
Ansell bingung dengan ucapan pelayan bar. Daripada penasaran, ia memilih bertanya, "Apa maksudnya? Apakah ada orang selain aku yang juga mencari bos kalian?"
Pelayan itu menghela napas ringan, menggeleng mendengar pertanyaan Ansell. Pasti Ansell adalah orang baru di sini, tapi ia sudah berani menemui bos mereka.
"Apa kau tidak tahu hal ini? Bukankah ini sudah menjadi rahasia umum?" pelayan bar bertanya, ingin memastikan jika Ansell benar-benar tidak tahu.
Ansell menjawab dengan gelengan.
Pelayan itu menatap Ansell selama beberapa detik, kemudian menjawab, "Setengah dari orang yang ada di sini, semuanya mencari bos kami. Apa kau tahu alasannya? Karena dia cantik."
Pelayan itu bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya.
"Jika kau tidak mengenal bos kami, mengapa kau mencarinya? Apa karena kau hanya tahu kecantikannya dan tidak tahu bahwa banyak juga orang yang ingin bertemu dengannya? Kau ini sama saja seperti pria lainnya," ucap pelayan itu, ada nada kesal dalam ucapannya.
Sepertinya ia tidak suka jika ada seseorang yang ingin menemui bos mereka. Antara dia iri dengan kecantikan bosnya atau dia ingin melindungi bos mereka.
Ansell masih bingung dengan semua ucapan pelayan. Banyak juga yang mencari Thalia Fay? Oh, mungkin karena mereka ingin melakukan bisnis.
Tapi apa maksudnya karena kecantikannya? Apakah Thalia Fay secantik itu sampai banyak yang mencarinya? Padahal Ansell mencari Thalia Fay karena suatu urusan.
"Aku tidak mengerti maksudmu. Tapi, tolong sampaikan pesan ini pada Thalia," ucap Ansell, memberikan sebuah kertas kecil.
__ADS_1
Pelayan itu awalnya ragu menerima kertas itu. Namun, karena ia tidak ingin urusan ini semakin panjang, ia pura-pura setuju membantu Ansell.
"Baik," jawab pelayan sambil menerima kertas kecil dari Ansell.
Setelah pelayan itu pergi, Ansell mulai berjalan mencari tempat duduk. Ia menunggu kedatangan orang yang dimaksud. Ia juga memesan segelas anggur untuk menemaninya.
Tak lama, seorang wanita dengan riasan menor datang menghampiri Ansell. Pakaiannya juga sangat seksi. Ia membawa satu botol anggur dan dua buah gelas.
Ia langsung duduk di sebelah Ansell.
"Halo, Tuan," sapa wanita itu tersenyum manis. Pemerah di pipinya begitu mencolok. Lipstik yang ia pakai juga sangat tebal.
Ansell sedikit bergeser dan mengabaikan sapaannya.
"Namaku Vony dan aku akan menemanimu menunggu di sini," ucap Vony memperkenalkan diri tanpa diminta.
"Salam kenal. Aku Ansell," jawab Ansell singkat dan ikut memperkenalkan diri.
"Apakah Anda mencari Nona Thalia?" tanya Vony. Ia menuangkan anggur ke gelas, untuknya dan untuk Ansell.
"Benar," jawab Ansell singkat, mengambil gelas anggur yang sudah terisi, menghabiskannya dalam satu tegukan.
__ADS_1
"Apa kau punya bisnis dengan Nona? Atau kau hanya ingin melihat kecantikannya seperti pria-pria lain?" tanya Vony yang juga membahas kecantikan Thalia, seperti pelayan bar sebelumnya.
Seolah tidak membiarkan Ansell menjawab, Vony lanjut memberikan opininya, "Kau pasti mencari Nona karena ia cantik. Sudah banyak juga pria sepertimu yang setiap hari mencarinya. Aku akui Nona memang cantik. Tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya. Pria juga tidak bisa memalingkan wajah setelah melihatnya."
"Benarkah? Tapi menurutku Thalia tidak semenarik itu. Sebenarnya aku dan Thalia sudah kenal selama bertahun-tahun. Aku ingin menemuinya karena kami sudah lama tidak bertemu," jawab Ansell yang membuat Vony menaikkan alis.
"Nona tidak semenarik itu dan kalian sudah kenal selama bertahun-tahun?" tanya Vony, takut-takut dia salah dengar.
Namun, Ansell dengan cepat mengangguk.
"Kami ini rekan lama. Kami sudah bekerja sama bahkan sebelum Thalia memiliki bar ini. Kami juga sering melakukan misi bersama," ucap Ansell.
Lalu ia melanjutkan, "Karena kami sering bersama, aku tahu Thalia memiliki niat baik padaku. Ia juga sering menunjukkannya. Tapi, aku tidak memberinya kesempatan. Aku hanya menganggapnya sebagai rekan."
Vony mengerutkan dahi. Ia bingung dan tidak percaya dengan ucapan Ansell. Ia berkata, "Apa kau yakin dengan ucapanmu? Jangan-jangan kau datang di tempat yang salah? Mungkin saja Thalia yang kau kenal bukan pemilik bar ini."
"Tidak, aku tidak salah. Thalia yang aku kenal memang berada di bar ini," jawab Ansell yakin.
"Jika ada pria lain yang mendengar ucapanmu tadi tentang Nona, pasti mereka akan marah besar. Kau tidak tahu bagaimana Nona dipuja-puja di sini," ungkap Vony. Ia sedikit terkejut karena ada pria yang tidak tergila-gila dengan Thalia.
"Tapi, sudahlah. Lebih baik kau jangan membuang-buang waktu. Nona Thalia terlalu sibuk untuk menemuimu," ucap wanita itu sambil menyilangkan tangan dengan angkuh.
__ADS_1