Kemunculan Master Terhebat

Kemunculan Master Terhebat
Keadaan Tidak Kondusif


__ADS_3

Ansell juga melihat ada Alexia di sana. Alexia menatapnya dengan kesal karena ia masih ingat kejadian saat itu.


Alexia belum melupakan Ansell. Mungkin Ansell adalah orang yang tidak akan pernah dilupakan olehnya. Ansell lah yang membuat ayahnya sampai menampar Alexia.


Padahal, Alexia sudah melakukan yang terbaik untuk menyambut Ansell saat ia baru keluar dari penjara.


Melihat dua orang lain yang ada di sana, Ansell mengabaikan mereka dan duduk di tempat yang sudah disediakan Harry. Ia juga meminum teh yang disuguhkan Harry.


"Silahkan Tuan Teo juga minum tehnya," ucap Harry. Namun, ia tidak menyuguhkan teh secara langsung untuk Teo.


Teo menuang tehnya sendiri dan meminumnya sedikit. Lalu, ia berkata, "Mengundang orang hebat seperti Tuan Ansell memang sangat sulit."


Ada nada sarkasme dalam ucapan Teo. Ia memang sengaja melakukan ini untuk membuat Ansell malu. Ia tak ingin menjadi orang yang terlihat sangat membutuhkan Ansell.

__ADS_1


"Tidak juga. Aku memang sudah berencana untuk datang menemuimu. Ternyata kau lebih tidak sabar untuk menunggu kedatanganku," jawab Ansell santai. Ia tidak tertekan sama sekali dengan tatapan tajam dari orang di belakang Teo.


Teo merasa tersinggung dan marah. Jika Ansell berani mencibirnya, maka Teo tidak akan tinggal diam. Ia menjawab dengan nada sedikit tinggi, "Kau telah melukai orangku. Kau pikir aku tidak akan memperhitungkan ini? Setiap orang yang telah kau lukai harus kau bayarkan."


Ansell tersenyum mengejek, "Orangmu datang ke perusahaan kekasihku dan membuat onar. Apa salahnya jika seorang penjaga keamanan melakukan tugasnya? Ah, tapi, sepertinya orangmu kalah dengan penjaga keamanan perusahaan biasa. Bukankah begitu?"


Teo semakin merasa panas mendengar ejekan Ansell. Fakta itu adalah hal yang paling dibenci Teo. Padahal ia tahu kekuatan orang-orang yang dikirimnya. Ia juga tidak hanya mengirim satu orang.


Namun ternyata, mereka semua dikalahkan oleh penjaga keamanan perusahaan biasa.


"Jika lemah, ya lemah saja. Jangan menuduh orang melakukan trik. Apa kau tidak sadar jika kau yang licik? Mengirim begitu banyak orang hanya untuk menangkap satu wanita. Sudah mengirim banyak orang juga tetap kalah. Kalah adu kekuatan, kalah malu pula," Ansell terkekeh. Ia mengejek Teo habis-habisan.


"Kau ....," Teo bangkit dan menggebrak meja. Ia benar-benar tidak menyangka mulut Ansell akan setajam itu.

__ADS_1


Harry yang melihat keadaan semakin tidak kondusif, ia segera melerai, "Tuan, Tuan, ayo diminum lagi tehnya untuk menenangkan diri. Teh ini bagus juga untuk kesehatan kita."


Teo mendengus kasar. Ia masih menghargai Harry dan kembali duduk. Sedangkan Ansell sejak tadi tetap pada posisinya. Wajahnya juga tidak menunjukkan emosi apa pun.


"Tuan Teo, mengapa Anda tidak mengatur orang Anda sendiri dengan baik? Beritahu mereka siapa yang boleh dilawan dan tidak boleh dilawan. Jika sudah begini, Tuan Ansell akan salah paham. Pasti ia berpikir Anda ingin mencari masalah dengannya," ucap Harry memberi saran pada Teo.


Ia langsung lanjut bicara ke Ansell tanpa membiarkan Teo menjawab, "Tuan Ansell, aku kenal Tuan Teo dengan baik. Ia bukanlah orang yang berbahaya. Anda bisa memegang ucapanku ini."


Ansell menggoyang-goyangkan gelas teh di tangannya dan menjawab Harry dengan malas, "Kau terlalu suka menambahkan drama."


Alexia yang mendengar ucapan Ansell langsung tersulut emosi. Lagi-lagi Ansell menghina ayahnya, padahal ayahnya sedang membela dia. Bagi Alexia, Ansell adalah pria tidak tahu diri.


"Apa kau tidak bisa menjaga mulutmu? Jika ayahku tidak marah, maka aku yang akan marah! Kau pikir kau siapa bisa menghina ayahku sesuka hatimu? Kau harus ingat sedang berada di mana sekarang!" bentak Alexia sambil berdiri.

__ADS_1


"Ah, satu ini juga terlalu berisik," Ansell menggali telinganya dan mengabaikan ucapan Alexia.


"Kau memang orang yang keras kepala. Ayahku memberitahu mana yang baik dan buruk, tapi kau tidak mendengarkan. Kau malah menghinanya. Jangan terlaku tidak tahu diri. Kau harus tahu batasanmu!" ucap Alexia dengan emosi yang masih meledak-ledak.


__ADS_2