Karuhun

Karuhun
Bagian 35 : Cinta Seira dan Malik


__ADS_3

Malik menunjuk sel yang berisi makhluk ganas itu.


Aku melihat kearah yang ditunjuk oleh Malik, sel yang paling banyak segelnya, sel yang paling besar.


Begitu aku melihat, sesosok makhluk mengerikan terlihat disana, tangannya seperti burung gagak, kakinya seperti kaki kuda dengan tapal besi yang sangat tebal, tubuhnya seperti manusia, hanya saja dia tidak memiliki wajah, seluruh kepalanya hanya ditutupi oleh rambut yang panjang. Keseluruhan tubuhnya tampak mengerikan, jika kau hanya menatapnya dengan mata awam, maka matamu akan terasa terbakar karena begitu menakutkannya.


“Siapa itu? Sorry, Apa itu!” Aku merinding, aku baru melihatnya.


“Dia adalah Jagog, karuhun milik Kharisma Jagat Agung.”


Apalagi ini, siapa juga Kharisma Jagat Agung? Aku baru mendengarnya.


“Awalnya aku dan Hanif melihatnya berkeliaran di kantor kita, dia mengendus sesuatu, sepertinya dia mencium baumu, aku dan Hanif mencoba menghalaunya, menariknya kearah markas kita, tapi kami tidak berhasil, aku memanggil seluruh pasukan dan Hanif memanggil seluruh relasi Kharisma Jagatnya untuk membantu, tapi begitu melihat makhluk buas itu, mereka lari tunggang langgang, aku tidak punya pilihan selain menyegelnya disini, aku tidak punya pilihan, kalau saja aku tahu dia siapa, kalau saja ... ” Malik seperti menyesal telah menahannya.


“Dia siapa Malik?” Aku mencoba mendekati selnya, makhluk itu langsung beringas, dia mencoba membuka segelnya.


“Dia adalah Karuhunnya Kharisma Jagat Agung, dalam waktu  sekejap pemiliknya menemukan markas kami, dia datang mendobrak markas kami hanya dalam hitungan menit, dia memukul mundur para penjagaku, aku dan Hanif tidak mampu melawannya, karena dia terlalu kuat.”


“Ok, kalau dia kuat lalu kenapa peliharannya masih disini, tidak dia bebaskan?”


“Karena peliharannya adalah paku ******, menandai lokasiku, lokasimu.” Malik menjelaskan.


“Untuk apa dia menandai aku dan kamu?”


“Karena dia akan mengambil yang menjadi haknya.” Malik tertunduk.


“Aku bukan milik siapapun, aku milik Tuhanku, DIALAH yang berhak menentukan jodohku.” Aku menatapnya lekat-lekat.


“Memang, tapi kau akan melawan adat yang sudah ada ratusan tahun yang lalu.” Malik menjawab tanpa menatapku.


“Buatku perkara adat adalah prioritas sekian, hatiku lah prioritas utama.” Aku bersikeras, seperti Malik yang bersikeras dengan cintanya padaku.


“Baiklah, setelah kau bertemu dengannya, apakah hatimu akan tetap seperti ini?”


“Untuk apa aku bertemu dengannya?”


“Untuk memenuhi janjiku.” Malik menggenggam tanganku.


“Kau yang berjanji, kenapa harus aku yang tepati?” Aku mundur karena takut dengan kelanjutan akta-katanya.


“Karena kalau kau tidak menemuinya, dia akan mengambilmu dengan paksa.”


“Aku tidak mengerti Malik, siapa dia?”


“Ketika dia datang untuk mengambil Karuhunnya kemari, dia mencium baumu dari tubuhku, jejak baumu menempel pada tubuhku, dia menyadari suatu hal, bahwa wanita yang dia cari selama ini, sudah dia temukan. Dan usahaku menutupi jejakmu sia-sia sudah.”


