
Ansell melihat toko obat di luar telah hancur. Potongan-potongan kayu menghalangi jalan masuk ke laboratorium.
Namun anehnya, semua obat telah hilang.
Ansell segera mencari penjaga toko. Ia khawatir penjaga toko itu terluka parah melihat keadaan toko yang sangat berantakan ini.
"Paman Matt, Paman Matt, ini aku Ansell," teriak Ansell sambil mencari di seluruh tumpukan kayu.
"A-ansell," gumaman yang sangat pekan terdengar di telinga Ansell. Untungnya pendengaran Ansell cukup tajam.
Ia segera menuju sumber suara dan menemukan Matt di sana.
Keadaan Matt sama kacaunya seperti toko obat. Ansell segera mengeluarkan Matt dari tumpukan kayu dan memberinya obat.
"Selamatkan o-orang di l-laboratorium," ucap Matt terbata.
"Minum ini," ucap Ansell. Ia melihat jam di tangannya dan agak terkejut.
14.29.00
Bom akan meledak sekitar satu menit lagi.
Setelah memastikan Matt meminum obatnya, Ansell segera turun ke laboratorium bawah tanah. Suara orang-orang yang panik mulai terdengar.
14.29.15
45 detik lagi.
Ansell mengotak-atik pintu dari luar dan berusaha membukanya. Ternyata mekanisme itu tidak hanya diubah dari dalam, tapi juga dari luar.
Tak butuh waktu lama, Ansell pun berhasil membuka pintu laboratorium dan segera masuk untuk menjinakkan bom.
__ADS_1
*
Semua orang selamat. Untungnya tak ada korban jiwa hari ini. Paling hanya ada beberapa profesor yang luka-luka karena kericuhan tadi.
"Terima kasih, Tuan Ansell," ucap salah satu profesor.
"Tuan Ansell sangat hebat bisa menjinakkan bom dalam satu detik," puji yang lainnya.
"Jika tidak ada Tuan Ansell, pasti kami semua sudah mati. Kami berhutang nyawa pada Anda," yang lain juga tak henti-hentinya memuji Ansell dan berterima kasih.
Ansell hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Sebelumnya, beberapa detik sebelum bom meledak, Ansell merasa tidak asing dengan bom itu. Dengan hati yang berdebar, ia langsung memasukkan kode bom dalam sekali tebak.
Ia dibuat semakin terkejut saat mengetahui kode itu benar.
Ternyata, dugaan Ansell tidak meleset. Itu adalah bom pertama yang dulu pernah dia buat. Namun, bagaimana bisa bom itu berada di sini? Siapa yang menyimpan bom dia?
Thalia dan orang-orang di sana melihat Ansell seperti kebingungan pun bertanya, "Tuan, apakah ada masalah?"
Ansell menggeleng dengan cepat. Ia tak akan memberitahu kecurigaannya pada siapapun. Bisa saja salah satu dari orang-orang yang ada di depannya sekarang adalah pengkhianat.
"Aku hanya masih terkejut dengan kejadian ini," jawab Ansell kemudian, tak ingin membuat yang lain memikirkannya.
Yang lain mengangguk setuju dengan Ansell. Mereka juga syok dan terkejut. Apalagi nyawa taruhan mereka saat itu. Sekarang, mereka hanya bisa bersyukur karena masih hidup.
"Kalau begitu, kalian bisa kembali dulu. Operasi laboratorium kita hentikan sementara sampai keadaan membaik," ucap Ansell dan langsung pergi keluar.
"Ayo, semua kembali! Jika ada yang terluka silahkan melapor," ucap Thalia memberi perintah pada para profesor yang ada di sana.
*
__ADS_1
Di luar, Ansell kembali memeriksa luka Matt.
Sekarang, kondisi Matt tidak separah tadi. Ia sudah bisa duduk dan wajahnya terlihat lebih tenang.
"Paman, biarkan aku mengobatimu," ucap Ansell.
Matt mengangguk dan tersenyum, "Terima kasih, Ansell."
Pertama kali Matt bertemu Ansell saat ia bekerja dulu. Matt adalah pemilik toko obat langganan Ansell. Ansell selalu datang padanya jika sedang stres menghadapi pekerjaan.
"Aku masih ingat pertama kali kau datang dengan wajah stresmu itu. Saat itu, aku lah yang mengobatimu. Namun sekarang, sepertinya kau sudah bisa menggantikanku," ucap Matt bernostalgia.
"Aku seperti ini juga karena bantuan, Paman," jawab Ansell tersenyum, sambil tetap mengobatinya. Untungnya, luka dalam Matt tidak parah. Hanya saja ada beberapa penyakit bawaan yang memang dimiliki Matt.
Ansell juga menyembuhkan penyakit itu.
Matt bisa merasakan energi lembut dan hangat mengalir ke dalam tubuhnya. Teknik seperti ini hanya bisa dilakukan oleh tabib tingkat tinggi.
Walau Matt sudah mengenal Ansell, tapi ia tak tahu jika Ansell memiliki keahlian ini.
"Ansell, jika aku boleh tahu, siapa yang mengajarkanmu teknik ini?" tanya Matt.
"Guru yang sama yang mengajariku kultivasi, Paman," jawab Ansell tanpa ragu. Pengobatannya telah selesai.
"Terima kasih," Matt berterima kasih lagi.
"Paman, apakah ada aktivitas mencurigakan di laboratorium beberapa hari ini? Dan apa yang sebenarnya terjadi hari ini?" tanya Ansell yang sudah sangat penasaran.
Matt tersenyum lembut, "Ansell, semakin kita berada di atas, semakin kencang juga anginnya. Semakin kita dekat pada kebenaran, maka semakin banyak pula orang yang akan meninggalkan kita."
"Sebenarnya, aku sudah merasa hari ini akan terjadi, tapi karena aku tahu kau sangat sibuk, maka aku hanya bisa berjaga-jaga sendiri. Sayangnya, itu di luar kemampuanku. Pengkhianat itu terlalu cerdik sampai lolos dari penjagaanku. Namun, aku hanya bisa memberikan ini," jelas Matt panjang lebar, kemudian dia mengeluarkan sesuatu.
__ADS_1
"Peta Pulau Samudera. Aku curiga pelakunya adalah penduduk sana," ucap Matt sambil memberikan peta itu.
Ansell menerima dengan agak terkejut. Peta ini sama persis seperti milik Nichole. Namun, mengapa orang itu begitu ceroboh hingga menjatuhkan sebuah peta?