
Hati ini perih sekali, seperih saat melihatmu terbaring dan koma karena aku, seperih saat kau kritis karena aku dan seperih saat jauh darimu.
Cintaku, hamparan langit yang luas mungkin takkan sanggup menjelaskan padamu betapa aku sangat ingin bersamamu, jika Tuhan secara gamblang memberikanku pilihan dan membebaskan si pecinta ini untuk memilih maka akan selalu namamu, Malik.
“Ser?” Pak Hanif mendekatiku dan bertanya, kenapa aku memutuskan menikah dengan Pram.
“Aku tidak punya penjelasan apapun, ya seperti yang kalian tahu, secara adat dia adalah jodohku.” Aku menjawab tanpa menatap mata Pak Hanif.
“Semudah inikah kau menyerah, setelah begitu banyak yang Malik lakukan untukmu?”
“Aku tidak menyerah, aku hanya mengikuti takdir.” Lalu aku beranjak pergi, meninggalkan Markas itu, meninggalkan Pak Hanif yang mungkin menganggapku lemah dan meninggalkan cintaku.
Aku mengingat saat itu setiap malam didalam mimpiku, saat kau berbalik dariku dan hanya punggungmu yang kulihat aku tahu ada kecewa yang dalam disana, mungkin bukan hanya kecewa, mungkin lebih menyakitkan dari itu, seperti baru kemarin saja aku meninggalkanmu Malik, padahal sudah dua tahun kulewati tanpa cintamu.
Ya sudah dua tahun aku dan Pram berkelana mencari bala bantuan untuk menjadi sekutuku, dua tahun sudah aku dan kekasihku terpisah, dan dua tahun sudah aku menjadi wanita yang berkelana di tengah hutan, di puncak gunung dan rawa-rawa.
“Ser, udah semua?” Pram menggandeng tanganku, kami memang sedang belanja barang kebutuhan pokok yang diperlukan, hanya bahan-bahan untuk makanan pokok, aku mengangguk dan dia mengambil beberapa plastik belanjaanku yang berat, hanya tersisa dua kantung ringan yang kubawa, tanganku yang satunya free dan seperti biasa, dia menarik tanganku dan memerintahkanku untuk menggandengnya, kami seperti pasangan baru menikah pada umumnya.
“Thank’s Pram.” Aku tersenyum.
“With My Pleasure Quin.” dia membalas senyumanku, lalu kami pergi membawa semua belanjaan bulanan kami ke mobil Pram, disitulah aku menjatuhkan beberapa plastik yang kubawa, aku terkejut karena kulihat kau sedang berdiri mematung melihatku dan Pram, melihatku menggandeng tangannya, mungkin juga kau merasakan sakit.
“Malik.” Aku menyapanya.
“Ser, Pram.” Malik mengangguk kepada Pram.
“Hei Malik.” Pram terlihat gusar.
Bagaimana dia akhirnya bisa menemukanku, tubuhku gemetar melihatnya, sungguh 2 tahun waktu tersulit dalam hidupku tanpa lelaki ini.
“Boleh saya bicara dengan Seira, hanya sebentar, saya janji.” Malik memohon, aku benci tatapan pecundangnya, memohon pada Pram hanya untuk bicara denganku dan kenapa dengan penampilannya saat ini.
“Terserah kamu Quin.” Pram memandangku dan aku hanya mengangguk, aku tidak mampu menolaknya secara langsung, karena aku tidak ingin menyakitinya lebih dalam, aku sepertinya harus menegaskan semuanya.
Aku dan Malik menuju salah satu kedai kopi yang cukup sepi di dekat sini, Pram sudah pulang duluan.
“Kopi hitam panas seperti biasa ya Ser?” Malik melihat pesananku yang memang sudah ada di meja.
“Ya, Apa kabar Malik?” Aku memandangnya lekat, sementara dia hanya memandang kosong kearah kopiku.
“Kalau aku bilang baik-baik saja, apakah kau akan percaya?” Malik kali ini menatapku.
“Kau terlihat lebih kasual dan sporty dengan setelan kaos belel dan jeans bolong begitu. Oh ya, sepatu kets, sejak kapan? Apakah pacarmu sekarang ABG?” Aku tersenyum.