“Dia mencariku? Untuk apa?” Aku masih tidak menangkap makna apa yang ingin Malik sampaikan.


“Karena dialah jodohmu.”


“Kau Tuhan? Atau dia yang Tuhan? Sampai kalian merasa yakin dialah jodohku!” Aku mulai marah.


“Aku tahu bahwa kami akan kalah, aku dan Hanif sepakat kami akan meminimalisir kekalahan, pasukan yang sudah kami himpun untukmu tidak boleh dibantai olehnya, karena saat datang, dia mengeluarkan senjata utamanya, senjata itu mampu membuat bumi berguncang dan langit menggelegar, maka aku membuat perjanjian.” Mengerikan sekali orang itu, hingga Malik pun merasa khawatir.


“Perjanjian, lagi? Kenapa sih pada sering buat perjanjian! Apa perjanjiannya?” Aku mencoba bersabar dengan para pria ini.


“Saat itu aku begitu yakin bahwa kau tidak akan pernah sedikitpun tertarik pada dunia Kharisma Jagat, saat itu bodohnya aku yakin bahwa kau akan menjauh dari kodratmu, tapi aku salah, keputusanku saat itu ternyata adalah yang terburuk yang pernah aku buat.”


“Malik, aku ingin tahu perjanjian apa itu!” Aku mulai merasa takut.


“Dia berjanji padaku akan melepaskan kita berdua, jika kita berdua menikah dan sampai pada pernikahan kita, segelmu masih tertutup rapat.”


Aku lemas, perjanjian bodoh macam apa yang mereka lakukan, apa mereka fikir aku barang yang seenaknya dijadikan bahan taruhan.


“Ok, jadi itu alasanmu selama ini mati-matian membujukku menikah denganmu?” Malik benar-benar dalam keadaan kalut waktu mengajakku menikah, jika dia mengemukakan semuanya maka akan sulit untuk kita berdua karena kau pasti akan terpukul mengetahui bahwa aku adalah orang yang berbeda, mengingat aku pernah salah dan memilih Aqan Asta sebagai pelarianku karena kodrat yang Malik coba sembunyikan dariku.


“Ya, waktu itu memang caraku salah mengajakmu menikah tanpa berusaha memberitahumu apa yang kurasakan, aku hanya sedang mempertahankan cintamu padaku, aku berusaha membuatmu tetap merasa bahwa kau sangat mencintaiku, karena kodra seorang Ayi Mahogra adalah mencintai Kharisma Jagat Agung, bukan manusia lemah sepertiku, makanya aku harus membuatmu terjatuh sangat dalam atas cinta palsu.” Malik mengusap wajahnya dengan kasar lalu melanjutkan ceritanya.


“Aku mengambil banyak keputusan salah waktu itu, yang paling fatal adalah ketika aku setuju dengan perjanjian itu, bahwa aku akan membawamu padanya jika aku gagal menjaga segelmu sampai hari pernikahan kita.”


Rasanya seperti disambar petir, kenapa aku seperti sebuah objek perjudian yang dimainkan oleh mereka berdua, kenapa mereka tidak bertanya padaku, kenapa mereka memutuskan yang baik dan tidak untukku tanpa bertanya!


“Ser, ini sudah langkah terakhirku, langkah terbaik yang bisa aku lakukan untuk menjagamu, aku harus menepati janji, aku harus menyerahkanmu, kalau aku melanggar, dia akan mengambilmu dengan paksa, aku tidak perduli jika itu menyakitiku, tapi ini tentangmu dan Maliyah.”


“Maliyah? Adikmu?”


“Ya, dia menawan jiwa Maliyah, sekarang adikku koma tanpa jiwa, kosong, sama sepertiku dulu.”


“Jadi itu kualitas Kharisma Jagat Agung, saat dia menginginkan sesuatu maka dia melakukan berbagai cara. Termasuk mencuri jiwa seorang yang bahkan tidak mengetahui apapun soal kita!” Aku geram.


