
Setelah nyonya Aldeberght selesai sarapan bersama-sama dengan Arga dan juga Quen,wanita paruh baya itu mengajak Quen berbelanja.Sudah agak lama mereka tidak berbelanja bareng sejak Quen dan Arga berpisah rumah.
Sekarang,disinilah mereka berada.Di salah satu mall termewah dan terkeren di rantau ini.Disuguhkan dengan harga yang fantasis dan setinggi langit.Bukan Quen tak pernah berbelanja dengan harga sebegitu,bukan kerna dua tidak mampu ataupun miskin tetapi sungguh disayangkan membuang-buang uang dengan sia-sia hanya napsu semata-mata.
Quen bukanlah tips wanita mantre.Dia juga pernah jatuh miskin,jadi dia tahu rasanya sudah untuk mencari uang untuk kebutuhannya sendiri.Apa lagi membeli sesuatu untuk diri sendiri.Sejak kecil dia diajar untuk mandiri dan membuat tabungan sendiri.Hanya mengeluarkan uang jika perlu.
Bukan kerna keluarganya miskin sehingga harus menghemat untuk apa yang perlu.Malah keluarganya memiliki perusahaan yang terbesar satu masa lalu sehinggalah papanya dijebak kerana khasus korupsi dan perusahaan papanya diambil oleh keluarga papanya yang lain.
Setelah kedua-dua orang tuanya pergi,Quen pergi dari rumah untuk mencari pengalamannya hidup.Sejak itu Quen tidak pernah kembali lagi ke mansion Smith.Mencari dirinya pun tidak keluarga dar papanya.
Sehinggalah dia menikah dengan Arga,dia melupakan segala-galanya yang seharusnya menjadi miliknya kerana perebutan kuasa dalam keluarga papanya.
"Sayang,gimana dengan baju nih.Cocok gak buat kamu?Ayo dicoba dulu.Kok malah mengong."Celetuk nyonya Aldeberght.
"I..iya mah."Jawab Quen kegalapan.
Dia meraih dress labuh berwarna creamy dari tangan nyonya Aldeberght untuk dicoba.
"Gimana mah,oke gak."Tanya Quen sebaik saja dia keluar dari fitting room.
"Ini cantek benget sayang.Ambil ini.Mamah yang traktir."Imbuh nyonya Aldeberght lagi.
"Gak usah mah.Quen mampu kok bayarnya sendiri."Tolak Quen halus.
__ADS_1
"Gak usah sayang.Biar mamah aja.Lagian kita juga udah lama ketemu.Anggap aja hadiah untuk kepulangan sayang ke kota ini."Ujar nyonya Aldeberght tegas.
"Baiklah,jika mamah bersikeras juga."Jawab Quen akhirnya pasrah dan menuruti kemahuan mertuanya itu.
Kemudian mereka mampir ke toko perhiasan.
"Ini cantek gak sayang."Tanya nyonya Aldeberght lalu memperlihatkan cincin bertahta berlian bening sebagai riasannya.Satu persatu barang perhiasan diperlihatkan kepada Quen.Semuanya dikatakan cantik dan menarik dimata wanita muda itu.
"Cantek mah."Jawabnya singkat.
Setelah memilih-milih,akhirnya mereka hanya membeli seutas kalung dengan harga fantasis.Quen bahkan mengeleng-ngelengkan kepalanya berulang-ulang kali kerana melihat wanita paruh baya itu tidak mengkhawatirkan akan biayanya.
Orang kaya,mah bebas apa-apa saja.Mau beli satu gedung juga bisa.Apa lah sangat dengan seutas kalung seperti itu.Mau beli sepuluh kek gitu juga gak masalah.
"Mengapa diletakkan kembali.Gak suka pakaiannya?Udah ngerencana punya dedek yah?"Goda nyonya Aldeberght sengaja.
"Husshh!ngawur deh mah.Bukan untuk Quen mahu,tapi untuk Qarin."Jawabnya jujur dan tidak termakan oleh godaan sang mama mertuanya itu.
