
"Apakah aku boleh tahu alasan lainnya, Tuan?" tanya Harry penasaran. Walau ia sedikit takut, ia tetap menanyakannya.
"Sebenarnya aku takut melibatkanmu, karena itu aku melepaskan Teo. Lagipula, melepaskan Teo memiliki banyak keuntungan," jawab Ansell.
Harry terhenyak mendengar jawaban Ansell. Ia tak menyangka ternyata Ansell memikirkannya. Jarang sekali ada yang peduli pada rekan saat mereka berada dalam masalah.
"Terima kasih banyak, Tuan. Aku pasti akan selalu setia padamu," ucap Harry berterimakasih. Ia benar-benar beruntung karena Ansell berada di pihaknya.
"Lalu, apa saja keuntungan jika Teo dilepaskan?" tanya Harry penasaran dengan lanjutan ucapan Ansell.
Ansell mengangguk dan lanjut bicara.
"Jika Teo dilepaskan, perusahaan tunanganku bisa mendapatkan banyak uang dari jaminan hidup Teo. Kebetulan sekali hal ini sangat penting, jadi aku ingin memanfaatkannya. Selain itu, ia pasti akan langsung menyebarkan rumor ke seluruh Bivv Group dan Aliansi Axie tentang kejadian ini. Entah rumor itu benar atau tidak, cerita yang dia katakan ditambahi atau dikurangi, yang pasti hal itu akan merugikan Bivv Group. Jika musuh-musuh Bivv Group tahu mereka sudah kehilangan dua master, pasti Bivv Group akan kewalahan," jelas Ansell pada Harry.
Harry mengangguk mengerti, "Bivv Group akan sangat dirugikan jika Teo dilepas. Pasti ia akan membuat kerusuhan setelah itu karena sudah kehilangan banyak hartanya. Apalagi Teo sangat licik. Ia juga orang yang tidak mau rugi."
"Benar sekali. Namun, bisa jadi Bivv Group tidak akan membebaskannya untuk menghindari rumor. Atau Bivv Group akan membuat kesepakatan dengan Teo agar ia tutup mulut. Intinya, apa pun yang akan mereka lakukan nanti, kita masih punya Teo untuk dikambinghitamkan," jelas Ansell pada Harry.
Akhirnya Harry mengerti rencana Ansell. Ia tak pernah memikirkan ini sebelumnya. Ansell sangat hebat bisa memikirkan rencana yang matang dalam waktu cepat.
__ADS_1
Jika hal seperti ini terjadi pada Harry, ia pasti tak akan melepaskan satu pun musuhnya. Jalan pemikirannya sangat berbeda dengan Ansell.
Alexia yang sejak tadi memerhatikan obrolan mereka, sekarang menyadari jika Ansell sangat cerdas. Ia juga orang yang baik, walau ada sisi kejam untuk musuhnya.
Masih ada rasa penyesalan dalam hati Alexia. Jadi, ia berkata pada Ansell, "Tuan Ansell, aku pasti tidak akan menghina dan membuatmu marah lagi. Pikiran dan hatiku sudah terbuka."
Ansell mengangguk dan menjawab singkat, "Bagus."
Walau sangat singkat, tapi Alexia tidak masalah. Yang pasti Ansell tidak membencinya. Ia juga masih mau bicara pada Alexia.
Sekarang Alexia hanya tinggal memikirkan cara untuk membuat Ansell tertarik padanya.
Harry dan Alexia mengantar Ansell sampai di pintu utama.
Dua orang itu memerhatikan punggung Ansell yang semakin menjauh. Harty tersenyum dalam, "Bagaimana dengan pria pilihan ayahmu ini? Kau menyukainya?"
Alexia tersipu malu mendengar pertanyaan ayahnya. Ayahnya menyadari dengan cepat perasaan Alexia. Perasaan orang tua memang tidak pernah salah.
"Menurutku dia lumayan. Dia tampan dan sangat kuat. Selain itu, ia cerdas dan memesona. Aku tidak bilang aku tidak menyukainya," jawab Alexia jujur, walau dengan sedikit gengsi.
__ADS_1
Harry tersenyum puas mendengar jawaban Alexia.
Sekarang ia tak perlu memaksa Alexia untuk berbuat baik dengan Ansell. Alexia pasti sudah mengerti apa yang harus dia lakukan.
"Walau ia sudah punya tunangan, kau tetap bisa jadi yang kedua," ucap Harry tanpa pikir panjang. Ia sangat ingin menjadikan Ansell sebagai menantunya. Orang tua mana pun pasti ingin memiliki menantu seperti Ansell.
Sedangkan Alexia tak percaya mendengar pernyataan ayahnya. Menjadi yang kedua? Mungkin ayahnya berpikir itu hal yang mudah. Namun, Alexia seorang wanita dan memiliki hati.
Harry tidak akan mengerti perasaan Alexia.
*
Setelah kembali dari rumah Harry, Ansell mengendarai mobilnya ke salah satu bar yang ada di kota. Ia ingin menemui seorang rekan yang sudah lama tidak ia temui.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya ia tiba di bar itu. Ia menatap cukup lama bagian depan bar, setelah itu ia memutuskan untuk masuk.
Ansell langsung mendekati salah satu pelayan bar dan berkata, "Aku ingin bertemu dengan Thalia Fay."
Pelayan itu sedikit mengerutkan kening mendengar ucapan Ansell. Bukannya menjawab, ia malah bertanya, "Anda mencari bos kami? Ah, lagi lagi seseorang mencari bos."
__ADS_1