang kerajaan ini terkenal dengan emas murninya, emas 24 karat sepertinya, karena kemilaunya berbeda, sama seperti renda pada jubahku.


Prang! Senjata mereka mengenai jubahku, aku kaget karena jubah ini begitu kena senjata bunyinya seperti 2 benda keras saling bertemu, padahal ini dari kain, setelah kuperhatikan, ternyata kain ini berubah menjadi seperti logam yang keras begitu tersentuh senjata yang membahayakanku.


Jubah yang luar biasa, untuk aku tidak menolaknya dengan serius, tennyata bukan jubah biasa.


Aku mulai menyerang meraka satu persatu dengan gayaku, aku selalu meneyrang kaki dan tangan mereka, efeknya tidak terlalu fatal tapi cukup membuat mereka lumpuh, tidak bisa bergerak ataupun berjalan lagi.


Nyai terlihat menggerakkan laut dengan kemampuannya, ini yang membuatku sangat terpukau, aku merasa Nyai seperti bersatu dengan alam, alam sangat menyukainya, Laut dan tanah selalu membantu Nyai jika dalam bahaya, mungkin karena hidupnya yang sangat menghargai alam, hingga alam menjadi sangat bersahabat dengannya.


Mereka lumpuh satu persatu, Raja Bapati sangat hebat, dia terus menyerang mereka tanpa ampun, dalam hitungan menit dia mampu membuat 20 orang cacat, sementara Nyai terlihat menenggelamkan mereka satu persatu, mereka datang dari laut, Nyai memberi mereka pelajaran, setelah jatuh di laut, mereka digulung ombak sehingga tidak mampu lagi menyelamatkan diri.


Aku terus menyerang mereka tanpa henti, aku melihat mereka satu persatu tumbang, di mata mereka terlihat ketakutan yang sangat telrihat.


Tersisa beberapa orang lagi, mereka mundur melihat kami bertiga mendekat, aku bersiap dengan kujangku, Raja Bapati menarik Patiknya dan Ayi menggoyang-goyangkan air laut.


Mereka berlari kearah perahu yang mereka sembunyikan dengan kekuatan ghaib, aku menangkap 2 orang untuk mendapatkan informasi, sisanya aku lepaskan untuk memberi tahu tuannya, betapa kami sangat kuat.


Kuikat mereka dengan Karembo Hejo, mereka terlihat kepanasan, manusia kok kepanasan, pasti karena hatinya seperti setan.


Kami kembali membawa mereka ke kediaman di dalam kerajaan hutan selatan, menyebalkan, sampai kami kembali semua orang masih belum bangun, kami akhirnya membawa mereka ke markas strategi, mereka masih terikat.


“Siapa yang menyuruh kalian.” Aku bertanya.


Lalu dia menyebut nama ‘Mudha Praya’. Sudah kuduga.


“Kenapa semua orang terlihat tidak bergeming, semua orang tertidur? Atau mereka diracuni?”


Salah satu dari mereka menjawab, “Kami menambahkan tanaman yang paling dibenci oleh bangsa jin karena memabukkan, semua jin yang memakan secara sengaja atau tidak sengaja memakan tumbuhan ini akan tertidur dan terjebak dalam mimpi mereka, kalau yang tidak bisa menemukan jalan kembali, mereka akan mati dalam keadaan tertidur.”


“Tanaman sialan yang hanya dimilki oleh Mudha Praya, apakah kalian juga mencampurkannya pada makananku dan manusia yang lainnya?”


“Ya, kami mencampurkannya juga pada makanan kalian, efeknya akan sama bagi pemilik Karuhun atau manusia dengan kemampuan ghaib.”


“Tidak berlaku bagiku, karena tanaman itu prinsipnya seperti Karuhun, tidak ada Karuhun yang mampu memerintah atau melemahkanku, itu yang kalian tidak prediksi bukan? Tapi bagaimana dengan Raja Bapati dan Nyai?” Aku bertanya.