“Aku mencarimu, aku mencarimu selama dua tahun ini, maaf aku tidak punya waktu berdandan untuk menemuimu. Quin? seperti itu dia memanggilmu?” Malik mulai emosi.
“Ok dan kau menemukanku bukan?”
“Kau sudah menikah dengan lelaki itu?”
“Sudah, bukankah Ibuku datang untuk memberitahumu?”
“Ya, hanya pemberitahuan bukan undangan.”
“Kau kan tidak suka datang ke acara pernikahan, pernikahan kami pun sederhana, hanya kerabat saja yang kami undang.”
“Apakah kau bahagia Ser?” Dia sangat fokus pada apa yang benar-benar dia ingin tahu, jauh-jauh datang hanya untuk mengetahui apakah aku bahagia? Lelaki macam apa dia sebenarnya!
“Menurutmu?”
“Kau tersenyum dengan bebas dan menggandeng lengannya, kau bahagia jadi nyonya Pram?”
__ADS_1
“Lelaki tampan, memiliki kekayaan jauh diatasmu dan satu lagi, lebih kuat darimu, apalagi yang membuatku tidak mampu bahagia?” Aku tersenyum sinis, salah satu tanganku memegang ujung meja, aku gemetar mengatakannya.
Malik bangun dari duduknya, “Bagiku cukup, cukup kau bahagia, maka tugasku tuntas. Aku tidak akan menanyakan tentang hal yang pernah kau katakan, bahwa kau lebih baik menderita tapi bersamaku, aku tidak akan menuntutmu, aku hanya rindu dan melihatmu bahagia, cukup bagiku.”
Malik lalu pergi tanpa menoleh, aku masih memegang sudut meja agar badanku tertahan, agar aku tidak jatuh lunglai, kalau saja aku mampu aku akan berlari kepadamu, menarikmu dan mengajakmu mati bersama, kurasa itu lebih mudah daripada melewati hari tanpamu, Malik.
Setelah semua yang kuperbuat, meninggalkanmu!dan kau hanya katakan rindu ... harusnya kau memukulku seperti dulu kau memukulku di jembatan itu, ke mana Malik yang begitu perhitungan dan arogan? kenapa semua hilang hanya dalam waktu dua tahun Malik? Kenapa kau begitu terlihat seperti pengemis, bahkan kau memohon kepada Pram hanya untuk bicara denganku, sehebat apakah aku sampai membuat hidupmu begitu hancur! Papimu benar, aku adalah perusak dan pembawa sial bagi hidupmu, maka meninggalkanmu adalah langkah terbaik yang bisa kulakukan untukmu.
Aku berlari ke kamar mandi kafe ini, aku tidak tahan, aku tidak kuat melihatmu. Begitu sampai kamar mandi, aku menangis sejadi-jadinya, rasanya sakit sekali, aku memukul bagian jantungku, aku bahkan sesak nafas, sesakit inikah Malik?
Setelah puas menangis, aku keluar dari kamar mandi, kulihat Panglima dan Raden ada di depan pintu kamar mandi, mereka mengawasiku.
“Berapa jumlah yang kita miliki saat ini?” Aku bertanya.
“Kurang lebih 700an, superior hanya sekitar 150.” Panglima menjawab.
“Berapa yang mereka miliki?”
“Jumlah keseluruhan mereka adalah 200 masing2 memiliki lebih dari 1 dibelakang mereka, Paling banyak 30, jadi total sekitar 6000 pasukan.”
“Masih hanya 10 persennya yang kita miliki? Hitung dengan baik, berapa besar kemungkinan kita menang jika kita lakukan dalam waktu dekat ini.” Aku bertanya kembali pada 2 Karuhun utamaku.
“Dengan 700an sekutu di belakanmu, hanya 20 persen kemungkinan kita menang. Kita harus ekspansi besar-besaran Ser, ini tidak cukup, kita akan kalah telak jika nekat, bala tentara mereka jauh diatasmu.”
“Aku akan berbicara dengan Pak Hanif, kita akan ke pulau itu.”
“Tapi Malik?” Panglima bertanya.
“Aku tidak mau terlambat, kau tidak lihat keadaannya setelah dua tahun, kalau kita undur beberapa tahun lagi, kau fikir dia masih akan hidup!” aku membentak Panglima tanpa sengaja.
