
Roula baru pertama kali datang ke rumah baru orang tua angkatnya, sekarang rumahnya paling mewah di kampung itu para tetangganya juga sangat menghormati pak Anwar dan bu Eem. Yang dulu di hina dan di anggap remeh ternyata sekarang di puji-puji dan di sanjung-sanjung.
"sayang lagi apa nak?" kata Ola melihat putrinya sedang jongkok di halaman rumah.
"ladih metik buah unu mom" jawab Dal Mi tanpa menoleh ibunya.
"lho ini kan terung ungu masih kecil sayang" kata Ola, yang di petik Dal Mi ternyata terong ungu yang baru jadi buah.
"buahna lutcu mom sepelti klayon, tapi dak enak" kata Dal Mi sambil melempar ****** terong bekas gigitan dia.
"terong itu harus di masak dulu sayang, dan buahnya harus yang sudah besar baru enak" kata Ola
"yuk cari yang besar" lanjut Ola sambil memegang tangan kecil anaknya.
"nah ini sayang baru boleh di petik, ini cukup besar untuk di masak" kata Ola
Dal Mi bertepuk kegirangan lalu dia memetik terong -terong yang siap di masak, baru dapat lima biji sudah tidak ada lagi yang besar karena pak kosasih nanamnya hanya beberapa pohon saja cukup buat sekali makan aja swtiap metiknya karena di halaman itu di tanami sayur mayur beberapa jenis.
"abis ya mom, nda ada ladi yang besal" kata Dalmi.
"iya sayang, tapi ini juga cukup untuk sekali makan nanti pas di belado bisa di tambahin telor rebus supaya banyak" jawab Ola
"ooh beditu" kata Dal Mi
Selain terong dia juga metik timun, tomat dan kacang panjang juga cabe yang sudah merah, Dal Mi sangat asik memetik sayuran dia senang melakukan itu.
"sayang udah cukup yuk tunggu mereka besar dulu, nanti kalau sudah siap panen kita petik lagi ok" kata Ola kepada putrinya.
"ot mom" Dal Mi mengacungkan jempolnya.
Daniel asik main robot-robotan dengan daddynya di teras, sesekali nyamperin adiknya yang sedang metik sayuran dengan mommynya.
Rumah ini begitu damai jauh dari hiruk pikuk kota yang berisik, udara di sini juga masih bersih tidak seperti di ibu kota yang penuh polusi
Para oma dan opa menyaksikan kelucuan tingkah polah cucu mereka, cucu yang pintar, ganteng dan cantik, membuat hidupnya merasa sempurna.
"udah metik sayurnya sayang?" tanya Helmi
"udah ded, kata mommy nanti tunggu besal dulu buah telongna" jawab Dal Mi sambil duduk di pangkuan daddynya.
"cuci tangan dulu sayang, yuk" kata Ola kepada anaknya.
"iya mom" jawab anaknya.
__ADS_1
Mereka masuk rumah untuk menaruh sayuran dan cuci tangan, setelah itu kedua anaknya kembali ke teras melanjutkan permainannya.
"mbak, nanti terong ini di belado ya tambah telor rebus sekilo supaya cukup buat semua" kata Ola kepada art bu Eem.
"iya nyonya, terus kacang panjangnya di pasak tidak?" kata art itu.
"tidak usah mbak, di pencok aja nanti sebelum makan sepertinya enak dengan ikan asin peda" kata Ola dia ingat dulu ketika masih gadis ibunya sering mencok kacang panjang dan bakar ikan asin peda.
"iya nyonya, tapi ikan asin pedanya belum beli" jawab art itu.
"ya udah biar aku aja yang beli, aku kangen dengan ibu warung itu" kata Ola.
"ooh iya nyonya" jawab art itu.
Ola kembali ke dalam rumah lalu dia menghampiri mertua dan orang tuanya.
"bu toko sembako yang dulu masih jualan tidak?" tanya Ola kepada bu Eem.
