
Quen menenggadah kepalanya menatap langit yang mulai gelap.Ada awan hitam mula meninggalkan jejek kaki langit yang tadinya cerah dan kini sudah berubah mendung.
"Ah,kayaknya hari mau hujan."Bisiknya pada diri sendiri.
Beberapa hari ini dia berasa uring-uringan setelah penyataan maaf dari Arga.Apapun yang dia lakukan, bayangan Arga yang memelas meminta maaf itu sentiasa menari-nari di matanya.
"Haruskah aku memaafkan kesalahan masa lalunya?"Quen bermonolog pada dirinya sendiri.
"Aku akui semua ini tidak mudah bagiku untuk memaafkan dirinya denganbegiru saja.Namun aku sadar awal dari semua ini juga adalah salahku.Akulah yang menjadi orang ketiga diantara mereka.Jadi semua ini bukanlah sepenuhnya salah Arga.Aku bisa merasakan semua kekesalan Arga dimasa lalu.Namun untuk urusan perasaan ini,aku akui belum bisa memaafkan dirinya.Aku terlanjur kecewa dengannya dimasa lalu."Katanya pada dirinya sendiri.
*******
"Tess,malam ini ada acara pembukaan gedung terbaru untuk perusahaan Arga.Dia mengundang kita.Aku mau kamu menjadi temanku malam ini.Tiada penolakkan."Pinta Christian lalu menyerahkan sebuah papar beg kepada Quen.
"Ini apa?"Tanya Quen singkat.Tak urung juga tangannya mengambil paper beg dari tangan Christian.Barang itu bertukar tangan.
"Untuk kamu pakai malam nanti.Jam tujuh nanti aku jemput di apartment kamu yah?"Christian melemparkan senyumannya kearah Quen setelah wanita itu melihat isi kandungan di dalamnya.
"Em..baiklah,jika begitu aku pamit dulu.Ketemu saja nanti malam."Jawab Quen dengan senang hati.
Seperti yang dijanjikan siang tadi, Christian menjemput Quen di apartment wanita itu.
"Kamu begitu cantek sekali malam ini.Aku hampir pangling melihat kamu."Puji Christian tanpa mengalihkan tatapannya kepada Quen.
"Ck!Kamu memang pandai mengombal Chriss.Seharusnya kamu membawa pacarmu dan bukannya aku.Aku bisa saja datang bersama tim yang lain."Usul Quen.
__ADS_1
"Pacar?Bahkan aku sudah lama tidak punya pacar."Wajah cerah Christian kini berubah muram.Suaranya yang begitu antusias memuji Quen sebentar tadi berubah datar.
"Kamu lagi ngambek?Ngambek gak punca pacar?pfff!"Quen hampir saja tertawa.
"Kamu ngeledek aku yah?"
"Ogah,"Elak Quen.Namun wajahnya sengaja dia toleh kesamping kerana tidak tahan melihat reaksi wajah Christian yang terlihat lucu di matanya.
"Kamu jahat yang sama aku."Kata Christian lagi.
"Ya,ya,jahatnya sama kamu saja."Jawab Tess dengan hati yang terlihat senang.Wajah cantik itu tidak lepas dari senyuman yang mengambang di bibirnya.Bahkan Christian merasakan mereka berada di dunia mereka sendiri tanpa ada orang yang akan mengganggu mereka.
Mobil yang dikendarai oleh Christian akhirnya tiba di gedung tempat dimana acara pembukaa perusahaan Arga berlangsung.
"Bosan?"sapa satu suara yang paling dihindari oleh Quen malam ini.Dia menoleh kesamping.Dia melihat Arga berdiri sambil tersenyum di sampingnya sambil memegang gelas winenya.Quen mengabaikan pertanyaan Arga.Namun setelah itu dia meraih segelas wine yang dibawa oleh pelayan yang datang kearah ya sebentar tadi.
"Thanks,"Jawab Arga singkat.Detingan gelas yang berlagak akibat detingan yang mereka lakukan kedengaran amat jelas ditelinga mereka.
"Quen,makasih kerna sudi hadir ke acara ini."Kata Arga setelah menyesep sedikit winenya.
"Aku sih sebenarnya tidak mahu hadir kemari,ya kau tahu Chris seperti apa kan?Dia selalu memaksa orang untuk mengikuti kemahuannya.Lagi pula dia bosku.Jadi apa aku punya hak untuk protes?"Kata Quen pula.
Semua tamu tampaknya menikmati acara mereka.Bahkan Christian juga telah hilang entah kemana.Merasakan Christian tidak didapati ditempat,Arga tersenyum sendiri.Ini merupakan satu kesempatan yang baik untuk dia berbicara dengan Quen.Dia harus bisa mengejar Quen atau wanita itu akan terlepas ke tangan orang lain.
"Ikut aku."Arga menarik tangan Quen secara paksa setelah dia merebut gelas wine Quen dan meletakkan di atas meja.Quen yang belum sigap itu bengong seketika.Kakinya dengan ringan mengikuti langkah Arga menuju kedalam lift.
__ADS_1
"Ga,lepasin."Pekik Quen setelah menyadari dirinya diseret masuk kedalam lift.Namun usahanya sia-sia sebaik saja pintu lift ditutup dan kotak besi yang tertutup itu naik laju menuju ke tempat yang telah ditentukan oleh Arga.
"Kamu mau bawa aku kemana?Tidak,aku tidak mahu."Pekiknya.
"Mengapa?Apa kamu pikir aku akan mengheretmu ke salah satu kamar di lantai ini?Maaf,kerana membuatkan mu kecewa.Biarpun aku mahu,tapi aku masih lagi waras."
"Ku,dasar pria breng....Umphh,"
Belum sempat Quen menghabiskan kata-kata cibirannya,bibirnya sudah dibungkam oleh Arga dengan bibir tebal milik pria itu dengan sedikit kasar.Quen tidak menerima pelakuan Arga malah memukul dada kekar milik pria yang kini semakin erat memeluk tubuhnya.Bahkan memangkas jarak diantara mereka sehingga terlihat amat intim sekali.
Napas keduanya teregah-egah disaat tautan bibir mereka terpisah.
"Ka..kamu!"Bentak Quen dengan wajah yang merona merah.
Antara kesal dan suka,semua bercampur aduk.Cumbuan Arga di hujung permainan mereka menyebabkan Quen terbuai seketika disaat Arga menciumnya dengan penuh kelembutan.Meskipun pada permulaan ciuman mereka berlaku dengan sedikit kasar tapi bukan Arga namanya jika mudah mengalah begitu saja.Dia mahu Quen takluk kepada dirinya.
"Apa yang kau lakukan?"
Quen mendorong tubuh Arga sedikit menjauh dari tubuhnya.Dia amat malu dengan sikapnya sendiri sebentar tadi.Wajahnya ditundukkan kerna tidak berani menatap wajah Arga.
"Aku tahu kamu juga menyukainya bukan?"Bisik Arga di telinga Quen.Bahkan mata wanita itu membulat besar kerna tidak sadar Arga sudah maju kembali mendekati dirinya.
Deru nafas pria itu menyapu tengkuknya sehingga meninggalkan gelenyar aneh pada perutnya.
"A..apa yang kau lakukan?"Katanya gelagapan dan timbullah smirk nakal dibibir Arga.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ Bersambung...