Kaya Mendadak

Kaya Mendadak
Aditia Datang Ke Pemakaman


__ADS_3

"rupanya ini jawaban dari ketidak nyamanan hatiku, tubuh terasa lemas dan ke khawatiran gak jelas selama dua hari ini tuhan..." gumam Helmi, sekarang dia tidak merasa lemas dan sakit ulu hati lagi. Malah dia langsung bangkit dari tidurnya dan mengajak istri dan anak -anaknya untuk bersiap.


"ayo siap-siap semuanya kita ke Jogja hari ini juga, jangan lupa memakai pakaian hitam" ujarnya bukan saatnya untuk meratap kepergianya, setelah menenangkan hatinya Helmi memeluk lagi istri dan anak-anaknya.


"ayok sayang kalian mandi dulu supaya segar, mommy dan daddy juga mau mandi sekarang" Ola melepas pelukan suami dan anak-anaknya.


Semua bangkit dari tempat tidur dan anak-anak keluar dari kamar tidur utama, Ola langsung masuk kamar mandi dan Helmi menelpon dulu mbak Mona kakaknya beliau juga sedang siap-siap mau ke Jogja dan nanti mereka bareng karena naik pesawatnya di jam yang sama.


Ola meminta artnya untuk menyiapkan pakaian anak-anaknya dan pakaian dia juga suaminya ke dalam koper masing-masing, karena artnya banyak jadi dalam waktu singkat semua sudah selesai packing dan art itu membawa koper-koper itu ke luar mansion dan langsung di masukan ke bagasi mobil.


Setelah semua bersiap mereka berangkat ke bandara karena penerbangannya jam 5 sore.


Sampai di bandara mereka berkumpul di sana dengan mbak Mona dan suaminya juga anak-anaknya, lalu mereka chek in dan masuk ke dalam pesawat karena penerbangannya sebentar lagi.


Penerbangan berjalan lancar sesuai jadawal, dan akhirnya tiba di bandara Jogja pesawatpun mendarat dengan selamat. Semua penumpang turun termasuk keluarga Helmi dan keluarga mbak Mona. Mereka sudah di jemput oleh sopir nyonya Sri ada dua mobil yang menjemput mereka, mereka semua masuk ke dalam mobil jemputan dan sopirpun menjalankan mobil meninggalkan bandara menuju villa perkebunan.


Tiba di halaman villa di sana sudah di penuhi karangan bunga dari para rekan-rekan bisnis dan dari para pejabat, sebagai tanda ucapan duka cita dan bela sungkawa kepada mendiang tuan Hartono dan keluarga.


Sesuai wasiat tuan Hartono beliau ingin di makamkan di pemakaman keluarga bersama dengan orang tuanya dan saudaranya, maka keesokan harinya beliau di makamkan di sana.


"mommy yang kuat ya, ikhlasin kepergian daddy" mbak Mona memeluk ibunya yang tak berenti menangis di atas pusara ayahnya.


"tapi daddy ninggalin mommy sendirian hiks hiks..." nyonya Sri Rahayu menangis pilu sambil memeluk nisan suaminya.


"mommy gak sendirian ada kita di sini, mommy harus ikhlasin daddy pergi ke surga" Helmi gak tega melihat ibunya menangis pilu, hatinya sakit melihat tubuh tua ibunya memeluk nisan ayahnya.


Hampir 3 jam nyonya Sri tak bergeming dari atas pusara suaminya, sekarang tidak terdengar lagi isakan dan ratapan beliau. Otomatis Helmi dan mbak Mona memeluk lagi ibunya dan membantunya mengelap air matanya dan membersihkan tanah yang menempel di pakaian ibunya.

__ADS_1


Setelah nyonya Sri tenang dan melepaskan pelukannya dari nisan suaminya, Helmi dan mbak Mona membantu ibunya untuk berdiri dan memapahnya ke mobil.


Mobil berjalan pelan meninggalkan pemakaman keluarga tuan Hartono menuju villa, sesampai di villa mbak Mona dan Ola membantu nyonya Sri berganti pakaian supaya istirahat dalam keadaan bersih karena tadi bajunya kotor penuh tanah merah kuburan suaminya.


Art membawakan teh hangat untuk majikannya, lalu mbak Mona membantu ibunya untuk minum teh hangat itu.