“Katakan padanya aku akan menemuinya.” Aku berkata pada Malik.


“Ser, aku sudah merencanakan ini semua dari awal, maksudnya aku tahu kondisi ini akan kita alami, aku dan Hanif sudah bersiap, aku akan datang menemui dia, membawamu. Setelah Jiwa Maliyah selamat, kita akan menjemputmu, kita akan bertarung habis-habisan lagi, kita .... ”


“Aku akan menemuinya, SENDIRIAN!” Aku menekan kata itu agar Malik mengerti.


“Ser, aku tidak mampu jika harus kehilangan kamu. Pada kenyatannya jiwaku sudah hilang bersama lahirnya Ayi Mahogra.” Mata Malik memohon padaku.


“Lalu kau mampu kehilangan Maliyah? Lalu kau mampu kehilangan seluruh keluargamu, mereka akan hancur jika Maliyah tidak selamat, lalu apakah kau akan baik-baik saja jika terjadi sesuatu pada Maliyah, kau sudah meninggalkan mereka demi aku Malik, belasan tahun kau memusuhi mereka yang tidak mendukung kita, BELASAN TAHUN!” Aku menangis, “Aku akan pergi sendiri, maaf aku akan mengurungmu dan Hanif dirumah ini, kau tidak akan bisa kemana-mana.” Aku langsung memegang kepala Malik dan tengkuknya, dia pingsan, Panglima dan Raden keluar.


“Bawa Malik kekamar, aku akan menidurkan Pak Hanif juga dan seisi rumah ini, berjagalah aku akan menemui lelaki itu. Oh ya, lepaskan Jagog terlebih dahulu, aku akan memintanya mengantarku pada tuannya.”

__ADS_1


Panglima dan Raden mengerjakan seluruh perintah yang kukatakan, mereka tidak ikut, mereka tahu bahwa Kharisma Jagat Agung tidak akan menyakitiku, mungkin aku yang akan menyakitinya.


Aku keluar dari markas Malik bersama Jagog, begitu aku keluar gerbang markas Malik, ada sebuah sedan mewah yang berhenti tepat di depanku, lalu pintu mobil bagian belakang untuk penumpang terbuka.


“Ayi, Tuanku sudah menjemputmu.” Karuhun itu mempersilahkanku masuk ke mobil, aku masuk dan melihat ada seorang supir disana, dia menyetir tanpa menoleh, aku sendirian di kursi belakang, entahlah kita akan kemana, hanya saja ada kotak cukup besar di sampingku, kotak apa ini?


Kami berkendara cukup lama sekitar setengah jam, lalu berhenti di suatu apartemen, supirnya memberhentikanku di lobby Apartemen Mewah itu, memberiku kunci kamar dan menyuruhku membawa kotaknya, dia hanya berkata, tuannya akan makan malam denganku, aku hanya menuruti saja.


Aku naik keatas,  menuju kamar dengan nomor kunci yang diberikan supir itu, apartemen yang mewah, kamar ini memiliki liftnya sendiri, begitu masuk langsung  unit apartemen yang harus kudatangi.


Aku masuk dan diruang tamu aku melihat buket bunga yang sangat besar, ada kartu ucapannya tertulis,


[Berdandanlah seperti seorang Ratu, karena kau akan menemui Rajamu.]


Aku tertawa, merinding aku bacanya. Jadi kotak besar ini berisi baju dan sepatu, dia memerintaku untuk memakai ini semua, maksudnya, makan malam romantis gitu? Aku lebih merasa ini makan malam ancaman, dia menawan seseorang hanya untuk bertemu denganku, licik sekali.


...


Sekitar satu jam, aku dijemput kembali, oleh seorang perempuan menggunakan setelan hitam, penampilannya seperti seorang Body Guard, kami tidak keluar dari apartemen kami kembali naik, ke lantai paling atas, disana ternyata ada restoran mewah, sepi ... aku diantar oleh mbak Body Guard ke meja paling pojok yang jendelanya besar dan mengarah keluar, saat mendekat aku kaget.


