
"Selamat pagi bi."Sapa Charles sebaik saja melabuhkan bokongnya di krusi di meja makan.
"Selamat pagi juga nak."Sapa wanita paruh baya yang dipanggil bi Som itu dengan senyuman ramahnya.
"Makasih ni."Ujar Charles lagi setelah ni Som menuangkan air hitam pekat itu kedalam cangkir Charles.Charles lalu menyeruput kopi panas itu tanpa banyak bicara.
"Bi,knapa kopinya berbeda yah hari ini?"Tanya Charles setelah menyadari air kopi yang diminum amat berlainan dari air kopi yang selalu dia minum disaat menginap dirumah Arga.
"Oh,kopi yang biasa itu,selalunya Non Quen yang bikin.Tapi hari ini bibi yang buatkannya.Knapa nak.Kopi buatan bibi gak enak kayak kopi buatan Non Quen."Ucap bi Som.
"Eh,ini juga enak kok.Cuma manis dikit aja.Pas minumnya nanti,pasti dikejar sama cewek manis."Selorah Charles dengan tawanya.
"Tuan muda masih belum bangun lagi?"Tanya Paul.
"Sebentar lagi dia turun pak."Jawab bi Som lugas.
Belum lama mereka berbicara,Arga turut ikut bergabung di meja makan.Keadaan rumah pagi ini sungguh sepi sekali.Biasanya dia selalu mendengar suara gelak tawa Quen yang samar-samar di indera pendengarannya.Namun pagi ini suara wanita itu sepi.Hanya obrolan Charles,ni Som dan Charles yang kedengaran disana.
Biasanya di saat sarapan pagi, wanita itu sudah tiada di meja.Bahkan hanya meninggalkan bekas piring diatas meja setelah selesai sarapan.Pagi ini,diatas meja tiada bekas pinggang yang wanita itu gunakan.Disana hanya Charles saja yang bersarapan.
"Ish!Knapa aku tiba-tiba memikirkan wanita sialan itu.Argg!sudahlah."Bentaknya di dalam hati.Sebaik saja melabuhkan bokongnya di krusi,Arga mulai menyeruput kopi hitam kesukaannya.
pfrrrrrf
__ADS_1
Air hitam pekat itu tersembur keluar dari mulutnya.Rasanya amat berbeda sekali dengan air kopi hangat yang dia selalu minum di setiap pagi.
"Bi!air apa nih.Kok gak enak banget.Apa bibi sudah lupa meracik kopinya."Teriak Arga menggelegar di ruang makan itu.
Paul dan Charles memilih untuk berdiam diri tidak mengomentar apa-apa pun di meja makan itu.Sudah masanya dia tahu siapa yang selalu menguruskan makan minum dia selama ini.Biarkan dia sadar selama ini wanita yang tidak pernah dia anggap itu sudah banyak berkorban untuk menguruskan rumah tangga mereka.
"Ada apa tuan."Ujar bi Som yang berlari terbirit-birit disaat suara Arga berteriak dari ruang makan.
"Ambilkan air hanget.Kopinya tidak enak.Apa bibi sudah lupa meracik kopi seperti biasanya?"Ujar Arga dengan wajah masamnya.
"Aduh,kopi yang biasa itu,selalunya nona Quen yang meracik kopi pagi-pagi.Bibi cuma sediakan makanan lainnya."Jawab bi Som jujur.
Duarrrt!
"Ga,mau kemana?Kok sarapannya gak dimakan?"Tanya Charles yang kini sudah tersenyum simpul kearah pria keras kepala yang sudah memunggungi meja makan.
"Gak ada selera.Sku mau mandi duluan.Sebentar lagi aku mau ke kantor."Ucapnya dengan wajah yang masam.
"Pak Paul,Quen kemana? Tumben pagi-pagi udah hilang?Apa sudah pergi kerja yah?"Tanya Charles setelah Arga hilang dari pandangan.
"Nona Quen sudah pergi tuan."Ujar Paul.
"Pergi kemana?"Tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Melancong."Jawab bi Som dengan sekenanya.
Jujur saja,wanita paruh baya itu tidak terlalu suka jika ada pihak lain yang mencoba masuk campur kehidupan peribadi majikannya.Baik teman dekat ataupun saudara.Selama menjadi pembantu di rumah Arga,dia seringkali melihat wanita muda itu disakiti dari segi batinnya.Bahkan wanita muda itu selalu mendapat cemohan dari keluarga yang lain kerna menganggap Quen hanyalah benalu di hidup Arga yang serba serbi sempurna dalam segala hal.
Perginya Quen semalam, hilanglah keceriaan rumah mewah itu.Buktinya,tiada lagi gelak tawa yang selalu menghiasi pagi hari mereka yang berada di rumah mewah itu.Disaat bangun pagi,yang dirasakan mereka adalah hari yang suram.Tiada keceriaan di dalamnya.
*****
"Tuan,apa tuan sedang sibuk?"Tanya Paul di hadapan pintu ruangan kerja milik Arga.
"Tidak Paul.Masuklah.Ada apa?"Tanya Arga tanpa mengalihkan pandangan dari laptop miliknya.
""Ini tuan.Nona menyuruh saya beri ini kepada tuan."Ujar Paul lalu menyodorkan map berwarna coklat kepada Arga.
"Jika tidak ada.Saya permisi dulu tuan."Ucap Paul.Dia tidak mahu lama-lama dalam ruangan tersebut kerna merasa sakit hati kepada pria muda dihadapannya ini kerna sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Quen.
Selepas Paul keluar dari ruangannya,barulah map itu dibuka olehnya.Dia begitu penasaran dengan isi map yang diberi oleh Quen kepadanya.Sebaik saja isi kandungan didalam map dikeluarkan,sekali lagi dia merasakan dunianya gelap.
Ternyata surat gugat cerai.Dan paling mengkagetkan dirinya adalah semua kartu yang diberikan kepada wanita itu juga dikembalikan lagi kepadanya.Arga menggigit bibir dalamnya.Dia tidak menyangka akhirnya wanita itu menceraikan dirinya.Inilah yang dia tinggu-tunggu selama ini.
Namun setelah menatap akta cerai itu,mengapa hatinya seperti dicabik-cabik dengan parah sekali sehingga badannya melemah.
"Mengapa hatiku begitu sakit seperti ini.Bukankah seharusnya ini berita gembira buat aku.Bukankah ini yang aku mahukan.Membuatkan dia pergi dari hidup aku.Tapi mengapa perasaan ini begitu sakit sekali."Ujarnya lirih.Satu tangannya mencengkam dada kirinya yang begitu sakit sekali.Sakitnya yang lebih menyakitkan daripada mengetahui Viona berselingkuhan darinya.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ Bersambung...