“Kami Vegetarian Ayi, makanan kesukaan kami adalah daun-daun yang wangi, seperti daun mint, daun kemangi dan peterseli, kami selalu mencampurnya setiap kali makan dan daun itu adalah penyerap racun, makanya kami tidak kena, aku mendengarmu berteriak memanggil Malik dan Pram, aku lumayan lemas tapi masih bisa bangun, Raja Bapati mendengarmu juga, makanya dia langsung berlari kearah suaramu, saat keluar kamar di istananya, dia kaget melihat semua orang jatuh tertidur atau pingsan, Raja langsung yakin bahwa ada yang salah denganmu, dia langsung berlari, di perjalanan mengikuti suaramu, kami bertemu dan langsung yakin kau digeret kearah pantai, mungkin mereka akan menculikmu, sungguh licik Mudha praya.”


“Bagaimana dengan semua orang yang pingsan, Pram, Malik dan seluruh penduduk di sini, termasuk para sekutuku?”


“Kita bisa membangunkanmu, ingat seperti yang kau katakan, pada prinsipnya tanaman racun itu seperti Karuhun, mereka mengikuti perintahmu, yang menjadi masalah adalah, siapa yang memberi racun pada mereka? tidak ada yang bisa masuk ke kerajaan ini tanpa ijin dariku, ingat Ayi, kau pun diijinkan masuk karena ada Jasmine.” Raja Bapati heran.


“Ada penghianat di kerajaanmu Raja, bukankah itu sudah jelas sekali?” Nyai Jasmine membuat Raja Bapati tertohok.


“Tidak, semua rakyatku sangat loyal, mereka berbudi baik hingga Tuhan memberi kami paras yang sangat indah, karena budi baik kami.” Raja Bapati untuk pertama kalinya berkata dengan keras kepada Nyai.


“Lalu kau fikir siapa lagi? Ini daerahmu, siapa yang bisa membawa masuk racun tanpa sepengetahuan penjagamu yang ikut tertidur itu selain orang dalam? Apa kau fikir aku atau kawanan dari Ayi akan melakukannya? Tidak ada satupun kawanan kami terhubung dengan mereka!” Nyai ikut keras, mereka terlihat seperti sepasang suami  istri yang sedang bertengkar.


“Sudah jangan ribut.” Dan aku terlihat seperti puteri yang sedang memisahkan orang tuanya yang sedang berkelahi, tapi kurasa sebaiknya kami menyudahi drama keluarga ini.


“Siapa yang membantu kalian mendistribusikan racun itu hingga bisa masuk ke makanan kami?” Aku bertanya pada 3 orang tahanan kami.”


“Seorang gadis, dia yang membawa utusan Mudha Praya masuk ke sini dibawa oleh gadis itu masuk ke dalam istana, dia yang menjadikan utusan itu koki dan juga pelayan.” Orang itu berkata.


“Siapa namanya?” Kami tidak tahu.


“Seseorang yang bertanggung jawab dalam masakan istana, adalah dayang istana, seseorang yang cukup tinggi posisinya hingga bisa memasukkan koki penjahat ke dalam dapur istana, dia pasti dayang utama istana.” Nyai mengucapkannya dengan tajam kearah Raja Bapati.


“Tapi dia tertidur juga, aku melihatnya saat keluar tadi.”


“Ya tentu saja tertidur, entah tertidur beneran atau pura-pura, kalau hanya dia yang masih bangun kau pasti langsung mencurigainya, inilah jeleknya dirimu, kau pun tidak percaya ketika aku mengatakan bahwa ada orang di dekatmu yang merencanakan salah nama itu saat kau menyebutkan nama calon istri dulu, kau tidak percaya padaku dan menjadikan itu kecelakaan, tidak ada yang percaya padaku waktu itu, tidak keluargaku, seluruh rakyat ataupun kau, orang yang seharusnya percaya padaku melebihi siapapun!”


“Kita tidak sedang membahas masalah pribadi bukan?” Raja Bapati masih nggak mau kalah, pantas mereka tidak bisa bersatu, ternyata selain adat mereka masih memiliki ego masing-masing, beruntung aku dan Malik saling percaya walaupun terpisah jarak, kami selalu saling dukung dan percaya, mungkin Raja Bapati memiliki penyakit terlalu cepat percaya dan gampang di bohongi, bisa dikatakan naif.


“Aku akan membangunkannya duluan, kita akan interogasi dia, keberatan?” Aku bertanya pada Raja Bapati.


