Kemunculan Master Terhebat

Kemunculan Master Terhebat
Tidak Sabar Ingin Membunuh


__ADS_3

"Siapa sebenarnya aku? Apa kau lupa siapa aku?" Thalia tersenyum manis menatap James. Ia mendekati James, tapi James mundur perlahan.


"Tentu saja aku adalah Thalia kesayangan James," jawab Thalia dengan suara menggoda. Ia tidak ingin terlalu kejam sekarang.


Biasanya, James akan terlena jika Thalia sudah menggunakan suara menggodanya. Namun sekarang, ia malah merasa Thalia sangat menakutkan.


"Kau bukan Thalia yang ku kenal! Thalia selalu berpihak kepadaku dan tidak pernah menghinaku," ucap James menyangkal jawaban Thalia.


"Aku berpihak padamu? Kau adalah sampah. Untuk apa aku berpihak padamu," jawab Thalia terkekeh geli. Ia menatap James dengan jijik.


"K-kau ...," ucapan James tercekat, tak habis pikir dengan perubahan drastis sikap Thalia. Akting Thalia selama ini sungguh tak bisa ia tebak.


"Thalia, walaupun dia sampah, tapi sebenarnya James adalah pria yang sangat hebat. Bahkan kekasih ayahnya bisa ia permainkan dengan sangat lihai," ucap Ansell ikut menghina James. Sangat seru menghina orang sombong seperti James.

__ADS_1


"Kau diam! Jangan ikut campur!" ucap James dengan sorot mata merah. James menunjukkan bahwa ia sangat ingin membunuh Ansell.


Tidak hanya merebut Thalia darinya, tapi ia juga terus-menerus menghinanya. James benar-benar dipermalukan habis-habisan di depan banyak orang.


"Apakah salah jika aku ikut campur? Thalia adalah orangku. Orang yang dihina Thalia adalah orang yang akan ku hina juga," jawab Ansell santai, tak peduli dengan tatapan tajam James.


"Kau sudah siap mati? Aku akan membunuhmu dengan brutal!" teriak James marah.


"Kau ingin membunuhku? Kau tidak akan bisa melakukannya. Kekuatanmu sangat lemah. Untuk menyentuhku saja tidak bisa," ucap Ansell tersenyum tipis, dalam hati menertawakan kebodohan James.


"Kesempatan? Apa itu? Apakah sesuatu yang tidak penting?" tanya Ansell tertawa meremehkan.


Ia melirik uang yang berserakan di bawah, "Uang yang tidak seberapa ini kau gunakan untuk menyuapku? Ah, sayangnya aku punya uang lebih banyak daripada itu."

__ADS_1


Kemudian, Ansell menatap para pengawal di belakang James, "Dan para pengawal itu yang akan kau suruh untuk membunuhku? Kau yakin mereka bisa melakukannya? Penampilan mereka saja tidak meyakinkan."


"Kau berani meremehkan kami? Kami akan membunuhmu dengan kejam!" ucap pengawal James tidak terima mereka juga ikut direndahkan.


"Kau hanya sendirian dan masih berani sombong. Kau memang perlu dihabisi sampai tak bersisa," tambah pengawal lainnya.


James menyeringai melihat pengawalnya terprovokasi. Jika mereka marah, bisa jadi kekuatan mereka bertambah dan Ansell bisa dibunuh.


"Kalian harus mematahkan lengannya dan membawa pergi Thalia. Jangan sampai ada yang lepas hari ini," ucap James.


"Ansell, sepertinya kau harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Mereka sudah tidak sabar ingin membunuhmu," ucap Thalia.


Namun, Ansell berkata sebaliknya, "Aku pikir lebih baik kau yang menyelesaikannya. Mereka pasti tidak akan tega membunuh seorang wanita."

__ADS_1


"Hm, benar juga. Tapi sebenarnya ini tidak adil. Namun karena kau yang memerintahkannya, maka aku tidak bisa menolak," jawab Thalia.


Kemudian, ia bangkit dan menatap James, "Kalau begitu, aku yang akan melawan kalian! Maju kalian semua!"


__ADS_2