“Kamu!” Aku duduk didepannya, mbak Body Guard pergi meninggalkan kami, hanya ada aku dan lelaki ini, pelayanpun tidak ada.


“Ya, aku.” Lelaki itu menjawab.


“Jadi kau Kharisma Jagat Agung itu?” Aku tertawa.


“Ya Ayi, terima kasih sudah ramah padaku.” Dia menjawab.


Aku terdiam, percaya diri juga orang ini, mirip arogannya Malik, aku tertawa karena mengejeknya.


“Pram, Pramudya Aksara,” aku berdiri dan mencondongkan badanku kearahnya. “Jadi kau yang katanya menawan Maliyah?” Aku menatapnya dengan tajam.


“Kamu cantik.” Aku memundurkan tubuhku karena ketika dia berbicara dia ikut berdiri dan mencondongkan badannya sehingga wajah kami dekat sekali walau masih terpisah meja.


“Kamu tampan, tapi licik dan jahat.” Aku sinis.


“Kamu cantik, walau tidak mengenakan gaun yang kuberikan.” Dia menyadari bahwa aku hanya menggunakan pakaian seadanya, kaos, celana jeans dan sepatu kets.


“Bukan gayaku.” Aku duduk kembali ke posisiku.


“Apakah sepatunya juga bukan gayamu?” Dia menunjuk sepatu yang kukenakan.


“Ya.” Aku meminum air putih yang ada didepanku.


“Apakah makan malam seperti ini juga bukan gayamu?” Dia menunjuk seluruh ruangan yang kosong.


“Tentu saja. Oh ya, dan buket bunga itu lah yang paling parah, aku tidak suka bunga, alergi!” Aku tertawa.


“Baik, aku akan langsung pada hal yang memang menjadi alasanku untuk bertemu denganmu, aku ingin kau melepas Maliyah.” Aku mengeluarkan pasukan yang sudah kutundukan di Markas Malik tadi, aku sudah bersiap untuk datang kesini, berperang dengan lelaki gila ini.


“Mau olahraga dulu? Tau gitu aku nggak pakai setelan resmi seperti ini.” Dia menunjuk pasukannya yang lebih banyak. sial, lebih banyak! Pasukan berselendang merah itu bahkan lebih mengerikan.


“Jadi maumu apa?” Aku menancapkan kujangku di meja, senjata utamaku.


“Kalau aku mau melamarmu, kau lebih suka romantis atau yang casual? mungkin di taman bermain atau sambil nonton band kesukaanmu atau .... ”


“Lepaskan Maliyah.” Aku mengambil kujang yang menancap dimeja dan berdiri, bersiap memasang kuda-kuda.


“Tutup pintunya.” Dia memerintah, lalu semua pintu tertutup. Dia membuka jas dan menaruhnya di sandaran kursi, melonggarkan dasi dan menggulung kemeja panjangnya.


Saat ini restoran mewah ini penuh dengan pasukan kami, Pram membawa banyak Karuhunnya, sial, Panglima dan Raden tidak ikut, mereka berjaga di rumah, salah strategi! Pasukannya dua kali pasukanku! Yang penting percaya diri dulu lah, itu yang Malik ajarkan, aku masih dengan sikap menantang.


“Jadi kamu lebih suka olahraga? Tau gitu aku pilih pacuan kuda tadi, bukan di sini.” Dia mengeluarkan senjata yang Malik sebut senjata utamanya, senjata yang seluruh Kharisma Jagat takuti, dia mengeluarkan cambuk, panjang sekali, begitu dia menyabet ujung cambuknya, keluar kilatan yang cukup memekakan telinga, lalu apartemen ini bergoyang dan langit mengeluarkan kilatan yang mengerikan, persis seperti yang Malik katakan.


