Kaya Mendadak

Kaya Mendadak
Mendapat Hadiah Dari Mertua


__ADS_3

Selesai pemberkatan Roala dan Aditia mendapatkan ucapan selamat dan Do'a dari orang tua dan tamu yang hadir di sana.


Potografer mengarahkan gaya untuk mengambil gambar supaya terlihat natural dan indah hasinya, poto-poto selesai mereka bersiap untuk acara berikutnya.


Setelah itu mereka menuju restauran yang telah di pesan untuk tamu undangan untuk makan - makan.


Tuan Hartono, nyonya Sri Rahayu, pak Anwar, ibu Eem, Mona dan suaminya juga kedua anaknya, Aditia dan Roala mereka duduk di satu meja untuk makan bersama.


"Kamu cantik dari dulu sayang, sekarang malah tambah cantik setelah puluhan tahun tidak bertemu"


Nyonya Ayu membuka percakapan, dulu dia sangat menyukai Ola ketika Ola masih kecil sampai usia dua belas tahun. Namun pas SMP Ola tinggal di Asrama sampai SMA di kota yang berbeda.


"Ah bisa aja nyonya padahal nyonya lebih cantik, walaupun usia nyonya tidak muda lagi tapi masih terlihat cantik dan terawat"


"wah kamu pintar membuat orang senang ya La, oh ya kamu itu sudah menikah dengan putra saya jadi manggilnya jangan nyonya, panggil saya momy seperti Adit dan Helmi juga Mona ya"


"Baik momy" jawab Ola


"Aunty seperti prinses ya mom cantik?"


Anaknya mona menatap Ola sambil senyum - senyum.


"Iya aunty memang cantik sayang, nanti kalau Ica menikah akan seperti aunty Ola pake gaun princes" jawab Mona


"Kapan Ica menikah mom?"


"Nanti kalau sudah dewasa sayang, sekarang usia Ica baru enam tahun masih lama"


"Benarkah oma, opa?"


Ica menatap nenek dan kakeknya menunggu jawaban dari mereka.


"Benar sayang, nah sekarang ica maem dulu yang banyak biar cepet besar"


"Baik oma"


Mereka melanjutkan makannya sambil bercerita banyak hal, Adit diam saja seperti kurang nyaman ngumpul dengan keluarga besar. Sesekali dia melihat ponselnya yang sering menyala tapi tidak pake nada.


"Oh ya tuan, den Helmi kemana ko tidak kelihatan?" pak Anwar bertanya kepada tuan Hartono.


"Helmi masih di luar negeri dia sedang sibuk kuliah tidak bisa ngambil cuti karena baru libur sebulan yang lalu"


"Ooh begitu ya"


"Iya pak Anwar, padahal Helmi teman bermain dengan Ola ya kalau di perkebunan, Ola masih ingat dengan Helmi nak?"


Tuan Hartono menatap Ola sambil bertanya dia membuka ponsslnya membuka galeri poto.

__ADS_1


"ingat tuan... Eeh dad... Cuma pasti wajahnya sudah berubah, seperti dady waktu datang ke rumah Ola sampai tidak mengenalinya dad. Seperti apa ya sekarang kak Helmi?"


"Ini poto Helmi sekarang"


Tuan Hartono menyodorkan ponselnya kepada Ola, terlihat poto Helmi yang gagah dan tampan. Tidak tau kenapa hati Ola menghangat melihat teman masa kecilnya itu.


"Oh ya nak ini hadiah pernikahan dari dady untuk kamu, terimalah walaupun hanya uang saku"


Tuan Hartono menyodorkan buku tabungan dan kartu ATM kepada Ola.


"Terima kasih dad Ola akan menggunakannya dengan baik"


"Sama-sama nak dan pin ATM nya tanggal lahir kamu nak"


"Iya dad terima kasih banyak atas kemurahan hatinya"


"Iya nak"


Roala memasukan buku rekening dan ATM nya ke dalam tas, dia belum melihat isinya karena menghargai hadiah dari pak Hartono. Apapun, berapapun yang di berikannya pasti Ola akan terima dengan senang hati.


"Dan ini hadiah dari momy untuk kamu sayang"


Nyonya Ayu memberikan kotak perhiasan kepada Ola.


