Karuhun

Karuhun
Episode 60 : Kerinduan


__ADS_3

POV MALIK


Sudah dua tahun ini aku pergi mencarimu kemana-mana, aku terlalu kaget hari itu, dua tahun lalu, hingga aku malah pergi bukannya menahanmu.


Aku mulai mencarimu setelah hampir 5 bulan kau pergi, aku memutuskan mencarimu karena aku merasa ada yang aneh, Mamah datang dan mengatakan kau sudah menikah, aku melihat Mamah menangis dan memelukku, lalu dia berkata, bahwa aku adalah anaknya sampai kapanpun, ini aneh, anaknya menikah dengan seorang pemuda kaya raya dan tampan, lalu kenapa ibunya datang kerumah mantan anaknya dan menangis seolah putrinya sedang dalam bahaya, bukankah dia seharusnya bahagia karena putrinya menikah, tapi dia seperti memberi isyarat padaku, bahwa putrinya tidak baik-baik saja.


Setelah itu aku mencarimu kemana-mana, seluruh jejakmu, jejak Karuhunmu dan Jejak semua saudaramu, bahkan jejak seluruh Kharisma Jagat di negeri ini, tapi kamu menghilang seperti ditelan bumi, kau menghilang, Pram pun menghilang, apa yang kalian berdua lakukan? Kemana kalian.


Aku menyusuri setiap daerah yang mungkin kau pernah datangi, bahkan yang mungkin belum pernah kau datangi, Hanif menghubungiku berkali-kali, dia memegang perusahaan dibantu adikmu Ser, Seina.


Papi, Mami dan Maliyah juga mencariku, tapi aku terlalu takut kau akan celaka, aku tidak perduli dengan keadaanku, makan dan tidur dimanapun aku tidak perduli, dimanapun tidak akan nyaman tanpamu Ser.


Berhari-hari, berbulan-bulan sampai genap dua tahun kau pergi aku akhirnya menemukanmu, salah satu informanku bilang bahwa kau dan Pram sesekali pergi ke daerah sini, ke Pasar disini untuk berbelanja, tanpa fikir panjang aku langsung berlari secepatnya karena lokasiku kebetulan tidak jauh dan disanalah aku melihatmu, menggenggam tangannya dan kalian tersenyum membawa barang belanjaan kalian, kamu terlihat bahagia sayangku, seperti itukah hatimu sekarang? bahagia, tanpaku ....


“Kau sudah menikah dengan lelaki itu?” kulihat Seira menatapku dengan sangat tenang, entah kenapa aku bahagia, bahwa prasangkaku salah, kau tersenyum, kau baik-baik saja, aku hampir gila memikirkanmu dan khawatir, takut terjadi apa-apa padamu, tapi ternyata kau baik-baik saja, demi Tuhan aku bahagia Ser.


Kau mengatakan bahwa kekasihku seorang ABG makanya penampilanku begitu casual, kau salah, kekasihku adalah kau, kau yang membuatku seberantakan ini, aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku makan, karena setiap ada informasi yang mengatakan melihatmu, aku langsung berlari, bergelantungan di bis, kereta atau kapal laut, aku tidak bisa menunggu protokol yang panjang untuk menemuimu, aku kalut Ser, tanpamu membuatku hampir gila, tanpa Seira Malik hanyalah seorang manusia biasa, tanpa makna.


...


Pertemuan terakhir kita membuatku merasa ringan, sangat ringan, aku melihatmu bahagia cintaku, seperti yang kubilang padamu, cukup, cukup kau bahagia, aku akan melanjutkan hidupku, memulai hari-hari tanpamu, mungkin mengejar kembali cita-citaku, sampai dia datang, datang ke kantorku, menemuiku dan Hanif.


“Jadi apa tujuanmu kesini?” kami bertiga berbicara di ruanganku di kantor, aku tidak terlalu suka dia datang, entah kenapa aku merasa gugup, takut, takut terjadi apa-apa denganmu Ser.


“Kopi, jangan terlalu pahit, ini akan menjadi pembicaraan yang cukup panjang, rasanya tidak sopan kalau minum saja kalian tidak tawari.” Pram meminta kopi. Ya, Pramudya Aksara, lelaki yang merebut cintaku, katakanlah begitu walau dialah pemilik Seira sebenarnya sedari awal.

__ADS_1


Aku memerintahkan OB untuk mengambilkan kami semua kopi dan aku kembali bertanya, ada apa dia datang kesini.


“Seperti yang kalian tahu Seira adalah istriku saat ini.”


