
Yasmin tahu sekarang dirinya kalah. Ia juga tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mengobrol dengan Ansell.
Walau mulut Ansell sangat pedas, tapi Yasmin merasa nyaman dan aman berada di sisi Ansell. Ia juga tak perlu takut dengan apa yang sudah terjadi.
Namun, ia harus tebal muka dengan kata-kata Ansell.
"Sekarang aku hanya ingin mengobrol denganmu. Itu tidak masalah, kan? Aku mencarimu karena butuh teman bicara," ucap Yasmin. Ia tak lagi bergelagat akan menggoda Ansell.
"Omong kosong," Ansell terkekeh kecil.
Ansell sudah tahu sejak awal tujuan Yasmin. Menebak tujuan seseorang adalah hal yang mudah. Apalagi ia sudah mendapatkan informasi tentang Yasmin.
Ia tahu siapa yang dekat dengan Yasmin dan siapa musuhnya. Ansell juga tahu apa yang baru dilakukan Yasmin akhir-akhir ini.
Dengan semua informasi itu, mudah bagi Ansell menebak isi kepalanya.
__ADS_1
"Bukankah kau datang kepadaku karena kau memiliki musuh di Aliansi Axie? Tidak mungkin kau memilih bersenang-senang di saat seperti ini. Jangankan bersenang-senang, makan saja kau sudah tidak mau," ucap Ansell terus terang.
Yasmin sedikit terkejut. Semua tebakan Ansell benar. Ia menjadi was-was dengan Ansell, mengira Ansell sudah mengetahui semua rahasianya.
"Bagaimana kau bisa tahu? Apa yang sudah kau lakukan di belakangku?" tanya Yasmin gugup.
"Itu sangat mudah dan kau tak perlu tahu hal itu," jawab Ansell santai.
"Apa kau mengintaiku selama ini? Siapa? Siapa mata-mata yang kau kirim?" tanya Yasmin takut.
Privasi adalah hal terpenting seseorang. Jika privasi mereka terbongkar, itu sama saja sedang melucuti diri mereka sendiri.
"Namun, sayangnya kau akan menganggapku musuh karena aku membunuh master tua itu. Kau sudah sangat ingin bekerjasama dengan master tua, kan? Ah maaf aku menggagalkan rencanamu," ucap Ansell tenang. Ia sudah memiliki banyak musuh. Menambah satu musuh lagi bukan masalah.
Ia melanjutkan, "Taktikmu cerdas juga. Kau sengaja ingin bekerjasama dengan master tua, sehingga ia yang akan melakukan semua tindakan yang kau suruh. Jika ia yang berbuat kesalahan, tentu saja dia juga yang akan mendapat hukuman. Sedangkan kau? Kau hanya akan menontonnya dengan tenang karena tanganmu bersih."
__ADS_1
Yasmin terpaku. Ia membeku tak bergerak.
"Jika master tua yang membalaskan dendammu, ia lah yang akan di incar. Kau tidak akan rugi dalam kejadian ini," ucap Ansell memperjelas.
"A-apa yang sedang k-kau bicarakan? Jangan bicara omong kosong!" bantah Yasmin. Walau yang dikatakan Ansell benar, ia tak ingin mengakuinya. Ia terlalu takut dengan Ansell.
Bagaimana bisa rencana yang ia buat sendiri, tanpa diketahui orang lain, tapi bisa diketahui Ansell dengan tepat dan detail? Apakah Ansell memiliki kemampuan seperti itu.
"Jangan gugup. Taktikmu ini sudah sangat bagus. Perhitunganmu hampir akurat. Namun sayang, yang kau temui adalah aku. Kau tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, kan?" lanjut Ansell memuji taktik Yasmin.
Tidak hanya pria, wanita yang bergabung di dunia gelap pasti sudah terbiasa melakukan trik licik. Mereka dituntut menjatuhkan musuh tanpa harus turun tangan.
Hal seperti inilah yang akhirnya terjadi.
"Ti-tidak mungkin," ucap Yasmin ketakutan. Ia merasa ngeri dengan Ansell. Pikirannya seolah telah dijelajahi oleh Ansell.
__ADS_1
Ia tahu sekarang, ia tak mungkin menjadi musuh Ansell.