"Terima kasih momy"


Ola membuka kotak perhiasan, dan terlihat kalung dengan liontin berlian yang sangat indah.


"Woww indah sekali, terima kasih mom"


"Sama-sama sayang pakailah sekarang"


Ola memakai kalung itu di bantu oleh ibunya dia benar-benar berbeda, terlihat mewah dan elegan.


Adit melihat sekilas ke arah Ola, lalu dia mengambil ponselnya lalu memainkannya. Dia benar-benar sangat bosan di sana.


"Dan ini hadiah dari mbak dan mas mu, tiket bulan madu ke Paris untuk minggu depan"


Mona menyerahkan dua tiket pesawat dan vocer belanja ke hadapan Ola, Ola melirik suaminya yang dari tadi tidak bicara sedikitpun dia hanya asik dengan ponselnya. Dia meraih tiket dan vocer dari mbak Mona.


:Terima kasih mbak dan mas, wah hari ini banjir hadiah. Smoga kalian semua tambah sukses"


"Sama-sama La, tuhan memberkati kita semua"


"Amien"


"Begini La, bapak dan ibumu nanti akan tinggal di mansion. Lusa kami akan ke Jogja lagi bersama -sama, Ola dan Adit menginap di hotel dulu selama tiga hari tadi daddy sudah memesannya untuk kalian. Adit dengar daddy tidak?"

__ADS_1


Tuan Hartono menatap Adit yang asik dengan ponselnya, dia agak kesal melihat kelakuan anaknya yang cuek.


"Iya ded"


"Perlakukan istrimu dengan baik, dan berikan kami cucu yang lucu - lucu"


"uhuk...uhuk"


Aditia tersedak mendengar daddynya minta cucu, padahal niatnya menerima perjodohan hanya untuk mendapatkan warisan. Mengapa harus minta cucu darinya pikirnya.


Ola menyodorkan air minum kepada suaminya, dia langsung tertunduk mengingat perjanjian kontrak yang tidak boleh masuk kamar suaminya dan dari kemarin juga Adit tidak pernah datang kerumah selama seminggu dia di rumahnya.


"Iya dad tapi tidak sekarang, kami kan belum saling mengenal"


Akhirnya Adit mengeluarkan suaranya.


"Yang sabar ya sayang menghadapi sikap suamimu nanti, dia orangnya sibuk jarang ada di rumah kerja terus riap hari walaupun minggu"


Nyonya Ayu menggenggam tangan Ola sambil tersenyum.


"Iya mom" Ola membalas genggaman dan senyuman mertuanya.


"Kurangi dulu jam kerja kamu sebelum kalian punya anak, kasian istrimu nanti kesepian. Pulanglah lebih sore jangan terlalu larut seperti kemarin-kemarin"


Sambung nyonya ayu kepada Adit.


"Akan Adit usahakan mom"


"Bagus, cobalah kalian sering bersama untuk saling mengenal satu sama lain"


"Baik mom"


Ibu Eem menitikan airmatanya dia menangis bahagia menyaksikan anak semata wayangnya di sayangi mertua dan iparnya. Dia menggenggam tangan pak Anwar di bawah meja, pak anwar mengerti dan membalas genggaman tangan istrinya sambil mengelus punggung tangan istrinya.


"Nduk, baik-baik ya di sini, hormati suamimu dan keluarganya, turuti pepatahnya dan jangan melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Ibu dan bapakmu selalu mendo'akan kebahagianmu"


Ibu Eem memeluk anaknya dengan erat dia sedih sekaligus bahagia melihat anaknya sudah menikah.


"Iya bu, ibu dan bapak jangan khawatir di sana. Ola akan berusaha jadi istri yang baik bu"


"Nak Adit titip anak saya, bimbinglah dia. Kalau kelakuannya membuatmu marah janganlah kasar terhadapnya, beri tahu pelan-pelan pasti dia akan mengerti. Dan nanti kalau libur datanglah ke Jogja kami menunggu kalian di rumah"


Pak Anwar menepuk bahu menantunya.


"Akan saya usahakan pak" jawab Adit datar


Adit mengibas-ngibaskan pundaknya dia tidak suka pundaknya di pegang pak Anwar, dia ingin segera pergi dari sana yang membuatnya bosan.

__ADS_1


__ADS_2