“Silahkan, aku tidak memiliki keraguan kepada dayang-dayangku.”


Lalu kami membangunkan beberapa punggawa terlebih dahulu dan menggotong beberapa Dayang yan Nyai curigai, diantaranya ada kepala Dayang yang memiliki wajah cantik dan teduh, aku jujur tidak memiliki kecurigaan kepada siapapun, aku masih ingin netral agar aku tidak terinterupsi dengan kemungkinan yang salah.


Total ada 3 Dayang yang kami bangunkan, 3 Dayang dengan level tertinggi.


“Dayang 1 siapa namamu?” Aku bertanya, aku meminta ijin kepada Raja untuk menginterogasi meraka, agar tidak ada yang bisa mengambil keputusan karena emosi, baik  Raja dan Nyai terlibat dalam perdebatan yang sengit karena emosi, Raja karena sifat naifnya dan Nyai karena sakit hatinya.

__ADS_1


Kami duduk di bangku sedang dayang-dayang dan 3 orang tahanan lainnya duduk dibawah bersila, aku memang sedang mengintimidasi mereka, agar mereka tahu sedang berbicara dengan siapa, agar mereka tahu bahwa mereka hanya cecunguk kecil, berani sekali mereka memberi racun pada makanan kami.


“Ser, ada apa?” Malik terlihat masuk ke dalam markas strategi.


“Loh, kamu sudah bangun?” Aku bertanya karena takjub.


“Iyalah, ini bukan kali pertamaku diberi kejutan tanaman batros, jadi mudah bagiku menemukan jalan keluar dari mimpi.” Malik menjawab.


“Pantas, Pram sudah bangun juga?” Aku bertanya, Malik terlihat sebal.


“Sudah, tapi dia masih agak linglung, jadi kuistirahatkan di kamarku.” Malik menajwab.


“Wah, lelakiku hebat, terima kasih sayang.” Aku berkata dengan manja.


“Ehem.” Nyai dan Raja Bapati berdehem, sekilas aku lupa kalau kami sedang dalam suasana sidang.


“Sorry, ok jadi Dayang satu namamu siapa?” Aku kembali bertanya.


“Rani Ayi, saya dayang tingkat 1, saya yang menyiapkan semua keperluan raja.”


“Kau yang memasukkan pengkhianat ke dapur istana?” Aku langsung memberinya shock attack.


“Tidak, tidak mungkin, aku tidak punya wewenang memberi ijin seseorang untuk masuk kedalam istana.” Dia menjawab dengan muka ketakutan.


“Benar itu Raja?” Aku bertanya.


“Benar dan ketiganya semua sama, tidak memiliki wewenang memasukkan seseorang kedalam kerajaan tanpa surat dari Raja.” Raja Bapati membela Dayangnya.


“Malik, aku tidak punya intuisi apapun untuk mereka, apa yang harus aku lakukan?” Aku memang butuh Malik, kalau Raja Bapati Naif, menilai seseuatu dari segi positifnya yang selalu kebablasan, Malik sebaliknya, dia selalu memandang apapun dari segi negatif, yang selalu kebablasan juga, tapi prasangkanya akan hal terburuk selalu terbukti, contoh Aqan Asta dan penyegelanku, semua karena pransangka terburuknya yang menyelamatkanku.


Malik duduk di hadapan mereka, memandangi 3 gadis itu secara seksama.


“Apa kata tahanan Ser?” Malik bertanya, karena dia memang tidak ada di tempat tadi waktu tahanan memberitahu pelaku.


“Seorang gadis membiarkan masuk pengkhianat dan menjadikannya koki, sehingga kita semua bisa diracuni.” Aku menjawab.


“Ah, mudah sekali.”


“Siapa diantara kalian yang paling sering bersama dengan Raja?” Malik bertanya, tidak ada yang menjawab, para dayang ternyata setia kawan.


“Siapa Raja? Siapa diantara mereka yang paling sering bersama Raja?” Malik bertanya kepada Raja.


“Dayang Suri, dia adalah dayang utamaku, dia yang menyiapkan seluruh keperluanku, dari mulai makanan sampai kebutuhan paling pribadiku.”


Malik terlihat mengerutkan dahinya, dayang yang ditunjuk Raja Bapati adalah dayang dengan paras paling lembut dan teduh, tidak mungkin dia pelakunya.