Nyonya Sri masih diam dalam duka beliau hanya bicara sepatah atau dua patah kata itupun kalau di tanya, kalau tidak beliau hanya memeluk poto suaminya dalam pigura.


Mbak Mona dan Helmi khawatir melihat tubuh tua ibunya berbaring lemah memeluk poto ayahnya, tapi ke khawatiran mereka itu perlahan memudar ketika mendengar dengkuran halus dari ibunya ternyata ibunya tertidur dengan lelapnya sambil memeluk poto ayahnya.


"syukurlah mommy tertidur, paling tidak dia bisa melupakan sementara tentang kepergian daddy"ujar mbak Mona ketika dia dan adiknya sudah berada di luar kamar orang tuanya.


"iya mbak kasian mommy, besok kita ajak ke Jakarta biarkan dia memilih mau tinggal sama mbak atau aku" jawab Helmi


"tapi kalau menurut cerita mommy dulu katanya kalau suami atau istri meninggal, pasangan yang masih hidup jangan meninggalkan rumah minimal 3 bulan. Tapi gak tau sih nanti kita coba tanya aja mommy" ujar mbak Mona


Sore hari hampir gelap ketika semua orang ada di rumah masing-masing sedang bercengkrama dengan keluarga, tapi di atas pusara tuan Hartono ada sepasang suami istri yang sedang menabur bunga di sana.


"hallo tuan maaf mengganggu istirahatnya, itu ada den Aditia dan nona Sintia di kuburan tuan besar. Apa yang harus kami lakukan?" seorang penjaga kuburan menelpon Helmi majikannya.


"biarkan saja pak mereka di sana, dan nanti kalau dia ke villa jangan di halangi. Kami sudah memaafkan dia kok, dan mungkin mommy kangen ingin bertemu dengan dia" jawab Helmi.


"siap tuan" telpon itupun terputus


"siapa mas?" Ola bertanya kepada suaminya.


"Aditia dan Sintia ada di kuburan daddy" jawab Helmi.

__ADS_1


"pulang juga tuh anak" kata mbak Mona


"kamu gak apa-apa kan sayang kalau mereka ke sini?" Helmi bertanya kepada istrinya sambil memeluknya dia takut istrinya kenapa-napa.


"gak apa-apa mas, aku sudah memaafkannya dari dulu" jawab Ola.


"tenang aja kalau dia macem-macem di sini ada aku dan banyak anak buah kita yang akan melindungimu" Helmi merapikan anak rambut istrinya yang jatuh di pipinya.


Mereka berkumpul bercengkrama di ruang keluarga sambil menunggu para art menyiapkan makan malam, mereka ngobrol ngalor ngidul. Ketika sedang asik ngobrol, sepasang suami istri masuk dan langsung bersujud di kaki Ola untuk minta maaf.


Mbak Mona masuk ke kamar orang tuanya, dia duduk di samping tempat tidur dan menggenggam jari tangan ibunya.


"mom, di luar ada Aditia dan Sintia" mbak Mona hati-hati menyampaikan berita kepada ibunya.


Nyonya Sri langsung bangun dan duduk bersandar di tempat tidur, tatapannya penuh tanya dan ingin di yakinkan benar tidaknya.


"panggil mereka ke sini" jawab nyonya Sri


"baik mom" jawab mbak Mona


Mbak Mona keluar dari kamar orang tuanya menuju ruang keluarga, dia memanggil Aditia adik angkatnya.


"Dit, temuin mommy gih di dalam kamar" ujar mbak Mona.


"baik mbak" jawab Aditia, dia langsung berdiri dan menarik pelan tangan Sintia untuk mengikutinya masuk ke kamar orang tua angkatnya.


"mom... Maafkan Adit" Aditia memeluk nyonya Sri sambil menangis

__ADS_1


"dasar anak nakal, kenapa baru pulang sekarang setelah daddy tiada?" nyonya Sri menjewer kuping Aditia dan setelah itu memeluknya dengan erat, walau bagaimanapun jahatnya Aditia tapi beliau mengurusnya dari usia dua tahun dan tidak membedakan dengan anak kandungnya. Tapi karena darah yang mengalir bukan darahnya dan sampai saat ini tidak tau dari mana asalnya Aditia dan tidak tau orang tuanya siapa, makanya sifat tabiatnya sangat berbeda dengan kakak angkatnya yaitu mbak Mona dan Helmi.


__ADS_2