
Quen sedang mengemasi bagasi miliknya.Sudahnsatu minggu dia berpindah masuk ke dalam apartment ini,satu pun barangnya belum lagi dimasukin semua ke dalam lemari.
"Fuh,akhirnya udah siap juga."Gumannya sendiri lalu mengesat keringat di wajahnya.
Tidak berselang lama,ponselnya berdering.Ternyata Christian di talian.
"Ada apa pak?"
"....."
"Gak,aku lagi gak ada kerja.Knapa yah?"
"....."
"Dimana pak."
"....."
"Oke.Ketemu lagi nanti."Ujar lalu mematikan panggilan dari Christian.
Tanpa mengulur waktu,Quen lalu membersihkan diri di kamar mandi.Setelah merasakan sudah cukup bersih dan nyaman dengan pakaian yang dia pakaikan,Quen lalu meraih kasut snekersnya lalu memakainya.
Untuk keluar hujung pekan,Quen lebih suka mengenakan kemeja longgar dipadu dengan celana jean dongker panjang serta sepatu snekers.Penampilan sederhana namun tetap terlihat santai.Rambut panjang dicepol asal menunjukkan lekuk leher yang jenjang dan sexy.Terlihat begitu menggoda meskipun penampilan sebegitu rupa.
"Hi!Tess.Udah lama nungguinnya?"Sapa Christian sebaik saja melabuhkan bokongnya di krusi samping Quen.
"Emm..udah lima belas menit."Jawabnya lugas dengan wajah yang datar.
"Sorry,aku lagi terjebak macet."Christian memberi alasan.
"Emm.."Guman Quen datar.
"Ishh,dinginnya mengalahkan es."Guman Christian dalam diam.
"Tapi lumayan.Biarpun terlihat dingin dia tetap saja cantek meskipun berpakaian santai seperti ini.Bagus juga deh.Jadi gak ada pria berhidung belang melototi jika berpakaian cantek dari ini."Pikirannya traveling dengan kemana.Kemudian tersenyum senyam sendiri.
"Ehemm..Senyum tuh kenapa?"Tanya Quen santai.Dia sengaja mencuekin Christian dengan menatap layar ponselnya,meneliti salah satu design yang akan mereka bahas nanti.
"Oh..ti..tidak ada apa-apa."Jawabnya gelagapan.
"Jadi apa tujuan mengajak aku keluar hari ini?"Tanya Quen langsung ke intinya.
__ADS_1
"Mau ngajakkin kamu ke rumah aku."Jawab Christian santai sambil tersenyum menatap wajah kesal wanita yang dihadapannya itu.
Jika disebut soal rumah atau pergi ke rumah,pasti wanita itu menolak.Dia dapat merasakan aura gelap dari tatapan wanita dihadapannya ini.
"Wow!Jangan salah paham dulu.Aku mengajak kamu keluar kerna aku butuh bantuan kamu.Hari ini ada acara ulangtahun keponakan aku.Ada dua orang.Anak laki-laki sama satu anak perempuan.Aku tidak tahu memilih hadiah apa yang sesuai.Kamu juga tahu kita sampai disini baru satu minggu dan aku belum lagi bisa pulang ke rumah besar kami."Terang Christian yang khawatir Quen akan salah paham dengan niatnya.
"Oh."Jawab Quen sekenanya sehingga Christian mengangkat satu alis keningnya kesal akan sikap wanita itu.
"Jika sudah selesai,gimana kita shopping sekarang."Ajak Quen.
"Oke!"Jawab Christian singkat.
Tanpa mengulur waktu,mereka ke mall untuk mencari hadiah untuk keponakan Christian yang akan menyambut ulangtahun malam nanti.
Nampaknya bukan hanya berbelanja untuk keponakan Christian.Tapi mereka juga turut berbelanja.
"Gak nyangka yah,kamu yang selalu cuek di kantor bisa seramah ini dengan orang lain."Ujar Christian setelah selesai mereka berbelanja.
Sekarang mereka sedang menikmati makan siang di salah satu restoran siap saji yang terdapat di mall itu.
"Aku bukanlah aku yang secara umumnya."Jawab Quen sembari melepaskan keluhannya.