Aku berusaha tidak gentar dan memulai pertarungan dengan melempar ujung karembo Hejoku untuk melilit lehernya, kena! Aku langsung berlari kearah belakangnya, menarik Karembo Hejoku, tapi ketika aku menarik tubuhnya kearah belakang bermaksud mencek leher, cambuknya melilit tubuhku, dia menarik tubuhku yang tadinya ada dibelakang tubuh itu, sekarang berbalik, tubuhnya ada dibelakangku, dia menghentakan cambuknya dan tubuhku sukses mendarat di tubuhnya, dia menahan badanku dengan memegang pinggangku, aku langsung melepasnya dengan kasar.


“Kurang Ajar!”


“Kau yang mulai!” dia tersenyum.


Seluruh pasukan kami bertarung, kulihat pasukanku kewalahan. Sementara Pram tersenyum sinis.


“Kalau maunya kamu bertarung. Ya sudah, pasti posisi kamu lemah, dibelakang aku banyak pasukan, karuhun, bahkan tetua akan lebih mendukungku, kamu yakin masih mau memilih jalan ini?” dia duduk kembali ke mejanya, sementara pasukan kami tetap bertarung, akupun ikut duduk ditempatku semula diantara pergumulan ghaib ini.


“Aku tidak akan pernah menikah dengan orang yang tidak aku cintai.” Ku sembunyikan lagi Kujang, cambuk dia pun sudah menghilang.


“Beri aku waktu, biarkan aku membujuk hatimu.” Dia menatapku dengan mata yang tulus.


“Aku mencintai Malik.” Aku menatapnya dengan mantab.


“Itu hanya cinta monyet, cinta manipulasi, seharusnya diumurmu saat ini, bukan cinta yang menjadi prioritasmu.”


“Ini tidak adil, ini hidupku dan aku bahagia dengan orang yang kucintai.”


“Siapa yang menjamin Malik akan membuatmu bahagia? Siapa yang tahu hati akan berpaling kelak? Bagaiman dengan tugas kita sebagai pasangan agung dari tanah pasundan?”


“Aku tidak tahu tentang masa depan karena itu milik Tuhanku, satu hal yang kuketahui, kau tidak seharusnya menahan Maliyah hanya untuk mendapatkanku.”


Pram mengulurkan telepon genggamnya dan memberikan padaku.


Aku mengambil telepon genggam itu dan mengarahkannya pada telingaku.

__ADS_1


“Halo.” Aku tersambung dengan seseorang, suara dari sana sangat familiar, Oh ....


“Om, Bagaimana keadaan Maliyah?” Ternyata Papinya Malik.


“Maliyah sudah siuman Ser, Alhamdulillah. Kamu tau dari Malik ya soal Liya? tapi komanya liya juga keberkahan, kalau saja dia tidak koma pasti saat ini kami lebih berduka.” Papinya Malik berkata diujung sana penuh dengan kelegaan.


“Maksudnya Om?” Aku bingung.


“Pesawat yang disewa sekolahnya untuk study tour jatuh, tidak diketemukan puing-puingnya sampai sekarang setelah kemarin terbang. Alhamdulillah Ser, Maliyah jatuh dari tangga trus koma, jadi dia tidak ikut study tour dan tidak menjadi bagian dari korban jatuhnya pesawat itu, sekarang dia sudah baik-baik saja.”


Aku menutup mulutku.


“Aku menolong adiknya, anggap saja balas budi karena telah menjagamu dengan baik selama ini.” Pram berkata setelah teleponnya kututup.


Pram, terima kasih, tapi hatiku terlalu dalam untuk Malik, aku beranjak hendak pergi.


“Berenti, keluar semua!” Pram mengusir semua pasukan, mereka berhenti dan bubar dalam sekejap.