“Ayuk.” Aku memerintah mereka mengikutiku.
Hanya dua tahun dan aku seketika tidak mengenalimu Malik, kau yang tampan, kau yang rapih dan klimis, berubah menjadi seperti pengemis, mukamu seperti tak tidur berhari-hari tak makan berhari-hari, kemana semangat hidupmu Malik, Malikku sayang.
“Dimana kamu!” Pram membentakku.
“Di hanggar Pribadi kamu, aku mau terbang pakai Pesawat Cessna milikimu, aku harus cepat sampai di Hutan Timur itu.” Aku akan ke Hutan Timur, hutan yang berada paling timur di negeri ini, menyebrang lautan dan jarang ada penduduk, kecuali penduduk Ghaib.
“Ser, kamu gila, kamu lewat udara sendirian tanpa aku? Pilotku tidak ada yang bisa melindungimu di udara, kau tau udara tidak punya tertitori, siapa saja bisa menyerangmu!”
“Ya.” Aku menjawab singkat.
“Ser, tunggu situ jangan naik ok, kamu bakal dibantai disana, tidak ada otoritas di udara, semua bisa datang dan menghabisimu.”
“Pram, kau meremehkanku? Kau fikir 2 tahun ini apa yang kulakukan! aku akan segera terbang, pilotmu sudah kuperintahkan, awas kau kalau berani membatalkan, kupastikan kudepak kau dari pasukanku.” Aku mengancam dan kuputuskan sambungan telepon, lalu aku bersiap untuk naik pesawat pribadi Pram.
…
Aku sudah sampai di Hutan Timur ini, seperti biasa pertarungan sengit akan dimulai kembali, seluruh hutan ini sangat indah untuk para wisatawan, tapi untuk Kami, aku dan 700 Pasukanku ditambah 150 Superior, Hutan ini adalah arena bertarung.
Ya, aku Seira, Ayi Mahogranya Kharisma Jagat, aku datang ke hutan ini 2 bulan yang lalu, setelah cukup jauh mencari bala tentara yang bisa ditaklukan, dari berbagai tempat, hanya di pulau ini aku menemukan begitu banyak pasukan jahat yang tentu sulit ditaklukan, kudengar mereka yang tinggal disini, amat membenci musuhku, banyak dari mereka melipir ke Timur karena di pukul mundur dari Pasundan oleh para musuhku, aku kesini untuk menaklukan mereka, menjadikan mereka Pasukanku. Walau tidak mudah meanklukan mereka semua, tidak ada satu haripun kulewati tanpa bertarung, baik dengan Karuhun tanpa pemilik, maupun para pemilik Karuhun yang tinggal di sini layaknya Jin, walau mereka manusia yang tidak mau lagi tinggal bersama peradaban manusia modern, mereka tidak terjamah kekuasaan, kekayaan dan wanita tentunya.
Aku kesini berdua dengan Pram dua bulan lalu, Aam tidak kuijinkan ikut, bahkan dari pertama aku memulai ekspansi ini, dia harus kuliah dan jadi orang pintar seperti cita-citanya.
Setiap hari yang kulalui hanya satu, bertarung dan menaklukan, dihutan ini ada ribuan makhluk dengan berbagai wujud, aku tidak perduli mereka kuat saja atau sangat kuat, aku hanya sedang menghimpun banyak pasukan untuk melawan musuhku yang memiliki 6000 pasukan dibelakang mereka, sudah 2 tahun dan aku baru memiliki 700 pasukan, jumlah yang sangat kecil, makanya aku fikir aku perlu untuk memangkas waktu belanja bulanan menjadi tidak ada, aku akan berusaha mengambil makanan dari hutan ini, aku tidak boleh terlalu lama, aku takut Malik akan semakin terluka.
“Pram, gue telpon lu cuma mau bilang gue udah sampe, nggak usah jemput gue lagi ya, gue nggak perlu belanja bulanan lagi ok.” Aku telepon Pram melalui telepon satelit yang dia berikan padaku.
