Kemunculan Master Terhebat

Kemunculan Master Terhebat
Teknik Pengobatan


__ADS_3

Mungkin perpisahan bukan yang pertama kalinya bagi Nichole. Ia juga pernah mengalami perasaan yang sama sebelumnya.


"Ansell, kenapa kau diam?" tanya Nichole, mengangkat dagu Ansell. Ansell menatapnya intens, seolah ia akan pergi dan tak kembali.


Ansell tetap menatap Nichole tanpa mengatakan apapun. Ia belum lama menghabiskan waktu dengan Nichole, tapi ia harus pergi lagi.


"Ya, aku akan pergi lama ... dan mungkin cukup berbahaya," jawab Ansell dengan berat. Ia semakin gelisah melihat perubahan ekspresi Nichole.


Namun, Ansell memang harus pergi kali ini. Ia harus menyelidiki Pulau Samudera untuk melihat siapa sebenarnya di belakang mereka dan ingin mengukur kekuatan mereka. Apalagi, Victor sudah mengizinkannya.


Ansell juga ingin mengetahui penyebab kematian Daniel dan bawahannya. Apalagi dengan beberapa perubahan di tubuhnya.


"Kau akan pergi ke mana?" tanya Nichole. Suaranya seperti menahan tangis. Wajahnya juga terlihat sendu.


Ansell berpikir sejenak.


Jika ia tak memberitahu Nichole, pasti Nichole akan kecewa dan nekat mencaritahu sendiri. Namun, jika ia memberitahu Nichole, pasti ia akan semakin khawatir.


"Apakah aku bisa untuk tidak memberitahumu?" tanya Ansell lembut, berusaha membujuk Nichole.


Nichole menatap Ansell serius, "Apa kau benar-benar akan meninggalkanku tanpa memberitahu keberadaanmu? Lalu untuk apa kau mengatakan semua ini padaku? Apa kau masih melihat hubungan pertunangan kita?"


Ansell menghela napas ringan.


Sebenarnya ia belum memiliki persiapan yang matang untuk pergi. Bisa dibilang, kali ini Ansell agak terburu-buru. Namun, hatinya mengatakan bahwa ia harus segera pergi. Jika tidak, ia akan melewatkan sesuatu.


"Aku akan pergi ke Pulau Samudera," jawab Ansell, memutuskan untuk memberitahu tunangannya itu.


"Pulau Samudera? Di mana pulau itu? Mengapa pulau itu berbahaya?" tanya Nichole, yang bukannya terkejut malah keheranan.


Ansell pun menjadi heran. Ia baru ingat jika tidak semua orang tahu tentang Pulau Samudera dan bahaya di dalamnya. Kebanyakan yang tahu hanyalah para master atau orang di dunia gelap.


"Aku ingat saat pertama kali kita bertemu, kau yang mengeluarkan peluru dari tubuhku. Kau terlihat sangat ahli. Namun, kau bisa mengobatiku tanpa meninggalkan bekas luka. Bagaimana caramu melakukannya?" tanya Ansell, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Nichole mengalihkan pandangannya ke atas sambil berpikir. Kemudian, ia menjawab Ansell, "Entahlah. Aku juga tidak terlalu ingat. Aku hanya ingat sejak dulu aku memang menyukai pengobatan. Masalah bekas luka itu, aku hanya memberinya bubuk yang dibuat oleh keluargaku."


Keluarga?

__ADS_1


Ansell bertanya dalam hati.


Sejujurnya Ansell belum pernah bertemu dengan keluarga Nichole. Saat mereka tunangan juga tidak ada orang tua Nichole, apalagi orang tua Ansell. Wali mereka saat itu hanyalah tante kedua Ansell.


"Kau belajar pengobatan dengan siapa? Apa kau punya teknik pengobatan yang lain?" tanya Ansell penasaran.


"Ehm, aku punya banyak teknik pengobatan. Aku memiliki buku warisan keluargaku. Apa kau mau lihat? Akan ku cari dulu," jawab Nichole tanpa ragu. Ia langsung bangkit dan berjalan ke lemarinya.


Nichole mengeluarkan sebuah kotak besar yang tadinya berada di bawah lemari. Kemudian, ia mulai membongkar isi kotak itu.


Ansell yang semakin penasaran mulai menghampirinya. Ia melihat barang-barang yang sudah dikeluarkan Nichole. Ia melihat foto kecil Nichole satu persatu dan tersenyum simpul. Ia juga melihat-lihat buku usang yang sudah berwarna agak kecoklatan.


Setelah Ansell melihat semuanya, ia tak menemukan satu pun foto orang tua Nichole. Namun, Ansell keceplosan dan mengatakannya, "Nichole, aku tidak melihat foto orang tuamu."


Gerakan Nichole yang awalnya lincah saat membongkar kotak itu, tiba-tiba terhenti. Bahkan, ia tak membalikkan tubuh. Ansell merutuki dirinya dalam hati. Nichole selalu seperti ini saat ia mengungkit orang tuanya.


