Kaya Mendadak

Kaya Mendadak
Kabar Duka


__ADS_3

"mommy sepatuku mana?" Dal Mi berteriak kepada mommynya.


"kan di rak sepatu sayang" jawab Ola sambil menoleh ke belakang.


"sepatu yang barusan aku pakai mom sebelum mencoba sendal baru ini, bukan yang di rak" Dal Mi memutar pandangannya mencari sepatu yang tadi dia lepas.


"mungkin di pindahin ke rak sama mbaknya sayang" Ola menghampiri putrinya.


"kenapa mbak gak bilang dulu kalau mau mindahin sepatuku" Dal Mi masih mencari.


"mungkin waktu tadi jalan ke dapur ngambil minum sayang, kan sepatunya di tinggal di sini tadi mungkin mbaknya lihat dan memindahkannya ke rak. Nanti tanyain aja deh sama mbaknya" Ola sangat bijaksana menghadapi kehebohan putrinya, apa-apa di bikin heboh sama dia.


Baru aja Ola selesai bicara terlihat art itu turun dari tangga, ketika dia berhadapan dengan majikannya lalu dia membungkukan badannya.


"mbak lihat sepatu aku gak?" Dal Mi langsung bertanya kepada artnya.


"oh iya neng, barusan mbak simpan di rak sepatu di kamar neng dan udah mbak bersihin" jawab artnya.


"oh iya, terima kasih ya mbak" kata Dal Mi


"iya sama-sama neng, mbak permisi mau ke belakang" art itu undur diri dari hadapan majikannya.


"silahkan mbak" jawab Dal Mi.


"tuh kan kata mommy juga apa, lain kali yang tenang aja sayang gak usah grasak grusuk. Belajar lebih kalem sayang kan kamu sekarang sudah SMP" Ola menasehati anaknya yang sedang beranjak remaja.


"iya mom..." jawab Dal Mi


Ya sekarang Daniel dan Dal Mi sudah SMP kls 8 usia sangat kritis mencari jati diri, orang tua dan orang sekitar harus mendukung ke stabilan emosi dan tingkah lakunya. Harus extra sabar dan bijaksana menghadapinya, supaya perkembangan anak-anaknya tumbuh dengan baik. Baik intelektual maupun spiritualnya...


"abang mana sayang?" Ola membelai rambut putrinya.

__ADS_1


"abang langsung ke kamarnya mom, aku juga mau ke kamar ya mau mandi" jawab Dal Mi.


"iya sayang, satu jam lagi turun ya kita makan siang bersama?" Ola selalu lembut memperlakukan anaknya.


"oh ya mom, daddy ke mana?" Dal Mi menoleh ke mommynya sebelum naik tangga.


"daddy lagi di kamar, katanya gak enak badan" jawab Ola.


"what daddy sakit?" Dal Mi kaget karena biasanya kalau dia pulang latihan langsung glendotan sama daddynya.


"tidak ada yang serius ko sayang, daddy hanya masuk angin" jawab Ola.


"oh iya, aku mandi dulu nanti setelah mandi aku nemuin daddy" Dal Mi meniti tangga dengan cepat sudah kebiasaannya begitu.


"hati-hati sayang naik tangganya gak usah lari ah" Ola slalu khawatir kalau anak gadisnya berlari di tangga.


"tenang mom aku sudah ahli" jawab Dal Mi


Ola menggelengkan kepalanya melihat cara anaknya yang susah di bilangin kalau soal lari di tangga, selalu aja begitu tiap harinya. Tapi dia bangga kepada putrinya walaupun dia pecicilan dan manja sama orang tuanya, tapi dia berprestasu di sekolahnya dan menghormati orang lain terutama orang tuanya.


Daniel tidak banyak omong tidak seperti adiknya yang cerewet, kalau bicara dia selalu tertata dengan baik kalimat demi kalimatnya. Membuat orang tambah segan padanya, dia bisa mwmbimbing dan menasihati adiknya seperti orang tua dan Dal Mi selalu menurut kepada abangnya.


Ola dan Helmi sangat bangga dengan putra dan putrinya, masing-masing punya kekurangan dan kelebihan.


