Kaya Mendadak

Kaya Mendadak
Malam Pertama Sendirian


__ADS_3

Semuanya bergantian berpelukan sebelum pulang lalu mereka mengantarkan ke dua pengantin menuju mobil.


Ola masuk ke dalam mobil Adit setelah memeluk ibu dan bapaknya, lalu duduk dan memakai sabuk pengaman.


Mbak Mona menghampiri Ola dan memberikan tas Ola yang selama pernikahan tadi di bawa oleh mbak Mona, hanya waktu di meja makan di berikan kepada Ola untuk menyimpan hadiah-hadiah tadi. Lalu membawakannya lagi sampai ke mobil, karena Ola memegangi gaunnya yang panjang.


"Terima kasih mbak atas bantuan dan hadiahnya, saya jadi merepotkan mbak"


"Sama-sama dik, jangan canggung begitu kita sudah jadi keluarga. Jadi jangan sungkan ya"


"Iya mbak sekali lagi terima kasih"


Ola tersenyum dan melambaikan tangan ke semua orang yang mengantarkannya, lalu Adit menutup kaca mobilnya dan melaju ke jalan raya.


"Kita tidak pergi ke hotel yang tadi daddy pesan, langsung aja ke rumah ngapain tidur di hotel segala tapi rumah kosong"


Adit mulai berbicara dengan nada datarnya.


"Iya mas"


"Aku tidak akan menggaulimu layaknya suami istri lainnya, jadi seperti kemarin kamu tinggal di rumah dan aku di apartement"


"Terus saya sendirian walaupun sudah menikah?"


"ya... Ingat ya kita ini hanya menikah kontrak, jadi kamu jangan berharap banyak dari saya"


"Iya mas"


Mereka diam lagi tidak melanjutkan pembicaraan, Ola menatap jalanan yang padat merayap dia menarik napas dalam.


Tiba-tiba ponsel Aditia berdering dia menepikan mobilnya ke pinggir jalan, lalu dia menerima panggilan itu.


Terdengar suara perempuan marah-marah di sana, dia marah dengan pernikahan Ola dan Adit setelah melihat poto pernikahan unggahan mbak Mona di medsos.

__ADS_1


"Salah kamu sendiri meninggalkan saya demi karirmu, terpaksa aku harus menerima perjodohan ini karena daddy mengalihkan sebagian nama-nama asetnya atas nama Roala. Dan kalau aku menikahinya otomatis menjadi miliku kata daddy"


Aditia mematikan telponnya dan melemparkannya ke jok belakang, dia lupa di sampingnya ada Ola yang mendengar semuanya.


Deg....


Ola kaget dia baru mengerti kenapa Aditia menerima perjodohan ini, ternyata hanya demi warisan. Dia menunduk menitikan air mata mendengar kenyataan pahit di hari pernikahannya, lalu dia melirik ke arah suaminya.


"Oooh hanya karena ingin mendapatkan warisan mas menerima perjodohan ini, padahal Ola tidak tau tuan Hartono mengatasnamakan saya di sebagian asetnya. Mas Adit jahat kenapa tidak bilang dari awal"


"Jangan pura-pura tidak tau kamu La, jangan mentang-mentang daddy banyak memihakmu lalu mau menyembunyikan dan menguasai aset-aset daddy"


"Ih apaan si mas, Ola benar - benar tidak tau itu semua, tanya aja sama daddy kalau tidak percaya"


Ola diam dia berusaha menguatkan hatinya menerima kenyataan ini percuma dia menyesali pernikahan ini, karena dia sudah menandatangani kontrak pernikahannya dengan Adit dan tidak ada paksaan dari siapapun. dia harus menjalani pernikahannya karena yang mengambil keputusan adalah dia sendiri.


Ola menarik napas dalam dan menghembuskannya, dia melihat ke samping yang di padati gedung-gedung pencakar langit.


"cepat turun di sini!"


"Mas tidak masuk dulu?"