“Kau ... melakukannya karena hatimu?” Malik bertanya.


“Aku tidak melakukannya.” Dayang Suri mengatakannya dengan menunduk.


“Bawa penjaga yang memberi masuk setiap tamu di gerbang kerajaan ini.” Malik memerintah punggawa untuk membawa penjaga itu, aku akan membangunkannya.


“Siapa diantara mereka yang memerintahkan seorang tamu untuk masuk?” Malik bertanya.


Penjaga itu masih bingung, dia lalu mengerutkan kening. “Tidak ada satupun dari mereka yang menyuruh saya untuk mengizinkan tamu masuk.”


“Siapa yang mengizinkan tamu masuk kalau begitu?” Malik bertanya dengan lebih tegas.


“Raja Bapati, seperti biasa Raja Bapati sendiri yang datang ke gerbang, atau surat undangan dari Raja, tidak ada satu pun dari dayang ini yang memerintah saya membuka pintu untuk orang asing, Tuan.” Penjaga gerbang terlihat jujur.


“Wah luar biasa.” Malik menepuk tangan.


“Sepertinya anda mudah ditiru Raja.” Malik berkata, aku mencoba menelaah perkataannya.


“Aku tidak mengerti.” Raja Bapati berkata.


“Ini sungguh membuat dugaanku semakin kuat.”


“Apa maksudmu.” Nyai sepertinya menangkap ada yang tidak beres pada perkataan Malik.


“Siapa diantara ketiga dayang ini yang bisa berubah wujud menjadi Raja?” Malik bertanya kembali kepada Raja Bapati.


“Tidak ada yang bisa merubah wujudnya menjadi sepertiku, semua orang bisa berubah menjadi siapapun, tapi tidak menjadi sepertiku, karena penjagaku akan langsung tahu dari baunya yang berbeda, mimik muka dan gerak-geriknya.” Raja Bapati masih bersikeras.


“Berarti kau penjahatnya.” Malik lansung menyerang Raja Bapati dan menodongkan pedangnya pada dada Raja Bapati.


“Malik!!!” Aku berteriak, Nyai mencoba menghadang Malik, tapi pedang menembus dada Raja, aku berteriak sekencang mungkin, Nyai lemas duduk terkulai, semua orang berteriak dan mencoba melepaskan Pedang dari dada Raja, tapi Malik bukan lawan yang mudah.


“Aku! Aku pelakunya! Lepaskan Rajaku, aku pelakunya!!!” Dayang Suri berteriak dan menghampiri Malik, aku langsung menangkapnya dengan Karembo Hejo.


“Malik, lepaskan Raja Bapati.” Aku berteriak, takut hal ini akan menjadi isu pemberontakan, kami bisa dipanggang hidup-hidup di sini.


“Lepaskan apa?” Malik bertanya dan memperlihatkan bahwa pedangnya tidak berpengaruh apapun pada Raja Bapati.


Sementara Raja Bapati menatap dayang Suri dengan tatapan kecewa yang dalam.


“Apa yang kau lakukan Malik?” Aku bertanya karena bingung, kenapa pedang pusaka yang hanya bisa membunuh jin tidak mempan pada Raja Bapati.


“Kau coba tusuk dia pakai Kujang atau sabet dia pakai Karemb Hejo, tidak akan ada senjata yang mempan untuknya di kerajaan ini, semua senjata menjadi tidak memiliki kekuatan di sini ketika berhadapan dengan Raja.” Malik menjelaskan.


“Bagaimana kau tahu itu?” Aku bertanya.


“Malik pernah ke sini, dulu sekali, dia tersesat lebih tepatnya, waktu itu dia masih menjadi pengelana penakluk Karuhun untuk menjadi prajuritmu, Ayi yang tersegel.” Raja Bapati berkata. “sedikit banyak dia tahu tentang wilayah ini, dia bahkan tahu kode ketika kami bermaksud mengelabui musuh, tidak ada yang melihat kan, waktu Malik memegang hidungnya 3 kali, itu kode kalau kami ingin mengelabui musuh, artinya, percayalah.” Raja Bapati masih menatap Dayang Suri dengan tatapan kecewa.