“Pram .... ”


“Kasih aku malam ini, malam ini saja, aku akan menceritakan kisah seorang Ratu yang menolak Rajanya, setelah mendengar ceritanya, kau baru boleh memutuskan, dengan siapa kau akan menikah, satu malam ini saja Ser.” Pram memohon dengan matanya, dia tulus, itu yang aku rasakan.


“Ok, hanya malam ini, dan setelahnya aku akan memilih, apapun keputusanku, kau tidak berhak sama sekali untuk menolak, ok.” Aku kembali seperti orang bodoh mengadakan perjanjian.


“Sepakat!” Pram menjabat tanganku, terasa aneh, jabatannya terasa hangat dan Astagfirullah kenapa aku ....


“Kau pasti merasakan sensasi nyaman kan?” Pram bertanya.


Aku menatapnya tanpa menjawab, kami sudah duduk kembali di dekat jendela dan memandang pemandangan ibukota yang indah dimalam hari.


“Pasti Malik belum ceritakan bagian ini, bagian dimana seorang Kharisma Jagat, tidak akan pernah mencintai siapapun, kecuali Kharisma Jagat lainnya digaris miliknya, lihat hanya jabatan tanganku membuatmu nyaman, itu namanya efek alamiah antara kita berdua.”


“Maksudnya?” Aku tidak mengerti.


“Aku akan buat ini sederhana, ok. Nenek Moyang kita, Para Kakek kita, mereka memiliki garis level masing-masing, yang kuat akan menikah dengan yang kuat, dari sanalah ikatan garis dibuat, Kharisma Jagat akan menikah dengan Kharisma Jagat yang memiliki garis di level yang sama, jadi tidak akan adanya ketimpangan dalam pernikahan, itu semua kodrat, tidak akan ada seorang Kharisma Jagat mencintai yang lain, selain Kharisma Jagat garisnya, itu kodrat!”


“Buktinya aku bisa mencintai Malik.” Aku tersenyum sinis, mematahkan penjelasannya.


“Itu namanya cinta manipulasi, kau hanya dibuat mencintainya, seolah-olah mencintainya.”


“Cinta itu nyata Pram, hatiku merasakannya.”


“Baik kalau kau bilang ini cinta, kita lihat seberapa kuat kau mencintainya.”


“Kau butuh bukti?” Aku menantang.


“Tidak, aku sudah tahu hasil akhirnya, taukah kau, adat ini, pernikahan dan perjodohan sesama Kharisma Jagat sudah bertahan selama ratusan tahun, yang menjaganya bukan hanya para Tetua, tapi juga Karuhun mereka, itu semua bukan tidak ada tujuan, atau hanya unjuk kemampuan siapa yang paling kuat, nasib seorang Kharisma Jagat Agung adalah bertarung makanya pasangannya haruslah seorang Ayi Mahogra berpredikat Kharisma Jagat, karena kalau kita menikah dengan yang lain, kita membuka lubang yang sudah ditutup rapat oleh para Tetua dan para Nenek Moyang.”


“Apa maksudmu, lubang apa?” Aku tidak paham dan sedikit sakit kepala dengan adat yang aneh ini.


“Dimana Ayi Mahogra di lahirkan, disaat yang sama Kharisma Jagat Agungpun dilahirkan, selalu begitu, itulah Berkah yang Tuhan kasih, karena kita memang harus menjaga dan menolong banyak orang, untuk itu kita harus kuat dan membuat mereka yang mencoba mencelakai manusia takut, itulah yang dijaga oleh para Tetua.”


“Jadi maksudmu tidak pernah ada pernikahan antara Kharisma Jagat dengan orang biasa?” Pantas Aam dulu pernah bilang bahwa dia tidak akan mencintai siapapun di kampus tempat dia kuliah, karena memang dia pun ternoda dengan pemahaman adat yang gila ini.


