KEMBALILAH CINTA

KEMBALILAH CINTA
KHABAR GEMBIRA


__ADS_3

"Selamat pagi nyonya.Nyona mau minum apa?"Tanya bi Som sebaik saja nyonya Aldeberght melabuhkan bokongnya di sofa ruang keluarga yang disiapin khusus oleh Arga untuk kedatangan keluarga ataupun tamunya.


"Air putih saja bi.Arga lagi dimana,bi?Kok gak kelihatan."Tanya Nyonya Aldeberght sebelum bi Som melangkah menuju dapur.


"Ada di kamar nemenin nona Quen, Nyonya."Jawab bi Som singkat sebelum wanita paruh baya itu benar-benar menghilang dibalik pintu dapur.


Setiap pagi,jika punya kesempatan Nyonya Aldeberght akan menyempatkan waktu untuk mampir hanya sekadar mengecek kondisi anak lelakinya serta menantunya itu.


Sebulan telah berlalu sejak kejadian dimana Quen dan Qarin dikejarkan kerumah sakit akibat dari pancingan emosi dari Viona.Hampir setiap hari Arga menguruskan keperluan Quen sendiri.


Inilah yang Nyonya Aldeberght maukan.Perhatian penuh daripada Arga untuk Quen.Seharusnya putranya itu lebih memperhatikan Quen sejak awal pernikahan mereka.Namun apalah dayanya untuk merubah sikap seseorang itu apalagi berhadapan dengan sikap keras kepala Arga.Haruskah dia bergembira atas penderita yang Quen alami kini,kerana dalam kondisi Quen seperti ini Arga sanggup berbuat apa-apa saja demi bersama-sama dengan Quen setelah dia menyesali semua perbuatannya di masa lalu.


"Bi,bisa panggilkan Arga buat saya?Saya mau ngajakin Arga sarapan bareng."Titah Nyonya Aldeberght.


"Baik nyonya."Jawab bi Som tanpa banyak soal.


Wanita paruh baya itu lalu naik ke lantai atas untuk memanggil tuannya.Namun saat didepan pintu kamar, sayup-sayup kedengaran suara Arga dan sesorang berbicara.Namun tidak begitu jelas kedengaran.


"Mungkinkah tuan muda sedang nonton berita di waktu pagi."Gumannya lalu tanpa terlalu memperdulikan suara itu,bi Som lalu mendorong pintu kamar Arga.


"Tuan muda,"


Sebaik saja pintu kamar terbuka,satu pemandangan yang amat mengkagetkan di pagi yang indah itu.Ternyata suara bisikkan itu tadi datang dari nyonya muda mereka.


"Non?Kamu sudah sadar?"Tanya bi Som dengan mata yang berkaca-kaca seakan-akan sudah mau menumpahkan bening di kolam matanya.

__ADS_1


"Ya,bi."Jawabnya sembari melemparkan senyuman hangat kearah wanita paruh baya yang sudah lama dikenalinya itu.


"Syukurlah non.Akhirnya kamu bisa terjaga lagi."Ucapnya dengan penuh syukur dan gembira.


"Jika begitu bi siapin makanan.Sudah lama kamu tidak makan.Tuan muda tunggu disini saja.Nanti bibi bawain makanannya kemari."Katanya lagi sebelum bergegas kembali ke lantai bawah dengan air mata kegembiraan.


"Bi,kenapa dengan kamu.Kenapa kamu menangis?Apa telah terjadi sesuatu pada Quen?"Tanya Nyonya Aldeberght separuh panik sehingga dia mengcengkeram keras kedua-dua pundak ni Som sambil meguncang hebat tubuh wanita itu disaat wanita itu lewat dihadapan nyonya Aldeberght.


"Tidak terjadi apa-apa yang tidak baik nyonya.Tapi khabar baik.Nyonya muda sudah sadarkan diri.Saya mau siapin makanan buat nyonya muda.Pasti dia sudah lapar."Kata bi Som buru-buru dan berlari masuk ke dapur.Menyiapin makanan untuk Quen agar wanita muda itu miliki tenaganya semula.