“Kenapa kau melakukannya?” Raja Bapati bertanya.


“Maafkan aku Raja, hukum aku sesuai kemauanmu, aku tunduk.” Dayang Suri berkata.

__ADS_1


“Aku bertanya! Kenapa kau melakukannya!” Raja Bapati bertanya dengan lebih keras.


“Maafkan aku Raja.” Dayang Suri menangis.


“Bawa Dayang Suri ke penjara, aku akan menghukumnya.” Nyai Jasmine memerintah punggawa.


Setelahnya mereka semua pergi, Nyai akan mengambil alih menghukum Dayang Suri, sementara Raja Bapati seprti sudah tidak memiliki kekuatan untuk menerima kekecewaan yang dalam, sepertinya mereka dekat sekali.


Aku dan Malik meninggalkan markas, hari sudah pagi, aku lelah tapi waktunya sarapan, Pram sudah pulang dengan pesawat cesnanya, dia harus menghadiri beberapa rapat penting, persiapan perang membuatnya harus segera menyelesaikan semua urusan.


...


“Kopi dan dan pisang goreng, tidak ada yang lebih menyenangkan selain gorengan dan kopi hitam manis di pagi hari.” Setelah mandi aku bergegas ke depan bersama Malik, semua orang terlihat sedang memulihkan badan, hanya tersisa sekitar 100 orang yang belum bangun, aku sudah memanggi mereka, tinggal mereka ikuti perintahku saja, mungkin karena kemampuan yang rendah, sehingga membuat mereka tidak bisa bangun dari jebakan mimpi tumbuhan Batros.


“Makan sayang.” Malik duduk di sampingku, kami dipisahkan oleh meja yang terbuat dari anyaman bambu, tentu dengan hiasan emas, kerajaan ini memang tau caranya tampil unik dan elegant, selalu ada sentuhan emas, bahkan Raja memberiku bunga yang ditaburi emas setiap mandi, betapa makmurnya kerajaan ini.


“Malik, aku bingung kenapa kau bisa menebak orang yang paling dekat dengan Raja lah pelakunya?” Aku bertanya tentang sesuatu yang membuatku merasa janggal.


“Menurutmu siapa lagi yang bisa menjadi Raja gadungan selain orang yang paling dekat, Raja tidak punya keluarga lagi, dia hanya punya Dayang di dekatnya, maka suspectku adalah orang terdekatnya, orang yang bisa saja punya bau seperti Raja, paling dekat sama Raja dan bisa meniru gesture Raja secara sempurna, itu semua cuma bisa dilakukan oleh seseorang yang amat sangat dekat dengan Raja. Satu lagi, aku tahu protokol masuk kerajaan ini luar biasa ketat, jadi tidak mungkin kita bisa diracun tanpa bantuan orang dalam.”


“Ok, itu masuk akal. Menurutmu apa yang membuatnya melakukan itu, apa dia ingin Raja mati?” Aku bertanya lagi.


“Tidak, justru dia ingin Raja Bapati hidup makanya dia meakukan itu.”


“Aku tidak mengerti.” Malik memang memiliki tingkat intelektualitas yang tajam, itu yang aku kagumi dari dulu pertama mengenalnya sampai sekarang.


“Dia tidak ingin Raja Bapati ikut perang, makanya dia melakukan ini, mungkin dia juga yang membocorkan tentang peperangan ini dan menyuruh orang untuk pergi ke markas strategi dan mencaritahu rencana kita, Dayang Suri pasti tidak tahu soal rencana perang kita, karena itu memang rahasia, tapi dia punya prasangka bahwa Raja bersiap berperang dengan kekasihnya, dia tau itu makanya dia ingin kau celaka hingga perang ini tidak terlaksana dan Raja tetap kesepian, hingga dia bisa menemani Raja yang kesepian, dia tahu tidak bisa menggapai Raja, makanya dia hanya ingin tetap di sisi Raja, aku kasihan padanya.”


“Malik! Kau kasihan pada orang yang tidak tepat.” Aku merasa sedikit cemburu, karena Malik kasihan pada seorang Dayang cantik yang memiliki paras yang teduh, sayang hatinya membuat dia berjalan pada jalan yang buruk.


