Kemunculan Master Terhebat

Kemunculan Master Terhebat
Apa Kau Punya Permintaan Terakhir?


__ADS_3

Wajah Hans pucat pasi.


Tadi ia menyombongkan peringkatnya di depan Ansell. Dengan bangga, ia mengatakan dirinya masuk peringkat dunia. Bahkan, ia juga mengatakan Ansell tidak pernah bergaul karena meremehkan peringkat dunia.


Namun, ternyata Ansell juga masuk peringkat dunia. Bahkan ia berada di peringkat satu! Pantas saja Ansell mengatakan dia adalah sampah. Wajar Ansell mengatakan itu karena ia berada di peringkat satu.


Mungkin ini hari keberuntungan dan kesialannya. Ia beruntung karena akhirnya bisa tahu dan bertemu langsung dengan peringkat satu dunia. Namun, ia sangat sial karena pertama kali bertemu langsung menjadi musuh, bahkan bertarung dengannya.


Tentu saja kekuatan sang peringkat 1 dan 26 sangat berbeda jauh, bagai langit dan bumi. Dibandingkan juga seharusnya lebih dari itu.


Kali ini Hans kalah telak. Ia merasa sangat menyesal.


"Jangan terlalu terkejut. Bukankah kau sudah menyelidiku? Ah, kau tidak tahu hal ini, ya?" Ansell tersenyum tipis, mengejek Hans yang terlihat miris dan berantakan.


Hans tidak berkata-kata lagi.

__ADS_1


Ia sangat yakin sudah menyelidiki Ansell sampai ke akarnya. Ia berpikir sudah tahu semua tentang Ansell. Namun ternyata, ada satu hal besar yang tidak diketahui Hans.


Hal itulah yang membuatnya sampai seperti ini.


"Bagiku, membunuhmu tidaklah sulit. Kau percaya itu, kan?" Ansell bertanya pada Hans sambil mendekatinya.


Tubuh Hans langsung bergetar hebat. Ia tahu Ansell tidak bercanda dengan ucapannya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia bersujud dan memohon ampun pada Ansell.


"Tuan, mohon ampuni aku. Jangan bunuh aku. Beri aku kesempatan hidup, Tuan," ucap Hans, memohon dengan sopan, tak lupa dengan sujud yang dalam.


"Tuan, aku sudah tidak memiliki kultivasi lagi karena Anda sudah menghilangkannya. Tolong lepaskan aku, Tuan. Aku menyadari kesalahanku," Hans terus memohon pada Ansell sambil tetap bersujud.


Teo semakin terkejut. Ternyata benar, kultivasi Hans sudah hancur. Tidak hanya fisik, kekuatannya juga hilang. Hans benar-benar tinggal menunggu kematian. Tidak ada lagi gunanya hidup jika cacat.


"Untuk apa menyadarinya setelah ini berakhir," ucap Ansell dan menghela napas. Ia menggeleng melihat Hans.

__ADS_1


Harry juga menggeleng melihat Hans yang masih bersujud di depan Ansell. Jika saja Hans lebih sabar lagi dan mendengarkan Harry, pasti ia masih selamat.


Sayang sekali orang sekuat Hans harus mati demi Bivv Group. Lagi-lagi Bivv Group sepertinya harus kehilangan satu master mereka.


"Tuan, aku salah. Aku tidak punya mata karena terlalu setia pada Bivv Group. Aku tidak bisa melihat master hebat seperti Anda," ucap Hans lagi, kali ini sambil memuji Ansell.


Ia tak bisa mati begitu saja. Hans sudah banyak melewati kesulitan untuk masuk di Bivv Group dan menjadi mata-mata kepercayaan. Ia tak ingin mati sekarang.


"Terlambat! Seharusnya kau menyadarinya sejak awal. Jika sudah begini, tak ada gunanya menyesal," kata Ansell, tak memedulikan pujian Hans. Itu hanyalah kebohongan belaka.


"Tuan, tolong, tolong ampuni aku," ucap Hans, sujudnya semakin dalam, suaranya semakin lirih, sangat penuh penyesalan.


Sakit yang ia rasakan juga semakin menjadi-jadi. Hans merasa sudah berada di ujung maut. Meminta Ansell untuk melepaskannya, mungkin ia masih punya harapan untuk memulihkan tubuhnya.


Namun, Ansell mengacuhkan permohonannya dan bertanya, "Apa kau punya permintaan terakhir sebelum mati?"

__ADS_1


__ADS_2