Kaya Mendadak

Kaya Mendadak
Diantar Ayang


__ADS_3

Roula menatap poto orang tuanya dia masih seperti mimpi mengetahui kenyataan ini, perlahan dia mengelus poto ibunya yang cantik jelita lalu mengelus poto ayahnya yang mirip dirinya dia baru mengerti kulit putihnya yang seperti susu adalah gen dari ayahnya karena kulit orang jawa asli adalah sawo matang atau kuning langsat.


Saat ini Ola masih di mansion tuan Hartono dia tiduran di kamarnya sambil memeluk poto orang tuanya dan membaca suratnya berulang-ulang, dia meraih ponselnya untuk memberi tau Mila bahwa dia akan nginap di mansion.


"hallo Mil"


"hallo La, kenapa suaramu mindeng begitu kamu kena flu? Padahala tadi pagi kamu baik-baik aja"


"gue tidak flu Mil tapi gue lagi kangen orang tua gue jadi melow nih"


"kenapa tidak telpon atau vc aja atau lo datang ke Jogja atau orang tua lo suruh kesini, pake nangis segala kaya bocil"


"lo mah banyak ataunya Mil ribet tau"


"ya ilah di kasih solusi malah gitu"


"ya udah makasih ya solusinya bestie, eh Mil hari ini gue enggak balik ke butik ya sampai besok juga gue masih di mansion ada urusan dengan daddy"


"oh ya udah gue kerja rodi aja sendirian, lo tenang aja di sana"


"sorry ya Mil lo harus kerja roddi, tapi tenang nanti gue tambahin bonus"


"wih asik banget bakal dapat bonus, jadi tambah semangat ni kerjanya"


"iya udah gue tutup ya telponnya, selamat bekerja bestie. Semangattt"


"semangat, jaga kesehatan lo kalau kangen orang tua lo datangin jangan mewek ok"


"siap mak"


"dih"


Mila pikir Ola kangen pak Anwar dan bu Eem makanya dia suruh didatengin ke Jogja padahal Ola kangen orang tua kandungnya yang tak mungkin bisa bertemu lagi.


Ola menutup telponnya dia tenang kalau sudah memberi tahu sahabatnya, dia kembali menatap poto orang tuanya ada rasa sakit di hatinya karena dia baru mengetahui orang tua sebenarnya.


Walaupun sudah di jelaskan karena alasan sangat berbahaya kalau Roula di ketahui publik anaknya tuan Kim dan nyonya Merlyn, tapi dalam hati kecil Ola dia ingin membuktikan kepada orang-orang bahwa dirinya keturunan Kim dan masih hidup. Namun Ola harus mengubur dulu keinginannya karena dia belum mengetahui siapa musuh orang tuanya yang sebenarnya.


Walaupun paman tuan Kim sudah meninggal tapi ada anaknya yang masih berkeliaran di perusahaannya makanya Ola diminta jangan gegabah kata tuan Hartono harus tetap waspada di manapun.


Jam tujuh malam Ola keluar kamar karena di panggil nyonya Sri untuk makan malam, dia berjalan menuju meja makan yang sudah di tunggu tuan rumah.


"matamu sembab La, yang sabar ya"


Helmi mengelus punggung jari tangan Ola, dia memberi semangat kepada sahabat kecilnya yang sekarang sudah menempati hatinya tapi dia belum mengutarakannya karena waktunya belum pas.


"dad dimana kuburan orang tua Ola?"


"di pemakaman umum xxx"


"Ola mau ke sana ya dad"

__ADS_1


"belum bisa nak, soalnya itu pemakaman mewah setiap pengunjung yang datang ke sana harus menunjukan identitasnya, yang sabar dulu nanti daddy cari tau dulu caranya supaya aman"


"gitu ya dad"


"iya nak, sekarang ayo makan dulu yang banyak supaya kamu kuat"


"iya dad, terima kasih"


Helmi mengambilkan lauk pauk dan menarohnya di piring Ola, nyonya Sri senyum-senyum melihat anaknya sedang jatuh cinta.


"terima kasih mas"


"sama-sama, ayo di makan atau mau mas suapin"


"ih mas biar sama aku sendiri"


Roula tersipu malu di perlakukan mas Helmi nya sangat manis jantungnya berdetak kencang dan mukanya memerah.


