
Lapan tahun lalu,Quen pergi dari kediaman Smith kerana merasa tidak adik dengan perlakuan dari keluarga terbesarnya itu.Dia pergi membawa hati yang penuh luka dan hampa.Kematian kedua-dua orang tuanya, menyebabkan dia serasa putus asa dengan hidupnya sendiri.
Saat gelap mulai meyelubungi dirinya,ada sedikit cahaya memimpin jalannya.Dia bertuah kerana bertemu dengan nyonya Aldeberght dan diperlakukan layaknya seorang insan.
Keberuntungan bertambah disaat dia menjadi istri Arga.Dia memiliki segala kemewahan namun tidak bagi perhatian suami kepadanya.Sekali lagi Quen berada di persimpangan yang temaram.Dirinya meraba-raba dalam gelap,mencari jalan keluar yang terbaik buat dirinya serta Arga.
Tiga tahun mereka melayari alam perkahwinan dengan sia-sia.Usai kesepakatan dia dengan Nyonya Aldeberght,dia pergi dengan memberikan surat cerai kepada Arga.
Kehidupan dirinya dengan Arga seharusnya tidak pernah terjadi jika dia bersikeras menolak permintaan tuan besar dan nyonya besar Aldeberght.Oleh itu dia tidak akan terluka begitu banyak dan mendalam.
Siapa yang menduga ternyata takdir seakan-akan mempermainkan dirinya.Bukan saja dia dipertemukan kembali dengan Arga,malah dipertemukan semula dengan pria yang pernah disukai olehnya iya itu Christian.
Dua pria berbeda karektor.Dan tiada yang menyangka dirinya masih terikat dengan pria yang sudah dia anggap sebagai mantan suami malah tidak pernah menandatangani surat cerai yang pernah dia tinggalkan tepat diulangtahun mereka yang ketiga.
Takdir benar-benar mempermainkan dirinya.Bolehkah dia bersyukur kerana kebahagiaan datang sendiri kepadanya?Setelah bertahun-tahun dia berjuang untuk bertahan hidup,apa bolehkah dia menikmati sedikit kebahagiaan yang ada?Belum sempat dia bisa menghela napas lega,sekali lagi dia dipertemukan kembali dengan seseorang dari bahagian keluarga ayahnya.
Memintanya untuk kembali sedangkan dia sudah mulai nyaman dengan kehidupannya sekarang.
Hufff!
Quen menenggadah kepalanya menatap langit biru yang luas dari balkon kamarnya.Kedengaran hembusan kasar berkali-kali dia keluarkan dari bibirnya.
"Ada apa sayang?Kamu tampak mengkhawatirkan sesuatu.Apa ada masalah?"
Kedengaran suara Arga menyapa dari arah belakangnya dan lalu meletakkan kain tebal untuk membungkus tubuhnya sebelum pria itu memeluk dirinya dari arah belakang.
Arga meletakkan wajahnya pada pundak sang isteri serta memeluknya secara posesif.
__ADS_1
"Ada apa sayang.Katakanlah apa yang sedang bermain-main di pikiran mu sekarang?"Desak Arga sekali lagi.
Bahkan kini leher Quen menjadi incarannya agar istrinya itu memberikan perhatian setelah Quen tidak menjawab pertanyaannya.Bukan sekadar itu saja.Bahkan dia mengecup tengkuk Quen serta menggoda beberapa bahagian anggota tubuh si istrinya agar mendapat respond dari wanitanya itu.
Enghh!!
Lenguhan terkeluar dari bibir sang istri.Quen mulai menikmati permainan Arga.Arga membalikkan tubuh Quen agar menghadap dirinya.
Cupp!!!
Bibir mereka menyatu.Lidah yang saling membelit dan meneroka setiap harta karun yang ada didalamnya.
Enghh!!
Lenguhan kedengaran lagi dibibir kedua-duanya.Mereka begitu menikmati permainan mereka sehingga tanpa sadar kali mereka melangkah dengan otomatis menuju kearah ranjang.
Kedua-dua mereka jatuh keatas ranjang.Pertarungan membelit lidah kembali lagi sehinggalah kedua-dua lepas kendali.
******
"Hufff,kamu capek ya sayang."bisik Arga sambil menarik tubuh Quen ke dalam pelukkannya dan hanya mendapat gumanan dari istrinya saja.Tiada suara manja yang dia dengarkan dari Quen.Dikecup puncak kepala Quen dengan penuh kasih sayang.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu sayang?"Tanya Arga setelah keadaan istrinya aman di dalam pelukkannya.
"Lapan tahun,"
Alis Arga mengernyit tidak mengerti apa yang Quen katakan.Namun dia mendengarkannya dengan saksama.
__ADS_1
"Lapan tahun aku pergi dari kehidupan megahku bersama-sama dengan keluarga Smith.Lapan tahun juga aku bagaikan anak yang tidak mengenang budi kerna lari dari kenyataan yang bahawa aku masih lagi memiliki tanggungjawab yang harus aku pikul.Selama lapan tahun juga aku melalui kehidupan yang sukar sehingga aku bisa berdiri dengan kaki ku sendiri,bisa bermegah dengan apa yang aku perolehi dengan bakat sendiri."
Quen meghela napas panjang.
"Aku benar-benar merindui kedua-dua orang tuaku.Meskipun aku tidak semegah dan sekaya sewaktu orang tuaku masih ada,namun aku amat berbangga dengan apa yang aku perolehi kini."
Tidak terasa Quen terisak di dalam pelukan Arga.Satu persatu rentetan peristiwa pahit menerjang pikirannya.Sungguh sebak sekali.
"Apa kau tidak mau bergantung hidup padaku?Bukankah aku begitu kaya dan tajir.Lalu mengapa kamu mengatakan kamu seolah-olah orang yang kekurangan semuanya.Berharaplah padaku sayang.Akunakan mewujudkan apa yang kau tidak pernah bisa wujudkan."Pinta Arga dengan lirih sambil mengusap pipi Quen yang putih mulus itu.Dikecupnya sekilas bibir ranum sang istri menyalurkan rasa cintanya yang tidak berbelah bagi.
"Mau menjiarahi mereka?"Tanya Arga dengan suara lembut.Sontak itu Quen menenggadah kepalanya menatap manik biru gelap milik Arga.
"Apa boleh?"
"Hay,apa kau tidak mau memperkenalkan aku kepada mertuaku sendiri?"Kekeh Arga dan disambut dengan senyuman penuh erti dari wanita yang sedang dipelukkannya ini.
"Minggu depan adalah ulangtahun kematian mereka kelapan tahun.Kita pergi sehari sebelum hari ulangtahun itu.Aku mau kita bertemu dengan seseorang disana."Kata Quen dengan antusias.
"Siapa?"Alis Arga mengernyit tidak suka.
"Pria atau wanita,"Tanyanya lagi.
"Rahsia,"Ucap Quen sambil tersenyum usil dan lalu menyelusupkan kepalanya kedada bidang suaminya serta memeluk tubuh pria itu dengan erat.
"Dasar curang!"
♥️♥️♥️♥️Bersambung...
__ADS_1