
Quen mengerjapkan matanya berulang-ulang kali untuk menyamakan pencahayaan dari terus masuk kedalam nertanya.
Kepalanya berdenyut nyeri.Begitu sakit sekali.Bahkan sekujur tubuhnya turut merasa lemes.
"Arghhh,"
Quen merigis menjana sakit yang amat berat dikepalanya.
"Ini lagi dimana?"Dia bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah kuat mengumpul nyawanya kembali,barulah Quen sadar bahawa sekarang dia bukan berada di dalam kamar apartmentnya.Tetapi lebih tepatnya berada di kamarnya yang ada di rumah Arga.
"Sungguh pria menyebalkan."Umpatnya sambil menahan denyutan nyeri di kepalanya.
"Gak baik loh ngumpet suami sendiri."Celetuk suara yang amat menyebalkan di telinga Quen.
"Ngapain bawa aku kemari.Bukankah aku sudah bilang aku mau pulang kerumah ku sendiri."Tukas Quen tanpa memperdulikan kesehatannya sendiri.
"Aku gak tega ngebiarin kamu sendiri disana.Apa lagi saat kamu sedang sakit-sakitan seperti ini.Disini juga rumah mu."Ujar Arga lembut.
"Sok paduli."Cibirnya lagi.Quen tidak lagi berbicara setelah itu.Dia hanya bersander di kepala ranjang untuk merilekskan kembali tubuhnya yang kaku kerana sakit.
"Siapa yang menggantikan bajuku."Tanya Quen tiba-tiba setelah mendapati pakaian yang dia pakaikan kini bukanlah pakaian kantoran lagi melainkan piyama tidur.
"Aku sendiri yang menggantikannya.Apa perlu orang lain jika kau memiliki suami untuk menggantikannya untuk mu."Kata Arga jujur.
"Kau..kau..ihh Arga b******k."Pekiknya lalu melemparkan bantal kearah Arga.Bahkan kini wajah Quen sudah merona merah menahan malu.Mau saja dirinya menceburkan diri kedalam kolam untuk mengusir rasa malunya pada pria yang bergelar suaminya itu.
__ADS_1
Meskipun sudah menikah selam lima tahun,untuk melakukan sesuatu hal yang intim itu tidak pernah terlintas di pikirannya.Bersentuhan juga tidak.Ya,cuman sejak dua minggu terakhir mereka melakukan hanya sebatas ciuman.Belum lagi kearah yang lebih intim dari itu.
"Kau malu?"Goda Arga yang kini sudah naik keatas ranjang.
"Ihh,kau nyebelin."Pekik Quen lalu menguburkan dirinya bergelung dibawah selimut.Dia benar-benar malu dengan Arga sekarang.Mau diletakkan dimana mukanya,disaat dia memikirkan bahawa Arga sudah melihat semua tubuhnya.Dia sudah ternoda.
"Kau,kau keluar!Aku gak mau ngelihat wajah kamu disini."Pekiknya di dalam selimut.
Namun Arga tidak memperdulikan kata-kata Quen.Dia malah masuk ke dalam selimut dan bergabung dengan Quen di dalam sana.
Lantas dia meraih tubuh Quen dan lalu mendakap erat wanita itu dari arah belakang.Awalnya dia memberontak.Tapi akhirnya dia mengalah kerana tenaganya jauh kalah dari Arga apalagi disaat ini dia sedang sakit dan tidak memiliki tenaga yang tersisa.
"Apa kau tidak mau mengulangi kejadian malam tadi?"Lagi-lagi Arga menggodanya.Bahkan dagu pria itu sudah berada diceruk leher Quen serta memeluk tubuh wanita itu dengan posesif.
Quen cemberut.Dia mencoba untuk mencerna apa yang Arga katakan.Dia berusaha mengingati kembali apa yang sudah terjadi sore kemarin.Namun Quen tidak menemukan jawabannya.
"A..apa yang telah aku lakukan?"Ucapnya terbata-bata.Suaranya yang kecil itu masih lagi bisa didengarin oleh Arga dengan jelas.
"Arga b******k.Ku harap kau lemas di danau dan dimakan buaya."Racau Quen dalam tidurnya.
Arga yang sedang mengendarai mobil turut tersentak kaget disaat Quen mengumpatnya secara tiba-tiba.Matanya mengernyit menatap sosok Quen yang sudah terlelap di krusi samping kemudi.
"Sayang,kamu knapa?"Tanya Arga cemberut.
"Sayang,"Panggilnya lagi.Namun tidak digubris oleh wanita yang bergelar istrinya itu.
Arga lalu memakirkan mobilnya ke bahu jalan untuk mengecek kondisi Quen.
__ADS_1
"Sayang,kamu gak papa?"Tanya Arga mulai khawatir akan kondisi Quen.Dia menepuk-nepuk lembut pipi Quen.Apa yang mengejutkannya,hawa panas dari tubuh Quen benar-benar terasa di tangannya.
Sontak itu Arga panik.Dia lalu meraih ponsel untuk menghubungi Pak Billy untuk menelefon dokter peribadi keluarga Aldeberght untuk segera tiba di vila.
"Arga kau benar-benar pria b*****k.Kau menyebalkan sekali."Sekali lagi Quen berguman dalam tidurnya.
Tanpa menunggu lebih lama,Arga menacap gas mobilnya untuk segera tiba di vilanya.
"Kenapa kau lakuin ini kepadaku?Apa salah ku?Tidak apa kau tidak menganggap aku sebagai istri.Tapi layakkah aku diperlakukan sebagai seorang j****g."Lirihnya Quen lagi.
Arga yang mendengar kata-kata Quen ini merasakan dia benar-benar telah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya.Begitu berat perasaan yang dialami oleh Quen sejak mereka menikah lima tahun silam.Bahkan dalam keadaan sakit seperti ini,istrinya itu mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatinya yang menurut Arga adalah pengakuan dari Quen selama ini.
"Aku memang seorang yang b*****k,Quen.Aku akui itu.Aku bukan laki-laki yang baik pernah kau kenali.Aku salah kerana menyia-nyiakan wanita sebaik kamu."Arga menimpali kata-kata Quen yang dia sendiri tidak tahu adakah wanita itu mendengarkan nya ataupun tidak.Hatinya turut teriris pedih setelah mendengar curcat dari Quen.
Setelah jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di vila Arga.Dengan wajah yang cemas,dia berusaha untuk mengendong Quen dari krusi samping kemudi.
"Enghh,"Rigis Quen sembari membuka matanya.
"Ga,Arga,"Lirihnya dengan suara tertahan.Deru napas yang hangat menerpa tengkuk Arga menandakan suhu tubuh wanita itu begitu panas sekali.
"Kita sudah sampai.Sebentar lagi dokter akan mengecek kondisi kamu."Ujar Arga lagi.Dia tidak peduli jika Quen mendengarkan dirinya atau tidak.Yang penting mereka sudah tiba di vila dan Quen akan mendapat penangan dari dokter selekasnya.
"Kau bodo* Ga."Tanpa aba-aba Quen meraub bibirnya dan me****t bibir dingin Arga dengan penuh cinta.
Arga yang menerima serangan secara tiba-tiba dari Quen,sontak membulatkan matanya tidak percaya.
Adakah ini Quen yang dia kenal?
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️🥰 Bersambung..
🥰❤️❤️Hi!my loving reader.Jangan lupa kasi like,komen dan Vote jika kalian suka karya ku.Semoga kalian selalu mendukung karya Author.Daa..😘😘