“Quin, aku fikir sudah waktunya Malik tahu, kamu lihat, kalian sama-sama kayak orang gila, yang satu bantai penghuni hutan, yang satu nyusurin semua lokasi cuma buat nyari satunya, nyesel aku cerita ke kamu masalah perjodohan adat ini, tahu bakal kayak gini, nggak bakal aku ceritain, ternyata Malik memang benar, hanya dia yang mampu melindungimu, aku bahkan tidak mampu melindungimu, aku memang kuat, tapi cintaku padamu belum sekuat Malik. Aku lelah melihatmu terluka, lagi dan lagi Quin!”
“Berisik lu, dah gue pemanasan dulu, katanya dari kemaren Raja dusun sebelah nyari gue, anaknya yang setengah kadal setengah anjing gue sekap, sengaja gue, biar babenya keluar, katanya dia punya senjata yang bisa buat 100 Makhluk langsung mati seketika, kalau senjata itu jadi milik gue, pasti gue mudah ngabisin pasukan sebelah.”
__ADS_1
“Ser, lu gila ya!” Bersamaan dengan makian Pram aku menutup sambungan teleponnya.
Kami sampai disini malam hari, suasana hutan malam hari memang mencekam, malam hari aku satu-satunya manusia disini, manusia yang terekam sebagai manusia tentunya di daftar kunjungan, memang terkadang ada turis, tapi mereka tidak akan berani masuk kedalam, kemarin ada satu kelompok nekat mendirikan kemah didalam hutan, akhirnya mereka tersesat, tepatnya disesatkan masuk ke Dunia Ghaib, mereka linglung karena melihat hal-hal yang seharusnya mereka tidak lihat, aku menemukan mereka setelah 3 hari mereka tersesat hampir bunuh-bunuhan karena tertipu makhluk Astral, aku menggeret mereka semua keluar hutan dan menghubungi tim penyelamatan untuk membawa mereka keluar hutan, total sudah sekitar 7 kali aku membantu tim bodoh yang nekat masuk ke hutan hanya untuk pamer atau sok-sokan, hutan bukan tempat bermain-main, hutan memiliki penduduk yang tidak bisa kalian bayangkan betapa ngeri dan kejamnya.
...
“Jadi belum menyerah juga kau.”
“Raja Bojabon,” aku tersenyum memandangnya, “biarkan wanita lemah ini beristirahat dulu baru dilanjutkan.” Aku melihat tangan dan kakiku penuh luka, lelaki ini bentuknya seperti manusia, berbeda dengan anaknya yang kusekap. Dia menghajarku dengan semua senjata yang dia miliki. Kujang, Karembo dan bahkan pecut milik Karuhun Pram saja tidak bisa menembus badan besarnya.
Semua Karuhun sudah kukerahkan, mulai dari Panglima, Raden, Bagus Heulang, Macam Srigala milik Mang Nariman, bahkan strategi Jasmine yang terkenal ampuh, tidak ada satupun yang mampu menaklukan Raja gila ini. Dia memburuku seperti binatang, wajar, aku menyekap anaknya.
“Kembalikan anakku, kau hanya ingin senjata ini bukan?” dia menunjuk goloknya, “rebut, jangan seperti pengecut.” Dia langsung menyabet goloknya kearah leherku, aku menghindar, aku kelelahan, ini sudah 3 hari 3 malam kami bertarung tanpa jeda, dia tidak butuh makan, aku manusia butuh makan dan istirahat, karena ini pertarungan penaklukan tidak ada yang boleh membantu kami, banyak penonton mengelilingi kami, bukan manusia tentunya.
“Aku akan kembalikan kalau kamu bersedia menjadi sekutuku.”
“Hei anak muda, berperang itu sudah cerita lama, aku dan 300 Rakyatku sudah hidup aman dan tentram di hutan ini, tidak repot berebutan lahan dengan kalian, manusia serakah.”
“Aku tidak memintamu untuk berperang berebut lahan, jadi sekutuku, jadikan aku berhutang budi padamu, kelak kau butuh bantuan, aku akan membantu dengan sukarela.” Aku membujuknya.
Dia kembali menghunus goloknya kearahku, kena! Sial, cukup dalam, sakit sekali ternyata, aku menangkap goloknya dan menendang badannya dengan sekuat tenaga, dia kaget dan goloknya terlepas, goloknya masih menempel di perut sisi kananku.
