
"Sepertinya kau memang tidak pernah melihat dunia luar. Kau pasti tidak tahu seperti apa proses masuk ke peringkat dunia itu. Jika kau berani mengatakan seorang peringkat dunia adalah sampah, kau bisa diburu sampai mati," ucap Hans membantah Ansell.
Sudah susah payah ia berlatih dan bertarung agar bisa masuk ke peringkat dunia, dan pada akhirnya ia berhasil mendapat peringkat 26, tapi ia malah direndahkan begitu saja.
Hans tak akan membiarkan ada yang meremehkan kekuatannya. Ia akan memberi pelajaran sampai orang itu mengerti.
Sedangkan Ansell hanya tersenyum menanggapinya. Ia berkata, "Jangan banyak basa-basi lagi. Sudah saatnya aku melakukan serangan balik!"
"Kalau begitu, aku akan menghabisimu hari ini!" teriak Hans tidak mau kalah. Ia akan mengeluarkan kekuatan maksimalnya.
Ansell dan Hans sama-sama maju, mulai bertarung. Harry, Alexia, dan Teo segera mundur. Mereka tahu ini akan menjadi pertarungan besar.
"Mati kau!" teriak Hans sambil melayangkan pukulannya ke wajah Ansell. Ia ingin membalas apa yang dilakukan Ansell padanya.
Ansell langsung mengelak dan menghilang dalam sekejap, langsung muncul di belakang Hans.
"Bugh!" Ansell memberi satu pukulan ringan yang tidak bisa dihindari Hans sehingga membuatnya tersungkur ke lantai.
__ADS_1
"Sial!" ucap Hans langsung berdiri tegak, membalikkan tubuh ke arah Ansell. Ia menatap Ansell tajam.
"Terima seranganku!" teriak Hans lagi dan berlari cepat menuju Ansell. Ia memusatkan seluruh energi kultivasinya ke tinjunya. Hans menyeringai lebar membayangkan tubuh Ansell akan hancur karena pukulannya.
Namun sayang, Hans kalah cepat dari Ansell. Tanpa Hans sadari, satu pukulan dahsyat sudah mendarat di dadanya.
Tubuhnya melambung dan terpental. Terdengar suara retakan tulang-tulang di tubuhnya. Mulut Hans langsung menyemburkan banyak darah.
Semua yang melihat kejadian itu tercengang.
"Gila! Sangat kuat!" seru Harry yang bersemangat menonton pertarungan itu. Pertarungan antara dua orang kuat memang benar-benar menyenangkan.
Namun, Ansell mengalahkannya dengan mudah.
"Kasihan sekali pria tua itu," ucap Alexia sedikit prihatin. Ia ngilu mendengar suara retakan tulang Hans.
"Untuk apa kasihan? Salah dia sendiri karena melawan Tuan Ansell. Lagipula hidupnya tidak akan lama lagi karena tubuhnya sudah hancur begitu," jawab Harry tidak setuju dengan ucapan Alexia.
__ADS_1
Baginya, siapa pun yang berani melawan Ansell memang pantas mati. Orang yang melawan Ansell tidak memiliki mata karena berani meremehkannya.
"A-aku ka-kalah?" Hans merasakan sakit luar biasa di tubuhnya. Selain tulangnya yang hancur, basis kultivasinya juga hilang. Ansell benar-benar ingin membunuhnya.
"Mengapa aku bisa kalah? Aku ini peringkat 26 dunia!" teriak Hans frustasi. Ia tak percaya hal ini bisa terjadi padanya.
"Tuan Ansell benar-benar kejam pada musuhnya. Jangan sampai aku menyinggungnya," gumam Harry bergidik.
"Kalau ia saja kalah, bagaimana denganku?" rintih Teo ketakutan. Ia merinding melihat Hans yang sudah sekarat. Mungkin gilirannya sebentar lagi.
"Ba-bagaimana kau bisa me-mengalahkanku? Apakah kau juga berada di peringkat dunia?" tanya Hans terbata-bata. Tenaganya sudah hampir habis menahankan sakit.
"Benar. Dan peringkatku juga lebih tinggi daripada kau," jawab Ansell jujur.
"Lebih tinggi?" Hans tercengang. Ia sangat ceroboh dalam memilih musuh. Jika dari awal dia tahu, ia tak akan mau melawan Ansell.
"Kau berada di peringkat berapa?" tanya Hans, sangat penasaran dengan hal ini. Yang lain juga penasaran menunggu jawaban Ansell.
__ADS_1
"Aku? Aku berada di peringkat satu," jawab Ansell yang membuat semua orang tercengang lebar.