"Nanti-nanti juga punya dedeknya.Jangan pernah berhenti berharap.Jika bisa,selekasnya punya dedek.Nanti rumah gak terlalu sunyi."Celetuk nyonya Aldeberght lagi dengan senyuman penuh erti di wajahnya.
"Mudah-mudahan mah."Jawabnya enggan menanggapi lebih kata-kata dari
mertuanya itu.
__ADS_1
Dari kejauhan,sosok wanita dewasa sedang memerhatikan nyonya Aldeberght dan Quen sedang berbelanja sakan.Sejak awal hinggalah sekarang,dia membuntuti kedua-dua wanita berlainan generasi ini berbelanja di seluruh lantai mall.Hatinya benar-benar sakit melihat pemandangan bahagia dan mesra ini.
Selama ini,dia tidak pernah dianggapi oleh keluarga Arga.Sekuat mana di berusaha untuk menaikkan martabat hidupnya disamping Arga,hal itu tidak bisa dia dapatkan dengan mudah.Untuk mendapatkan pengakuan dari orang tua Arga juga sangatlah susah.
Tidak seperti Quen.Wanita itu dengan mudahnya mendapatkan apa-apa saja yang mahukan tanpa usaha lebih.Atas dasar apa dia bisa mendapatkan apa-apa saja yang dia mahukan?Bahkan bukan ukuran seorang pembantu rumah layak untuk Arga,pria tampan dan mampan di sejagat raya itu.
Hatinya menyerah.Dia pergi dari Arga setelah merasa putus asa dengan orang tua Arga.Pria tampan dan kaya bukan cuma hanya ada dia seorang.Lalu dia memutuskan untuk berselingkuh dengan Arga.Disinilah khilafnya.
Dia hamil.Tetapi tidak tahu siapa ayah sebenar dari anak yang dia kandungkan sehinggalah anaknya lahir.Barulah dia membuat tes DNA dengan setiap pria yang pernah melakukan ONS(One night stand)dengannya secara rahasia termasuklah Arga.
Setelah kewujudan Qarin,hidupnya berubah.Dia bisa berleluasa menikmati fasilitas yang diberikan oleh ke keluarga Aldeberght dengan syarat dia harus berhenti dari profesi modelling dan fokus merawat Qarin.Tiada ikatan sah yang dijanjikan oleh Arga.Sebabnya dia juga tidak tahu.
Dia hampir depresi merawat balita itu kerana hidupnya benar-benar terkekang oleh kehadiran Qarin.Dia pernah merutuki anaknya kerna kehadiran balita itu dia kehilangan kebebasan.Nyonya Aldeberght tidak memperkerjakan pengasuh untuk Qarin.
Sesuai dengan peraturan nyonya Aldeberght,dia harus mengurusi anaknya sendiri.Dia benar-benar menderita.Dia tidak betah untuk tidak bersosialista dengan teman-teman bebasnya.Dia mahu bebas seperti kehidupan lalunya.
Kerana merasakan tidak adil baginya untuk hidup seperti itu,nyonya Aldeberght menyuruhnya pergi tanpa membenarkan dia membawa Qarin serta tidak berhak kembali lagi ke kediaman Arga mahupun kediaman Aldeberght.Dia bebas menemui anaknya tapi dia tetap tidak diakui oleh keluarga Aldeberght.
"Arghhh!Sialan."Rutuknya dengan amarah yang membucah didada.
Dia hanya bisa melihat pemergian dua wanita berbeda genarasi itu dengan tatapan penuh kebencian dan cibiran.Dia harus menyusun rencana selekasnya.Dia harus mendapatkan Arga dan anaknya kembali.Dia harus menyingkirkan Quen sekali lagi.
HARUS!Tidak mengira akan konsekuensi yang harus dia tanggung kedepan nantinya.
__ADS_1
❤️❤️❤️ Bersambung...