
Pagi ini Max didatangi seorang tamu dari kota seberang.Perjalanan mangambil masa dua jam sebelum tiba di kota Jakarta.Pria tampan dan tinggi semampai bermarga Smith itu merupakan kenalan lama dari keluarganya sebelah ayahnya.
Kedatangan pria yang bernama Danvern menghabiskan masa liburannya setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun mencari satu-satunya pewaris Smith yang telah menghilang diri setelah kematian kedua-dua orang tuanya enam tahun lalu.
"Kau tidak mengabari aku terlebih dulu jika mau kemari.Apa kau tidak menganggap aku sebagai seorang teman lagi?"Omel Max disaat Danvern sudah berdiri kaku di hadapan pintu apartment milik Max pada pagi itu.
"Maaf, kedatangan aku mendadak sekali.Maaf kerna udah ngerepotin kamu."Balas Danvern dengan cengirannya.
"Masuklah."Jawab Max singkat.
"Gimana dengan perjalanan kamu kemari.Apa ada yang menghambat mu?"Tanya Max lalu membuat dua cangkir kopi panas buat mereka.
"Tiada apa yang menghambat perjalanan ku.Semuanya baik-baik saja.Max,apa kau sudah lama tinggal di apartment ini?"Tanya Danvern sambil menelisik setiap isi ruangan apartment milik Max.
"Tidak begitu lama.Baru saja dalam enam bulan.Apa kau sudah makan?"Tanya Max lagi sebaik saja dia meletakkan cangkir kopi dihadapan Danvern.
"Aku belum makan siang lagi.Gimana kita makan siang diluar.Aku yang teraktir."Tawar Danvern.
Setelah bersiap-siap akhirnya mereka pergi makan siang di luar.Tidak terasa hari itu berlalu dengan cepatnya.Mereka kembali ke apartment setelah jam empat sore.
Saat mereka melewati pintu apartment milik Quen,Max menghentikan langkah kakinya.Dia menatap pintu pemilik apartment itu dengan penuh tanda tanya.
Sudah lama dia tidak melihat wanita itu berada di apartment.Apakah dia sudah kembali lagi ke London?Atau sudah berpindah rumah.Atau pergi dinas ke luar kota dalam tempoh waktu yang lama.Saat Max masih belum tahu keberadaan Quen yang sudah dibawa oleh Arga pergi.Sejak kejadian terakhir di club bulan lalu,dia sudah tidak melihat sosok wanita itu lagi.Bahkan di perusahaan Christian juga dia tidak ada.
Saat dia menanyakan kepada Christian,pria itu mengatakan Quen sedang libur panjang kerana ada urusan peribadi.
"Max,apa ada masalah?Kau kenal pemilik apartment ini?"Tanya Danvern penasaran.
__ADS_1
"Emm..Sudah lama dia tidak kembali.Entah bagaimana kabarnya."Ucap Max tanpa sadar.
"Pasti ini cewek cantik yah?"Ledek Danvern sambil terkekeh-kekeh.
"Cantek,tapi sudah punyai pemiliknya."Jawabnya singkat.
"Sudah punya pacar?Kau menyukainya?"Tanya Danvern lagi.
"Hanya suka sebatas teman.Dia istri kepada teman ku.Entah apa yang telah terjadi sama mereka sehingga tinggal terpisah antara satu sama lain sehingga dua tahun lamanya."
"Woo bro.Kau amat parah bro.Apa tidak ada wanita lain yang kau sukai sehingga menyukai istri temanmu sendiri?"Sindir Danvern yang terlanjur kaget mendengar pengakuan Max.
"Beg*! Bukankah aku mengatakan hanya sekadar suka sebagai teman.Jika kau mengenal dekat dengannya,pasti kau juga suka dengannya.Bahkan Christian juga berebut mengejar istri Arga kerana kisah lalu mereka."Ujar Max dan ini membuatkan Danvern sekali lagi keget mendengar rahasia ini.
"Cinta tiga segi?Wah, sepertinya wanita ini bukan sebarang wanita sehingga teman-teman mu merebutkan satu wanita.Pasti dia benar-benar cantek,bukan?"
"Kok bisa."
"Christian mengenali Tess sudah 10 tahun.Masalah mereka dan hubungan mereka aku juga kurang pasti.Arga pula menikah dengan Tess selama tiga tahun sehingga Tess membawa diri ke London dan bekerja di perusahaan milik Christian selama dua tahun ini.Sungguh ironi,bukan?Ah,sudahlah.Ayo kita masuk."Ujar Max lagi setelah menyadari dia kayak ibu-ibu yang sedang membuka kedok teman-temannya.
******
Pagi yang cerah,Quen dengan suasana hati yang amat baik,berniat kembali ke apartmentnya untuk mengambil beberapa berkas yang penting disana.
Arga, pagi-pagi lagi sudah berangkat ke kantor kerna ada meeting dengan klien penting pagi ini.Masih lagi tersisa dua hari lagi liburannya usai.Quen mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke destinasi yang dia tujui.
Dia apartment milik Max, kedua-dua pria ini sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.Sebagai salah satu karyawan penting di SMITH FURNITURE,dia dengan Danvern segitu sibuk kerana sedang merencana design terbaru perabot di perusahaan mereka.
__ADS_1
"Dan,aku keluar sebentar.Aku tidak lama kok."Ucapnya lalu meraih kunci mobil dan melangkah keluar dari apartmentnya.
"Ck!dimana anak itu meletakkan laptopnya.Apa dia tidak tau aku harus mengedit semua lakaran ini nanti?"Decak Danvern sendiri.
Dia lalu menggapai kenop pintu, berharap agar temannya itu belum pergi jauh dari apartmentnya.Sebaik saja pintu dibukakan,dia melihat Max sedang mengobrol dengan tetangga yang dia ceritakan semalam.Tanpa memperhatikan wajah wanita itu,dia lalu berteriak pada Max menanyakan dimana pria itu meletakkan laptopnya.
Seketika,wanita dan Max yang sedang mengobrol lalu menoleh ke arah Danvern.Dan tanpa sengaja tatapan matanya dengan netra milik wanita itu bertabrakkan.
Deg!!
Sontak itu,jantung Danvern berdetak dua kali lebih kencang dari sebelumnya.Serasa percaya atau tidak sosok yang berdiri disamping Max merupakan orang yang dia cari-cari selama lima tahun terakhir ini.
Tidak salah lagi.Wanita itu.Dia benar-benar mengenalinya.Dengan wajah yang gembira bercampur panik dia berteriak memanggil nama wanita itu.
"Qu... Quen!Quen!Tunggu!"
Wanita yang dipanggilnya itu bergegas pergi setelah dia berteriak memanggil nama Quen.
"Quen tunggu!"Teriaknya lagi sambil mengejar Quen yang sudah berlari masuk kedalam lift.
"Dan,Apa kau mengenalinya?"
Dalam kekecohan itu,Max sempat meraih tangan Danvern untuk mendapatkan penjelasan dari temannya itu.Dari apa yang dia lihat dan tebak,kemungkinan Danvern dan Quen mengenali diri masing-masing.Buktinya,disaat Danvern memanggil Quen,wanita itu bergegas pergi dan menghindar selekasnya kerana tidak mau bertemu dengan Danvern.
"Dan,kau mengenalinya?"
❤️❤️❤️❤️❤️ Bersambung...
__ADS_1