"Tidak, aku langsung ke apartemen... Dan ingat jangan beritahu siapapun kamu di rumah ini sekarang. Kalau ada yang menelpon menanyakan bilang aja di hotel yang daddy pesan, dan kalau ada yang menanyakan saya bilang aja lagi mandi. Paham...?"


"Iya mas"


"Ingat jangan membukakan pintu kepada siapapun"


Ola meraih tasnya lalu di masukan ke leher dan tangannya di selempangkan padahal bukan tas selempang, lalu turun perlahan karena gaun pengantinnya yang panjang.


Adit sama sekali tidak membantunya dia hanya melihat sebentar memastikan, setelah turun dari mobilnya dan pintunya sudah di tutup lalu Adit menjalankan mobilnya meninggalkan Ola yang sedang berjalan perlahan sambil memegang gaun.


Ola meraih remot dan menekannya lalu pintu gerbangnya tertutup dan terkunci otomatis, setelah terkunci dia menyimpan kembali remot itu di dalam tas.

__ADS_1


Perlahan dia berjalan mendekati pintu utama lalu membukanya, Ola masuk lalu menutup pintu dan menguncinya lagi.


Dia berjalan menuju dapur lalu dia mengambil botol air putih dan meminumnya setengah, lalu dia membuka kulkas dan mengambil buah anggur setelah itu dia mencuci buah anggur itu.


Ola menghampiri meja makan dan menaruh buah anggur di samping tas dan botol air putih, dia perlahan duduk dan langsung makan buah anggur itu.


Setelah makan anggur dengan jumlah cukup banyak, Ola meraih tasnya dia mengambil buku tabungan hadiah perkawinan dari mertuanya.


Perlahan Ola membuka buku tabungan itu dia mengucek matanya beberapa kali, lalu menghitung nol di belakang angka lima itu ber ulang - ulang.


"Katanya hanya uang saku tapi nolnya ada sembilan, hah uang saku lima milyar apa daddy salah ngasih... tapi buku tabungannya nama aku"


Ola melongo melihat angka dengan nolnya banyak, seumur hidupnya baru kali ini dia mempunyai tabungan yang banyak biasanya paling besar paling dua juta saldonya gitu juga tidak bertahan lama karena harus di kirimkan ke kampung.


"Apa harus telpon daddy ya? takut salah masa uang saku sampai milyaran"


Ola terus bergumam sendiri lalu dia memasukan buku tabungannya ke dalam tas, lalu dia berjalan kekamarnya dan mengunci pintu kamar.


Ola masuk ruang ganti dia membuka gaunya lalu menggantungnya di lemari sebelah yang masih kosong, setelah itu dia masuk kamar mandi dan berendam di bathtub untuk merilexan tubuhnya.


Satu jam berlalu Ola turun dari bathtub dan berjalan menuju shower untuk membilas tubuhnya, setelah bersih dia meraih handuk untuk mengeringkan tubuhnya dan merah bathrob lalu memakainya.


Ola keluar dari kamar mandi lalu dia duduk di meja rias untuk mengoleskan krim ke mukanya dan menyisir rambutnya.


"Sudah jam enam ini sebentar lagi malam" gumamnya...


Setelah memakai piyama Ola keluar kamar mau menutup gorden dan menyalakan lampu - lampu, setelah itu dia mengambil ponsel.


"Hmmm tidak ada pesan satupun yang masuk dan tidak ada panggilan sama sekali benar-benar mereka tidak mau mengganggu kami, mereka pikir malam pertama yang indah dua insan yang memadu kasih tidak boleh di ganggu sama sekali. Padahal malam pertamaku sendirian tanpa suami... nasib-nasib, dulu aku memimpikan pernikahan yang bahagia dan saling mencintai"


Ola berbicara sendiri dalam hatinya.


Ola berpikir bolak balik bagaimana nasib selanjutnya, dia meraih ponsel dan browsing di internet. Dia terus browsing mencari ide-ide yang membantu memecahkan pikirannya, saking asyiknya skrol-sekrol sambil tiduran akhirnya dia tertidur dan tangannya terkulai ke pinggir tempat tidur dan ponselnya terjatuh ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2