
Helmi cemas mendengar istrinya berteriak di telpon dan tidak bicara lagi sedangkan telpon masih tersambung, dia memanggil pengawal Roula yang berlari menuju parkiran dan pengawal satunya lagi menunggu di mobil.
"istri saya mana? Bukannya tadi kamu mengikuti istri saya?" Helmi bertanya dengan nada tinggi sambil menutup lobang untuk suara telpon dengan tangan supaya tidak terdengar ke sana karena cemas.
"tadi saya kebelet dan masuk toilet pria, setelah nyonya masuk toilet wanita tuan dan dua orang teman saya menunggu di luar toilet wanita. Tapi setelah saya keluar dari toilet melihat teman saya tergeletak di lantai dan saya memanggil nyonya tapi gak menyahut " jawab penjaga cemas.
"sekarang kerahkan semuanya cari istri saya istri saya kemungkinan di culik karena tadi nelpon dan sempat berteriak dan kamu periksa cctv yang mengarah ke toilet dan seluruh cctv yang mengarah ke pintu keluar depan dan belakang" Helmi cemas tapi dia berusaha tenang karena ada dua anaknya di dalam mobil.
"iya tuan" pengawal itu cepat bergerak.
Helmi menelpon kakaknya dengan ponsel satu lagi karena yang satunya sedang di pake melacak keberadaan istrinya oleh pengawal pribadinya dia meminta kakaknya menjemput anaknya di parkiran toko pizza.
Helmi menghampiri Daniel dan Dal Mi yang sedang asik nonton film kartun di tabletnya anak-anak itu duduk tenang di jok belakang tidak tau mommynya di culik.
"sayang nanti pulang sama uak Mona dan kak Ica ya, daddy mau jemput mommy" Helmi mencium kedua anaknya.
"bukannya mommy pergi ke toilet ya, kenapa harus di jemput dad?" Daniel bertanya dengan heran.
"tadi momommymu di ajak temannya ke rumah sakit untuk menengok teman yang lainnya yang sedang sakit" Helmi terpaksa berbohong supaya anaknya tidak cemas.
"mommy ko gak bilang dulu sama kita dad?" tanya Danie semakin heran.
"karena waktunya mepet sayang, tadi mommy udah ijin sama daddy lewat telpon ko dan minta di bilangin sama kakak dan adik karena tadi daddy lihat kalian sedang seru nonntinnya jadi daddy dan mommy tidak mau mengganggu kalian" Helmi berbohong lagi demi kebaikan anaknya.
"ooh gitu ya dad, ya udah nanti kami pulang sama uak Mona dan kak Ica" jawab Daniel.
"duh pinternya anak daddy ini, nanti kalian main sama oma dan opa ya di rumah sambil nunggu daddy dan mommy" Helmi membelai kepala anak-anaknya dan mencium pipinya bergantian dia berusaha tenang walau hatinya cemas.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian mbak Mona datang dengan Ica anak bungsunya dia mengendarai mobilnya sendiri, setelah memarkirkqn mobilnya di samping mobil adiknya dia menghampiri Helmi.
"ko bisa kecolongan dek, terus nagaimana dengan Ola?" mabak mona cemas dan memeluk adiknya memberi semangat.
"ini lagi di lacak mbak, titip anak-anak ya. Aku pakai mobil kakak supaya tidak makan waktu memindahkan jok anak-anak" kata Helmi.
"iya, hati-hati di jalan dan usahakan tenang. Ini kuncinya" jawab mbak Mona sambil memberikan kunci mobilnya kepada adiknya begitupun Helmi dia memberikan kunci mobilnya kepada kakaknya.
Setelah pamitan kepada semuanya Helmi berangkat mencari istrinya dengan satu pengawal Ola yang sedang melacak keberadaan Ola, pengawal yang lain sudah bergerak duluan dan melapor kepada polisi. Pengawal yang pingsan di bawa ke rumah sakit oleh satpam toko pizza itu.
"bagaimana sudah terdeteksi lokasinya?" Helmi bertanya kepada pengawal yang sedang serius.