Nyonya Aldeberght yang menerima khabar gembira ini lalu menelefon suaminya untuk makan bersama di vila Arga sebelum turut ikut ke dapur membantu pembantu rumahnya agar lebih cepat mempersiapkan makanan untuk Quen dan juga mereka.


******


"Syukurlah kamu sudah sehat semula.Jadi mulai sekarang kalian harus memperbaiki hubungan kalian agar menjadi lebih dekat lagi."Nasehat Nyonya Aldeberght setelah mereka selesai makan siang.


"Baik Pah.Arga akan ingat pesan papa."Jawab Arga sopan sembari menggenggam kedua-dua tangan Quen sambil tersenyum kearah wanita itu.


"Dan Quen,jika Arga membully kamu jangan sungkan mengadu sama papa dan mama yah."Kata tuan besar Aldeberght kepada Quen pula.


"Baik Pah "Jawab Quen singkat.


"Jika begitu rukunlah sesama sendiri agar rumah tangga kalian adem-adem saja.Jika punya masalah harus dibincangkan secara baik-baik dan jangan sampei menimbulkan kesalahpahaman antara diri masing-masing.Ingat itu."Kata nyonya Aldeberght lagi.


"Bi,mulai sekarang kamu menjadi mata-mata buat saya dirumah ini.Laporkan apa-apa saja yang menurut aneh bagi bibi tentang perubahan sikap mereka."Titah Nyonya Aldeberght kepada pembantu rumah Arga itu pula.

__ADS_1


"Baik Nyonya.Saya akan ingat pesan nyonya."Jawab bi Som sopan.


"Oohh,sekarang kalian memojokkan aku?"Tanya Arga tidak senang.


"Salah siapa jika kasar dan memiliki sikap b****k sama Quen.Sekarang jika kamu ulangi hal yang sama,papa sama mama tidak akan sungkan memberi pelajaran buat kamu.Ngerti kamu."Kata nyonya Aldeberght dengan begitu tegas sekali.


"Baik mah."Jawabnya dengan wajah yang muram.


Setelah beberapa hari berehat di vila baru mereka,Quen akhirnya kembali lagi ke apartment miliknya untuk membawa beberapa dokumen penting untuk proyek yang sudah diatur ulang oleh Christian untuknya.


"Selamat sore,nona Tess.Wah,udah lama gak ketemu sama kamu.Khabar kami bagaimana?Apa sudah sehat?"Sapa Max sebaik saja Quen keluar dari apartmentnya.


"Hi Max.Aku baik-baik saja.Kamu sendiri bagaimana?"Tanya Quen pula.


"Aku ba.."


"Max,dimana laptop ku."


Belum sempat Max menjawab sapaan Quen satu suara menyela dari pintu apartment milik Max.Disana terlihat seorang pria yang tak kalah tampan dari Max sedang berdiri menjulang tinggi di depan pintu.


Sesaat,nerta coklat gelap milik pria itu bertatapan dengan netra coklat gelap milik Quen.Kedua-duanya sama-sama melotot tidak percaya.Mana tidaknya mereka sudah mengenali satu sama lain sudah agak lama.Lebih lama daripada orang yang mengenali mereka satu masa lalu.


Disaat Quen menatap wajah pria itu,sekelebat ingatannya tertuju kepada arwah ibu dan ayahnya.Kesakitan itu datang kembali kerana merasa nasib kedua-dua orang tuanya tidak terbela meskipun mereka telah meninggal dunia.Kerana itulah Quen memilih untuk pergi dengan hati yang benar-benar kecewa.


Tanpa basa basi dan menghiraukan Max,dia berbalik tubuh dan bergegas meninggalkan apartmentnya dan menuju lift untuk kelantai dasar.

__ADS_1


"Qu..Quen?"


❤️❤️❤️❤️❤️ Bersambung..


__ADS_2