
Wajah Yasmin memerah mendengar ucapan Ansell. Ia benar-benar tak bisa berkutik sekarang. Untuk membuka mulut saja rasanya berat.
Yasmin memang memiliki tujuan tersendiri. Ia memilih masuk Aliansi Axie, walau lebih banyak aliansi lain yang lebih kuat. Selain lebih mudah masuk, aliansi ini tidak terlalu mendapat kecaman publik.
Yasmin merasa aman bergerak jika bergabung dalam aliansi ini. Jika ia akan melakukan hal kriminal, tipis kemungkinan ia akan terkena hukum.
Walaupun ia terkena hukum, ia hanya akan membayar denda yang sama sekali tidak mahal. Hal-hal ini yang membuat Yasmin mau bergabung dengan Aliansi Axie.
"Kau memang pria yang cerdas. Kau benar-benar tipeku. Namun, aku tak peduli dengan semua yang kau katakan, walau ucapanmu sangat kejam," ucap Yasmin.
Ia mendekati Ansell, "Tuan, apa kau benar-benar tidak ingin menjadi suamiku? Aku akan menyerahkan segalanya. Aku berjanji dengan hal itu. Apa kurangnya aku? Jika kau ingin berkenalan lebih jauh, kau bisa setuju terlebih dahulu dengan tawaranku. Bagaimana? Apa kau berubah pikiran? Apa kau mau menjadi suamiku? Aku cukup baik untukmu, kan?"
Ansell mendekat ke wajah Yasmin dan tersenyum tipis, "Sayangnya aku lebih suka wanita pendiam. Kau terlalu berisik."
__ADS_1
Yasmin terhenyak.
Mukanya memerah malu dan kesal karena Ansell. Wajah Ansell terlalu dekat dengannya dan penolakannya begitu kejam. Yasmin tak habis pikir dengan jawaban Ansell.
"K-kau ...," Yasmin buru-buru menjauhi Ansell. Ia tak sanggup lagi menggoda pria itu. Jangan sampai hal ini menjadi bumerang untuknya. Jangan sampai ia yang tergoda oleh Ansell.
"Jika kau tidak menyukaiku tidak apa. Tidak perlu merendahkanku seperti ini," ucap Yasmin dengan nada tinggi.
Ia melanjutkan dengan kesal, "Kau adalah pria terhormat. Kau sanggup menjatuhkan harga diri seorang wanita saat momen seperti ini."
Yasmin yang gugup terus berjalan mundur, tapi Ansell memblokirnya saat ia menabrak dinding. Ansell lagi-lagi mendekatkan wajahnya.
Tubuh Yasmin lemas. Ia tak lagi memiliki tenaga untuk melawan. Ia hanya mampu mengandalkan mulutnya untuk membalas ucapan Ansell.
__ADS_1
"Kau ini ... sebenarnya langkah awalmu cukup bagus. Fisikmu juga tidak buruk dan kau terlihat sudah terbiasa, tapi kau kurang profesional. Setidaknya jika kau ingin menggodaku, lakukanlah dengan benar," ucap Ansell tajam.
Yasmin yang merasa semakin malu hanya bisa berdiri terpaku. Ia tak berani menatap wajah Ansell.
Memang baru Ansell orang yang tidak terpesona dengan godaannya. Biasanya, ia tak perlu mengeluarkan banyak jurus dan tenaga untuk menggoda pria.
Sekarang, sampai harga dirinya jatuh saja pria itu tetap tidak tergoda.
"Aku tahu kau adalah pria baik karena itu tidak tergoda. Pria sepertimu sangat jarang di zaman sekarang. Terus terang saja, hanya kau pria yang tidak tergoda olehku," ucap Yasmin blak-blakan.
"Aku tidak peduli dengan hal itu. Jika kau terus memutar-mutar ucapanmu dan tidak mengatakan tujuanmu, maka aku akan pergi," ucap Ansell ketus dan berjalan ke arah pintu.
Ia tak ingin membuang waktunya sia-sia hanya untuk menghadapi Yasmin. Ia masih memiliki banyak hal harus dilakukan.
__ADS_1
"Tunggu, jangan," cegah Yasmin. Ia menarik ujung baju Ansell.