“Ser, aku merasa sedikit banyak nasibnya seperti aku dulu, ketika harus kehilanganmu, aku yang berbeda kasata denganmu harus mau melepasmu karena Pram lebih berhak, dia tidak bisa apa-apa dnegan hatinya, cinta itu dipilih sendiri oleh hati Ser, hati kita memilih siapa yang ingin kita cintai, saat kau memutuskan pergi dengan Pram, aku merasa duniaku runtuh, aku merasa tidak memiiki apapun untuk bersandar lagi, aku merasa telah menjadi manusia paling sia-sia di bumi, aku merasa gelap saat pagi datang dan merasa sesak walau oksigen memenuhi rumahku, aku merasa tidak berarti, hingga Mama datang dan membuatku merasa aku perlu mengejarmu. Mungkin itu juga yang dirasakan Dayang Suri, dia ketakutan, hatinya yang dipenuhi oleh Raja tidak mampu kemana-mana karena cintanya yang besar, tidak heran Ser, dia bersama Raja dari umurnya belia, Raja yang tampan dan kaya raya tentu membuatnya silau, tadinya hanya mengabdi sebagai pelayan, menjadi ingin memiliki, sementara Raja yang kesepian karena cintanya yang pergi, butuh seseorang yang tulus mencintai, pasti pengkhianatan ini menyakiti Raja, karena dia sudah menganggap Dayang Suri seperti keluarganya sendiri, tapi dia dikhianati lagi-lagi oleh keluarganya sendiri, ini pukulan yang berat untuk dia Ser.”


Aku tidak tahu sedalam itu Malik merasakan yang Dayang Suri rasakan, kenangan buruk tentang kepergianku menjadi titik balik bagi Malik, pasti berat sekali untuknya, walau berat juga untukku, tapi aku punya tujuan ketika itu, hingga aku masih bisa bertahan hidup, berbeda dengan Malik, yang saat itu pasti ketakutan kehilanganku tapi syukur dia masih punya kewarasan yang baik untuk tetap hidup.


“Maafkan aku Malik.”


“Tidak Ser, kau tidak salah, mereka yang bermain dengan takdir orang yang salah, mereka yang seenaknya berkuasa atas takdir yang seharusnya menjadi Hak Tuhan, seenaknya mereka kuasai, aku bahagia, kita sudah melewati banyak hal sayang, semua membuat kita semakin kuat, terima kasih karena tetap teguh pada hatiku Ser.”


Aku memeluk Malik dengan sangat erat setelahnya.


...


Setelah badai kemarin kami sekarang sudah pulih, butuh waktu 2 hari agar kami pulih kembali, sekarang kami bersiap untuk beratih, kami harus belajar mengenali kawanan dan musuh, makanya sesi hari ini Raja Bapati ajan mengumpulkan kami semua untuk saling mengenal satu sama lain, Karuhun dan para pasukanku jelas mudah dikenali, karena mereka semua memakai Karembo Hejo, sedang sekutuku yang lain tidak mengenakan Karembo karena bukan bagian dari Pasukan yang kutaklukan tapi mereka memiliki pemimpin sendiri di dalam kawanannya, seperti Mang Nariman yang memimpin ratusan Kharisma Jagat, mereka memiliki tanda sendiri yaitu berupa kalung yang terbuat dari manik-manik berbentuk bunga, semua pemimpin kawanan memiliki cirinya tersendiri dan kami harus saling mengenal satu sama lain.


Raja Bapati datang dia membawa semua peralatan yang kami butuhkan.


"Ayi, apa kau siap dengan pertarungn ini? " Raja Bapati bertanya.


"Tentu saja, aku sudah siap, apa yang kau bawa Raja Bapati?"


"Aku membawa alat peperangan, kita akan simulasi, pertama aku ingin kau berlatih dengan benar, aku dan pasukanku akan menjadi musuhmu, kami akan berkamuflase persis seperti mereka, seperti yang kau tahu, bahwa bangsaku bisa berubah menjadi siapa dan apa saja, maka kau akan lebih mendalami jika kami benar-benar menjadi seperti mereka."


"Ok, kalian akan berubah menjadi mereka, apakah kau ingin mengukur seberapa lama aku mampu menahan musuh, maka sebanyak waktu itulah kau akan berusaha sampai di punggung musuh? begitu kan?" Raja Bapati memang penuh perhitungan, aku sangat kagum.