"mas bagai mana sekarang masih pusing?" Ola menghampiri suaminya dan meraba dahi suaminya tapi tidak panas.


"gak tau kenapa badanku lemas udah dua hari ini, hati sering berdenyut agak nyeri padahal kata dokter hati aku gak ada masalah. Kan aneh dia jawab mungkin masuk angin, dokter spesialis kok bilang mungkin ya..." jawab Helmi lemas di atas tempat tidur.


"mungkin itu pirasat akan ada sesuatu mas, tapi amit-amit deh jauhkan kita dari segala marabahaya tuhan tolong lindungi kami" Ola jadi berpikiran yang enggak-enggak soalnya ingat kata orang tuanya dulu.


"hush, jangan berpikir aneh-aneh deh sayang" Helmi mencet hidung istrinya gemas.

__ADS_1


"iya mas, cuma keinget ucapan ibu. Waktu aku keguguran karena mobil kita di tabrak orang-orangnya paman Moo, ibu badannya lemas dan slalu ke pikiran aku terus pokoknya seperti orang sakit tapi gak sakit apa-apa katanya" Ola menjelaskan pendapatnya.


"mudah-mudahan kita sekeluarga selalu dalam lindungan tuhan yang maha Esa" Helmi memeluk istrinya yang sedang berbaring di sampingnya.


"amien" jawab Ola.


Dan pada saat makan siang yang lain makan di meja makan, tapi Helmi tidak karena masih lemas. Ola membawa makan siang suaminya ke kamar, diikuti putra dan putrinya.


"daddy sakit apa?" si cerewet mulai membuka suaranya sambil memeluknya, biasa sifat manjanya datang kalau bertemu daddynya.


"daddy gak sakit sayang cuma badan daddy agak lemas gak tau kenapa" jawab Helmi sambil mencium pucuk kepala putrinya.


"sudah ke dokter belum dad?" Daniel duduk di sisi tempat tidur dan menggenggam tangan daddynya.


"sudah kemarin sepulang dari kantor, tapi kata dokter daddy baik-baik aja gak ada penyakit serius mungkin masuk angin katanya" Helmi menjawab pertanyaan putranya.


"syukurlah kalau daddy gak kenapa-napa, tapi kenapa lemas ya? Atau mungkin daddy kecapean?" Daniel sedikit lega mendengar pernyataan daddynya.


"mungkin daddy harus istirahat, padahal sekarang hari libur kita bisa jalan-jalan kalau daddy tidak lemas gini" Helmi metasa gak enak kepada putra dan putrinya.


"gak apa-apa dad masih ada hari esok, yang penting daddy sehat" jawab Daniel bijaksana.


"mas, ini mbak dari Jogja telpon?" Ola menyerahkan ponsel suaminya karena ada panggilan masuk.


"angkat aja sayang, speakernya di load aja" jawab Helmi karena tangan satunya memeluk sang putri dan tangan satunya menggenggam jari tangan putranya.


Ola menggeser tombol hijau " hallo mbak" Ola menyapa art mertuanya yang ada di seberang telpon.


"hallo nyonya, mmm itu nyonya tuan Hartono jatuh di kamar mandi langsung pingsan... Mmm barusan langsung di periksa dokter dan kata dokter, tuan... Mmm tuan sudah meninggal hiks hiks" art itu bicara terbata-bata sambil menangis.


"apa meninggal? Jangan bercanda mbak, dua jam yang lalu daddy menelpon aku" Helmi gak terima karena dua jam yang lalu beliau menelponnya nanyain cucu-cucunya.

__ADS_1


"be be bener tu tuan hiks, a aaaku ti tidak bo hong hiks. Coba video call aja supaya jelas" art itu mengalihkan panggilan ke vide call dan mengarahkan kamera ponselnya ke arah jenazah ayahnya.


Helmi dan Ola juga anaknya langsung berpelukan sambil menangis, tak lama Helmi langsung memesan tiket untuk ke Jogja hari ini. Untung masih ada penerbangan sore ini jadi dia bisa ke Jogja hari ini juga.


__ADS_2