Kaya Mendadak

Kaya Mendadak
Roula di Lamar


__ADS_3

Roula berjalan ke parkiran setelah selesai mata kuliah dia langsung memberi tahu Helmi, Ola duduk di bangku taman sambil menunggu Helmi dia membuka ponselnya.


"hallo ibu dan bapak apa kabar?"


"kabar kami baik nak, bagaimana kabarmu di sana?"


"baik dan sehat bu, ibu Ola sekarang mulai kuliah tuh Ola sedang di halaman kampus"


Ola mengarahkan kameranya ke gedung tempat dia kuliah, dia menunjukan kepada bu Eem dan pak Anwar bahwa dia sedang di kampusnya.


"syukurlah nak sekarang kamu kuliah, maaf dulu kami belum sempat memasukanmu ke universitas keburu ada insiden"


"gak apa-apa bu, kan sekarang Ola kuliahnya"


"iya nak, kamu baik-baik ya mengatur waktu antara kuliah dan mengurus butikmu ingat istirahat yang cukuo jangan terlalu di porsir"


"iya bu, terima kasih"


"hallo nak bapak tadi mendapat telpon dari tuan Hartono katanya beliau sudah memberi tahumu segalanya tentang dirimu yang sebenarnya, sekarang kamu harus lebih waspada di manapun kamu berada jaga diri baik-baik ya"


"iya pak, terima kasih kalian sudah menyayangi Ola seperti anak kandung. Ola bersyukur di besarkan oleh kalian hidup di perkebunan"


"kami yang berterima kasih padamu nak, karena mengasuhmu kami jadi mempunyai anak dan tidak ada ejekan mandul lagi dari ibu-ibu tukang ngerumpi"


Ketika Ola sedang ngobrol terlihat mobil Helmi berhenti di parkiran, dia turun dan menghampiri Ola.


"ibu, bapak sudah dulu ya, Ola sudah di jemput mas Helmi"


"iya nak, hati-hati"


"eh jangan dimatikan dulu, mas mau menyapa ibu dan bapak"


Helmi duduk di bangku di samping Ola dia melambaikan tangan ke arah kamera.


"selamat siang ibu dan bapak apa kabar?"


"siang den Helmi, kabar kami baik dan sehat"


"syukurlah, jangan panggil den panggil nama aja bu, pak, Helmi jadi gak enak"

__ADS_1


"duh kami tidak berani den Helmi"


"beranikan aja kan calon mantu ibu dan bapak hehehe"


"jangan bercanda sama orang tua den"


"tidak bu, Helmi tidak bercanda ko Helmi serius bicara seperti itu nanti sabtu depan kita ngumpul ya"


"oalah den, ibu harus senang atau sedih yo"


"tidak usah sedih bu, ibu dan bapak harus senang ya do'akan kami berjodoh sampai tua sampai ajal yang memisahkan dan rumah tangga kami kelak bahagia dan mempunyai keturunan yang cerdas dan takut sama tuhan"


"amen den ko ibu jadi deg-degan yo"


"maaf bu, Helmi membuat kalian kaget sudah dulu ya nanti minggu depan kita sambung lagi saat berkumpul"


"iya den, titip Ola yo jaga dia baik-baik"


"siap bu, pak"


Helmi mematikan sambungannya lalu menyerahkan ponselnya sama Ola yang sedang melongo bingung.


"ini ponselnya, ayo kita masuk mobil"


"tidak sayang ayo masuk mobil, kita makan dulu mas laper belum makan siang"


Helmi membukakan pintu mobil untuk Ola, setelah Ola duduk dia juga masuk mobilnya dan duduk di belakang kemudi.


"bentar mas Ola masih belum mengerti tolong jelaskan dulu"


Helmi memasangkan sabuk pengaman Ola dan menggenggam tangan Ola.