“Golokmu milikku sekarang.” Aku menunjuk goloknya yang masih menempel di perutku.
“Kembalikan anakku sekarang, ambilah golok itu jika kau mau.” Dia menunjuk goloknya.
“Bukan hanya golok ini, aku ingin sekutu.”
“Perempuan bodoh! Itu hal yang berbeda! Ok, kalau kau bersikeras, bagaimana jika kita membuat perjanjian?”
“Ayolah Pak Tua, kau tau aku tidak membuat perjanjian dengan sejenis kalian.“ Aku bersiap menyerang dengan Karembo Hejoku, kusabet kepalanya, dia terhuyung, kulilit tubuh bongsornya, kutancapkan Kujang tepat di didadanya, tidak sampai melukai jantungnya, aku tidak mau mengulang kesalahannya padaku, buru-buru kucabut kujangku dan Raja Dusun Setan ini kesakitan, meraung sejadinya.
“Kujangku sangat beracun, kau akan celaka jika dalam 3 hari kau tidak menemuiku dan setuju, kau akan kehilangan dirimu dan juga anakmu, setidaknya kalau kau Mati, anakmu bisa jadi penerus dan kita berdua tahu, aku dengan sangat mudah mengendalikannya, oh ya, satu lagi, Golokmu menjadi milikku.” Aku pergi meninggalkan kerumunan setan di tengah hutan ini, Panglima dan Raden mengikutiku dari belakang, beberapa pasukanku sedang menjaga anak Raja ini di dunia yang kuciptakan didekat hutan ini, tidak ada yang bisa melihatnya tanpa ijinku, makanya Raja Bojabon tidak bisa menemukan anaknya, anaknya memang aneh dan lemah, makanya bapaknya takut sekali kalau dia celaka.
Aku terus berjalan kearah tempat tinggalku, aku tinggal di pinggir hutan dalam, aku sengaja tinggal disitu, karena disana banyak makhluk buas lalu lalang, sehingga mudah memilih siapa yang bisa dijadikan sekutu.
“Sebentar.” Aku merasa ada yang mengikuti kami.
“Siapa Ser?” Panglima bertanya.
“Entahlah, aku tidak bisa begitu mencium bau, ini manusia atau Makhluk, golok ini sepertinya semakin dalam, aku jadi tidak fokus karena sakit.”
“Aku akan memburunya.” Panglima dan Raden berlari mencari asal suara.
Aku meneruskan perjalananku, aku berlari secepatnya karena aku sekarang dalam keadaan tidak bisa melawan siapapun, aku sedang terluka cukup parah dan kelelahan setelah 3 hari 3 malam bertarung, Sial! Kenapa langkah itu makin dekat, aku berlari semakin cepat untuk menghindar, ku siapkan Kujang, takut-takut kalau aku terpaksa harus berkelahi.
Aku terus berlari tanpa menoleh kebelakang, sebentar lagi aku akan sampai di batas pagar Ghaib yang kami ciptakan untuk menjaga kediaman kami dari serangan yang tidak diinginkan, baik yang mengincar kami atau peperangan antar jin, di hutan ini sering terjadi hal semacam ini di malam hari.
Sebentar lagi sampai di dekat kediamanku, sebentar lagi! Aku terus berlari, aku harus selamat, aku tidak boleh tertangkap saat ini, aku harus berjuang, demi Malik ....
BUKK ....
Tubuhku mengenai sesuatu, seperti tubuh Manusia. Samar, aku sepertinya kehabisan banyak darah, aku bahkan tidak tahu siapa yang kutubruk, sayangnya, zona amanku pun belum kujangkau, aku bergumam, “Malik ... ” aku hanya ingin memanggil namanya, aku takut Malik, takut kalau aku tidak bisa menemuimu lagi.
Lalu perlahan kudengar suara yang begitu khas dan sangat kukenal, “Ser, aku disini sayang.”
Suara Malik, ku paksa mataku terbuka melihat sesosok yang kutubruk, aku mencoba melihat wajahnya, Ya Tuhan, apa yang dia lakukan disini, untuk apa dia kesini, disini terlalu bahaya Malik!
Aku lelah sekali dan semua terasa gelap.
____________________________________
__ADS_1
Catatan Penulis :
Aku rindu mereka berdua.