
Semua orang terkejut melihat Thalia memeluk Ansell. Padahal mereka tahu, James saja tidak pernah diizinkan untuk menyentuh tangan Thalia.
"Hah? Nona Thalia memeluk pria lain di depan Tuan Muda James? Bukankah Tuan Muda James bahkan tidak pernah menyentuh tangannya?" bisik salah satu orang.
"Apa kau tidak tahu? Sepertinya Tuan Muda James hanya dijadikan pelampiasan oleh Nona Thalia," jawab salah satu orang dengan pelan.
"Sstt, jangan sampai Nona Thalia mendengar ucapanmu ini. Bisa-bisa kau di blacklist dari barnya," temannya memperingatkan.
James panas mendengar semua bisik-bisik itu. Walau mereka sering mengobrol, tapi Thalia selalu memperingatkan James untuk tidak menyentuhnya sedikitpun apalagi melakukan hal lebih.
Jadi, saat Thalia memeluk pria lain dengan mudah, tidak ada yang tidak bingung. Mereka penasaran siapa sebenarnya pria itu sehingga Thalia langsung memeluknya tanpa ragu.
"Diam kalian!" bentak James pada mereka. Mereka yang berbisik-bisik langsung senyap, tak berani melawan James.
Ansell juga bisa mendengar bisik-bisik itu. Tapi ia hanya tertawa dalam hati melihat wajah James yang emosi.
__ADS_1
Sebenarnya ia ingin memprovokasi James lebih lama, tapi ia tak akan membiarkan citra Thalia jelek di depan pelanggannya.
"Thalia, kita sedang di tempat umum, kau harus ingat batasan. Banyak orang di sini," ucap Ansell, tapi tetap menerima pelukan Thalia walau sebentar.
Ia juga sedikit merindukan wanita itu.
Setelah itu, Thalia pun melepaskan pelukannya dengan berat hati. Suaranya dibuat sedikit manja saat berbicara dengan Ansell, "Mengapa kau tidak langsung menemuiku setelah kembali? Bukankah aku sudah bilang padamu? Kau ini tidak pernah mendengarkanku."
Ansell tersenyum tipis melihat sikap Thalia. Ia terlalu gemas pada Thalia dan mencubit pipinya.
"Terlalu banyak masalah yang harus aku selesaikan setelah kembali. Maaf, baru sempat menemuimu sekarang," jawab Ansell jujur dan melepaskan cubitannya.
Ia menyilangkan tangan, berpura-pura marah pada Ansell. Ia juga memalingkan wajahnya yang sudah memerah karena cubitan Ansell dan karena ia tersipu.
"Sudahlah, lagipula aku sudah di sini. Apa kau tidak senang? Kalau begitu aku pulang saja," ancam Ansell bercanda, sedikit mengacak rambut Thalia.
__ADS_1
"Baiklah. Aku memaafkanmu kali ini," ucap Thalia tersenyum malu, mengakhiri akting marahnya karena Ansell baru menemuinya.
Saat mereka sedang berbicara, dunia bagaikan milik berdua. Mereka mengabaikan James dan Vony, serta semua orang yang ada di sana.
Orang di sana juga bersemangat mendengar obrolan mereka, kecuali James dan Vony. James merasa cemburu dengan Ansell, sedangkan Vony merasa iri karena Thalia bisa mendapatkan Ansell.
"Sial! Jika dari awal aku merayunya, pasti sekarang ia sudah menjadi milikku," gumam Vony menyesal, apalagi mengingat Ansell memiliki banyak uang.
Tidak hanya wajahnya yang tampan, tapi dompetnya juga.
Tunggu saja kematianmu! Aku ingin lihat seberapa jauh kau berani berbicara dengan Thalia, batin James emosi. Namun, ia tak berani mengatakan secara langsung melihat Thalia yang masih mengobrol dengan Ansell.
Ansell dan Thalia tetap mengobrol dengan santai.
"Apa benar kau sudah bertunangan? Aku tidak percaya itu jika bukan kau yang mengatakannya," tanya Thalia untuk memastikan informasi yang ia dapat.
__ADS_1
"Benar. Bukankah informasimu selalu akurat?" jawab Ansell.
"Huh, walau kau sudah punya tunangan, itu tidak akan memengaruhi perasaanku. Aku akan tetap menyukaimu," ucap Thalia blak-blakan, tidak peduli dengan orang di sekitarnya.