"masih nak, malah sekarang makin lengkao" jawab bu Eem
"aku mau beli ikan asin peda, sepertinya enak di makan dengan pencok kacang" kata Ola.
"oh gitu, yuk ibu antar" jawab bu Eem sambil berdiri.
"dad, pak, kami ke warung dulu" kata Ola.
"iya hati-hati nak" jawab tuan Hartono dan pak Anwar hampir bareng.
"siap" jawab Ola
Ola, nyonya Ayu dan bu Eem berjalan ke depan, Helmi dan kedua anaknya sedang asik menggambar.
"mas aku mau ke warung dulu bareng mommy dan ibu" kata Ola.
"iya sayang, hati-hati" jawab Helmi
Setelah ijin dari suaminya, Ola pergi ke warung sembako bersama mertua dan ibunya.
Hanya tiga menit berjalan mereka sampai di toko sembako itu.
"permisi" kata Ola karena di toko tidak ada orang yang jaga.
"tunggu sebentar" terdengar suara ibu-ibu menjawab dari dalam.
__ADS_1
Bu Eem langsung memilih ikan asin peda, cumi-cumi asin dan ikan sepat langsung di kantongi yang sudah tersedia di sana, beliau sudah terbiasa milih sendiri atau ngambil sendiri dia sekalian milih telor 30 butir biasanya jumlah segitu 2kg atau di tambahin satu atau dua kalau belum pas.
"eh ada bu Eem maaf ya agak lama nunggu, gak tahan abis dari toilet" kata ibu warung itu.
"gak apa-apa bu, aku udah milih sendiri tuh tinggal nimbang" jawab bu Eem.
"apa kabar bu Entin?" kata Ola menghampiri ibu warung itu.
"baik nak, ya tuhan... ini Ola ya? Cantik banget" kata ibu warung sambil menatap Ola dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"iya bu ini aku Ola" jawab Ola sambil memeluk ibu Entin.
"ya ampun, ibu sampai pangling lihat penampilan kamu nak. Kamu tambah cantik dan berkelas" kata ibu Entin sambil membalas pelukan Ola.
"oh ya bu, kenalin ini mertua Ola" kata Ola sambil memegang tangan mertuanya.
"hallo" kata nyonya Sri Rahayu.
"hallo nyonya, oh ini nyonya Ayu yang sering ibu-ibu ceritain yang punya perkebunan itu ternyata masih muda dan masih cantik ya, ibu sering mendengar cerita mereka tapi baru tau aslinya sekarang. Benar kata mereka, nyonya cantik dan anggun" kata bu Entin nyerocos sambil menjabat tangan nyonya Sri Rahayu.
"biasa aja bu saya sudah tua, sudah 65 tahun" jawab nyonya Sri Rahayu.
"saya kira masih 40 tahun, nyonya cantik serasi dengan menantunya yang sangat cantik" kata bu Entin lagi.
"si ibu bisa aja, yuk timbang belanjaannya" kata Ola sambil mengusap punggung ibu Entin.
Bu Entin menimbang telur dan semua ikan asin, setelah sesuai timbangannya Ola membayar semuanya setelah itu mereka pamit pulang.
"mari buk, kami pamit pulang" kata Ola.
"iya nak cantik, terima kasih ya sudah berbelanja di warung ibu" jawab bu Entin.
"iya bu, salam ya buat Tuti, oh iya Tuti dimana sekarang?" kata Ola dia teringat teman sekolahnya anak ibu warung.
"Tuti di Semarang ikut suaminya" jawab bu Entin.
"oh ya, sudah punya anak berapa Tuti bu?" tanya Ola.
"Tuti anaknya dua, dia tidak mau banyak anak soalnya dia sibuk kerja. Nak Ola punya anak beraoa?" kata bu Entin balik bertanya.
"sama, aku juga punya dua bu" jawab Ola.
Lalu mereka pamit lagi ke bu Entin, setelah itu akhirnya mereka kembali ke rumah bu Eem.
__ADS_1