
Nichole menahan rasa mual di perutnya. Sedangkan Ansell tidak merasakan apa-apa karena kondisi seperti ini sudah biasa untuknya.
"Pengkhianat itu berasal dari divisi karyawan di Majesty Company. Ia bisa memiliki banyak koneksi karyawan di bawahnya. Aku sudah menangkapnya, tapi aku tidak berhasil menyelidiki siapa saja yang terlibat di dalamnya," jelas Royce sambil tetap makan.
"Ansell, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Majesty Company ikut terlibat?" tanya Nichole yang sama sekali tidak paham dengan situasinya.
"Nichole, ceritanya panjang. Aku akan menjelaskan semuanya nanti," jawab Ansell.
Kemudian, ia menatap ke arah Royce, "Siapa pria brengsek itu? Bagaimana ia bisa tahu tentang senjata yang ku buat?"
"Namanya Donald. Entahlah, aku tidak tahu siapa dia dan bagaimana dia bisa tahu banyak hal. Bahkan dia juga berani memalsukan senjata. Relasinya sangat misterius. Aku tidak ahli dalam hal penyelidikan," jawab Royce santai. Keahlian terbaiknya memang hanya memukul orang sampai mati.
Ansell berpikir keras. Ia tidak pernah mendengar nama Donald sebelumnya, baik di laboratorium maupun perusahaan.
"Nichole, apakah kau kenal dengan Donald ini?" tanya Ansell. Mungkin saja awalnya Donald berasal dari perusahaan Nichole.
Nichole berpikir sejenak kemudian mengangguk, "Benar. Dia sudah lama bekerja di perusahaanku. Aku juga cukup dekat dengannya. Aku tak menyangka ternyata ia mengkhianatimu."
"Mengapa kau bisa dekat dengannya?" tanya Ansell penasaran.
"Dia banyak membantuku di awal pengembangan perusahaan. Kebanyakan karyawan juga rekomendasi darinya. Kinerja karyawan darinya juga sangat bagus," jawab Nichole jujur.
Ansell mencerna jawaban Nichole. Jika kebanyakan karyawan berasal dari Donald, artinya banyak orang yang terlibat berada di Majesty Company.
Ia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Thalia untuk bertanya tentang Donald.
"Thalia, kau berada di mana sekarang?" tanya Ansell langsung.
"Ansell, ada masalah! Laboratorium kehilangan banyak senjata! Kami juga terkunci di sini," lapor Thalia dengan panik.
"Apa?" tanya Ansell yang terkejut, berharap dia hanya salah dengar.
"Cepat, datang! Ada bom juga di sini! Penjinak bom di sini memerlukan banyak waktu untuk menghentikannya. Kau cepatlah datang, bantu kami!" ucap Thalia buru-buru. Suasana laboratorium sudah kacau balau.
"Baik, aku akan segera ke sana," jawab Ansell dan langsung mematikan panggilan sepihak.
"Royce, kau bantu aku jaga Nichole. Jangan sampai ada musuh yang menyentuhnya. Tolong, jaga dia baik-baik," ucap Ansell meminta bantuan pada Royce.
Royce tidak bertanya apa-apa dan langsung setuju, "Baik. Kau harus tetap hidup."
Nichole yang mendengar ucapan Royce seperti itu juga ikut merasa panik, "Apa maksudnya? Ansell, kau akan pergi ke mana? Aku ingin ikut! Aku ingin bersamamu!"
"Tidak, Nichole. Aku tidak ada waktu lagi. Royce, cepat bawa Nichole. Nichole, maafkan aku," ucap Ansell sambil menyentuh titik lemah Nichole sehingga dia pingsan.
__ADS_1
Kemudian, Ansell segera bergerak cepat menuju mobil yang telah diparkir dan langsung menghidupkan mesin.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, dia segera memacu mobilnya menuju ke arah laboratorium dengan kecepatan yang tinggi.
*
Laboratorium bawah tanah.
Situasinya semakin buruk dan semakin kacau. Para ilmuwan yang tidak memiliki kemampuan bela diri sama sekali tidak dapat melakukan tindakan apa pun.
Sementara itu, para penjaga yang berada di sekitar juga tidak dapat membuka pintu karena terkunci dengan sangat kuat.
Thalia, meskipun telah mencoba untuk memaksa membuka pintu dengan menggunakan seluruh kekuatannya, tidak dapat membuka pintu tersebut.
Tidak ada jalan keluar yang terlihat dan semua orang merasa putus asa dengan situasi ini.
Apalagi, waktu bom tersisa 5 menit lagi.
"Tuan, apakah Anda sudah bisa menjinakkannya? Lakukan dengan cepat. Jika tidak, kita semua akan mati," ucap Thalia panik.
"Nona, hal ini tidak mudah. Ini adalah bom tingkat tinggi yang belum pernah ku temui. Aku masih mempelajari cara memecahkan sistemnya," jawab penjinak bom.
"Jadi, dari tadi Anda hanya mempelajari tapi tidak melakukan apapun?" Thalia merasa emosinya terpancing.