"Betul, aku ingin menghitung secara presisi, waktu yang tepat untuk datang dan tidak terlambat."


"Semua bersiap, hajar Ayi dengan semua kemampuan yang kalian miliki, salah satu prajurit terbaikku akan menyamar sebagai Pram sehingga posisimu tidak ada yang kosong." Oh ya Pram sedang mengurus perusahaannya.


"Baiklah, semuanya, mari kita berlatih, jangan ada yang berani sungkan ya."


Malik berlari dengan tergesa-gesa dia terlambat.


"Tuan, darimana saja kau?" Aku bertanya.


"Ketiduran."


"Malik!!!" Kami semua protes, dia hanya tersenyum


Kami langsung pada posisi, aku memakai jubah perang pemberian Raja, dia terlihat senang saat aku memakainya.


Simulasi peperangan di mulai, paling depan Raja Bapati menyamar menjadi Mudha Prasa, sisanya semua prajurit musuh terlihat, benar-benar mirip, bahlan jumlahnya dibuat sama, sungguh sangat banyak, simulasi ini terasa nyata.


"Siap sayang?" Malik bertanya.


"Tentu saja." Aku membuat kuda-kuda, genderang perang ditabuh, semua bersiap. Dalam hitungan detik, kami berperang, aku menggunakan Kujang dengan sangat lihai, ku cabik lehernya, kakinya tangannya, semua yang mencoba menyerangku aku menangkap tubuh mereka dengan karembo dan menebas lehernya, satu persatu.


aku berlari ketengah medan peperangan, semua orang terlihat mengincarku, tanganku baret-baret karena kami memakai senjata asli.


Ada yang menyerangku dari belakang, aku menghindar menangkap punggungnya dan menarik Kujangku diantara lehernya.


Aku terus menghajar mereka satu persatu, banyak sekali, aku tidak berhenti menyerang, semua konsentrasi menyerangku, sementara yang lain mencoba membobol pertahanan penyeramg, tapi mereka gagal aku terkepung, aku mundur, Malik tidak tetlihat, Pram tidak terlihat, kemana kawananku, kenapa semua musuhku di sini, aku kelelahan karena ribuan pasukan musuh mengincarku, aku tetus menghabisinya, hingga tenagaku terkuras, sudah 2 jam simulasi ini berjalan, aku masih menyerang mereka.


Sepertinya Malik dan kawananku tidak mampu menembus barikade musuh, aku benar-benat terkepung, tidak ada celah sedikitpun, Malik dan Pram dimana?


Saat aku masih menyerang, tiba-tiba Mudha Praya berlari dari arah sampingku, aku yang kelelahan mencoba menghindar hunusan goloknya, tapi prajurit musuh memegang tanganku, 20 orang mulai memegangku, aku mencoba melepaskan diri, gagal, aku kelelahan, Mudha Prasa semakin dekat ....


Crutt ... golok menusuk perutku, sakit, sakit sekali, aku melihat perutku, darah? darah mengucur dari sana. kenapa rasanya sakit sekali, kenapa dia menusukku beneran, aku melihatnya hendak menusukku lagi, apa dia penyusup? kenapa luka ini sksit sekali.


Aku menendang Mudha Praya, entah dia Raja Bapati atau bukan, tapi jelas dia hendak membunuhku, aku masih dipegang puluhan orang, setelah kutendang berkali-kali, Mudha Prasa masih saja mencoba menusukku dengan goloknya, aku menggunakan semua yang aku bisa untuk lepas dari pegangan pulihan orang ini, tapi percuma mereka sangat kuat.


Lelaki itu tiba-tiba ada di belakangku, dia lamgsung menghunuskan goloknya ke punggungku. sakit sekali, aku merasakan golok itu masuk kedalam dagingku, sakit, aki terkulai, puluhan orang itu langsung mengerubutiku, apa ini? kenapa simulasi ini sangat menyakitkan, dimana aku? kenapa luka tusukan ini tidak seperti simulasi.


Kemana Malik dan Pram?


__________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Jangan lupa Like, vote dan coment ya, kasih tau dong apa sih yang kalian rasakan?


Salam sayang.


__ADS_2