"Maaf, Nichole," ucap Ansell meminta maaf dengan tulus. Namun, tak ada jawaban dari Nichole setelah sekian lama.


"Nichole?" Ansell menyentuh pundaknya. Saat itu, ia merasakan tubuh Nichole bergetar. Nichole sedang menangis.


Ansell pun langsung memeluknya dengan erat. Ia mengusap rambut dan punggungnya dengan lembut, mengecup kepalanya berkali-kali, dan meminta maaf dengan tulu.


"Maaf, Ansell," ucap Nichole yang masih terisak.


"Aku yang salah. Aku minta maaf," jawab Ansell menghapus sisa air mata di pipi Nichole.


Nichole menggeleng dan berkata, "Aku yang harus meminta maaf. Selama bertahun-tahun ini aku selalu menghindar dan tak pernah bercerita tentang orang tuaku. Maafkan aku. Padahal aku selalu menuntutmu untuk selalu jujur."


"Jika kau belum siap tidak apa-apa," ucap Ansell tak mempermasalahkan.


Nichole kembali menggeleng, tapi kali ini tanpa mengatakan apa-apa. Ia bangkit dan berjalan ke arah nakas di samping kasurnya. Ia mengambil kalung yang sebelumnya ia lepas saat akan mandi tadi.


"Bukankah itu kalung kesayanganmu?" tanya Ansell.


Nichole mengangguk, "Benar. Tapi apa kau tahu mengapa aku sangat menyayangi kalung ini?"


Ansell menggeleng.

__ADS_1


Nichole membuka kalung itu dan menunjukkan isinya pada Ansell, "Ini adalah foto kedua orang tuaku."


Ansell menerima dan melihatnya.


"Ibuku sudah meninggal saat melahirkanku. Aku tinggal bersama ayahku selama bertahun-tahun. Tapi ketika aku berusia 20 tahun, ayahku pergi meninggalkanku. Anehnya, sejak saat itu ingatanku seolah menghilang. Aku tak bisa mengingat kenangan-kenangan bersama ayah dengan jelas. Hanya ada beberapa bagian yang masih bisa ku ingat, seperti cerita barusan," Nichole menjelaskan. Kali ini ia tak menangis lagi.


Sedangkan Ansell membeku melihat foto itu.


"Ini ... dia adalah ayah dan ibumu?" tanya Ansell seolah tidak percaya.


"Benar. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka lagi," jawab Nichole. Matanya memandang lurus ke arah luar jendela.


Keadaan mereka menjadi hening. Nichole dengan pikirannya sendiri dan Ansell dengan kebingungannya sendiri. Bahkan, suara binatang malam juga tidak terdengar, seolah mendukung keheningan mereka.


"Ansell, mengapa kau terlihat terkejut?" tanya Nichole yang lebih dulu membuka suara setelah keadaan hening yang mencekam tadi.


"Aku hanya terkejut akhirnya bisa mengetahui tentang orang tuamu," jawab Ansell. Ia terlihat baru saja menghela napas.


"Ehm, kalau begitu aku akan mengajakmu bertemu dengan ayahku nanti saat ia sudah kembali. Selama ini aku yakin ayah akan kembali, ia hanya meninggalkanku sementara," ucap Nichole tersenyum tegar.


Ansell mengangguk dan memakaikan kalung itu kembali ke Nichole, "Kau harus menjaga baik-baik kalung ini."


Nichole tersenyum hangat.


"Ah, aku lupa. Aku masih harus mencari buku itu untukmu. Aku harap kau juga bisa mempelajari pengobatan agar kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri saat sedang dalam bahaya nanti," kata Nichole yang langsung bergegas kembali membongkar kotak besar.


Ansell tak mengikutinya lagi. Ia duduk di kasur dan termenung. Sedangkan Nichole masih sibuk dengan kotaknya.


"Akhirnya aku menemukan buku ini!" seru Nichole. Ia bangkit dengan bersemangat dan menghampiri Ansell.


"Lihatlah. Buku ini terlihat sangat kuno, tapi sebenarnya sangat bermanfaat, hahaha," Nichole tertawa untuk mencairkan suasana.


Ansell terpana melihat buku itu. Buku kuno dengan ratusan halaman, yang sampulnya terbuat dari kulit dan kertasnya yang terbuat dari kayu. Bahkan, tulisan di dalam buku itu juga diukir.


"Buku ini sangat berharga," gumam Ansell ketika ia mulai membuka satu persatu halaman. Semakin ia membuka lebih jauh, semakin ia terpana.


"Kau boleh membawanya. Kau harus mempelajari pengobatan dulu sebelum pergi. Kau harus mempersiapkan diri dengan matang," ucap Nichole.

__ADS_1


Ansell mendongak ke arahnya dan tersenyum. Nichole tidak pernah berubah. Ia selalu mendukung apapun yang akan Ansell lakukan.


"Baik!" jawab Ansell bersemangat.


__ADS_2