“Pernah ada, ratusan tahun lalu, pernikahan antara Kharima Jagat dengan orang biasa, sebelum adat itu lahir, tapi nasibnya tragis dan akhirnya lahirlah adat pernikahan dan perjodohan ini.”


“Tragis? Apa yang terjadi pada mereka?”


“Mereka memiliki 2 orang anak, mereka bahagia pada awalnya, tapi pertarungan itu tak pernah usai, karena mereka makhluk yang ingin menumpang pada Kharisma Jagat tahu bahwa Kharisma Jagat menikahi seorang wanita biasa yang tidak bisa menjaga anak mereka dari serangan, maka Istri dan anaknya adalah kelemahannya. Kharisma Jagat itu tunduk pada mereka karena melindungi anak istrinya dan membuat perjanjian, hal yang paling tinggi dosanya, mengadakan perjanjian dengan setan, karena itulah tidak diperbolehkan pernikahan antara Kharisma Jagat dengan orang biasa, karena jika suami istri adalah seorang petarung maka mereka akan mampu saling bahu membahu melindungi keluarganya, tidak akan ada yang menjadi kelemahan satu sama lain.”


“Apa yang terjadi pada akhirnya dengan keluarga itu?” Aku bertanya.


“Suaminya yang seorang Kharisma Jagat menjadi mengabdi Iblis, istrinya menjadi budak setan, dan anak-anaknya menjadi tumbal, tidak ada yang selamat, mereka mati bersama dalam keadaan buruk.”


Aku terdiam. Tidak, aku tidak ragu pada cintaku, tapi aku takut, takut bahwa aku tidak mampu melindungi Malik seperti lelaki itu tidak mampu melindungi anak dan istrinya.


“Kalau memang cintamu begitu besar, buktikan, lepaskan Malik dari beban mencintaimu, dia akan menjadi kelemahanmu dan mereka akan menggunakan Malik sebagai umpan, mau sampai kapan kau menjadi petarung sendirian? Kau akan hamil dan memiliki anak, di kondisi terlemahmu apakah Malik mampu menjaga kalian berdua? Dan kita berdua tahu, berapa kali Malik masuk rumah sakit dan berapa kali mereka membuat Malik tumbang dengan serangan mereka?” Pram berhenti sejenak.


“Malik hanya manusia biasa, fikirkan baik-baik Seira, langkah apa yang akan kamu lakukan, ini soal masa depan yang berat, denganku ataupun dengan Malik, akan berat. Tapi denganku, kau dan anak-anakmu akan terlindungi dengan baik, dengan Malik, kau membuat Malik menderita, kamu membuat Malik harus berkali-kali kritis, sampai akhirnya kamu  menyesal, sudah kehilangan Malik.”


Aku terdiam, aku menunduk dan memejamkan mata, aku lelah dengan semua ini apa yang dikatakan oleh Pram benar, terlalu berat jika sekarang aku bersama Malik, aku menatap Pram dan menggenggam tangannya, Pram tersenyum, dia lelaki yang baik dan tulus aku bisa merasakannya.


...


Aku kembali ke Markas Malik, aku melihat Malik dan Hanif duduk diruang tamu, mereka menungguku.


Begitu melihatku, Malik langsung memelukku, aku tidak membalasnya.


“Malik.”


“Ser, Terima Kasih, Maliyah sudah bangun dia sehat dan .... ”


“Malik aku akan menikah dengan Pram.” Malik melepas pelukannya, tubuhnya bergetar dia limbung sesaat kemudian dia pergi kekamarnya meninggalkanku tanpa menoleh sama sekali, sementara Pak Hanif hanya mematung ditempatnya.


Melihat punggungmu kekasihku, berat sekali, sangat berat Malik, di waktu dulu kau yang banyak berkorban, kali ini biarkan aku berkorban untukmu.


Aku mencintaimu, makanya, aku melepasmu.


________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Cinta itu bahagia, bersama ataupun terpisah. (Seira)


__ADS_2