"mas menyukaimu sejak lama daan waktu kemarin kita bertemu di mansion jantung mas berdetak sangat kencang ada rasa yang sulit di ungkapkan antara cinta, senang dan bahagia bisa dekat denganmu badan mas sampai lemas tapi mas berusaha menutupinya dengan mengajakmu duduk di sofa"


Helmi menatap Ola lembut dan penuh cinta tangannya masih menggenggam jari tangan Ola.


"rasa ini tidak bisa hilang bahkan semalam mas gak bisa tidur, baru pertama kali mas merasakan seperti ini dan sekarang rasa ini semakin kuat dan yakin"


Helmi meraih tangan Ola dan meletakannya di dadanya yang jedag-jedug terasa di tangan Ola, Ola juga tak kalah deg-degannya dia juga merasakan hal yang sama dengan Helmi. Mereka saling menatap penuh cinta.

__ADS_1


"mari kita menikah"


"tapi a a aku pernah nikah dengan Aditia mas"


"tidak masalah sayang karena statusmu tidak akan mempengaruhiku, ayo kita menikah La kita akan hidup bersama sampai tua sampai ajal memisahkan kita"


Ola menangis sambil menganggukan kepalanya, perlahan Helmi menarik Ola ke dalam pelukannya dia mendekap erat calon istrinya sambil mengusap-usap punggungnya.


Setelah beberapa saat Ola melepaskan dirinya dari dekapan Helmi dia merapikan rambutnya dan mengusap wajahnya yang basah sengan air mata, Helmi meraih sapu tangan dari sakunya perlahan dia menghapus air mata Ola yang membasahi pipinya yang cantik setelah itu dia mengecup kedua mata Ola yang sembab.


"berbahagialah, sekarang saatnya kita bahagia bersama-sama"


Ola mengangguk lagi dia masih belum bisa mengeluarkan suara karena rasanya benar-benar tak percaya ada lelaki yang mencintainya dan di cintainya.


Setelah mesin mobil menyala perlahan Helmi melajukan mobilnya menuju jalan raya, sesekali dia melirik calon istrinya yang masih diam.


Helmi memarkirkan mobilnya di halaman restaurant perlahan dia membuka sabuk pengaman dirinya dan Ola, dia juga merapikan anak rambut Ola yang menghalangi pipi cantiknya.


"ayo kita makan dulu"


Helmi membukakan pintu mobil untuk Ola dia juga menggenggam tangan Ola, setelah mobil terkunci mereka berdua masuk ke ruangan vip yang sudah di pesan Helmi.


Ola takjub pas masuk ke ruangan itu suasananya begitu syahdu dan romantis, cahaya lilin-lilin yang cantik dan lampu yang agak redup menambah ke syahduan tempat itu.


Helmy mendudukan Ola di kursi dan dia mengambil bunga yang sudah di pesannya lalu dia berlutut dan menyerahkan bunga itu ke hadapan Ola.


"menikahlah denganku dan hiduplah bersamaku dan anak-anak kita kelak"


Ola meraih bunga itu dia mengangguk sambil meneteskan air mata bahagia, Helmi merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak perhiasan dia membuka kotak itu dan mengambil cincin berlian itu dan memasangkan ke jari manis Ola lalu dia mengecup jari manis calon istrnya.


"terima kasih sayang mau menerimaku sebagai calon suamimu"


"maaas aku"


Ola tidak meneruskan kata-katanya dia menghambur ke pelukan Helmi dia memeluk erat calon suaminya, Helmi membalas pelukanya dan mengelus-elus kepala Ola.


Setelah lama mereka berpelukan menyalurkan rasa dan asa, Helmi perlahan bangkit dan mendudukan Ola lagi di kursinya dia mengecup kepala calon istrinya.


"ayo sayang kita makan dulu"

__ADS_1


Helmi memanggil pelayan itu untuk menyajikan makanannya sekarang, tak lama pelayanpun menyajikannya di meja perlahan Helmi menyuapi Ola dan dirinya mereka makan sesendok bersama karena Helmi yang menyuapi Ola dan dirinya.


Perlahan tapi pasti makanan sudah selesai di santapnya, lalu mereka mengobrol membicarakan langkah selanjutnya.


__ADS_2