Thalia tak mengatakan apapun lagi dan masih mencoba membuka pintu bersama penjaga lainnya. Ia tak ingin melawan penjinak bom agar masalah tidak semakin besar.
"Keluarkan tenaga kalian!" teriak Thalia pada para penjaga.
Thalia telah berada di laboratorium selama berhari-hari tanpa keluar, seperti halnya dengan para ilmuwan lainnya.
Mereka bekerja keras dan semakin giat dalam membuat senjata-senjata yang diminta oleh Ansell. Mereka tidak memiliki keperluan lain yang harus dilakukan, sehingga mereka terus berkonsentrasi pada pekerjaan mereka.
Sementara itu, para penjaga yang bertugas membawa bahan-bahan yang dibutuhkan sering masuk dan keluar dari laboratorium.
Sedangkan para ilmuwan dan Thalia tetap berada di dalam ruangan dan terus bekerja tanpa henti, dengan harapan dapat menyelesaikan tugas mereka secepat mungkin untuk memenuhi permintaan Ansell.
Situasi berubah menjadi kacau secara tiba-tiba. Alarm darurat dengan suara yang menggelegar terdengar di seluruh ruangan, memaksa Thalia dan para ilmuwan lainnya untuk segera berhamburan keluar dari ruangan tempat mereka bekerja.
Mereka dibuat panik oleh kabar dari para penjaga yang memberitahu bahwa banyak senjata yang hilang dari tempat penyimpanannya.
Bahkan lebih buruk lagi, penjaga yang bertugas menjaga pintu tersebut melaporkan bahwa mekanisme pintu mereka rusak dan tidak dapat dibuka secara manual.
Situasi menjadi semakin sulit ketika para ilmuwan dan penjaga tidak dapat meninggalkan laboratorium.
__ADS_1
Kekacauan tak berhenti sampai disitu.
Saat Thalia dan para ilmuwan lainnya berusaha mencari jalan keluar dari tempat tersebut, tiba-tiba Thalia menemukan sebuah benda mencurigakan yang terletak tak jauh dari pintu keluar.
Saat ia mendekat untuk memeriksanya, ia sadar bahwa benda tersebut adalah sebuah bom yang siap meledak kapan saja.
Kepanikan semakin melanda Thalia dan para ilmuwan lainnya. Mereka terpaku di tempat mereka dan tidak tahu harus berbuat apa, karena mereka tidak memiliki keterampilan atau pengetahuan yang cukup untuk menangani bom tersebut.
Saat itu, Thalia tak berpikir untuk menelepon Ansell untuk meminta bantuan karena keadaan sudah cukup ricuh. Untungnya Ansell meneleponnya, jadi dia masih memiliki harapan.
"Kita harus berusaha sekuat mungkin! Tuan Ansell akan datang sebentar lagi! Dia pasti bisa menyelamatkan kita!" teriak Thalia mencoba memberi semangat kepada para penjaga itu.
*
Mobil Ansell meluncur dengan kecepatan yang begitu tinggi, dan Ansell terus menerjang jalanan dengan sangat cepat tanpa menghiraukan rintangan yang ada di depannya.
Tak hanya itu, ia juga memilih untuk melewati jalan-jalan tikus yang sempit dengan kecepatan yang sama tingginya.
Ansell melesat di antara bangunan dan kendaraan lainnya dengan begitu lihai sehingga ia bisa segera tiba di laboratorium.
Ansell bahkan tidak takut menerobos semak dan bebatuan yang ada di jalannya. Ia menyetir dengan keberanian dan kecepatan yang sangat tinggi, seolah-olah ia memiliki kemampuan super yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.
Semua orang yang melihat mobilnya melesat dengan cepat mengagumi kemampuan mengemudi Ansell yang luar biasa.
Ia mengirim pesan pada Thalia.
[Laporkan semua kondisi laboratorium.]
Thalia langsung membalas pesannya.
[Bom belum dijinakkan karena merupakan bom tingkat tinggi. Ada 6 angka yang harus dimasukkan untuk mencegah bom meledak. Waktu tersisa 5 menit lagi. Mekanisme pintu rusak, kami terjebak dan tak bisa keluar. Kami sudah mengerahkan tenaga tapi tetap tak bisa membuka pintu.]
Ansell merasa emosi membaca pesan itu. Bagaimana mungkin begitu banyak senjata bisa tiba-tiba menghilang dan muncul bom tingkat tinggi?
Sepertinya ini ada hubungannya dengan ditangkapnya Donald.
Ansell mencoba menenangkan diri dan memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah sampai di laboratorium.
Pertama-tama, Ansell harus membuka pintu itu. Jika ia menghancurkannya, laboratorium bisa ikut hancur dan orang di dalamnya akan terkubur. Dalam perkiraan Ansell, mekanisme ini tidak rusak dan hanya diganti dari luar.
Jadi, Ansell memilih mencoba di sana langsung.
Kedua, Ansell harus menjinakkan bom tingkat tinggi. Ansell tidak punya pengalaman dalam menjinakkan bom. Tapi dia akan mencoba dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang bom. Pasti ada kode tertentu yang bisa dipecahkan.
__ADS_1
Namun, bagaimana ia bisa menebak 6 angka itu?