"Aku cuek sama orang itu tidak bermaksud untuk tidak suka dengan orang."
"Maksud kamu,kamu sengaja mencipta tembok antara diri kamu sama orang lain.Gitu."Quen mengernyitkan alisnya sebagai tanda mengiyakan maksud dari kata-kata Christian.
"Tapi mengapa?"
"Itu.."
"Sayang,apa itu kamu?"
Tiba-tiba obrolan Quen terhenti disaat satu suara menyapa mereka.Di samping meja Quen dan Christian,seorang paruh baya berdiri menjulang dihadapan Quen yang sedang duduk.
"Ma..Nyonya?"Sapa Quen yang hampir keceleposan di hadapan Christian.
"Quen, ini kamu kan?Oh,sayang.Kemana saja kamu menghilang.Saya itu amat mengkhawatirkan kamu tau."Ucap wanita paruh baya itu.
"Tante?Tante kenal sama Tess?Apa tante tidak salah orang?"Tanya Christian yang masih coba untuk mencerna apa yang sedang terjadi.
"Eh,nak Christian?Kamu juga kenal sama Quen?Siapa yang salah orang.Tante gak pernah salah orang.Sebenarnya Quen ini pernah menjadi.."
__ADS_1
"Dulu aku pernah bekerja di rumah nyonya Aldeberght.Bukan begitu nyonya?"
Belum sempat Nyonya Aldeberght mengatakan hal yang sebenar,Quen terus menyela obrolan mantan mertuanya itu.Dengan senyum yang lebar itu,dia menatap ramah kearah Nyonya Aldeberght.Merasakan ada suatu yang aneh dari Quen hanya mengiakan kata-kata gadis itu.Mungkin dia tidak mahu ada orang tahu bahawa dia pernah menikah dengan keluarga Aldeberght.
"Chris,kalian berkencan ya?Kenal dari mana?"Goda Nyonya Aldeberght kepada Christian.
"Tidak nyonya."
"Tidak tante."
Jawab mereka serempak.Nyonya Aldeberght yang melihat keserasian mereka hanya turut tersenyum disaat manusia berlawanan jantina ini salah tingkah disaat wanita paruh baya itu menyoal mereka.
"Nyonya lagi sama siapa?"Tanya Quen.
"Dengan Arga."Ujarnya lalu menatap wajah Quen lekat.
Dia mahu melihat ekpresi wajah Quen disaat dia menyebut nama mantan suami Quen aka putranya yang pernah menjadi suami kepada gadis itu lima tahun yang lalu.Namun ada sedikit kekecewaan melanda diri wanita paruh baya itu.Menyebut nama Arga, seolah-olah tidak memberikan apa-apa makna kepada Quen.Mereka kini sudah seperti orang asing.
Christian yang melihat kedekatan dua wanita berlainan generasi ini tidak memiliki pikiran yang aneh.Wajar saja mereka terlihat dekat.Rupa-rupanya Quen pernah bekerja di vila milik Aldeberght.
"Eh,tunggu dulu.Jika Tess pernah bekerja dengan keluarga Aldeberght,mengapa sewaktu perkenalan pertama Arga dan Tess tidak mengenal antara satu sama lain?"
Christian mulai ragu akan kenyataan yang dia sendiri buat.Ada yang ganjal dari perbicaraan kedua-dua wanita ini.Seakan-akan mereka mencoba untuk menutupi satu rahasia.Jika ada.Apa dia?
"Chris,bukankah malam ini ada acara ulangtahun keponakan kamu.Apa kalian pergi?"Tanya Nyonya Aldeberght.
"Seharusnya pergi kok tan."Jawab Christian dengan senyuman ramahnya.
"Kamu Quen."
"Belum tau nyonya."
"Pergi sama aku saja.Nanti aku jemput."Pelawa Christian.
"Tan,kita pergi dulu yah.Ketemu lagi malam nanti.Permisi tante."Ujar Christian.
Nyonya Aldeberght menatap kepergian kedua-duanya dengan tatapan penuh arti.
"Semoga kamu selalu berbahagia Quen."
❤️❤️❤️❤️ Bersambung...
__ADS_1