"sudah tuan, sepertinya di Jakarta utara lokasinya" jawab pengawal sambil mengutak ngatik laptopnya.
Helmi memberi tahu semuanya bahwa lokasinya sudah di temukan dan semua mengerahkan anggotanya menuju lokasi, mereka bergerak cepar dan teliti mereka juga bermain cantik supaya tidak di ketahui musuh. Bahaya kalau di ketahui musuh, karena nyawa Roula taruhannya.
Roula di masukan ruangan kosong dia di ikat di kursi di ruangan itu, tidak lama kemudian tuan Moo masuk ke ruangan itu.
"hallo saudaraku senang berjumpa denganmu" kata tuan Moo sambil membuka lakban di mulut Ola dengan kasar.
"siapa anda? Kenapa menculik saya?" kata Roula sambil menatap tajam orang itu.
"kenalkan saya Moo saudaramu dari ayahmu cantik kita bersaudara" kata tuan Moo sambil berkacak pinggang.
"ooh kalian rupanya yang merampas perusahaan orang tua saya dan membunuhnya dengan keji" Roula menatap tajam tuan Moo dia sangat marah dan kecewa.
"sssssttt jangan galak-galak cantik, tenang dulu permainan baru di mulai" kata tuan Moo.
__ADS_1
"mau apa kalian menculik saya swtelah membuat saya terbuang dan merampas perusahaan orang tua saya bahkan kalian tega sekali membunuh irang tua saya" Roula tidak bisa menahan amarahnya dia berteriak sambil menangis.
"tenang-tenang, paman hanya ingin tanda tanganmu saja cantik biar perusahaan sah milik kami" kata tuan Moo sambil memanggil bawahannya untuk membawakan dokumen kehadapannya.
"kalau saya tidak mau bagaimana?" Ola berbivara ketus.
"kalau kamu tidak mau, anakmu akan saya ambil" tuan Moo mengancam.
"baik saya akan tanda tangan tapi saya mohon jangan usik anak saya" Roula menangis membayangkan anaknya dia rela kehilangan perusahaan asalkan anaknya baik-baik saja.
"nah gitu dong, itu baru saudaraku. Lepaskan ikatan tangannya" kata tuan Moo kepada penjaga.
Tuan Moo menyerahkan dokumen itu kepada Ola dan langsung di tanda tangani Ola, tapi tanda tangan palsu seperti waktu menandatangani dokumen dari Aditia. Karena dia tidak bodoh untuk mengalah kepada para pwnjahat.
Tuan Moo tersenyum setelah melihat saudaranya menanda tangani semuanya, dia keluar dari ruangan itu sambil menyuruh penjaganya untuk mengikat lagi tangan Ola.
"heeii kenapa saya tidak di lepaskan bukannya saya sudah tanda tangan?" Ola berteriak ketika tuan Moo berjalan keluar dengan penjaganya dan hendak menutup pintu ruangan itu.
"jangan mimmpi cantik, setelah kamu masuk ke sarang kami jangan harap bisa keluar lagi dari sini sebab kamu akan mati sia-sia hahahaha" tuan Moo berbicara jahat kepada Ola.
" salah apa nenek moyang kami, sehingga ada keturunan yang biadab sepweti kalian hik hik" Ola menangis mengingat orang tuanya dan dia merindukan anak-anak dan suaminya.
"uuuh kasian, nikmatilah sekarang selagi masih bernapas, mungkin esok sudah tidak bisa lagi" kata tuan Moo sambil menutup pintu ruangan itu dan menguncinya.
"mas Helmi tolongin aku hiks hiks" Ola menangis dia tidak bisa berkutik karena tangan dan kakinya di ikat.
**
__ADS_1
Helmi marah mendengar kata-kata tuan Moo kepada istrinya, dia mendengar jelas karena telpon Ola dalam keadaan tersambung. Ponsel Ola yang bertali panjang berada di belakang badannya. Tuan Moo tidak mengetahui Ola membawa ponsel karena hanya berdiri di depan Ola dan ponsel Ola tidak di rampas penjaga itu walaupun dia melihatnya dia pikir telponnya tidak tersambung ke suami Ola.