
"Selain itu, Sam akan menjadi kapten kalian. Dan di masa depan, kalian hanya perlu mendengarkan perintahku, tunanganku, dan Sam. Kalian tidak perlu lagi menerima perintah dari Reynard," ucap Ansell dengan keputusannya. Ia tidak ingin memiliki penjaga yang masih bimbang dengan pemimpin mereka.
Jika mereka masih menuruti perintah dari banyak pihak, maka Ansell yang akan kewalahan. Ia tak bisa memiliki kendali penuh atas bawahannya sendiri.
Namun, beberapa dari mereka masih ragu-ragu ketika mendengar ucapan Ansell, "Tuan, Tuan Reynard adalah tuan kami sejak awal. Kami tidak mungkin melakukan itu."
Walau mereka sudah merasa hormat dengan Ansell, tetap saja mereka tak ingin menjadi pengkhianat oleh Reynard. Apalagi bersama Reynard lah mereka tumbuh dan berkembang. Karena Reynard pula mereka bisa menjadi sampai seperti ini.
Jika mereka tak lagi bisa menuruti perintah Reynard, mereka merasa sangat berat. Mereka bukan orang yang tidak tahu berterima kasih.
"Itu adalah perintah. Kalian harus mengikuti perintahku," ucap Ansell tegas pada mereka.
Para elit tidak berani lagi menjawab. Satu sisi mereka takut, sisi lain mereka menghormati Reynard.
"Jika Reynard berani tidak puas, suruh dia datang menemuiku secara langsung," ucap Ansell tak ingin basa-basi lagi. Berbicara dengan elit itu benar-benar membuang waktunya. Para elit memang pembangkang.
Mereka bukan bawahan yang akan patuh begitu saja pada atasan. Biasanya bawahan seperti itu akan sulit menerima perintahnya nanti.
Tak ingin memikirkannya lagi, Ansell pergi menemui Nichole di perusahaan. Ia tak ingin Nichole menunggu terlalu lama lagi.
__ADS_1
*
Di perusahaan.
Ansell dengan cepat tiba. Ia membawa sebuket bunga yang sudah ia pesan sebelumnya.
"Ansell, akhirnya kau tiba," ucap Nichole.
"Maaf, membuatmu menunggu lama," ucap Ansell memeluk dan mencium kepalanya.
"Ambil ini," ucap Ansell memberikan buket bunga itu. Ia sudah lama tidak memberi hadiah pada Nichole. Ia ingin membuat Nichole kembali tersenyum walau mulai dari hal kecil.
"Tidak perlu berterimakasih," jawab Ansell mengelus rambut Nichole.
"Jadi apa rencana kita malam ini?" tanya Ansell. Ia tahu apa yang dipikirkan Nichole, tapi tetap bertanya.
"Bagaimana kalau kita makan malam dan berkencan?" tanya Nichole malu-malu. Ia sudah merencanakan ini sejak menunggu Ansell. Ia juga sudah memilih tempat yang cocok untuk mereka berdua.
"Tentu saja," ucap Ansell menerimanya dengan senang hati.
__ADS_1
Nichole semakin merasa bahagia. Akhirnya ia bisa kembali membuat momen indah dengan Ansell setelah bertahun-tahun menunggu sendiri.
"Ayo kita bersiap," ucap Nichole.
Ia mengambil pakaian Ansell yang sudah ia siapkan. Ia juga mulai memakai gaun yang sudah ia beli. Nichole juga memakai make up tipis.
Mereka pun mulai sibuk bersiap.
*
Saat malam hari.
"Nichole, kau sangat cantik," ucap Ansell. Ia memegang lembut pipi Nichole yang dipoles make up tipis.
Nichole tak sanggup menatap mata Ansell. Pipinya memerah bahkan tanpa memakai blush on. Ansell benar-benar selalu berhasil membuat Nichole terpesona.
"Ayo pergi," ucap Nichole mengalihkan pembicaraan. Ia menggandeng lengan Ansell dan mereka berjalan bersama.
Ketika Ansell dan Nichole akan pergi berkencan, mereka melihat Sam dan keempat elit lainnya sudah berganti seragam.
__ADS_1
Mereka memakai seragam penjaga keamanan perusahaan.