“Ok, kau datang tidak sedang pamer kalau kalian menikah, kan?” Hanif marah.


“Itu bohong, kami tidak menikah.” Mimik muka Pram berubah, serius dan dalam.


“Terakhir kali aku melihat kalian memakai cincin yang sama, cincin batu merah delima pada jari manis kalian.” Aku kembali bertanya.


“Ya, itu untuk mengelabui musuh Seira, termasuk kamu.”


“Maksudnya?” Aku kaget, siapa musuh Seira dan kenapa juga dia ingin membohongiku seperti membohongi semua musuhnya.


Sementara aku bingung, kenapa Seira berubah, kenapa dia menjadi gadis yang sulit ditebak.


“Jadi kalian belum menikah dan kau hanya menemani kegilaannya? Kegilaan apa yang kau maksud?” Aku bertanya.


 


 


 


 

__ADS_1


“Dia banyak bertarung dengan makhluk-makhluk itu, dia menghimpun pasukan, setelah menggali banyak hal tentang pernikahan adat ini, dia menemukan hal yang tidak lazim dari pernikahan adat ini, selama dua tahun dia pergi dari satu lokasi ke lokasi lain dan akhirnya dia semakin mantab untuk bertarung, melawan pernikahan adat.”


“Dimana dia sekarang? Siapa yang hendak dia lawan?” Aku bingung dengan semua ini, 2 tahun aku mencarinya dan 2 tahun juga dia berubah banyak.


“Aku akan beritahu lokasinya, tanyakan sendiri apa tujuannya dan siapa yang hendak dia lawan.” Pram tidak ingin memberitahuku secara utuh.


“Kenapa kau memberitahuku, kenapa kau menyerah dengan Seira? Kalau kau tidak memberitahuku, maka bisa saja dia menjadi milikmu, walau memang butuh waktu.” Aku bingung dengan langkah yang Pram ambil, sepertinya dia bukan tipikal pengecut dan lari.


“Dia tidak akan menjadi milikku, walau sampai kapanpun, cintanya milik lelaki lain, dia bahkan bertarung segila ini hanya untuk masa depan kalian, katakanlah, ini hadiahku untuk kalian, aku memang mencintainya, tapi aku rasa memilikinya bukan ide bagus, aku hanya akan membuatnya menderita dalam sangkar pernikahan.”


Setelah penjelasan panjang lebarnya, lalu Pram memberitahuku bahwa Seira ada hutan paling timur negeri ini, aku dan Hanif bergegas pergi kesana, kami hanya membawa apa yang bisa kami pegang.


“Kau terkejut Malik?” Hanif bertanya padaku ketika kami sudah di Pesawat Cessna milik Pram, kami dipinjamkan karena untuk sampai kesana tidak bisa dijangkau dengan pesawat komersil biasa.


“Aku kecewa, kenapa aku tidak tahu apa-apa Nif.” Aku tertunduk.


“Kalian itu saling mencintai itu yang paling penting dan kenyataannya dia masih milikmu Malik.” Kakakku yang begitu sabar menenangkanku, aku tidak pernah berkata terima kasih pada Hanif, dia selalu ada untukku, karena itu aku bersyukur memilikinya sebagai kakakku.


Begitu kami sampai di hutan aku langsung mencari tempat tinggal Seira, karena kata Pram lokasi tinggalnya tidak sulit dicari, yang penting masuk kedalam hutan, kami tiba disana siang hari, aku dan Hanif berjalan sampai sore, kami sudah masuk cukup dalam, sampai aku melihat seseorang sedang berlari, aku mengejarnya, lalu dia berhenti, aku tidak yakin siapa dia, manusia atau ‘mereka’, tapi begitu aku melihat Panglima dan Raden aku yakin itu Seira, aku berlari mendekat, tapi dia berlari semakin menjauh, aku berlari memutar untuk mengejarnya, aku berlari secepat yang aku bisa, begitu aku tepat di depannya, Seira jatuh menubruk tubuhku, aku melihat bajunya terkoyak di banyak tempat, wajahnya hitam karena lumpur dan di perutnya tertancap golok, ya Tuhan apa yang dia lakukan disini, apa yang dia cari sehingga dia seperti ini, lalu kudengar dia memanggil namaku, entahlah karena dia lihat aku atau dia memang berharap aku menolongnya, aku menjawabnya dan dia pingsan dalam pelukanku.


_________________________________


Catatan Penulis:


Dan sang pecinta itupun saling bertemu, mereka mendapatkan karma atas kesetiaan yang tidak pernah pudar yang mereka pegang di tangannya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2