
"Hanya seperti itu kemampuan satpammu?" seorang pria kekar, tingginya hampir seperti Sam berjalan mendekati Ansell. Di belakangnya ada 10 orang yang tidak kalah besar sepertinya.
Ansell langsung tahu dia adalah utusan Bivv Group.
"Kau yang menyerang orangku? Dari mana keberanianmu itu muncul?" jawab Ansell dengan dingin. Matanya memancarkan cahaya tajam, yang seolah bisa menyayat mereka kapan saja.
Pria yang bernama Daniel itu tidak gentar dengan tatapan Ansell. Ia memiliki kepercayaan diri tinggi dengan kekuatannya.
"Apa aku perlu membunuh kalian juga untuk menyadarkan Bivv Group? Kepala Hans tidak cukup bagi mereka?" tanya Ansell, tidak mengubah nada suaranya.
Daniel terkekeh, "Kau pikir dari mana keberanianku ini muncul? Hans memang hebat. Ia berada di peringkat 26 dunia. Tapi, saat itu ia hanya sendiri. Ia juga sudah sangat tua untuk melawan anak muda sepertimu. Jangan terlalu bangga karena mengalahkannya. Bivv Group masih memiliki banyak master lain selain dirinya."
Sam yang mendengar itu terkejut. Ia tidak menyangka kekuatan Ansell begitu hebat. Peringkat 26 dunia bukanlah gelar semata. Ia sendiri tahu seberapa kuat orang itu karena ia juga masuk 100 besar.
Ansell mengeluarkan beberapa botol obat lagi dan memberikannya pada Sam. Ia berdiri dan berhadapan dengan Daniel. Ia menghitung Daniel dari atas ke bawah, dari ujung rambut sampai ujung kaki.
__ADS_1
Pria itu memiliki rahang keras dan rambut yang sedikit ikal. Matanya coklat cerahnya masih bisa dilihat Ansell walau dalam kegelapan.
Ansell bisa merasakan kekuatannya. Ia terlalu sombong untuk menutup diri. Daniel suka memamerkan kekuatannya. Ansell yakin Daniel memang lebih kuat daripada Hans. Ia juga memiliki senjata tersembunyi di lengannya.
"Bicaramu cukup besar. Tidak takut mati, huh?" Ansell tertawa meremehkan. Ia ingin mengetes emosi Daniel.
"Mati adalah tujuan akhirku, tapi bukan di tanganmu. Kau lah yang akan mati di tanganku, hahaha!" Daniel membalas ucapan Ansell seolah dia tak terpengaruh.
Padahal, matanya sedikit berkedut saat mendengar ucapan Ansell. Ia sangat buruk dalam menyembunyikan emosi.
Sam yang baru saja selesai memberi obat kepada anggota lainnya segera berjalan menghampiri Daniel. Ia tidak tahan tuannya dihina begitu saja.
"Jika kau ingin menyentuh tuanku, kau harus melewati mayatku lebih dulu," ucap Sam tanpa gentar. Mati demi Ansell juga ia merasa lebih mulia daripada diam dan tak terluka.
Daniel menertawakan Sam, "Berjalan saja kau pincang, tapi masih ingin melawanku? Sadar diri itu penting."
__ADS_1
"Jangan remehkan musuh yang memiliki dendam kesumat padamu," ucap Sam tertawa menyeringai. Di sudut bibirnya, terlihat darah yang sudah mengering.
"Kau lihat sendiri, kan? Satpammu ini yang mencari masalah denganku. Kalau begitu, aku akan melewati mayatnya lebih dulu sebelum membunuhmu," ucap Daniel.
Namun, belum sempat ia bergerak, terdengar suara gedebuk di belakangnya. Suara itu terdengar beruntun 10 kali.
Refleks, Daniel membalikkan badan dan melihat 10 petarung yang ia bawa sudah jatuh ke tanah. Tanpa ada perlawanan, mereka jatuh begitu saja. Anehnya, tidak ada darah dari tubuh mereka.
Daniel menatap tajam ke arah Ansell, "Apa yang sudah kau lakukan pada orangku?"
Ansell menyeringai kejam, "Sam sudah memberitahumu untuk tidak meremehkan lawanmu. Sepuluh orang itu juga berada di peringkat seratus besar, kan?"
Daniel sedikit ketakutan.
Ansell maju mendekatinya, diikuti Daniel yang secara naluriah berjalan mundur. Tidak tahu apa yang dilakukan Ansell, Daniel juga sudah terjatuh tanpa luka.
__ADS_1