"tidak usah malu-malu dulu aja di suapin mas kamu gak apa-apa"


"ya bedalah dulu kan kita masih kecil"


Ola makan sambil menunduk dia menyendok makanannya pelan-pelan karena grogi di tatap Helmi.


Selesai makan semua berkumpul di ruang keluarga, setelah beberapa saat nyonya Sri menggenggam tangan Ola.


"kita ke kamar momy yuk, momy mau bicara urusan perempuan sebentar"


"kenapa tidak di sini aja mom, Helmi juga kan pengen tau?


Nyonya Sri menggandeng tangan Ola ke kamarnya, setelah masuk beliau mengajak Ola duduk di sofa.


"sayang maaf ya kalau mommy bertanya secara pribadi, kamu gak apa-apa kan?"


"gak apa-apa mom, silahkan mau bertanya apa?"


"begini sayang emm... kamu kan pernah nikah sama Aditia walaupun kemudian di batalkan, tapi kamu pernah melakukan hubungan suami istri kan dengannya?"


"tidak pernah mom, kami tidak pernah tidur bersama apalagi melakukan hubungan suami istri dan kami juga tinggal terpisah dengan mas Adit"


"tinggal terpisah bagaimana, bukannya kalian tinggal di rumah yang sama?"


"tidak mom, Ola di rumah mas Adit dan mas Adit tinggal di apartementnya"


"sejak kapan Aditia tinggal di apartement?


"sejak Ola tinggal di rumah mas Adit seminggu sebelum nikah Ola tinggal sendirian, dan setelah menikahpun kami tidak pernah serumah"


"bukannya kalian habis menikah tidur di hotel yang di pesan daddy?"


"tidak mom, hari itu juga Ola pulang di antar mas Adit sampai depan rumah dan mas Adit langsung ke apartementnya"

__ADS_1


"maafkan kami ya yang menikahkan kalian berdua, kami pikir kalian akan baik-baik aja tapi akhirnya begini"


"tidak apa-apa mom ini sudah jalan hidup Ola, mommy tidak usah merasa bersalah"


"terima kasih sayang, smoga kamu cepat mendapatkan suami yang mencintai kamu dan menyayangimu setulus hati"


"amie mom"


Akhirnya obrolan pribadi mereka selesai di lanjut dengan obrolan tentang fesyen dan kecantikan.


-


-


-


Pagi-pagi Ola sudah siap berpakaian rapi karena hari ini mulai masuk kuliah, dia terlihat cantik dan menarik apalagi di lihat lelaki yang menyukainya secara diam-diam.


Helmi menatap Ola penuh cinta dia ingin segera mengutarakan isi hatinya.


"ke kampusnya di antar sama mas ya sekalian berangkat ke kantor"


"tapi nanti Ola ganggu waktu mas Helmi, biar Ola bawa mobil sendiri aja mas"


"tidak apa-apa, nanti kalau pulang mas jemput lagi"


"entar merepotkan mas"


"tidak akan, yuk kita berangkat"


Helmi menggenggam tangan Ola dan menggandengnya ke luar rumah, tuan Hartono dan nyonya Sri saling pandang sambil tersenyum mereka juga beranjak dari meja makan keluar rumah menyaksikan anaknya yang lagi jatuh cinta.


"mom dad kami berangkat dulu ya"


"iya hati-hati di jalan"


Helmi membuka pintu mobil untuk Ola setelah Ola duduk dan memasang sabuk pengaman, dia baru mengitari mobil dan masuk dari pintu mobil satunya dan duduk di belakang kemudi.


Mobil yang di kemudikan Helmi meluncur ke jalan raya diiringi dengan lambaian tangan kedua orang tuanya.


Nyonya Sri dan tuan Hartono senang anaknya sudah menemukan cintanya apalagi dengan Ola yang sudah beliau anggap anak dari kecil, walaupun awalnya sempat ragu karena pernah menikah dengan Aditia. Sekarang semuanya sudah jelas jadi tidak ada keraguan lagi.


"nanti kalau sudah selesai hubungi mas ya, nanti mas jemput"


"iya mas hati-hati di jalan"


"iya, bye sayang"


Helmi melajukan mobilnya perlahan dia tersenyum melihat Ola mematung di parkiran.


"bye"

__ADS_1


Deg... Deg jantung Ola berdetak kencang, dia pegang dadanya sambil bergumam "sayang? Apa aku salah dengar ya?"


Ola memikirkan ucapan Helmi barusan, membuat dia tersipu malu dan berlari masuk kelas


__ADS_2